Contoh Imbuhan Bahasa Asing

Bahasa 0
imbuhan asing

Imbuhan asing

Selain imbuhan yang berasal dari bahasa Indonesia itu sendiri, pada perkembangannya dalam bahasa Indonesia memiliki beraneka ragam imbuhan. Baik imbuhan yang baru maupun yang merupakan serapan dari bahasa daerah, maupun dari bahasa asing. Imbuhan-imbuhan tersebut sangat banyak digunakan dalam berbagai media atau karya-karya ilmiah.

Macam-macam Imbuhan Asing dan Maknanya

A. Imbuhan Asing dari Bahasa Daerah

Imbuhan yang berasal dari bahasa Daerah pun banyak digunakan atau diserap ke dalam Bahasa Indonesia untuk menambah keanekaragaman imbuhan dalam bahasa Indonesia itu sendiri. Di bawah ini adalah salah satu contohnya :

      (1)   Awalan tak =  tidak 

Contoh: tak sadar, tak aktif, tak sosial.

      (2)    Awalan serba =  seluruhnya/semuanya

Contoh: serba merah, serba susah.

      (3)    Awalan tuna =  kehilangan sesuatu, ketiadaan, cacad.

Contoh: tuna karya, tuna wisma, tuna susila.

      (4)    Awalan antar  = sekitar (dari inter)

Contoh: antar pulau, antar kota, antar daerah, antar bangsa.

B. Imbuhan Asing dari Bahasa Sanskerta

Dalam keanekaragamannya imbuhan yang diserap dari bahasa Asing (bahasa Sanskerta) ada yang berupa awalan dan ada pula yang berupa akhiran.

Bentuk Awalan dari bahasa Asing

Di bawah ini adalah contoh imbuhan dari bahasa Asing yang berupa awalan. Awalan maha = sangat/besar, pra = sebelum (= pre), swa  = sendiri, dan dwi = dua, dan lain-lain, yang semuanya itu merupakan contoh-contoh awalan atau imbuhan dari bahasa Sanskerta.

Contoh:

(a). Para mahasiswa sedang melakukan penelitian di Gunung Sawal.

(b). Pada zaman prasejarah manusia belum mengenal bentuk tulisan.

(c)  Sektor pertanian bertujuan menciptakan swasembada pangan.

(d)  Kita harus terus menjaga agar dwiwarna selalu berkibar di bumi Indonesia.

Selain itu akan dijumpai pula imbuhan yang berupa kata-kata bilangan lain: eka darma, trimurti, caturkarya, pancasila, dan lain sebagainya.

Bentuk Akhiran dari bahasa Asing

Yang termasuk dalam imbuhan bentuk akhir dari bahasa Asing adalah sebagai berikut :

Akhiran -wan, -man, -wati

Akhiran -wan, -man, -wati berasal dari bahasa Sanskerta. Akhiran tersebut menunjukkan jenis kelamin. Akhiran -wan, dan -man, untuk menyatakan jenis kelamin laki-laki, sedangkan -wati menunjukkan jenis kelamin wanita. Akhiran -wan, -man, -wati tersebut membentuk kata benda.

Makna Imbuhan -wan, -man, dan -wati

Makna atau arti akhiran -wan, -man, dan -wati adalah sebagai berikut :

  1. Menyatakan orang yang ahli

       Misalnya : ilmuwan, rohaniwan, dan budayawan, sastrawan, dsb.

  1. Menyatakan orang yang mata pencahariannya dalam bidang tertentu

       Misalnya : karyawan, wartawan, dan industriwan

  1. Orang yang memiliki sifat khusus

       Misalnya : hartawan dan dermawan

  1. Menyatakan jenis kelamin

Akhiran -i, -wi, -iah

Akhiran -i, -wi, dan -iah berasal dari bahasa Arab. Imbuhan -i, -wi, dan -iah memiliki fungsi membentuk kata sifat. Terdapat juga akhiran -in dan -at yang berfungsi membentuk kata benda.

Perhatikan contoh-contoh di bawah ini :

  1. alami, badani, insani, hewani, artinya menyatakan ‘bersifat ….’
  2. duniawi, manusiawi, dan surgawi, artinya menyatakan ‘bersifat….’
  3. jasmaniah, ilmiah, harfiah, rohaniah, artinya ‘mempunyai sifat….’
  4. Muslimin, mukminin, hadirin, dan muktamirin merupakan penunjuk jamak tak tentu pria dan wanita.
  5. muslimat, mukminat, mualimat, dan sebagainya merupakan bentuk penunjuk jamak untuk wanita.

Akhiran -er, -al, -ik, -if, -is, -isme, -isasi, -logi, dan -or.

Selain imbuhan yang diserap dari bahasa Sanskerta dan bahasa Arab, imbuhan juga diserap dari berbagai bahasa. Sebagai bukti imbuhan tersebut merupaka imbuhan yang diserap dari imbuhan asing yakni berasal dari bahasa Barat.

Perhatikan contoh-contoh berikut:

  1. Elis bekerja sebagai tenaga honorer di Sekolah Menengah Pertama (bersifat honor)
  2. Secara material, Tono tidak sebanding dengan Toni (bersifat materi)
  3. Cerita Hang Tuah termasuk cerita yang heroik (bersifat hero atau kisah kepahlawanan)
  4. Kalau berbicara dengan orang lain itu harus obyektif  (berdasarkan objek)
  5. Indonesia menolak anggapan negara Asing bahwa Indonesia tidak selektif dalam mengimpor barang. (berdasarkan seleksi)
  6. Kolonialis Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. (bersifat koloni)
  7. Kita harus memiliki semangat nasionalisme. (bersifat nasional atau kebangsaan)
  8. Sudah satu dekade Darso memimpin organisasi sosial. (hal yang bersangkut paut dengan)
  9. Ibu Erli mengajar biologi di sekolah kami. (ilmu/pengetahuan tentang)

Demikian pembahasan tentang berbagai imbuhan asing serta maknanya yang diserap ke dalam imbuhan bahasa Indonesia. Semoga menambahan wawasan dan pengetahuan kita tentang imbuhan asing tersebut. (cikancah-cyber)

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply