Ballada Orang-Orang Tercinta : Puisi WS Rendra

Sastra 0
BOT Rendra1

Ballada Orang-orang Tercinta WS Rendra

Ballada Orang-orang Tercinta (BOT) merupakan Kumpulan Puisi karya sastrawan Willibrordus Surendra Broto Rendra atau yang lebih dikenal dengan nama W.S.  Rendra.

W.S. Rendra merupakan sastrawan yang produktif dalam menciptakan karya yang berupa puisi. Puisi-puisi karya Rendra sangatlah terkenal dan sangat melegenda. Adapun kumpulan puisinya antara lain Ballada Orang-Orang Tercinta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Sajak-sajak Sepatu Tua, Mencari Bapak, Perjalanan Bu Aminah, Nyanyian Orang Urakan, Pamphleten van een Dichter, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Disebabkan Oleh Angin, Orang Orang Rangkasbitung dan lain-lain.

Di bawah ini adalah beberapa puisi pilihan W.S. Rendra yang terdapat dalam Ballada Orang-orang Tercinta yang terdiri dari 19 puisi :

Ballada Sumilah

Tubuhnya lilin tersimpan di keranda

tapi halusnya putih pergi kembara.

 

Datang yang berkabar bau kemboja

dari sepotong bumi keramat di bukit

makan dari bau kemenyan.

 

Sumilah!

Rintihnva tersebar selebar tujuh desa

dan di ujung setiap rintih diserunya

– Samijo! Samijo!

 

Bulan akan berkerut wajahnva

dan angin takut nyuruki atap jerami

seluruh kandungan malam pada tahu

roh Surnilah meratap dikungkung rindunya

pada roh Samijo kekasih dengan belati pada mata.

 

Dan sepanjang malam terurai riwayat duka

begini mulanya:

Bila pucuk bambu ngusapi wajah bulan

ternak rebah dan bunda-bunda nepuki paha anaknya

dengan kembang-kembang api jatuh peluru meriam pertama

malam muntahkan serdadu Belanda dari Utara.

 

Tumpah darah lelaki

o kuntum-kuntum delima ditebas belati

dan para pemuda beribukan hutan jati

tertinggal gadis terbawa hijaunya warna sepi.

 

Demi hati berumahkan tanah ibu

dan pancuran tempat bercinta

Samijo berperang dan mewarnai malam

dengan kuntum-kuntum darah

perhitungan dimulai pada mesiu dan kelewang.

 

Terkunci pintu jendela

gadis-gadis tertinggal menaikkan kain dada

ngeri mengepung hidup hari-hari

 

Segala perang adalah keturunan dendam

sumber air pancar yang merah

bebunga berwarna nafsu

dinginnya angin pucuk pelor, dinginnya mata baja

reruntuklah sernua merunduk

bahasa dan kata adalah batu yang dungu.

 

Maka satu demi satu meringkas rumah-rumah jadi abu

dan perawan-perawan menangisi malamnya tak ternilai

kerna musuh tahu benar arti darah

memberi minum dari sumber tumpah ruah

nyawanya kijang diburu terengah-engah.

 

Waktu siang mentari menyadap peluh

dengan bongkok berjalan nenek suci Hassan Ali

di satu semak menggumpal daging perawan

maka diserunya bersama derasnya darah:

– Siapa kamu?

– Daku Sumilah daku mendukung duka!

Belanda berbulu itu membongkar pintu

dikejar daku putar-putar sumur tapi kukibas dia.

– Duhai diperkosanva dikau anak perawan!

– Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!

Takutku punya dorongan tak tersangka

tersungkur ia bersama nafsunya ke sumur.

– O tersobek kulitmu lembut berbungakan darah

koyak-moyak bajumu muntahkan dadamu

lenyaplah segala kerna tiada lagi kau punya

bunga yang terputih dengan kelopak-kelopak sutra,

– Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!

 

Demi berita noda teramat cepat karena angin sendiri

di mulut tujuh desa terucap Sumilah dan nodanya.

 

Dan demi berita noda teramat cepat kerna angin sendiri

noda Sumilah terpahat juga di hutan-hutan jati

lelaki-lelaki letakkan bedil kelewang mengenangnya

dan Samijo kerahkan segenap butir darah

lebih setan daripada segala kerbau jantan.

 

Bila dukana terkaca pada bulan keramik putih

antara bebatang jati dengan rambut tergerai

Sumilah yang malang mendamba Samijonya

menyuruk musang, burung gantil nyanyikan ballada hitam.

 

Satu tokoh menonggak di tempat luang

dan berseru dengan nada api nyala:

– Berhenti! Sebut namamu!

 

Terhenti Sumilah serahkan diri ke batang rebah:

– Suaramu berkabar kau Samijo, Samijoku.

Daku Sumilah yang malang, Sumilahmu.

– Tiada lagi kupunya Sumilah. Sumilahku mati!

– Belum lagi, Samijo! Aku masih dara!

 

Bulan keramik putih tanpa darah

warna jingga adalah mata Samijo

menatap ia dan menatap amat tajamnya.

 

– Padamkan jingga apimu. Padamkan!

Demi selaput sutraku lembut: belum lagi!

 

Bulan keramik putih bagai pisau cukur

sayati awan dan malam yang selalu meratap

Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

 

– Samijo, ambil tetesan darahku pertama

akan terkecap daraku putih, daramu seorang

Batang demi batang adalah balutan kesepian

malam mengempa segala terperah sendat napas

Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

 

– Samijo, hentikan penikaman pisau pandang matamu

kaubantai daku bagai najis, mengorek dena yang tiada.

Padamlah padam kemilau yang menuntut dari dendam.

 

Wama pandangnya seolah ungkapan kutuk berkata:

– Jadilah perempuan mandul kerna busuk rahimmu,

jadilah jalang yang ngembara dari hampa ke dosa

aku kutuki kau demi kata putus nenek moyang!

 

Tanpa omong dilepas tikaman pandang penghabisan

lalu berpaling ia menghambur ke jantung hutan jati

tertinggal Sumilah digayuti koyak-moyaknya.

 

Sedihlah yang bercinta kerna pisah

lebih sedihlah bila noda terbujur antaranya

dan segalanya itu tak ‘kan padam.

 

Kokok avam jantan esoknya bukanlah tanda menang

adalah ratap yang juga terbawa oleh kutilang

karena warga desa jumpai mayat Samijo

nemani guguran talok depan tangsi Belanda.

 

Merataplah semua meratap

kerna yang mati menggenggam dendam

di katup rahang adalah kenekatan linglung tersia.

 

Kerna dendamnya siksa airmatanya terus kembara

menatap kehadiran Sumilah, dinginnya tanpa percaya

dan Sumilah jadi gila terkempa dada oleh siksa

gadis begitu putih jumpai ajalnya di palung sungai.

 

Sumilah! Sumilah!

Tubuhnya lilin tersimpan di keranda

tapi halusnya putih pergi kembara

rintihnya tersebar selebar tujuh desa

dan di ujung setiap rintih diserunya:

– Samijo! Samijo!

Matamu tuan begitu dingin dan kejam

pisau baja yang mengorek noda dari dada

dari tapak tanganmu angin napas neraka

mendera hatiku berguling lepas dari rongga

bulan jingga, telaga kepundan jingga

ranting-ranting pokok ara

terbencana darahku segala jingga

Hentikan, Samijo! Hentikan, ya Tuan!

 

Ballada Lelaki-lelaki Tanah Kapur

Para lelaki telah keluar di jalanan

dengan kilatan-kilatan ujung baja

dan kuda-kuda para penyamun

telah tampak di perbukitan kuning

bahasa kini adalah darah.

 

Di belakang pintu berpalang

tangis kanak-kanak, doa perempuan.

 

Tanpa menang tiada kata pulang

pelari akan terbujur di halaman

ditolaki bini dan pintu berkunci.

 

Mendatang derap kuda

dan angin bernyanyi :

-‘Kan kusadap darah lelaki

terbuka guci-guci dada baja

bagai pedagang anggur dermawan

lelaki-lelaki rebah di jalanan

lambung terbuka dengan geram serigala!

 

O, bulu dada yang riap!

Kebun anggur yang sedap!

 

Setengah keliling memagar

mendekat derap kuda

lalu terdengar teriak peperangan

dan lelaki hidup dari belati

berlelehan air amis

mulut berbusa dan debu pada luka.

Pada kokok ayam ketiga

dan jingga langit pertama

para lelaki melangkah ke desa

menegak dan berbunga luka-luka

percik-percik merah, dada-dada terbuka.

 

Berlumur keringat diketuk pintu.

– Siapa itu?

– Lelakimu pulang, perempuan budiman!

 

Perempuan-perempuan menghambur dari pintu

menjilati luka-luka mereka

dara-dara menembang dan berjengukan

dari jendela.

 

Lurah Kudo Seto

bagai trembesi bergetah

dengan tenang menapak

seluruh tubuhnya merah.

 

Sampai di teratak

istri rebah bergantung pada kaki

dan pada anak lelakinya ia berkata:

– Anak lanang yang tunggal!

kubawakan belati kepala penyamun bagimu

ini, tersimpan di daging dada kanan.

 

Tangis

Ke mana larinya anak tercinta

yang diburu segenap penduduk kota?

Paman Doblang! Paman Doblang!

 

la lari membawa dosa

tangannya dilumuri cemar noda

tangisnya menyusupi belukar di rimba.

 

Sejak semalam orang kota menembaki

dengan dendam tuntutan mati

dan ia lari membawa diri.

Seluruh subuh, seluruh pagi.

 

Paman Doblang! Paman Doblang!

Ke mana larinya anak tercinta

di padang lalang mana

di bukit kapur mana

mengapa tak lari di riba bunda?

 

Paman Doblang! Paman Doblang!

Pesankan padanya dengan angin kemarau

ibunya yang tua menunggu di dangau.

 

Kalau lebar nganga lukanya

mulut bunda ‘kan mengucupnya.

 

Kalau kotor warna jiwanya

ibu cuci di lubuk hati.

 

Cuma ibu yang bisa mengerti

ia membunuh tak dengan hati.

 

Kalau memang hauskan darah manusia

suruhlah minum darah ibunya.

 

Paman Doblang! Paman Doblang!

Katakan, ibunya selalu berdoa.

Kalau ia ‘kan mati jauh di rimba

suruh ingat marhum bapanya

yang di sorga, di imannya.

 

Dan di dangau ini ibunya menanti

dengan rambut putih dan debar hati.

 

Paman Doblang! Paman Doblang!

Kalau di rimba rembulan pudar duka

katakan, itulah wajah ibunya.

 

Perempuan Sial

la terbaring di taman tua

pestol di tangan dan lubang di jidatnya

 

Mereka menemuinya tanpa dukacita

dan angin bau karat tembaga.

 

Mulutnya menggigit berahi layu

bunga biru dan berbau.

 

Matanya tidak juga pejam

lain mimpi, lain digenggam.

 

Ah, tubuhnva! Ah, rambutnya!

Tempat tidur tersia suami tua.

 

Bunga bagai dia diasuh angin

oleh nasib jatuh ke riba lelaki tua dingin.

 

Nizar yang menopangnva dari kelayuan

perempuan bagai bunga, lelaki bagai dahan.

Lelaki muda itu bertolak tinggalkan dia

tersisa jantung dan hati dari timah.

 

la terbaring di taman tua

pestol di tangan dan lubang di jidatnva.

 

Suaminya yang tua berkata:

– Farida, engkau ini perempuan sial!

 

Ada Tilgram Tiba Senja

(Ada tilgram tiba senja

dari pusar kota yang gila

disemat di dada bunda).

 

(BUNDA, LETIHKU TANDAS KE TULANG

ANAKDA KEMBALI PULANG).

 

Kapuk randu! Kapuk randu!

Selembut tudung cendawan

kuncup-kuncup di hatiku

pada mengembang bemerkahan.

 

Dulu ketika pamit mengembara

kuberi ia kuda bapanya

berwarna sawo muda

cepat larinya

jauh perginya.

 

Dulu masanya rontok asam jawa

untuk apa kurontokkan air mata?

cepat larinya

jauh perginya.

 

Lelaki yang kuat biarlah menuruti darahnya

menghunjam ke rimba dan pusar kota.

 

Tinggal bunda di rumah menepuki dada

melepas hari tua, melepas doa-doa

cepat larinya

jauh perginya.

 

Elang yang gugur tergeletak

elang yang gugur terebah

satu harapku pada anak

ingat ‘kan pulang ‘pabila lelah.

 

Kecilnya dulu meremasi susuku

kini letih pulang ke ibu

hatiku tersedu

hatiku tersedu.

 

Bunga randu! Bunga randu!

Anakku lanang kembali kupangku.

 

Darah, o, darah

ia pun lelah

dan mengerti artinya rumah.

 

Rumah mungil berjendela dua

serta bunga di bendulnya

bukankah itu mesra?

 

Ada podang pulang ke sarang,

tembangnya panjang berulang-ulang

– Pulang ya pulang, hai petualang!

 

Ketapang. Ketapang yang kembang

berumpun di dekat perigi tua

anakku datang, anakku pulang

kembali kucium, kembali kuriba.

 

Balada Ibu yang Dibunuh

Ibu musang dilindung pohon tua meliang
bayinya dua ditinggal mati lakinya.

Bulan sabit terkait malam memberita datangnya 
waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.

Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia 
dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan 
harian atas nyawa.

Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa 
menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.

Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
oleh lengking pekik yang lebih menggigilkan 
pucuk-pucuk daun
tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.

Tiada pulang ia yang meski rampas rejeki hariannya
ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur
pula dedaun tua.

Tiada tahu akan merataplah kolik meratap juga
dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin
Tenggara.

Lalu satu ketika di pohon tua meliang
matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.

Dan jalannya semua peristiwa 
tanpa dukungan satu dosa. Tanpa.

 

Gerilya

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki terguling di jalan.

 

Angin tergantung

terkecap pahitnya tembakau

bendungan keluh dan bencana.

 

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki terguling di jalan.

 

Dengan tujuh lubang pelor

diketuk gerbang langit

dan menyala mentari muda

melepas kasumatnya.

 

Gadis berjalan di subuh merah

dengan sayur-mayur di punggung

melihatnya pertama.

 

la beri jeritan manis

dan duka daun wortel.

 

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki terguling di jalan.

 

Orang-orang kampung mengenalnya

anak janda berambut ombak

ditimba air bergantang-gantang

disiram atas tubuhnya.

 

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki terguling di jalan.

 

Lewat gardu Belanda dengan berani

berlindung warna malam

sendiri masuk kota

ingin ikut ngubur ibunya

 

Ballada Lelaki yang Luka

Lelaki yang luka

biarkan ia pergi, Mama!

Akan disatukan dirinya

dengan angin gunung.

Sempoyongan tubuh kerbau

menyobek perut sepi.

Dan wajah para bunda

Bagai bulan redup putih.

 

Ajal! Ajal!

Betapa pulas tidurnya

di relung pengap dalam!

Siapa akan diserunya?

Siapa leluhurnya?

Lelaki yang luka

melekat di punggung kuda.

 

Tiada sumur bagai lukanya.

Tiada dalam bagai pedihnya.

Dan asap belerang

menyapu kedua mata.

Betapa kan dikenalnya bulan?

Betapa kan bisa menyusu dari awan?

Lelaki yang luka

tiada tahu kata dan bunga.

 

Pergilah lelaki yang luka

tiada berarah, anak dari angin.

Tiada tahu siapa dirinya

didaki segala gunung tua.

Siapa kan beri akhir padanya?

Menapak kaki-kaki kuda

menapak atas dada-dada bunda.

 

Lelaki yang luka

biarkan ia pergi, Mama!

Meratap di tempat-tempat sepi.

Dan di dada:

betapa parahnya.

 

Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut burni

bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para

mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu

surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang.

 

Segenap warga desa mengepung hutan itu

dalam satu pusaran pulang-balik Atmo Karpo

mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang

berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.

 

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya

penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.

 

– Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!

Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa.

Majulah Joko Pandan! Di mana ia?

Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa

 

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang

Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang.

 

– Joko Pandan! Di mana ia!

Hanya padanya seorang kukandung dosa.

 

Bedah perutnya tapi masih setan ia

menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala.

 

– Joko Pandan! Di mana ia!

Hanya padanya seorang kukandung dosa.

 

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan

segala menyibak bagi derapnya kuda hitam

ridla dada bagi derunya dendam yang tiba.

 

Pada langkah pertama keduanya sama baja

pada langkah ke tiga rubuhlah Atmo Karpo

panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka

 

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka

pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah.

 

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang

la telah membunuh bapanya.

 

Ballada Gadisnya Jamil, Si Jagoan

Begitu ia masuk ke dalam kali

perawan dengan dada-dada pepaya.

Sebab kedua matanya

telah ia tatapkan pada bulan

dan terkaca pada segala

hidup bukan lagi miliknya.

 

– Jamil! Jamil!

Bahkan pandang terakhir

tiada aku diberinya.

Punahlah sudah punah

lelaki yang hidup dari luka.

Kerbau jantan paling liar

memberi gila di dada berbunga.

 

Begitu ia masuk ke dalam kali

ikan larikan kail di rabunya

di pusaran putih

segala tuba.

 

– Jamil! Jamil!

Amis darah di mulutnya

kukulum keraknya kini.

Jamil! jamil!

Bersuluh obor

mereka mengejarnya

setelah ia bunuh

anak lurah di pesta.

Dan tikaman paling dendam

melepas dahaga hitam

pada tubuhnya yang capai.

 

Si dara menatap bulan di air

didengarnya bisik arus gaib.

Begitu ia masuk ke dalam kali.

 

Tiada kemboja di sini

dan gagak-gagak dilekati timah

pada mata-matanya.

 

Lala! Nana!

Tembang malam dan duka cita!

Angin di pucuk-pucuk mangga.

Tapi siapa ‘kan nyanyi untuknya?

 

 

 

 

 

 

 

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply