Cerpen Kisah di Kantor Pos Muhammad Ali

Sastra 0

 

1cerpen

Kisah di Kantor Pos

(Cikancah-Cyber) – Sekurang-kurangnya sepuluh atau lima belas orang., laki-laki dan perempuan., berdiri dalam satu deretan panjang, berbaris di belakang dan berhenti ujungnya di depan sebuah loket. Di atas loket itu tergantung sebilah papan bertulis dengan huruf-huruf putih mungil. Mengambil uang poswesel bertanda C. Biasanya poswesel yang bertanda C berjumlah di bawah seribu rupiah.

Yang berdiri paling depan dalam deretan itu, atau lebih tepat dikatakan bergayut pada kawat ranjang loket adalah seorang lelaki berperawakan kurus kerempeng yang tampak sekilas tampak seperti karung goni kosong yang disampirkan ke jemuran. Kepala yang dibebani rambut kelabu dengan sewenang-wenang dan tak terurus itu seperti dipertahankan begitu saja di atas tubuh kurus sekecil itu. Dan yang lebih mengganggu ialah pakaian yang menempel di badannya, selain kelonggaran tampaknya sudah berminggu-minggu belum diganti.

Tambah lama tambah panjang juga jadinya deretan itu karena orang-orang yang baru datang terus saja tegak menyambung. Tapi jendela loket itu belum juga terbuka. Beberapa orang mulai bersungut-sungut dan malah sudah ada yang mengomel keras-keras karena sang Pegawai belum juga tampak batang hidungnya. Dan deretan memanjang hingga mengganggu lalu lalang loket lain.

Akhirnya, muncul juga Pegawai yang ditunggu-tunggu. Seorang wanita separuh baya, berkacamata, dalam gaun seragama lengkap dengan tanda kepegawaian yang terpampang di bahunya.  Beberapa helai uban tampak di antara rambutnya yang tersususn rapi. Setelah duduk di mejanya, sekejap ditatap deretan panjang di muka loket itu, seakan-akan hendak dihitung jumlah mereka. Sesaat itu sekaligus membalasnya dengan lontaran rasa jengkel yang tersekat.

“Ayo lekas Bung!” kata si Pegawai kepada orang yang pertama serentak derak jendela loket yang dibukanya. Laki-laki kurus kecil tersentak dan buru-buru disodorkannya posweselnya ke loket. “Punya kartu pengenal?” tanya si Pegawai.

Dari saku celananya laki-laki itu mengeluarkan kartu yang dimaksud dan sekali lagi menyodorkannya ke dalam loket. Si Pegawai kini mencocokkan tanda tangan dalam poswesel itu dengan tanda tangan yang tertera dalam kartu pengenal. Laul ia mulai membanding-bandingkan potert dalam kartu dengan muka laki-laki di hadapannya.

Lakunya itu terang tidak menyenangkan laki-laki kurus kecil itu, tetapi dia mengerti dalam hal ini ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“kedua tanda tangan ini agak berbeda satu sama lain. Dan potret ini, benarkah potret Saudara sendiri?” tanya si Pegawai pada akhirnya.

“Mengapa? Itu potret saya dua tahun lalu…”

“Dua tahun? Mengapa begini jauh bedanya?”

Laki-laki itu memandang tajam kepada si Pegawai itu dan urat-urat wajahnya meregang serempak. Tapi ia tetap membisu.

Apakah lantaran pandangan tajam itu, entahlah, si Pegawai itu kemudian berkatalah, “ya ini biarlah tak mengapa. Sebaiknya saudara ganti kartu pengenal dengan potret yang terbaru. Maklumlah, orang-orang sekarang rupanya lekas berubah jadi tua. Memang, sehari-hari zaman ini lebih serakah menghisap darah kita,.Nah berapa jumlah yang harus saudara terima?”

“Tiga ratus rupiah”.

Sambil menyerahkan uang dan kartu pengenal kepada lakilaki itu, si Pegawai melanjutkan pula. “Coba lihat, dua tahun lalu, Saudara buat potret ini dan sekarang hampir tak bisa saya kenal lagi.”

Laki-laki itu menerima uang dan kartu pengenalnya kembali dan dengan diam-diam pergi dari situ.

Menyusulah kemudia orang kedua dalam deretan itu mendapat giliran dan begtu seterusnya, setaiap orang maju satu demi satu, ke depan loket, menyodorkan poswesel masing-masing dan setelah mendapatkan pelayanan, mereka pun pergi berlalu. Banyak sudah yang mendapatkan giliran, baru datang pun mengalir terus, tiada putus-putusnya. Detik-detik menggelindingi bagai butirn-butiran kalung kosal bergerak bersama deretan panjang di muka itu.

Satu jam setelah berlalu dan si Pegawai terus sibuk d mejanya, ketika tiba-tiba muncul kembali laki-laki kurus kecil yang pertama telah dilayaninya tadi, di mika loket seraya berkata, “Maaf Nyonya saya mengganggu lagi. Tidakkah….?”

“Nona” sela Pegawai, ketus.

Seketika laki-laki itu diam temangu, memandangi roman muka si Pegawaiwanita. Ada sedikit rasamual naik membayangkan di wajahnya. “Maaf Nona, saya tidak tahu,” katanya kemudian.

“Ya , ya ada apa lagi?”desak si Pegawai.

“Tadi agaknya telah terjadi kekliruan ketika Nona membayar uang poswesel kepada saya, sebab….?”

“Mana bisa keliru?” si Pegawai menyela dengan cepat.

“Seharusnya saya terima tiga ratus rupiah, bukan? Kalau tak salah sekian angka yang tertulis dalam poswesel saya.”

“Coba saya lihat dulu. Saya masih ingat nomor poswesel saudara.” Si Pegawai lalau memeriksa salah satu jalur daftar yang terkembang di hadapannya, kemudin katanya, “Nah ini, wesel nomor satu empat tujuh dengan tanda huruf C. Jumlah uang tiga ratus?”

“ Tidak”, jawab laki-laki itu. “Nona tadi memberikan kepada saya bukan tiga lembar ratusan, tetapi empat lembar. Jadi empat ratus rupiah yang saya terima tadi.”

Ada semacam perasaan ganjil yang menggelitik di hatinya hingga hampir-hampir ia menjerit karenanya, itulah pula sebabnya ia bisa membuka mulut sesaat lainnya.

“ Oh kalau begitu, saya keliru, “ kata si pegawai akhirnya dengan kemalu-maluan. “Maklum, banyak kerja. Lagi pula lembaran-lembaran uang masih baru benar hingga mudah saja lengket karenanya. Jadi saudara mau kembalikan uang yang seratus rupiah itu kepada saya, sekarang?”

“betul saya akan mengembalikannya kepada Nyonya….?”

“Nona, “ sela si Pegawai itu cepat.

“ Oh, maaf. Mulanya saya akan kembalikan kepada Nona seratus rupiah. Tapi ketika dari rumah saya bersepeda kemari, tak terduga-duga ban sepeda saya meletus di tengah jalan. Terpaksa saya suruh orang menambalnya dan ongkosnya lima belas rupiah. Selain itu, saya mesti menitipkan sepeda saya dekat

Orang di sana minta lima rupiah, sisanya adalah delapan puluh rupiah, itulah yang akan saya kembalikan  kepada Nona. Delapan puluh rupiah!” lalu disodorkan sejumlah uang yang telah disebutkannya di loket.

Pegawai wanita itu menggeserkan kursinya ke belakang seolah-olah ia merasa cemas melihat hidung laki-laki kurus di hadapannya. Kacamatanya bergerak resah.

“delapan puluh?”pekiknya. “mengapa delapan puluh?” sungguh saya tak mengerti mengapa pula ban-ban sepeda yang meletus dihubung-hubungkan dengan ini? Oh, jangan berolok-olok. Saya tak mau tahu, apakah ban saudara meletus dengan tiba-tiba atau meledak seperti bom hidrogen. Saya tidak mau tahu apakah saudara menitipkan sepeda itu atau melemparkannya di jalanan. Bahkan, saya tidak tahu apakah saudara memiliki sebuah sepeda. Dan saya memeang tidak peduli semua itu. Yang saya tahu pasti ialah, saudara mengakui di hadapan saya dan semua khalayak di muka loket ini bahwa saudara telah menerima kelebihan uang kertas ratusandari saya. Dan jumlah itulah yang harus saya terima kembali. Sesen pun tak boleh dikurangi. Ketahuilah, uang itu bukan uang saya, tapi milik negara.”

Kata-kata si pegawai membrondong cepat bagai peluru-peluru yang mendesng memerahkan telinga laki-laki kurus kecil itu. Biji mata laki-laki itu melotot berputar-putar cepat seolah-olah hendak keluar dai kedua belah matanya. “Tapi nona harus mengerti juga,” ujarnya kemudian dengan suara mengeletar. “ kedatangan saya ini bukanlah menjadi urusan saya. Tapi semata-mata demi kepentingan Nona…..”

“sudah saya bilang tadi: itu saya tidak peduli! Jangan buang-buang waktu. Ayo cepat kembalikan uang itu!”

Huru-hara itu menyebabkan deretan panjang yang mengatur tadi jadi bubar dan berantakan. Sekarang semua orang menggerundel dekat loket itu. Umunya mereka sependapat bahwa peristiwa itu sesuatu yang menarik juga, meskipun acuh tak acuh sebagian lagi telah menyimpulkan penelitian-penelitian.

“Si Pegawai wanita itu memang cerewet!” ini adalah pendapat sebagian dari mereka. “ Si tua itu kepingin benar dipnggil Nona! Benarkah ia masih nona? Itu bukan soal utama. Yang cukup jelas bahwa si tua itu dapat menghargai kejujurang yang begitu ikhlas. Si Tua seharusnya sudah puas menerima, misalnya separuh dari jumlah uang yang dikeluarkan tadi. Siapakah orang jaman sekarang, yang sudi tersuruk-suruk datang kembali ke loket hanya menyerahkan kembali uang yang sudah berada di tangan!”

“Laki-laki itulah yang tolol, kalu tak mau disebut gila!” ini adalah pendapat setengahnya yang lain. “Apa gunanya ia datang terengah-engah buat mengembalikan rezeki mujur, yang telah diperolehnya dari Si Tua itu? Tidakkah lebih baik dibelanjakannya? Lebih-lebih di zaman uang seret, seperti kini? Oh. Si goblok yang tak tahu diri, biarlah dirasakan sendiri akibat ketololannya!”

Seorang laki-laki berbadan besar tegap laksana reruntuhan candi, yang baru saja dapat gilirannya, akhirnya ia tidak dapat menahan hati dan ikut pula menengahi. Dia bertanya pada laki-laki kurus itu. “ Apakah sesungguhnya mendorong saudara dari jauh datang kembali, untuk menyerahkan uang tu?”

Laki-laki kurus itu berfikir sejenak mencari kata-kata yang patut untuk menjadikannya jawabannbagi pertanyaan yang datang tidak disangka-sangka itu. Katanya, “saya merasauang itu bukan milik saya. Jadi, saya harus mengembalikan kepada yang berhak.”

Barangkali disebabkan oleh susunan kaliamtnya yang baru didengarkannya itu, laki-laki tegap itu tampak termangu. Ia merasa diriny berada dalam sebuah masjid mendengar fatwa yang bergaung kudus, atau ia semacam menemukan satu kalimat yang bagus dan mengesankan dari buku yang sedang ia baca.

“ Saya merasa sungguh terharu  menyaksikan kejujuran saudara. Jarang saya juma orang sejujur saudara. Kejujuran seperti ini patut kita hargai!” tiba-tiba suaranya jadi sangat gembira. “Wajiblah kita hormati saudara. Bahkan, layaknya bila saudara kami dandani dengan baju kebenaran, lalu ramai-ramai kita iringkan menuju ke rumah Bapak Walikota. Tidaklah berlebihan kalau saya katakan, kesempatan seperti ini kita rayakan secara besar-besaran!”

Laki-laki kurus itu ternanar. Mudah-mudahan itu hanya olok-olok, pikirnya, karena tak dapat dibayangkan bagaimana pakaan kebesaran itu diiringi beramai-ramai ke rumah Bapak Walikota.

“ Nah sekarang masukkan kembali ke kanton saudara delapan piluh rupiah itu,” ujar laki-laki berbadan tegap itu pula.

“Seratus rupiah akan saya keluarkan dari kantung saya untuk mengembalikannya,” seraya berpaling kepada si Pegawai dalam loket dan menyodorkan selembar kertas ratusan. Ia pun berkata. “Terimalah  kembali uang ini, Nyonya….”

“Nona!” Cetus si Pegawai wanita.

“Maaf nona manis, “lau kepada lai-laki kurus, “sekarang sudah selesai. Mari kita sama-sama pergi”

Mereka menguak kerumunan orang banyak yang mengelinginya an berdua melangkah eninggalkan tempat itu. Semua mata sama-sama terpesona mengikuti mereka samapai hilang di balik pintu besar ruangan itu.

Setiba mereka di tempat penitipan sepeda , laki-laki kurus itu berkta dengan hormat: kepada kawan barunya itu, “saya mengucapkan terima kasih, atas kemurahan saudara…..” ujuarnya pada si Tegap. “sebenarnya uang yang saya kembalikan tadi bukan uang saya.”

Si kurus belum juga mengerti.

“seperti yang saudara alami sebelumnya, begitulah si Nona manis itu telah memberi ekstra pula kepada saya, sejumlah seratus rupiah.”

Kini si kurus sudah menegrti dan benar-benarlah sekujur tubunhya menggigil menahan amarah. “ saya orang melarat.” Katanya sejenak” dengan tanggungan keluarga besar. Tidak tahu saya, adakah besok mampu membeli beras buat mereka. Tapi, olok-olok saudara itu tak dapat saya terima. Harus saya kembalikan uang ini kepadanya.”

Cepat si kurus membalik. Terhuyung-huyung ia lari menuju pintu kantor pos dan menghilang di sana. Si tegap takjub. Tanya hatinya tak pernh menjawab, “Benarkah ada orang saneh itu?”    (Sumber: Kesusastraan Sekolah, 200: 85-95)

Baca Juga : Pawai di Bawah Bulan

Artikel menarik lainnya :

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply