Etika, Adat, Kebiasaan Novel Angkatan 20-an dan 30-an

Sastra 0
novel

Etika, Adat, Kebiasaan Novel 20-an&30-an

Dalam Kesusastraan Indonesia mengenal beberapa angkatan diantaranya angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Angkatan atau periode Balai Pustaka merupakan angkatan yang didirikan pada tanggal 14 September 1908. adapun tujuan pendirian Balai Pustaka adalah (1) memberi bacaan kepada rakyat untuk menyaingi penerbitan Cina, yang dianggap membahayakan pemerintah Belanda serta (2) memasukkan tujuan utama pihak penjajah ke dalam jiwa bangsa Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa syarat naskah yang masuk ke Balai Pustaka, yakni netral dari agama, tidak mengandung politik, dan tidak menyinggung kesusilaan.

Berikut ini adalah tentang adat, kebiasaan, dan etika yang terdapat dalam novel angkatan Balai Pustaka :

1. Adat

Adat merupakan suatu aturan atau peraturan yang lazim diturut atau dilakukan sesuai dengan situasi dan waktu tertentu. Adat diartikan sebagai hukum tak tertulis sehingga bersifat mengikat masyarakat penggunanya. Adat inilah yang akan menentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Jika tokoh mematuhi adat yang berlaku, maka ia dianggap tokoh yang baik dan layak ditiru. Sebaliknya, jika ada tokoh yang menentang atau tidak taat adat biasanya akan dijauhi atau dihukum sesuai adat yang berlaku.

2. Kebiasaan

Kebiasaan merupakan budaya atau tradisi yang ada di masyarakat yang turun-temurun selalu dilakukan. Kebiasaan itu berkaitan dengan latar belakang budaya dalam sebuah cerita.

3. Etika

Etika itu berkaitan dengan apa yang dianggap baik atau yang dianggap buruk, atau sopan-tidak sopan pada kebiasaan tokoh-tokoh ceritanya. Etika berkaitan dengan moral atau perilaku yang terpengaruh oleh adat dan kebiasaan.

4. Bahasa

Bahasa merupakan media yang digunakan dalam menulis sebuah cerita. Bahasa yang digunakan pada karya sastra Angkatan 20-an dipengaruhi oleh bahasa daerah. Penggunaan ungkapan dan perbandingan sebagai bentuk kiasan banyak dijumpai dalam karya sastra angkatan 20-an.

Novel Azab dan Sengsara

Azab dan Sengsara adalah sebuah novel tahun 1920 yang ditulis oleh Merari Siregar dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbit besar di Indonesia kala itu. Novel ini mengisahkan sepasang kekasih, Amiruddin dan Mariamin, yang tidak dibolehkan menikah dan menderita. Novel ini dianggap sebagai novel modern pertama dalam bahasa Indonesia.

Adat
Adat dan kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel “Azab dan Sengsara” adalah sebagai berikut :

  1. Kawin secara paksa (jodoh dipilihkan orang tua) Aminudin dijodohkan dengan wanita bukan pilihannya
  2. Harta merupakan pertimbangan dalam menjodohkan anak Mariamin berasal dari keluarga kurang mampu maka ditolak oleh keluarga Aminudin.
  3. Poligami (laki-laki dengan istri lebih dari satu) Kasibun mengku perjaka ternyata telah beristri, dan Mariamin dijadikan isteri kedua.
  4. Budaya makan keluarga selalu dilakukan bersama-sama (lengkap; ayah, ibu, dan anak). Jika ada sesuatu hal yang di luar kebiasaan terjadi, maka anak diperbolehkan makan terlebih dahulu. Sementara istri harus tetap mengunggu suaminya.
  5. Anak harus menurut perintah ibunya.

Etika

Etika moral yang dapat kita temukan pada novel “Azab dan Sengsara” adalah sebagai berikut :

  1. Anak sangat berbakti kepada orang tuanya. Aminudin tak mencintai wanita pilihan orang tuanya namun tak berani menolak karena baktinya kepada orang tuanya.
  2. Isteri sangat taat kepada suaminya. Meskipun Mariamin ditipu oleh Kasibun yang mengaku perjaka, ia tetap berbakti kepada suaminya.

Kebiasaan
Kebiasaan-kebiasaan yang dapat ditemukan pada novel “Azab dan Sengsara” sebagai berikut :

  1. Telekomunkasi jarak jauh asih menggunakan surat atau telegram
  2. Pernikahan dipandang dari bibit, bebet, dan bobot
  3. Anak laki-laki biasanya pergi merantau untuk mencari pekerjaan

Novel Siti Nurbaya

Sitti Nurbaya adalah sebuah novel Indonesia yang ditulis oleh Marah Rusli. Novel ini diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbit nasional negeri Hindia Belanda, pada tahun 1922

Kebiasaan

Kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel “Siti Nurbaya” adalah sebagai berikut :

  1. Ia terbiasa memakai topi putih yang seringkali dipakai bangsa Belanda. Bukti kutipan: “Topinya topi rumput putih yang biasa dipakai bangsa belanda”
  2. Seorang gadis yang selalu mengenakan gaun terbuat dari kain batis dengan motif kembang kembang berwarna merah jambu. Bukti kutipan: “Gaunnya (baju nona-nona) terbuat dari kain batis yang berkembang merah jambu”
  3. Orang zaman dahulu merokok dengan cara yang berbeda dengan orang-orang zaman sekarang. Bukti kutipan: “Dekat putri ini duduk saudaranya yang bungsu, Sutan Hamzah sedang menggulung rokok dengan daun nipah.”
  4. Orang padang saat berbicara seringkali menggunakan peribahasa yang penuh arti. Bukti kutipan: “Akan tetapi sebab ia seorang yang ‘pandai hidup’ sebagai kata peribahasa Melayu, selalulah rupanya seperti orang yang tak pernah kekuranagan.
  5. Seorang istri di masyarakat padang merupakan hamba dari laki-laki dan laki-laki itu adalah tuannya perempuan. Bukti kutipan: “Bukankah laki-laki itu tuan perempuan dan perempuan itu hamba laki-laki? Tentu saja mereka boleh berbuat sekehendak hatinya kepada kita; disiksa, dipukul, dan didera dengan tiada diberi belanja yang cukup dan rumah tangga yang baik.”

Adat
Adat yang bisa kita ditemukan pada novel “Siti Nurbaya” adalah sebagai berikut :

  1. Jika akan melaksanakan proses perdukunan, hendaklah harus menyiapkan syarat-syaratnya. Bukti kutipan: “Baiklah… Hamba mohon perasapan dan kemenyan serta air bersih secambung dan sirih kuning tujuh lembar.”
  2. Di Padang, pernikahan dipandang sebagai perniagaan, laki-laki dibeli oleh perempuan, karna perempuan memberi uang kepada laki-laki. Bukti kutipan: “Perkawinan itu dipandang sebagai perniagaan, disini laki-laki dibeli oleh perempuan”
  3. Di gunung Padang terdapat banyak kuburan, dan pada moment tertentu, tempat itu ramai dikunjungi pendatang yang ingin mendoakan arwah yang telah pergi. Bukti kutipan: ” Memang digunung itu banyak kuburan, sedang dipuncaknya adalah sebuah makam, didalam suatu gua batu, tempat yang berkaul dan bernazar. Sekali setahun, saat-saat akan masuk puasa pada waktu hari raya, penuhlah gunung itu dengan penziarah…”
  4. Orang besar, penghulu/orang berpangkat tinggi yang memiliki istri lebih dari 1 sudah banyak, sebab  itulah adat di Padang, sebab dengan memiliki banyak istri, itu berarti dia meiliki banyak keturunan. Bukti kutipan: “Sekalian penghulu di Padang ini beristeri 2,3, sampai 4 orang. Bukankah harus orang besar itu beristri banyak?”
  5. Saat ingin makan, sebelumnya harus menyiapkan makan terlebih dahulu dan bersikap seperti ada yang sudah ada. Bukti kutipan: “…. menyediakan makanan diatas tikar rumput yang telah dialas dengan kain putih, terbentang di tengah rumah. Beberapa lama kemudian, duduklah Ahmad Maulana makan dihadapi istrinya, sedang Alimah & Nurbaya duduk jauh sedikit dari sana….”

Etika

Etika moral yang dapat kita temukan pada novel “Salah Asuhan” sebagai berikut :

  1. Janganlah kamu bersenang-senang diatas penderitaan orang lain. Bukti kutipan: “Tatkala ayahku telah jatuh miskin, pura-pura kau tolong Ia dengan meminjamkan uang kepadanya, tetapi maksudmu yang sebenarnya hendak menjerumuskannya ke jurang yang terlebih dalam, karena hatimu terlebih bengis daripada setan itu, belum puas lagi.”
  2. Apabila ada tamu yang datang hendaknya kita menyediakan minuman dan makanan kecil. Bukti kutipan: “Sementara itu segala kue-kue yang lezat rasanya, diedarkanlah, dibawa kepada sekalian tamu. Demikian pula minum-minuman…”
  3. Sebagai anak muda, hendaklah kita menghormati dan menghargai orang yang lebih tua. Bukti kutipan: “Ah jangan Sam. Kasihanilah orang tua itu! Karena ia bukan baru sehari dua hari bekerja pada ayahmu. melainkan telah bertahun-tahun. Dan belum ada ia berbuat kesalahan apa-apa.”
  4. Jika sedang bermain dengan teman, sebaiknya kita menjaga tingkah laku. Bukti kutipan: “Baiklah, tetapi hati-hati engkau menjaga dirimu dan si Nurbaya! Janganlah engkau berlaku yang tiada senonoh!”
  5. Jika orang tua kita sedang berbincang dengan tamu, dan kita tidak berkepentingan, sebaiknya kita masuk dan tidak perlu mendengarkan pembicaraan mereka. Bukti kutipan: “Kemudian masuklah ia kedalam biliknya. Rupanya ia mengerti bahwa orangtuanya itu sedang memperbnincangkan hal yang tak boleh didengarnya.”

Demikian perbedaan adat, kebiasaan, dan etika yang terdapat dalam novel angkatan 20-an dan novel angkatan 30-an. Perbedaaan adat, kebiasaan, dan etika pada angkatan tersebut yang tergambar dalam Novel Azab dan Sengsara dan Novel Siti Nurbaya.

Artikel menarik lainnya :

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply