Pawai di Bawah Bulan : Cerpen S.M. Ardan

Sastra 0
pawai di bwh bln s.m.ardan

Pawai di Bawah Bulan S.M.Ardan

Akhirnya Tinah membawa anaknya ke rumah sakit. Harapannya bisa berdiri paling depan ternyata tidak terkabul. Dan ketika pintu dibuka barisan barisan sudah mencapai tepi jalan raya, di mana Tinah berdiri hampit tepat di tengah-tengahnya. Jalan Diponegoro mulai dan semakin ramai. Mobil dan terutama sepeda. Pelajar dan terutama pekerja. Barisan merangkak maju. Tinah mengingsutkan kakinya.

“Seorang di belakangnya menanya pada Tinah:

“Mpok orang baru?”

“Baru pegimane?”

“Iye, baru sekali ini dateng?”

“Ho-oh.”

“Karcis begini belum punya kan?”

“Nggak ade.”

“Kalu gitu ngantrinya di sono. Antrian atu lagi. Di depan.”

“Di depan nyang mane?”

“Masup aje ke dalem. Tanya ke ame nyang jage. Orang baru si enak. Kagak panjang antreannye.”

“Bayarnye berape, Pok?”

“Same juga dua perak. Gi deh cepetan!”

“Maksih, Pok, dibilangin.”

Maka Tinah punbertanya-tanya dalam hati di antara kerumunan di depan loket. Pada seorang laki-laki Tinah bertanya:

“Buat nyang baru di sini antrenya, Bang?”

“Iye. He-eh.”

Setelah membeli karcis Tinah membawa anaknya ke kamar timbang. Tentu saja dengan bertanya dulu. Keterangan tetangganya semalam, tidak menolongnya. Suaminya tidak mengantarnya, tidak bisa. Buruh harian!

Tinah tinggal menunggu panggilan ke kamar dokter. Seorang perempuan seperti Tinah mengais anak juga duduk di sampingnya.

“Kok beli karcisnya di samping, Pok?”

Yang dinya terkejut sebentar, lalu berkata pelan:

“Nyogok!”

Tinah tidak mengerti, dia memandang aneh. Orang itu menambahkan:

“Kasih aje susternya seperak. Beres deh!”

“Boleh gitu?”

“E, banyak nyang gitu.”

“Kalau tau sih.”

“Nanti laen kali nyogok aje. Kita ngak usah jalan subuh-subuh. Ngak usah ngantri cape-cape. Kagak use berdesek-desek lagi.”

“Saye baru tau. Lagian saye baru.”

“O, baru. Kalau ngasih ama suster, bentar lagi juga nimbang. Gak lama lagi masup kamar dokter. Abis ngambil obat pulang deh.”

Memang, waktu Tinah selesai dari kamar dokter, perempuan tadi sudah lama pergi.

“Bener juga tu empok, kalu begini jadi ngak sempet ape-ape.”

Dengan uang serupiah Tinah bisa menghemat waktu beberapa jam. Tidak perlu bangun pagi-pagi. Pulang bisa lebih cepat. Tak usah menunggu terlalu lama. Hanya karena uang serupiah. Serupiah!”

“Tapi seperak bisa buat sayur buat ikan. Kalu nyogok kepakse makan nasi melulu. Ah!”

Maka kembali Tinah berdiri di paling belakang. Ambil obat! Matari sebagai biasa makin siang makin meninggi. Tubuh yang dikenai panasnya sebagai biasa mengeluarkan keringat. Bau keringat menambah pening kepala yang pusing oleh pikiran, yang tambah pening oleh panasnya matari yang semakin terik. Tapi barisan mengingsut juga. Di belakang Tinah telah banyak orang-orang yang baru datang.

Seorang perempuan yang agak di muka Tinah keluar dari barisan. Dia menurunkan anaknya dari barisan. Kain pengaisnya ternyata penuh tai. Orang-orang menutup hidungnya sambil mencari-cari sumber yang menyebabkan mereka sedikit harus menahan napas. Sesudah tersua lalu mereka menjauhi sumber itu, meninggalkan perempuan tadi yang sedang menguruki tai anaknya dengan debu tanah. Yang dalam barisan mau tak mau tidak berani menyingkir. Patuh bersama Tinah tetap dalam barisan yang maju pelan.

Sekali terdengar suara-suara:

“Pok, jangan ngirim dong!”

“Kesian yang ngantri dong!”h             .

Tak ada jawaban. Dan suara-suara matilah.

Perempuan yang baru selesai menceboki anaknya masuk barisan lagi.

Dari belakang Tinah muncul suara-suara:

“Hei,hei! Jangan dikasih nyelak tuh!”

“Memang tempatnya di situ tadi.”

Perempuan tadi membela diri:

“Ni empok tahu saye memang di sini tadi.”

“Ude deh, ah!”

“jangan ninggal-ninggal antrean dong!”

Perempuan tadi berang berkata:

“Saye kan abis ngurusin anak berak.”

“Biarin aje, Pok.”

Tapi perempuan tadi rupanya ngak senang hati:

“Jangan nyangke orang sembarangan aje.”

“Bung dia tidak nyelak. Semue tau.”

Suara-suara itu timbul dari barisan bersahut-sahutan, masing-masing tidak tau betul siapa lawannya bicara. Barisan pelan merayap terus.

Tinah lebih memperhatikan kepeningannya. Kain pengais dikudungkannya sedikit ke kepalanya. Anaknya menggelisah sambil menetek. Kertas di tangan Tinah dari dokter basah oleh keringat.

Seorang agak tua langsung ke depan dan masuk barisan.

“Eeee, dikasih nyelak aje tu bapak.”

“Kesian, Bung, orang tue.”

“Enggak tahu yang lain kepanasan nih.”

“Orang tue, Bung, orang tue.”

Orang laki-laki yang di belakang Tinah itulah yang selalu marah-marah, dia melihat orang tua itu tenang-tenang saja. Namun orang laki-laki itu kelihatannya tidak bersungguh-sungguh marahnya, sambil ketawa atau senyum-senyum.

Tinah mengingsutkan lagi kakinya yang telah terasa lemah.

Seorang pemuda gagah datang langsung ke muka loket dan menyodorkan kertas. Orang-orang dalam barisan terpukau sebentar. Tapi lagi suara di belakang Tinah:

“Antri, Bung, ah!”

“Diri di tempat panas emang kagak enak, Tuan.”

“Antri dong, kesian nyang lain nih.”

Pemuda gagah memandang angkuh ke arah barisan:

“Mau apa?”

Tak bersambut.

“Berani lagi buka mulut aku hantam.”

Itu pemuda gagah maju menghampiri laki-laki di belakang Tinah:

“Mau apa kau?”

Tinah yang ngeri. Barisan jadi tak beraturan.

“Lawan, Bung!”

Pemuda mencari suara itu yang datang dari belakangnya, dekat loket.

“Aturan, Saudara!”

Kembali pemuda menoleh ke arah Tinah, suara tadi datang dari barisan paling belakang. Tapi lantas menyusul suara-suara:

“Ya, ya, ya!”

“Kasi pelajaran!”

“Biar die tau!”

“Pukul,pukul deh!”

Pemuda gagah menunjukkan kengeriannya. Dan suara-suara makin ramai. Barisan makin tak teratur. Mata pemuda liar mencari. Ke mana-mana dia tertumbuk pandangan benci. Mata-mata yang mengejek. Tinah makin kecut. Terutama laki-laki membuat lingkaran sekitar pemuda. Laki-laki yang di belakang Tinah mendapat hati, menantang. Tangan pemuda meremas-remas kertas penyebab dia dikepung.

“Silakan, antri Tuan!”

Dengan mata tunduk di pandangan benci mata-mata kerumunan itu, pemuda gagah menuju pintu, keluar setengah berlari. Akhirnya kerumunan itu meneriaki dan mengejekinya puas-puas.

“Pengecut, pengecut!”

“Lagak aje sebakul! Biar die nyaho!”

“Bukan zamannye lagi sekarang jadi jagoan.”

Teriakan-teriakan mereda dan mereda dan mati.

Dan sedikit demi sedikit barisan teratur lagi sendirinya. Tinah beberapa langkah lagi ke loket. Dia yang tidak banyak bicara semakin mengunci mulutnya. Anaknya yang terbangun karena keriuhan barusan ditetekinya. Namun menggelisah juga kena terik matahari. Seperti tinah yang mencoba melawan panas dengan berdiam diri. Seperti barisan yang menghilangkan terik dengan berdiri teratur dan tertib.

“Anak gue jelek-jelek juga gak aleman.”

Artikel menarik lainnya :

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply