Prosa Lirik Lama dan Prosa Lirik Baru

Artikel, Sastra 0
prosa lirik

prosa lirik lama&baru

Dalam kesusastraan Indonesia, selain jenis puisi dan prosa, terdapat pula suatu bentuk peralihan, atau pencampuran antara prosa dan puisi. Bentuk yang seperti itu lazimnya disebut sebagai prosa lirik.

Prosa lirik adalah suatu bentuk karangan yang tidak terikat oleh syarat-syarat tertentu, seperti jumlah baris, jumlah suku kata, dan sajak, melainkan suatu bentuk karangan yang lebih mementingkan irama.

Prosa Lirik Lama

Prosa lirik lama memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Lebih mendekati puisi
  2. Tidak menghiraukan persajakan, namun sering terdapat jumlah suku kata yang tetap untuk kepentingan irama.
  3. Isinya lebih banyak berupa cerita.

Contohnya adalah Sabai nan Aluih (disusun kembali) oleh Tulis Sutan nan Sati. Pada zaman dahulu prosa lirik semacam ini dibawakan atau digunakan sebagai pelipur lara saja (tukang kaba).

Prosa Lirik Baru

Adapun ciri-ciri prosa lirik barua adalah :

  1. Lebih mendekati prosa.
  2. Isinya lebih banyak tentang pencurahan isi sukma.

Prosa lirik baru lebih banyak digemari oleh Angkatan Pujangga Baru, seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, Samadi, H.R. Bandaharo, dan Aoh Kartamihardja.

Contohnya :

Kaujadikan

Kaujadikan kembang beraneka warna.

Kaupancarkan matahari supaya dunia terang kataku.

Untuk kami semua, ya Tuhanku.

Mengapa besar-besar kesayangan-Mu

melimpahkan rahmat, tak ada hingga

Kembang mengenakan kerabu menyambut fajar.

Teja bersorak-sorai dalam arakan lekat terpikat sudah

pandanganku.

Mengapa puja engkau tuangkan dadaku penuh dengan

lagu dialun dengan madah ditayang sayang.

(Aoh Kartamihardja)

Semoga pembahasan  secara singkat tentang prosa lirik lama dan baru di atas , bisa bermanfaat dan menambah wawasan pengetahuan.

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply