Puisi Chairil Anwar Deru Campur Debu

Sastra 0
Deru Debu

Deru Campur Debu : Puisi Chairil Anwar

Deru Campur Debu merupakan Kumpulan Puisi Chairil Anwar. Dalam kumpulan puisi tersebut terdapat 45 judul puisi yang mencerminkan perjuangan yang tak pernah padam dalam perjalanan waktu. Berikut adalah puisi dari Kumpulan Puisi Deru Campur Debu Chairi Anwar :

 AKU

 Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak jga kau

 

Tak perlu sedu sedan itu

 

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

 

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

 

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

 

Dan aku akan lebih tidak peduli

 

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

HAMPA

Kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak.

Lurus kaku pohonan. Tak bergerak

Sampai ke puncak. Sepi memangut,

Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti. Menanti. Menanti

Sepi

Tambah ini menanti jadi mencekik

Memberat-mencengkung punda

Sampai binasa segala. Belum apa-apa

Udara bertuba. Setan bertempik

Ini sepi terus ada. Dan menanti.

 

SELAMAT TINGGAL

Aku berkaca

 

Ini muka penuh luka

Siapa punya?

 

Kudengar seru menderu

– dalam hatiku? –

apa hanya angin lalu?

 

Lagu lain pula

Menggelepar tengah malam buta

 

Ah …………………..??

 

Segala menebal, segala mengental

Segala tak kukenal …………..!!

Selamat tinggal …………….!!

 

ORANG BERDUA

Kamar ini jadi sarang penghabisan

Di malam yang hilang batas.

 

Aku dan dia hanya menjengkau

rakit hitam

 

‘Kan terdamparkah

atau terserah

pada putaran pitam?

 

Matamu ungu membatu.

 

Masih berdekapankah kami atau

mengikut juga bayangan itu?

 

SIA-SIA

Penghabisan kali itu kau datang

membawa karangan kembang

Mawar merah dan melati putih.

darah dan suci.

Kau tebarkan depanku

Serta pandang yang memastikan: Untukmu.

 

Sudah itu kita sama termangu

Saling bertanya: Apakah ini?

Cinta ? Keduanya tak mengerti.

 

Sehari itu kita bersama. Tak hampi-menghampiri.

 

Ah! Hatiku yang tak mau memberi

Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

 

DOA

 

kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namaMu

 

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seruluh

 

cayaMu panas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

 

Tuhanku

 

aku hilang bentuk

remuk

 

Tuhanku

 

aku mengembara di negeri asing

 

Tuhanku

dipintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling

 

ISA

kepada nasrani sejati

Itu tubuh

mengucur darah

mengucur darah

 

rubuh

patah

 

mendampar tanya: aku salah?

 

kulihat tubuh mengucur darah

aku berkaca dalam darah

 

terbayang terang di mata masa

bertukar rupa ini segara

 

mengatup lupa

 

aku bersuka

 

Itu tubuh

mengucur darah

mengucur darah

 

KEPADA PEMINTA-MINTA

Baik, baik, aku akan menghadap Dia

Menerahkan diri dan segala dosa

Tapi jangan tentang lagi aku

Nanti darahku jadi beku

 

Jangan lagi kau bercerita

Sudah tercacar-cacar semua di muka

Nanah meleleh dari muka

Sambil berjalan kau usap juga.

 

Bersuara tiap kau melangkah

Mengerang tiap kau memandang

Menetes dari suasana kau datang

Sembarang kau merebah.

 

Mengganggu dalam mimpiku

Menghempas aku di bumi keras

Di bibirku terasa pedas

Mengaum di telingaku.

 

Baik, baik, aku akan menghadap Dia

Menyerahkan diri dan segala dosa

Tapi jangan tentang lagi aku

Nanti darahku jadi beku.

 

KESABARAN

Aku tak bisa tidur

Orang ngomong, anjing nggonggong

Dunia jauh mengabur

Kelam mendinding batu

Dihantam suara bertalu-talu

Di sebelahnya api dan abu

 

Aku hendak bicara

Suaraku hilang, tenaga terbang

Sudah! tidak jadi apa-apa!

Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

 

Keras membeku air kali

Dan hidup bukan hidup lagi

 

Kuulangi yang dulu kembali

Sambil bertutup telinga, berpicing mata

Menunggu reda yang mesti tiba

 

SAJAK PUTIH

 Bersandar pada tali warna pelangi

Kau depanku bertudung sutra senja

Dihitam matamu kembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalunbergelut senda

 

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

Meriak muka air kolam jiwa

Dan dalam dadaku memerdu lagu

Menarik menari seluruh aku

 

Hidup dari hidupku, pintu terbuka

Selama matamu bagiku menengadah

 

Selama kau darah mengalir dari luka

Antara kita Mati datang tidak membelah …..

 

KAWANKU DAN AKU

 Kami sama pejalan larut

Menebus kabut

Hujan mengucur badan

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

 

Darahku mengental pekat. Aku tumpat padat.

 

Siapa berkata-kata ………?

Kawanku hanya rangka saja

Karena dera mengelucak tenaga

 

Dia bertanya jam berapa ?

 

Sudah larut sekali

Hilang tenggelam segala makna

Dan gerak tak punya arti.

 

KEPADA KAWAN

 Sebelum Ajal mendekat dan mengkhianat,

mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,

selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,

 

belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,

tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,

layar merah berkibar hilang dalam kelam,

kawan, mari kita putuskan kini di sini:

Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

 

Jadi

Isi gelas sepenuhnya lalu kosongkan

Tembus jelajah dunia ini dan balikkan

Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,

Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,

Jangan tambatkan pada siang dan malam

Dan

Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,

Hilang sonder pusaka, sonder kerabat,

Tidak minta ampun atas segala dosa,

Tidak memberi pamit pada siapa saja !

Jadi

mari kita putuskan sekali lagi:

Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,

Sekali lagi kawan, sebaris lagi:

Tikamkan pedangmu hingga ke hulu

Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

 

SEBUAH KAMAR

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini

pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam

mau lebih banyak tahu.

“Sudah lima anak bernyawa di sini,

Aku salah satu !”

 

Ibuku tertidur dalam tersedu

Keramaian penjara sepi selalu,

Bapakku sendiri terbaring jemu

Matanya menatap orang tersalib di batu !

 

Sekeliling dunia bunuh diri !

Aku minta adik lagi pada

Ibu dan bapakku, karena mereka berada

di luar hitungan: Kamar begini,

3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa !

 

LAGU SIUL

I

Laron pada mati

Terbakar di sumbu lampu

Aku juga menemu

Ajal dicerlang caya matamu

Heran ! ini badan yang selama berjaga

Habis hangus di api matamu

‘Ku kayak tidak tahu saja.

II

Aku kira

Beginilah nanti jadinya:

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

 

Dikutuk sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta,

Tak satu juga pintu terbuka.

 

Jadi baik kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak ‘kan apa-apa,

Aku terpanggang tinggal rangka

 

MALAM DI PEGUNUNGAN

 Aku berpikir : Bulan inikah yang membikin dingin,

Jadi pucat rumah dan kaku pohonan ?

Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:

Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan !

 

CATETAN TH. 1946

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,

Mainan cahaya di air hilang bentuk dalam kabut,

Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai.

Kupahat  batu nisan sendiri dan kupagut.

 

Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagia dari

sandiwara sekarang

Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau

di ranjang

Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu

Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.

 

Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu

Jika bedil sudah disimpan, Cuma kenangan berdebu ;

Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir

sempat

Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah,

Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit

mau basah!

 

NOCTURNO

(fragment)

…………………………………………….

Aku menyeru – tapi tidak satu suara

membalas, hanya mati dibeku udara.

Dalam hatiku terbujur keinginan, juga tidak bernyawa.

Mimpi yang penghabisan minta tenaga,

Patah kapa, sia-sia berdaya,

Dalam cekikan hatiku

 

Terdampar ……. Menginyam abu dan debu

Dari tinggalannya suatu lagu.

Ingatan pada Ajal yang menghantu.

Dan demam yang nanti membikin kaku ……..

 

……………………………………………….

Pena dan penyair keduanya mati,

Berpalingan !

 

KEPADA PELUKIS AFFANDI

 Kalau, ‘ku habis-habis kata, tidak lagi

berani memasuki rumah sendiri, terdiri

di ambang penuh kupak,

 

adalah karena kesementaraan segala

yang mencap tiap benda, lagi pula terasa

mati kan datang merusak.

 

Dan tangan kan kaku, menulis berhenti,

kecemasan derita, kecemasan mimpi ;

berilah aku tempat di menara tinggi,

di mana kau sendiri meninggi

 

atas keramaian dunia dan cedera,

lagak lahir dan kelancungan cipta,

kau memaling dan memuja

dan gelap tertutup jadi terbuka !

 

BUAT ALBUM D.S.

Seorang gadis lagi menyanyi

Lagu derita di pantai yang jauh,

Kelasi bersendiri di laut biru, dari

Mereka yang sudah lupa bersuka.

 

Suaranya pergi terus meninggi,

Kami yang mendengar melihat senja

Mencium belai si gadis dari pipi

Dan gaun putihnya sebagai dari mimpi.

 

Kami rasa bahagia tentu ‘kan tiba,

Kelasi mendapat dekapan di pelabuhan

Dan di negeri kelabu yang berhiba

Penduduknya bersinar lagi, dapat tujuan

 

Lagu merdu ! apa mengertikah adikku kecil

yang menangis mengiris hati

Bahwa pelarian akan terus tinggal terpencil,

Juga di negeri jauh itu surya tidak kembali?

 

CERITA BUAT DIEN TAMAELA

Beta Pattirajawane

Yang dijaga datu-datu

Cuma satu.

 

Beta Pattirajawane

Kikisan laut

Berdarah laut

 

Beta Pattirajawane

Ketika lahir dibawakan

Datu dayung sampan

 

Beta Pattirajawane, mejaga hutan pala.

Beta api di pantai. Siapa mendekat

Tiga kali menyebut beta punya nama.

 

Dalam sunyi malam ganggang menari

Menurut beta punya tifa,

Pohon pala, badan perawan jadi

Hidup sampai pagi tiba.

 

Mari menari!

mari beria!

mari berlupa!

 

Awas jangan bikin beta marah

Beta bikin pala mati, gadis kaku

Beta kirim datu-datu!

 

Beta ada di malam, ada di siang

Irama ganggang dan api membakar pulau ……

 

Beta Pattirajawane

Yang dijaga datu-datu

Cuma satu.

 

PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati

 

Aku masih tetap sendiri

 

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

 

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

 

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Untukku sendiri tapi

 

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

 

KEPADA PENYAIR BOHONG

Suaramu bertanda derita laut tenang ….

Si Mati ini padaku masih berbicara

Karena dia cinta,  di mulutnya membusah

dan rindu yang mau memerahi segala

Si Mati ini matanya terus bertanya !

 

Kelana tidak bersejarah

Berjalan kau terus !

Sehingga tidak gelisah

Begitu berlumuran darah.

Dan duka juga menengadah

Melihat gayamu melangkah

Mendayu suara patah:

“Aku saksi!”

 

Bohang,

Jauh di dasar jiwamu

bertampuk suatu dunia;

menguyup rintik satu-satu

Kaca dari dari dirimu pula ……….

 

SENJA DI PELABUHAN KECIL

buat sri ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri di dalam mempercaya mau berpaut

 

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

 

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sendu penghabisan bisa terdekap.

 

KABAR DARI LAUT

Aku memang benar tolol ketika itu,

mau pula membikin hubungan dengan kau;

lupa kelasi tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu,

berujuk kembali dengan tujuan biru.

 

Di tubuhku ada luka sekarang,

bertambah lebar juga, mengeluar darah,

dibekas dulu kau cium napsu dan garang;

lagi akupun sangat lemah serta menyerah.

 

Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi.

Pembatasan Cuma tambah menjatuhkan kenang.

Dan tawa gila pada whisky tercermin tenang.

 

Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang dan memuji,

Atau di antara mereka juga terdampar,

Burung mati pagi hari di sisi sangkar ?

 

TUTI ARTIC

Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,

Adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;

Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola.

Istriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik

 

Kau pintar bercium, ada goresan tinggal terasa

-ketika kita bersepeda ku antar kau pulang –

Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,

Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang

 

Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;

Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu :

Sorga hanya permainan sebentar.

 

Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu

Aku dan Tuti + Greet + Amoi …… hati terlantar,

Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.

 

SORGA

                                                buat basuki resobowo

Seperti ibu + nenekku juga

tambah tujuh keturunan yang lalu

aku minta pula supaya sampai di surga

yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu

dan bertabur bidadari beribu

 

Tapi ada suara menimbang dalam diriku,

nekat mencemooh: Bisakah kiranya

berkering dari kuyup laut biru,

gamitan dari tiap pelabuhan gimana ?

Lagi siapa bisa mengatakan pasti

di situ memang ada bidari

suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya Yati ?

 

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,

gadis manis, sekarang iseng sendiri.

 

Perahu melancar, bulan memancar,

di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar.

angin membantu, laut terang, tapi terasa

aku tidak ‘kan sampai padanya.

 

Di air yang tenang, di angin mendayu,

di perasaan penghabisan segala melaju

Ajal bertahta, sambil berkata :

“Tujukan perahu ke pangkuanku saja”.

 

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh !

Perahu yang bersama ‘kan merapuh !

Mengapa Ajal memanggil dulu

Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

 

Manisku jauh di pulau,

kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Demikian artikel puisi dari Kumpulan Puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita.

 

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply