Reportase yang Menakutkan : Puisi Mustofa W. Hasyim

Sastra 0

reportase

Antologi Puisi Reportase yang Menakutkan

Kumpulan Puisi Karya Mustofa W. Hasyim ini merupakan refleksi dari mimpi manusia zaman sekarang. Mimpi buruk yang muncul akibat ketikseimbangan, ketidakadilan, dan ketidakselarasan dalam berbagai aspek kehidupan yang mengakibatkan adanya ketakutan dan ketidaktentraman hidup.

Walau bagaimanapun keadaan kehidupan ini, harus tetap optimis dalam menghadapinya dan tentu saja segala sesuatunya selalu dipasrahkan kepada Tuhan. Kumpulan Puisi Karya Mustofa W. Hasyim berjudul Reportase yang Menakutkan yang terdiri dari enam belas judul puisi.

 Kisah Pangeran Sableng

Sebagai murid Ndoro Purbo

dan Ki Suryo Mentaram

ia pun lolos dari Kraton

mengembara ke cakrawala

 

Ia jelajahi ujung dari kepedihan

Ia sampai ujung dari kegetiran

Ia naiki puncak kegembiraan

Ia masuk ke dalam kawah dendam

Ia bertahan pada akar kepasrahan

Ia menerobos akhir perjuangan

dan sampai di tengah medan keraguan

was-was dan ketidakmengertian.

 

“Beginilah agaknya peta hidup

yang tersembunyi dalam misteri,”

katanya di terang cahaya purnama

pantai tempat para leluhur

menduga nasibnya.

 

Ia kembali menyusuri jalan desa

sela kerimbunan pohon hutan

jalanan kota, sungai-sungai

dan jalan rumit yang bersimpangan

di batinnya.

 

Ia mencoba menjadi wong sok madya

Ia makan sebatas lapar

minum sebatas haur, tidur

sebatas kantuk, berpakaian sebatas tubuh

dan syahwat sebatas nikmat.

 

Ia mencoba bebas dan membebaskan

segala yang berbelit-belit di sekitarnya

tapi sering disalahpahami

bahkan diancam.

“Ki Ageng Mangir itu benar

karena hanya takut pada Gusti Allah

dan tidak takut pada yang lainnya.

Bahkan pada raja tak perlu takut,”katanya

yang kemudian dianggap berbahaya.

 

Ia mencoba mengurai dendam sejarah

yang menjajah kenangan orang-orang.

“Kanjeng Adipati Pragolapati juga benar

karena memberontak terhadap keserakahan

Penembahan Senopati atas tubuh wanita.

Hanya caranya terlalu tergesa,”ujarnya

yang dianggap menyimpang dari pakem.

 

Ia pun mencoba mengatakan apa adanya

tentang Raja Pajang. Katanya, “Kita

perlu jujur dan mengakui kalau

Jaka Tingkir itu mengenggam

kebenaran di waktu muda. Berontak

terhadap Demak. Tetapi banyak

salah tingkah di hari tuanya.

Sehingga ia pun perlu diberontak

oleh Pemanahan dan Senopati.”

 

Karena dianggap berbahaya ia pun

dinyatakan sebagai buron

layak ditangkap. Tetapi ia selalu lolos

dari penegepungan dan penyergapan

Ia seperti menyihir dirinya

menjadi antara ada dan tiada

antara tampak dan samar.

“Saya tak bersalah

karena itu selalu selamat,”bisiknya

pada orang desa, orang kampung, orang pasar

orang gardu dan orang Ndalem-ndalem

yang wingit.

 

Usaha menangkat makin menjadi-jadi

ia pun makin menjadi-jadi dalam

berkata dan menunjuki orang-orang

agar benang kusut kehidupan

dapat diurai, diluruskan

bukan dirantas dengan kekuatan.

“Bersabarlah. Semua itu ada batasnya.

Lihat matahari yang berkuasa

hanya di waktu siang. Ia mesti tenggelam

tak berdaya jika waktunya tiba,” katanya

kepada pedagang pasar yang dianiaya

petugas, sampai dagangannya habis

dan jadi miskin.”Yang penting,

jangan jadi pengemis.”

 

“Sebagai petani, kalian jangan

melawan musim. Sebagai kawula

kalian jangan melawan Gusti

sejati. Tapi gusti-gustian

boleh kalian tendang pantatnya,”

nasihatnya kepada para petani

yang sedih karena tanahnya

dibebaskan atau diminta

dengan ganti rugi yang tidak memadai.

Petani pun bersorak.

 

Diam-diam ia sering menyelundup

dalam seminar lantas mengacau

dengan pertanyaan sulit

tapi jenaka. “Siapakah yang berani

menjamin hasil seminar itu tidak

menjadi sampah di almari arsip?”

“Siapakah yang berani mengatakan

kita tidak menyukai kebohongan?”

“Siapakah yang berani mengatakan

siap jadi tumbal kata-katanya?”

“Siapa yang berani tidak makan Siang

nanti saat istirahat, padahal makanan

melimpah di meja sana? Tidak minim es buah,

air putih, kopi kelas satu dalam sehari

di seminar itu? Siapa berani mengusulkan

agar snack dan semua makanan, honor pembicara

dan panitia disumbangkan pada mereka

yang nasibnya tergusur terus-menerus, lantas

ramai-ramai berpuasa? Hayo, siapa berani

lapar, berani haus, berani kepanasan, berani

dimaki, berani jalan kaki, berani dipenjara?”

“Siapa berani? Saya pun hanya setengah berani

melakukan petualangan hidup yang luar biasa

seperti itu, saudara-saudara. Tetapi meski

setengah berani saya telah melakukan,”katanya

dingin

Peserta dan panitia diam

membiarkan ia ngeloyor pergi.

 

Ia mewarisi bakat Ndoro Purbo

yang sering mengacau pesta-pesta

yang tidak ikhlas. Pesta-pesta

yang digunakan sebagai pancingan

untuk mengail keuntungan berlebih.

Ia juga mewarisi kenakalan

Ki Ageng Suryo Mentaram, dalam berpikir

dan memilih titik tolak

yang besebrangan dengan orang lain.

 

“Aneh juga, mengapa aku dianggap berbahay?

Toh pada hakikatnya aku tidak bermaksud

merugikan semua pihak,”pikirnya suatu siang

di sebelah warung pinggir jalan.

“Mau nambah nasinya?” tanya pemilik warung

Ia menggeleng. “Minim lagi?”

Ia menggeleng. “Cukup?”

Ia mengangguk.

Ia melihat anggukan itu pemilik warung terkejut.

Ia merasa kenal dengan orang di depannya.

“Lho njenengan niki rak Gusti Pangeran Uro-uro

yang pernah saya asuh dulu? Ampun lho Gusti Pangeran,”

kata pemilik warung sambil menyembah.

“Mbok, jangan gitu. Saya kan wong biasa,”katanya

Pangeran itu mencegah.

Tamu warung lainnya kaget, mereka berbisik-bisik

dan ada yang lantas membunyikan radio penghubung

di balik baju. “Ia ada di sini. Cepat sebelum terlambat,”

bisik orang itu.

“Ah, nggak usah khawatir Ki Sanak. Saya hari ini

sengaja menyerah. Kalau mau ditangkap, tangkaplah,”

katanya, “Kalau mau bunuh bunuhlah.”

Petugas itu terbelalak. Setengah gemetar ia keluarkan

borgol. Lalu ketika sebuah jeep mendekat ia ditangkap

Pangeran itu. Tapi komandan lebih sigap mengangkat pistol

Ditembaknya Pangeran. Peluru melesat dan Pangeran itu

roboh. “Kaugoblok, bukankah kautahu hadiah mayatnya

lebih tinggi dibanding kalau ia ditangkap hidup-hidup?”

kata komandan kepada anak buahnya.

Pemilik warung berlari. Terisak di depan Gustinya

yangsedang sekarat. “Ampun Gusti Pangeran,” bisiknya.

“Kau tak bersalah Mbok, karena tidak tahu

aku pantang disebut Gusti Pangeran,”balas

pangeran itu

yang kemudian mati

Komandan tersenyum.

“Ayo, naikkan mayatnya ke dalam jeep,” perintahnya.

“Ndoro, Gustiku mau dibawa kemana?”

“Dijual.”

“Mbok jangan.”

“Kalau melarang aku. Kutembak kau.”

Komandan itu menembaki pemilik warung

sampai pelurunya habis.

“Buang mayat wanita ini ke tong sampah,” perintahnya

“Kenapa?” tanya anak buahnya

“Karena tak laku dijual.”

 

Siang yang ganas

menghabisi riwayat

Pangeran Uro-uro atau

Pangeran Sableng. Ia rela mati

bersama pengasuhnya.  (1991)

 

Reportase yan Menakutkan

 

Aku melihat mayat tersayat-sayat

di sekujur tubuhnya

bangkit dari kamar mati

menerobos, keluar rumah sakit.

 

Ia berjalan menuju kota

yang tak pernah istirahat

“Aku merindukan darah manis

dari selangkangan perawan,” katanya.

 

Bagai gelombang sihir

harapannya memukau

gadis-gadis bingung

yang bergegas mendekati.

 

“Jangan di sini, manis

aku tak mampu

menhabiskan kalian sendiri,”

ajaknya setengah berbisik.

 

Mereka beriringan menuju rumah sakit

memasuki kamar mati.

Mayat-mayat lain bangkit

kaget dan tidak mengerti

 

“Mari berpesta, bebaskan kalian

dari ketakutan pengadilan.

Mari nikmati perawan

sebelum kesia-siaan kita

menjadi berita,”serunya.

 

Tanpa musik, tanpa lampu remang

mereka habiskan sisa darah

di tengah kemabukan yang gila

sampai akhir mati kembali

bersama perawan yang ditindihnya.

 

Aku melihat mayat tersayat-sayat

di sekujur tubuhnya

menggigil. “Aku telah diperkosa

dan telah membalas dendam,”katanya

lalu diam. (1991)

 

Mata rantai Cinta yang Ruwet

 Anisah mencintai Amir

Amir mencintai Siti

Siti mencintai Pak Guru

Pak Guru mencintai pelacur

Pelacur mencintai bandit

Bandit mencintai anak Pak Tani

Anak Pak Tani mencintai lembu jantan

Lembu jantan mencintai rumput

Rumput mencintai batu

Batu mencintai sungai

Sungai mencintai langit

Langit mencintai matahari

Matahari mencintai ikan

Ikan mencintai nelayan

Nelayan mencintai tengkulak

Tengkulak mencintai pegawai bank

Pegawai bank mencintai sopir bis kota

Sopir bis kota mencintai Anisah.

 

Begitulah kisah jenaka yang beredar

dikalangan penggembala kambing.

“Seharusnya mereka semua

mencintai Tuhan

biar bebas dan tentram,”

kata gembala paling tua.

 

“Kau sendiri mencintai apa

atau siap?” tanya temannya.

“Aku mencintai kambing betinaku,”jawabnya

membuat semua temannya tertawa.

 

“Hei, jangan tertawa

kambing betinaku itu sedang hamil

sebentar lagi melahirkan

anak kambing yang sehat dan lucu,”

gembala paling tua itu marah

“Belum tentu,”sahut temannya.

“Mengapa?”

“Siapa tahu kambingmu melahirkan bayi,”

 

Benar. Kambing itu melahirkan bayi

dan sejak itu kisah cinta Anisah

tidak pernah dipercakapkan lagi.

Petani yang Terkejut

 Seorang petani terkejut

Ia menanam jagung, tumbuh singkong

Ia menanam kedelai, tumbuh tebu

Ia menanam jambu, tumbuh durian

Ia menanam padi, tumbuh bambu berduri

Ia panik mendengar suara

dari kandang

telur-telur itik yang dieramkan

menetas, keluar anak ular

mereka memburu induk ayam

yang mengeraminya

mereka lilit dan gigit

sampai mati.

Ia ketakutan, lembu di kandang

berubah macan jika malam tiba.

“Tuhan apa dosaku

sehingga alam sekitarku

jungkir balik begini?”gugatnya.

 

Petani itu gelisah

sampai tidurnya dipenuhi mimpi buruk.

Ia bermimpi menjadi burung hantu

dan ketika bangun

alangkah terkejutnya. Semua yang di sekelilingnya

tidak ia kenal.

“Dimanakah saya?” tanyanya

tidak mengerti. Tempat tinggalnya

berubah dan pindah.

“Kau rela transmigrasi

ke pulau sepi ini,”jawab tetangganya.

“Mengapa?”

“Rumah dan sawahmu digusur

untuk hotel, padang golf

dan calon terminal.”

 

Petani itu mencoba

menggarap tanah barunya.

Ia kembali terkejut

ketika biji jagung yang ditebar

tumbuh singkong, kedelai jadi tebu

padi jadi bambu berduri

dan dari telur itik

muncul anak ular.

Lantas ia tidak berani tidur

takut mimpi berubah burung hantu

dan kembali tergusur.  (1991)

 

Buruh yang Amat Sabar

 Seorang buruh yang sabar selalu tersenyum

meski upahnya selalu dikurangi

tiap bulan. Ia bersyukur

bisa mengisi hari-harinya

dengan kerja.

 

suatu hari upahnya menyusut

sampai ke angka nol

ia pun mengangguk pasrah

tanpa niat protes sedikitpun.

 

“Bulan depan ganti kau

yang membayar aku,”

kata majikannya garang.

“Baik. Insya Allah kubayar,”jawabnya

 

Ia pulang dengan langkah segar

tapi isteri dan mertuanya marah

“Masak kerja sebulan

tidak mendapat uapah,” hardik mereka.

 

Hari berikutnya ia tetap bekerja

lebih rajin dibanding temannya

ia pun menyukai lembur

menggantikan temannya yang sakit.

 

Di awal bulan ia tidak mendapatkan upah

justru ia yang membayar majikannya.

“Bagus. Darimana kau dapat uang ini?”

“Dari berhutang tetangga.”

 

Sampai rumah kembali

isteri, mertua dan anak-anaknya

marah sambil menangis

“Tuhan, kenapa kauturunkan juga

lelaki tolol seperti ini,”keluh isterinya.

 

Ia tersenyum, tapi kaget

waktu terdengar letusan

dan asap menggumpal

diikuti api yang berkobar.

 

“Pabri tempatmu bekerja terbakar,”kata orang-orang.

Ia termenung. Heran campur pedih

“Aku selalu mengampuni majikanku

dan mendoakan agar selamat. Tapi Tuhan

ternyata berkehendak lain,”bisiknya.  (1991)

 

Doa Pembunuh Nyamuk

 Seorang lelaki melatih

dan menyiapkan tangannya

sebagai pembunuh nyamuk

yang berombongan menyerbu rumahnya.

 

“Obat atau racun serangga

telah tak berdaya

mereka semakin kebal

terhadap hukum alam,”keluhnya.

 

Ia pun sibuk

membunuhi nyamuk dengan tangan

geraknya bagai pesilat

pendekar mabuk arak

kehidupan.

 

Nyamuk mati, tergencet

bertambah sibuk ia, bertambah

penuh kamar rumahnya

nyamuk mati nyamuk hidup.

 

Gelap, bagai gumpalan awan

berjuta-juta nyamuk

masuki ruangan, mereka

bernyanyi sebelum mati.

 

Padat, nyamuk berdatangan

menyatu mirip batu

terbang. Tangan lelaki itu

patah ketika memukulnya.

 

Ia pingsan dan nyamuk

menyerang, menghisap darah

dan nyawanya sekaligus

tapi ia masih sempat berdoa

lembut bagai musik.

 

Jutaan nyamuk terlena

manari lalu pergi

satu persatu. Ruang jadi terang.

Lelaki itu letih dan menyesali

ketololannya.  (1991)

 

Sembilan Bunga Wijayakusuma

 Sembila bunga wijayakusuma

mekar bersama. Kampung bangkit

dari keletihan

di akhir Desember dingin.

 

Orang-orang berdatangan

“Alangkah putihnya.”

“Alangkah wanginya.”

“Alangkah indahnya.”

“Alangkah kuatnya bunga ini

menyihir kita.”

 

Mereka berbisik-bisik

tentang khasiatnya

“Dalam wayang, bunga ini

dapat menghidupkan orang mati,”

kata orang tua.

 

“Kabarnya bunga semacam ini

dapat menghidupkan

kejantanan lelaki

yang layu dan mati,”sahut lainnya.

 

“Kabarnya, dapat membuat muda

wanita tua. Membuat wajah

kembali berdarah, dada dipenuhi gairah,”

ujar tukang jamu meyakinkan.

 

“Kabarnya, bunga ini

bisa membuat kaya pemiliknya

bebas hutang, bebas tagihan,”

bisik pengemis lirih.

 

“Kabarnya, dapat membuat

kita sakit. Jadi penangkal

bahaya zaman ini. Bahkan dosa

dapat disingkirkan,”

bisik bekas penjahat.

 

“Jangan macam-macam kalian

bunga hanya sekedar isyarat

agar kita lebih jujur

dalam hidup ini,”kata kiai.

 

Sembilan bunga wijayakusuma

diam. Tak bergeming terhadap pujian

lalu semua meledak bersama

bau busuk pun memenuhi udara.  (1991)

 

Warung yang Dibakar

 “Warung ini bukan saja pernah pindah

dari dekat stasiun kota ini

ke dekat pasar buah, lalu terdampar

di depan terminal dan akhirnya

nempel di samping bioskop murahan ini,

tapi warung ini pernah pindah

dari kota ke kota, menjelajah

sudut pulau Jawa yang kian pekat

dengan asap mobil,”

demikian kisah pemilik warung nasi

dengan bangga, ketika aku berkunjung

suatu malam.

“Selama ini pula Tuhan Selalu

bersama saya. Meski sering dimusuhi

petugas ketertiban, aku bertahan,”

sambungnya. “Doaku selalu berhasil

menyelamatkan nasib dari tindasa.”

Wajah pemilik warung itu hitam

tapi matanya tulus, tangannya cekatan

dan mulutnya mudah tertawa.

 

Malam berikutnya, warung itu lenyap

Bioskop di dekatnya dipermegah

daerah sekitarnya dibesihkan.

Empat jam aku keliling kota,

warung itu kutemukan di dekat selokan.

“Mari. Aku merasakan pencarianmu

yang pasti ketemu,”sambutnya

dengan nada biasa.

 

Lampu menyala, tungku menyala

dan bau sayur lodeh, tempe bacem

atau wedang jahe menyatu

dengan malam dingin.

 

“Kenalkan. Ini istriku

yang baru datang dari des,”katanya

sambil menggandeng wanita muda

yang sedang hamil tua.

 

“Apa tidak repot melahirkan

di sini?” tanyaku was-was.

Keduanya menggeleng. “Tempat ini

pasti segera ramai,”ramalnya.

 

Benar. Warung-warung baru bermunculan,

bengkel motor, tukang afdruk kilat,

tukang cukur dan penggali sumur

mendirikan pangkalan di situ.

 

Warung ramai, bayi pun

lahir. Lalu entah dari mana

muncul api membakar

habislah warung-warung itu.

 

Aku kaget membaca beritanya

kulihat abu dan sisa

pemilik warung, sahabatku

dan istrinya pergi.

 

“Ha, ha, ha. Sudah kuduga

kaupasti mencariku lagi,”sapanya

setelah mereka kutemukan

di dekat perumahan yang baru dibangun.

 

“Mereka menyangka bisa mengalahkan

kami dengan mebakar warung

kemudian diganti pertokoan. Warungku

sudah kusembunyikan di jiwa. Mana mungkin

mereka bakar,”ujarnya.

 

“Bayi kalian?”tanyaku khawatir.

“Hangus,jawab istrinya.

“Tapi kami masih punya

kesempatan membuatnya lagi,”

sahut suaminya.  (1991)

 

Penjual Jamu yang Diperkosa

Perjalanan penjual jamu keliling

amat panjangnya. Dimulai dari tanah

tempat rempah-rempah

ditumbuhkan dengan cinta

berakhir di kota ganas.

 

Begitulah tiap hari

Ia mengendong beban

dipersembahkan bagi kesehatan

para pelanggannya

dengan tulus.

 

Tapi kota membalasnya

dengan tidak pantas.

Suatu siang ia tersesat

di depan asrama mahasiswa.

 

Mereka memborong jamunya

tapi kemudian merampok

dompetnya. Begitu terkejut

ia diseret masuk kamar

diperkosa bergantian.

 

“Jamumu membuatku kuat

kini kekuatan itu kukembalikan

padamu, bersama kenikmatan,”

bisik mahasiswa tampan

yang menindihnya.

 

Penghuni asrama bertindak rapi

yang dua memegangi tangan kaki

lainnya pura-pura membaca buku

dan menyetel kaset keras-keras.

 

tapi mereka lupa

menutup jendela. Penjual jamu

berdoa lalu meronta

dan meloncati jendela.

 

Seorang pengamen yang menyetem

gitarnya terkejut tertimpa tubuh

penjual jamu yang berdarah.

Ia jatuh, gitarnya patah.

 

“Tolonglah mas. Aku diperkosa.”

Pengamen berlari, mengendong korban

yang kemudian menjadi istrinya.

“Sesama pengembara, selayaknya bercinta,”bisiknya.

 

“Mereka tak usah kita laporkan.

Sementara kau sembuh

karena kurawat dengan jiwaku

mereka terus dihukum nuraninya,”

kata pengamen lirih.

 

“Ya. Tapi aku tetap harus

berjualan jamu. Tidak berkeliling

taoi di rumah ini. Sambil menunggu

bayi kita muncul bagai matahari,”

sahut istrinya.

 

Begitulah. Tuhan terus menciptakan

keajaiban. Perampokan dan perkosaan

justru jadi pintu perkawinan

yang sederhana, penuh keikhlasan.  (1991)

 

Penyihir yang Tersihir

Penyihir datang, penyihir datang

di kota kecil yang tenang

penduduknya khusyuk bekerja

sehingga kerja telah menjadi doa.

 

Penyihir gelisah, meski kota itu ramah

ia menganggapnya lemah

“Semua ini harus kuubah

dengan sihirku,” katanya.

 

Wakil rakyat dan penguasa kota

tidak setuju dengan maksudnya

“Biarkan kami apa adanya

tenang menjaga hati kami,”kata mereka.

 

“Tidak. Kalian ketinggalan

meski hati kalian suci

tapi tidak selaras dengan zaman.

Akan kusihir kota ini,”sahut penyihir.

 

“Tidak. Kota ini harus dipertahankan

Biar kami nikmati hidup dengan irama

kami sendiri. Kalau diubah berarti bencana,”

walikota dan wakil rakyat bertahan.

 

Penyihir menyiapkan mantera

secepat mulutnya membentak

tangannya bergerak:”Bow!”

Jadilah kalian patung, bebek

dan katak!”

 

Walikota berubah patung

wakil rakyat jadi bebek

sebagian jadi katak

“Ha, ha. Kalian salah hitung,”

penyihir merasa senang.

 

Mulailah ia mengubah kota itu

“Bow!” Jalan-jalan melebar

“Bow!” pasar-pasar mekar

“Bow!” Berdirilah sederet gedung.

 

Warga kota terkejut

sebagian protes sebagian senang

“Bow!” yang protes jadi boneka

“Bow!” yang senang jadi kaya.

 

“Bow!” Hotel-hotel berdiri

“Bow!” bank-bank bermunculan

“Bow!” tempat rekreasi mengisi ruang sunyi

“Bow!” menyala segala lampu

“Kalian perlu musik baru, kendaraan baru

makanan baru, pakaian baru

kerja baru dan hidup baru.

Bow!”Segalanya menderu.

 

Akibat tindakan penyihir

banyak orang tersingkir

mereka jatuh di pinggir

dengan getir mereka bermaksud melawan.

 

“Penyihir itu harus dilawan,”

kata seorang anak

“Tapi dengan apa?

Kita tak punya mantera,”kata yang lain.

 

“Kita keroyok. Kita sumbat mulutnya.

Kita bakar. Lalu abunya dibuang

di laut dalam,”usul wanita tua.

 

“Siapa berani melawan dia?”

“Kita kerja sama.”

Mereka pun bergerak diam-diam

tepat di tengah malam.

 

Tetapi penyihir itu tahu

sengaja ia menungggu.

“Jadilah kalian kadal jahanam!

Penghuni dan makan di tempat sampah!”

bentaknya.

 

Orang-orang yang berani melawan

berubah jadi kadal.

Mereka menangis

tapi tak berdaya.

 

Penyihir puas, menang

tak ada lagi yang melawan.

Kota pun ia ubah tiap hari

sekehendak hati.

 

Jika perlu uang

ia sihir barang-barang.

Jika perlu hiburan

ia sihir wanita

jadi mainan.

 

Suatu pagi ia ingin menyihir

tumpukan koran jadi uang

“Bow!” Jadilah semua uang!”

teriaknya bersemangat.

 

Tapi ia lupa, ia menyihir koran

tepat di depan cermin

manteranya membalik, ia pun ikut tersihir

jadi lembaran uang.

Penduduk kota kaget dan gelisah

sebab penyihir menghilang

mereka serbu rumahnya

lalu mereka rampok hartanya.

 

Uang jadi rebutan

Uang jelmaan penyihir

robek-robek

menjadi serpihan.

 

Ia remuk diinjak-injak

penduduk kota tak terkendali

mereka terus bergerak

meski tanpa sihir lagi.

 

Aneh, walikota tetap jadi patung

wakil rakyat tetap jadi katak

pemrotes jadi boneka

yang senang tetap kaya

orang tersingkir tetap jadi kadal

meski tuah mantera telah hilang.

Mereka tak bisa kembali, tak bisa kembali …. (1991)

 

Yang Kehilangan Cita-cita

Seorang lelaki berdasi

menggandeng sekretarisnya

mamasuki hotel

di pantai utara Jakarta

 

Dalam waktu bersamaan

istri lelaki itu

menggandeng sopir pribadinya

memasuki hotel yang sama

 

Sebelum mereka masuk lift

datang sepasang anak muda

naik taksi. Wajah lelaki itu

berkerut karena mengenal anak sulungnya.

 

Mereka juga memesan kamar.

Lalu datang lagi gadis

bersama pacarnya, memesan kamar.

Lelaki, istrinya dan anak sulungnya

melihat si gadis bungsu malu-malu.

 

Mereka berdelapan naik lift bersama

saling diam. Menyembunyikan kaget

tapi tetap tenang, sampai pintu terbuka

dan mereka menyerbu kamar

yang nomornya berurutan.

 

“Mas, lelaki tua tadi kok mirip kau?

Mungkin saudaramu?” tanya gadis pasangan

anak sulung. “Masak. Itu pasti orang lain.”

Jawabnya acuh, sambil terus menghisap

puting malam yang hangat.

 

“Dik, wanita dalam lift tadi

kok mirip ibumu? Tantemu ya?”

Tanya pacar si bungsu lirih.

“Bukan kak. “Bukan,” bantah gadis itu

sambil membuka dadanya.

 

“Pak, dua anak muda tadi kok

mirip anak-anakmu,”kata sekretaris

sambil berbaring. “Bukan. Mereka

orang lain, orang asing

dalam kehidupanku,”bantah lelaki itu.

 

Sedang sopir ketakutan

meski dalam pelukan majikannya.

“Tenang, tenang. Permainan

perlu dilanjutkan,”kata wanita

yang habis senam.

 

“Aku tak dipecat Bapak

karena meniduri Ibu,”ujar sopir.

“Tidak mungkin. Akan kuajak

anak-anakku bersekutu

melawannya.”

 

Sampai pagi penghuni empat kamar

menghabiskan malam. Kembali bersama

mereka keluar, naik lift, membayar

dan menyerahkan kunci

pada penjaga.

 

Sampai rumah baru mereka saling menggapai.

“Ini hari Minggu yang indah,”kata sang ayah.

“Cerah. Damai dan lega tubuhku,”sahut ibu.

“Aku menang. Tak ada yang melawan,”sambung si Sulung.

“Pestaku sepi tapi indah,”kata yang bungsu.

 

Semua pelayan rumah besar itu heran

kenapa keempat majikan hari itu rukun

dan banyak senyum. Tetapi mereka terkejut

waktu sopir ditemukan mati

menelan gas racun di mobil mewah.

 

“Bu, sukses itu memerlukan korban.

Jangan sedih. Segera kucari sopir

yang lebih tampan dan kuat,”lelaki itu

membujuk istrinya yang berduka.

 

“Atau ibu ingin mencoba pacarku?”

kata yang bungsu.

“Atau Bapak ingin merasakan

pasanganku semalam?” saambung

anak sulung.

 

Lelaki itu tertawa, teringat ratusan proyek

yang menggelinding di mana-mana. “Keluarga ini

tidak dapat dipatahkan, hanya oleh sebuah kematian,”

katanya mantap. Yang lain setuju.

 

Jenazah sopir di makamkan di desa

dengan upacara sederhana. Siang berkabut

ketika mereka pulang. Mobil bertabrakan

dengan bus antarkota yang gila.

 

Di rumah sakit keempatnya masih hidup.

Lelaki dan anak sulungnya berhasil

merayu dua perawat. Sedang ibu dan si bungsu

merayu dokter dan mahasiswa praktik.

 

“Sakit ini memang bukan sakit.

Sudah kubuktikan berkali-kali,”kata lelaki

waktu bersama-sama pulang.”Hidup harus dinikmati

tak usah ditangisi,” sahut gadis bungsu.

 

Begitulah. Dengan damai dan tenang

mereka meneruskan petualangan

memburu kelezatan, memperpanjang impian

di ranjang-ranjang, di kamar-kamar

sambil menjawab godaan baru.

 

Dalam puncak kegilaan. Mereka memaksa

semua pelayan ikut berpesta

di malam-malam berikutnya. Sopir baru pun

mati kelelahan karena harus melayani

ibu dan si bungsu.

 

Tukan masak yang diam-diam mencintai

sopir baru mencampuri racun dalam makanan.

Hari berikutnya halaman koran penuh dengan berita

tentang lenyapnya sebuah keluarga

bersama para pelayannya.

 

Demikian dikisahkan seorang teman

yang giris dan ketakutan hidup di kota besar

memilih kembali ke kampungku

yang kecil, sunyi, di mana pertempuran

juga berlangsung kecil-kecilan.

 

Seribu Malam Pengantin

Malam yang panas

membangkitkan berahi

lelaki telanjang

yang berbaring di ranjang

 

Ditumpasnya takut dan bosan

yang menghadang di akhir pertempuran

hanya dibayangkan

gunung dan lembah kenikmatan

 

Sementara istrinya mandi

ia minum air putih

yang diberinya mantera

untuk memperpanjang kekuatan

 

Bersama berhentinya angin

ia pun lemas, kehilangan daya bicara

kembali tidak mengerti

kenapa sudah seribu malam

istrinya tetap perawan

 

Malam berikutnya, ia himpun

tenaga untuk bertanya

“Diajeng kenapa setiap malam

kauubah dirimu

jadi perawan?”

 

“Mas ingin jawaban

atau sekedar jawaban?”

“Tentu saja jawaban sejati

membuka teka-teki

yang tak kumengerti.”

 

Wanita itu tersenyum,”Sudah kupasrahkan

diriku, maka jadilah kehendakmu.

Karena yang kuingin hanya kenikmatan

jadilah aku mesinnya.”

 

“Apa ada yang lebih tinggi

dari itu, kekasihkua?”

“Tergantung niatnu

ingin surga batin? Yang membeningkan jiwa?

Aku pun bisa.”

 

Malam yang dingin

memerlukan kelengkapan

langit terbuka

dan semua kehendak

terlaksana

 

“Ayo tarik dan nyanyikan

tubuhmu, jiwamu

satukan gerak, dalam irama

puja semesta,”ujar istrinya

 

Bintang bergerak, terasa

jantung diseret pusaran

lembut, mirip malaikat

yang meneruskan penciptaan

 

“Siapakah sesungguhnya engkau?

wali yang jelita

atau wakil semesta

berujud wanita?”tanya lelaki itu

sambil menggigil

 

“Aku manusia, mas

yang menyatukan doa

dengan roh, dengan cakrawala,”

jawab istrinya, berbaring

bagai bumi yang segar

 

Pengantin, ternyata bukan hanya sekadar

soal kelamin, pikir lelaki itu.

Ia pun mengayunkan jiwa

menancap di kesuburan cinta.  (1991)

 

Bayang-bayang Biskota

Bis-biskota yang berangkat dari terminal menuju terminal dengan kecepatan makin meninggi berlomba dengan kecemasan, kepanikan, kegeraman, kemarahan dan kerinduan yang muncul sedetik-sedetik, melawan rasa takut dan kalah, menghindar dari rasa terbunuh dan remuk.

Bis-biskota mengangkut penumpang dan bayang-bayangnya, sopir dan bayang-bayangnya, kernet dan bayang-bayangnya, kondektur dan bayang-bayangnya, pencopet dan bayang-bayangnya, pembunuh dan bayang-bayangnya.

Jalanan basah oleh keringat, air mata, kencing, ludah dan darah. Jalan makin panjang tapi ruwet, makin lebar tapi hingar bingar sehingga sama sekali tidak mirip sungai meski arusnya melebihi banjir mana pun.

Kota yang dilewati bis di seluruh tubuhnya merasa geli, bergairah dan lelah sampai tak sempat bernyanyi, hanya mampu mengikuti irama dan napas yang berganti-ganti sampai akhirnya tertidur malam-malam.

Bis masuk kandang, tetapi bayang-bayang bus terus berkeliaran menyusuri semua jalur, dengan kecepatan yang lebih tinggi dibanding siang hari, dengan klakson yang lebih menggila, dengan teriakan yang lebih lantang. Semua penduduk kota terusik, kemudian tak peduli. Mereka pura-pura bangun dan pura-pura naik bus-bus kota yang berangkat dari terminal menuju terminal malam hari itu. Mereka terkejut karena mereka sungguh-sungguh ditarik ongkos dan sungguh-sungguh dapat turun di tempat tujuan. Mereka hanya menemukan sepi di muka kantor, di muka sekolah, di muka pasar, di muka bioskop.

Bayang-bayang biskota lenyap dan mereka tidak mungkin kembali. (1990)

Jam-jam Meledak

Jam-jam meledak di dinding-dinding rumah

di pergelangan tangan

di tugu-tugu persimpangan kota

di terminal dan stasiun

meledak di biskota dan kereta

meledak di kalung jiwa

di langit dan seluruh lorong bumi.

 

Jam-jam meledak, meledakkan waktu

yang setiap waktu dipompa

dijejali harapan dan kecemasan

dikenyangkan dendam dan putus asa

meledak dan mencerai-beraikan kenangan.

 

Jam dari segala jam, meledak bersama-sama

jam mekanik yang lamban

jan quartz yang lebih bergengsi

jam digital yang mudah dilumpuhkan

jam optik yang mengolah cahaya jadi tenaga waktu

semua pecah dan memuncratkan isinya

seluruh langit dan ruang di bawahnya

dipenuhi pecahan jam yang bertaburan

dan bergerak-gerak menciptakan lukisan

tiga dan empat dimensi sekaligus

menterorku.

 

Aneh, tak ada yang gelisah

orang-orang dengan tenang sibuk memunguti

tiap serpih jam yang meledak

lau merangkainya kembali

mereka sibuk memasang angka-angka yang tadi berlompatan

jarum yang patah, sekrup dan per yang menggelinding

dan kaca atau bingkai yang retak

semua disatukan dengan diam-diam

sementara aku tetap terteror

ketidakmengertian.

 

Jam-jam kembali utuh

orang-orang memasangnya di dinding, di tugu-tugu peringatan

di pergelangan tangan, terminal, di stasiun

di kalung jiwa

mereka mendengarkan detiknya

dan tiba-tiba jam-jam

kembali meledak ….

kembali langit dan seluruh ruang ditaburi

pecahan jam dan kembali orang-orang

dengan setia memungutnya dan menyatukan kembali

aku terus terteror

kenapa ini terus berlangsung-langsung

sampai mendekati abadi ….  (1990)

Mustofa W. Hasyim dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 17 November 1954. Selain menulis puisi beliau juga  menulis cerita pendek, cerita anak-anak, dan satire. Karya-karyanya banyak dimuat dibeberapa penerbit baik di Yogyakarta, Surabaya, dan Jakarta.

Reportase yang Menakutkan merupakan antologi atau kumpulan puisinya yang pertama diterbitkan. Demikian artikel antologi puisi ini dan semoga bermanfaat serta bisa mengambil hikmah dari Kumpulan Puisi karya Mustofa W. Hasyim ini.

Artikel menarik lainnya :

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply