Cerpen Motinggo Busye : Nasehat Untuk Anakku

Sastra 0

 

motinggo

Nasehat Untuk Anakku Motinggo Busye

Ketika engkau sudah bisa membaca nasehat ini, anakku, tentu keadaan dunia telah banyak berubah.  Mungkin engkau pada saat itu telah menjadi salah seorang calon penerbang ruang angkasa, dan tambang emas telah digali orang di Lampung, dan di dusun-dusun telah berkilauan lampu-lampu listrik daripada neon, dan Irian Barat telah menjadi hak milik Indonesia. Pada waktu engkau membaca nasehatku ini, anakku, mungkin engkau tidak lagi perlu menunggu bis sampai tiga jam di Salemba, jalan di mana ayahmu dulu pernah menanti bis sampai tiga jam lebih dii hujan dan di panas.

Waktu itu ayahmu sangat lapar sekali, dan hari telah jam dua siang. Pagi harinya ayahmu belum sarapan, sebab keuangan tidak mengizinkan untuk makan tiga kali satu hari dan harga beras waktu itu dua puluh lima rupiah satu kilo. Kaubayangkan, anakku, bis pertama muncul dalam keadaan penuh sesak, bis kedua yang datang sejam kemudian juga penuh sesak sehingga orang-orang di dalam di dalam bis itu seperti ikan pepesan layaknya. Bis ketiga datang, yang terlambat setengah jam dari semestinya karena lalu lintas terganggu karena kecelakaan yang berhimpit kecelakaan. Menurut kabar ada seorang anak sekolah rakyat ditabrak sebuah truk. Kemudian lalu lintas yang terganggu itu terganggu lagi oleh beberapa buah oto pemadam kebakaran lewat yang bunyinya meratap-ratap di jalan raya.  dan karena ratapannya itu, bis-bis, becak-becak yang ditarik manusia dan mobil-mobil pembesarpun diharuskan berhenti lebih dahulu. Ayah maafkan hal itu, sebab pada waktu itu tiap-tiap orang haruslah memiliki kesabaran dan maaf atas segala kejadian yang menimpa atau tidak menimpa dirinya namun menimpa kepala orang lain.

Tentu pada masa engkau membaca nasehatku ini, anakku, jalan-jalan sudah tak sempit lagi, bis-bis rakyat tentu sudah banyak, dan becak-becak pun Ayah kirasudah tak ditarik oleh manusia lagi. Dan mungkin pula, tiap-tiap orang tidak perlu lagi naik becak atau naik bis, tiap-tiap keluarga sudah punya mobil sendiri sebab tambang emas dan tambang-tambang lainnya sudah membikin makmur bangsamu.

Pada hari ini, anakku, yaitu pada waktu ayahmu membikin nasehat ini, adalah suatu hari yang mulia buat diriku, karena pada hari inilah Ayah sempat merayakan ulang tahun yang kedua puluh lima.

Kebetulan pada hari ini, redaktur pata tempat Ayahmengirimkan karangan sangat baik hati. Dengan tanda tangannyadi secarik kertas Ayah bisa pergi ke kantor majalah dan meminta uang honorarium karangan yang berjumlah dua ratus rupiah. Biarpun nilai sebuah cerita pendek di masa Ayah membikin nasehat ini Cuma berharga beras delapan kilo, namun ayahmu tetap bergembira. Ayah bawa seorang teman ke subuah warung kopi dan kami minum-minum di sana.

“Selamat ulah tahunmu,”kata teman Ayah.

“Terima kasih,”jawabku.

“Kita anggap saja kitasekarang ini sedang pesta. Pesanlah makanan dan minuman apa saja yang enak-enak, asal jangan melebihi dua ratus rupiah,”kataku.

Teman Ayah tersenyum-senyum, tetapi sebenarnya dia kelaparan. Dia pengarang juga, tetapi ia benar-benar pengarang yang menggantungkan leher dan perutnya serta kakinya yang dua itu kepada uang hasil karangan. Karena itu engkau jangan heran jika Ayah katakan kepadamu, bahwa temanku ini pernah dan sudah biasa tidak makan satu minggu. Untunglah dia belum beristeri, belum berkekasih, dan beranak. Untunglah semua keluarganya membenci dia karena dia jadi pengarang itu, karena keluarganya memang orang-orang realis yang mengganggap para pengarang adalah pemburu-pemburu yang menembak rusa di satu lembah kelaparan. tetapi temanku ini tetap tampak gembira, anakku, karena dengan sikap keluarganya itu, ia merasa tidak ada ikatan dengan satu orang pun di dunia ini. Pada waktu itu Ayah kira dia adalah orang yang paling merdeka di dunia ini, biarpun kemerdekaan itu Cuma angan-angannya saja. Tetapi waktu itu Ayah berpikir demikian: Yang penting adalah manusia, dan kemerdekaan hanya sebahagian saja dari manusia. Orang menyebut kemerdekaan sebagai lambang rasa hormat pada diri sendiri, suatu kepuasaan duniawi yang menghauskan hatinya sampai mati. Aku sedih melihat manusia sekarang, kata Ayah dalam hati waktu itu, dan Ayah sambung pula dalam hati: karena itu aku bertambah mengasihi manusia.

“Kapan bukumu terbit ?”kata temanku itu.

Ayah kaget dan cepat-cepat sadar, sebab waktu zaman itu manusia-manusia sezaman ayah harus lekas-lekas memutuskan sesuatu, sehingga antara kaget dan sadar hanya seperdua ratus detik saja beda waktunya.

“Bukuku? Bulan Desember barangkali,”jawabku.

“Apa rencanamu?” sambungnya.

“Aku mau beli sebuah arloji,”jawabku.

“Arloji? Untuk apa arloji?”

“Dengan arloji sebenarnya orang bisa menghitung waktu.”

“Kenapa harus menghitung waktu?”tanyanya.

“Dengan menghitung waktu, orang tahu berapa jam lagi hari malam. Berapa jam lagi hari siang. Lama-lama ia pun tahu, berapa lama lagi ia akan bisa mempertahankan hidup,”kataku.

Teman ayahku itu segera menuduhku telah gila. Tetapi dia tanya lagi.

“Apalagi yang kau beli?”

“Sebuah buku harian,”jawabku.

“Sebuah buku harian?”

“Ya, sebuah buku harian. Sebuah buku harian lebih tinggi nilainya daripada arloji tadi. Dalam buku harian itu aku bisa menulis apa saja yang bisa kutulis. Apa saja bisa kutulis, dan aku takkan bisa didakwa atau ditangkap oleh tulisan itu. Aku bisa memaki langit, gedung-gedung, mobil-mobil, orang-orang dari tingkat dan pangkat apapun juga. Dengan buku harian itu aku kehilangan rasa cemas dan takut, aku merasa jauh lebih merdeka daripada kau, biarpun kemerdekaan itu kumiliki untuk diriku sendirii saja,”kataku.

“Apa lagi?”

“Jangan memotong dulu,”kataku, “masih perlu disambung. Dalam buku harian itu juga bisa kucatat hutang dan piutangku, yaitu neraca ekonomi. Kalau tiap-tiap orang bisa mengatur perekonomian dirinya sendiri, itu berarti ia telah ikut menyumbang perekonomian negaranya, biarpun sumbangan itu Cuma sepersembilan puluh juta,”kataku.

“Kau tentu bisa menjadi menteri perekonomia,”katanya.

“Aku tentu tak bisa menjabat jabatan itu. Kalau aku jabat juga, maka ukurannya nanti disesuaikan dengan perekonomian diriku sendiri dan tidak untuk perekonomian semua orang.  Tentu aku akan membeli sembilan puluh juta buku harian dan sembilan puluh juta pinsil atau pulpen. Aku tak mau jabat itu, biarpun ditawarkan, karena aku merasa malu menjabat tugas yang aku sendiri sadar bahwa diriku amat bodoh untuk tugas itu,”

Kawanku diam terpaku seperti disihir tukang sulap.

Kemudian dia bertanya:

“Apa lagi yang akan kau beli?”

“Kalau bisa masuk akal, akan kubeli salah satu planit yang ada di angkasa itu,”jawabku.

Ia tertawa terkekeh-kekeh dan orang-orang sekeliling warungitu menontoni ketawanya. Ia seharusnya berhenti ketawa, tetapi ia ketawa terus. Ia ketawa seperti  orang betul-betul ketawa. Ayahmu waktu itu yakin, bahwa sebenarnya ia bukan ketawa. Pada masa zaman Ayah membikin nasehat ini, anakku, banyak orang ketawa seperti temanku itu, berjuta-juta banyaknya.

Pada jam delapan tadi, malam hari ulang tahun Ayahmu, ayah menerima kabar dari seseorang, bahwa teman ayah itu telah memotong nadinya dengan pisau silet. Hal itu amat memalukan sekali, sebab ada sepotong suratnya yang berbunyi: “Aku sudah malu padaMu, Tuhan, karena aku tidak menjalankan hidupku sebagai manusia yang wajar dan baik seperti yan Kamu firmankan.”

Besok pagi ayahmu bermaksud ikut menggali kubur untuk membenamkan mayat  kawanku ke dalam bumi ini. Buatku sendiri, kematiannya tak begitu menyedihkan, karena sudah lazim terjadi yang demikian di zamanku.

Sebenarnya nasehat ini, anakku, belum tentu ada, jika temanku itu tidak bunuh diri.

Bunuh diri adalah sifat yang paling pengecut dan memalukan, anakku. Sekiranya engkau jadi penerbang ruang angkasa, sekiranya, dan penerbanganmu itu gagal sehingga kau dilontarkan kembali ke bumi dalamkeadaan selamat, janganlah engkau malu. Sekiranya engkau jadi sopir truk dan karena sesuatu hal kau melanggar seseorang hingga mati, jangan kau lari atau bunuh diri, anakku. Sekiranya kau insinyur kelak, dan kau bangunkan sebuah gedung yang miring, kau jangan tumbukkan kepalamu ke dinding gedung itu hingga kepalamu hancur.

Ayahmu yakin, pada waktu kau membaca nasehatku ini kau bisa jadi dan bisa kerja apa saja anakku. Tetapi, janganlah kau bercita-cita jadi seorang pengarang macam aku ini.

Mungkin sekali engkau pergi ke perpustakaan dan melihat cerita pendek di mana tertulis nam ayahmu, dan tergerak hatimu ingin berbuat yang sama.

Aku mempunyai banyak alasan melarangmu, anakku. Tetapi hanya beberapa alasan yang bisa kusebutkan. Seorang pengarang yang baik selalu berusaha mencari kebenaran. Ide sebuah cerita yang ditulisnya haruslah berdasarkan kebenaran. Tetapi kadang-kadang kebenaran dikalahkan oleh kenyataan, dan pada saat itulah para pengarang diuji. Suatu kenyataan mungkin tidak benar, anakku. Karena itu, ia harus berani disalib atau digantung untuk suatu kebenaran.

Ayahmu merasa ganjil, karena sebagai pengarang, ia cuma membutuhkan  dua macam benda yang akan dibelinya pada saat ini,  yaitu sebuah arloji dan sebuah buku harian. Tetapi ayahmu merasa bangga, sebab dengan dua buah benda itu dia dapat membuktikan kebenaran itu. Kebenaran yang dianutnya.

“Aku mau tahu, di mana arloji itu sekarang. Itu benda bersejarah buatku, aku ingin mendapatkannya,”katamu.

“Sayang, anakku,”jawab ayahmu.

“Kenapa?”tanyamu.

“Arloji itu telah kugadaikan untuk membeli buku harian yang baru, sebab buku harian yang lama-lama sudah penuh semuanya.”

“Tentu sudah tidak bisa diambil lagi,”katamu.

“Ya, ya. Tentu sudah daluwarsa. Tapi kalau kau punya uang kau bisamembelinya di toko-toko,”kataku.

“Dan buku harian itu? Apakah isinya?”

“Macam-macam, diantaranya: kebenaran. Tetapi buku harianku itu tidak bisa digadaikan, dan yang kau baca ini adalah kutipan dari salah sebuah dari lembaran-lembaran buku harian itu, yang bertanggal dua puluh satu November, tepat pada hari ulang tahunku kedua puluh lima.”

Anakku yang tercinta. kalau kuakhiri nasehat-nasehatku ini, pada waktu itu engkau belum ada. Tambang emas itu pun belum dibuka. Tetapi aku punya usul: Bagaimana kalau kau berusaha untuk jadi insinyur pertambangan saja? Tetapi jangan marah, anakku, itu Cuma usul saja. Engkau memilih pilihan hidup ini sesuai dengan kemampuan pikiran dan tenagamu, asal saja pilihan itu adalah pilihan yang benar: tidak merugikan masa depanmu dan masa depan banyak manusia.

Artikel menarik lainnya :

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply