Golf Untuk Rakyat Kumpulan Puisi Darmanto Jatman

Sastra 0
golf untuk rakyat

Golf untuk Rakyat Kumpulan Puisi Darmanto Jatman

Banyak penyair dalam sastra Indonesia salah satunya adalah Darmanto Jatman (Soedaramto). Darmanto Jatman dilahirkan di  Jakarta 16 Agustus 1942. Beliau adalah seorang Guru Besar Emeritus pada Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (UNDIP), budayawan, filosof, dan penyair Indonesia.

Atas dedikasinya dalam bidang sastra dan budaya ini, beliau diberi berbagai penghargaan di antaranya adalah The S.E.A. Write Award (2002), Anugerah Satyalencana Karya Satya (2002), dan Anugerah Satyalencana Kebudayaan dari pemerintah RI (2010).

Beberapa Kumpulan Puisi Darmanto Jatman adalah Sajak-sajak Putih (bersama MD + Dharmadji Sosropuro, 1968), Ungu (bersama A. Makmur Makka, 1968), Bangsat (1975), Sang Darmanto (1975), Arjuna in Meditation (bersama Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M., 1976), Ki Blakasuta Bla Bla (1980), Karta Iya Bilang Mboten (1981), Golf untuk Rakyat (1994), Isteri (1997), Darmanto Bilang: Sori Gusti (Limpad, 2002).

Dalam buku ini merangkum 5 kumpulan puisi, yaitu Bangsat (12 puisi), Sang Darmanto (12 puisi), Ki Blakasuta Bla Bla (19 puisi), Karto Iya Bilang Mboten (12 puisi), dan Golf untuk Rakyat (10 puisi). Di bawah ini kumpulan puisinya :

1. Beberapa pilihan puisi Darmanto Jatmandalam Bangsat

Hhaattssyyii!!

ah kau, waktu, proses, musim

                                                                puisi

 

perkara menjadi tua – kita tak bisa apa-apa kecuali

diam

tunggu

dan saksikan

betapa jelita daunan memasrahkan diri pada sejarah

melepaskan mahkotanya satu demi satu

dalam sentuhan angin musim gugur

wah. jangan biarkan dia menyikatku

jangan biarkan dia

aduh!

sang maha

berikan padaku segenggam kuasamu

dan aku akan menghentikan musim

tapi jangan biarkan dia menyikatku

jangan biarkan dia

dan pada pagi musim semi ini

kukonyokan diriku dengan mengawasimu, dewiku

di lereng-lereng waahila ridge

menciptakan bayangan naga

serta menggambarnya bagai phoenix

(terkesiap sulapanmu biji kaget jadi tunas)

psst, jangan gusar

just watch

bagaimana detik melenyap

menjadi abadi

ah.mambang dari mimpiku

mari ku-make-up kau

kubikin berseri cemberut mukamu

aduh!

sang maha

berikan padaku segenggam kuasamu

dan aku akan menghentikan langkah waktu

oh.stop waktu! stop!

aku saksikan bidadariku tersenyum

stoop!

(namun kau tokh lenyap

tak ada rumput terbungkuk

tak ada tangkai terpetik

tak ada embun napas

tak ada

apalagi monumen

pertanda bahwa kau pernah berdiri di situ

tersenyum)

— hhaattssyyii!!

a.saksi. Saksi

setidak-tidaknya aku bisa pakai saksi-saksi

tapi siapa

kalau tak seekor naga pun (dari lembah kang auw itu)

kalau tak seekor phoenix pun (dari gunung tay san itu)

sah jadi saksi bagi kehadiranmu

 

dim

dim

dim

sementara pada kelir waktu

di bawah cahaya blencong

di atas suluk dalang

tancep teratai

tanpa gamelan

tanpa.

Coro Lu! Maki Chef itu pada Sang Coro

gee!

ia am at mama mia restaurant now

makan pizza bersama satu dua coro yang lain:

— umar kayam, tukang cerita, orang indonesia, dulu birokrat

terpercaya

— harsono tarupraceko, dr. ir. msie dari itb, orang indonesia,

bekas priyayi surakarta

— ronny adhikarya, junior researcher, orang indonesia, pernah

dapat pacar cina singapura

serta

— darmanto jt, dulu tukang bual, besok tukang bual, sekarang

lagi membual…, namun demikian, kepadanya cuma aku

menujukan rasa terima kasihku kerna cuma dia yang mem-

bawaku pergi dari dunia tuaku: dunia tahi, kencing, ko-

toran dan macet

ke suatu dunia yang selalu mengalir, indah, dan bijak

(aku warga w.c. hale manoa

setelah berhari-hari berpikir dan beragu-ragu

kuputuskan untuk melekat erat pada bahu darmanto)

waw! what a wonderful world!

what a world of color!

what a world of song!

aku sungguh tersentak dan terribly shocked

pada petualangan pertamaku:

dewaa. dewaa. duh

indah betul dunia manusia!

(to darmanto, my savior

kuserahkan nasibku yang sebusuk kentut kera

dan biasa dimaki: bangsat! sambil dibunuh dengan semena-mena

— aku rela

you are my messiah, musa yang memimpin ziarahku dari

negeri coro ke pizza)

wirr

i am at mama mia restaurant now

nunggui pasangan main cinta di meja seberang

gugup seperti sahabatku – rita si ratu coro – di pojok w.c. suatu hari

mendengar cumbuan pacarnya, yang serem lagi asyiik:

i’ll fuck you good sweetie

sambil tak habis menggosok-gosokkan sungutnya.

dengan malu aku memutar leherku di pundak darmanto

bersama-sama dia membaca plakat kaum pacifist di tembok:

—  “in case of atomic war”

At the time you see the funguslike cloud

please follow these instructions

: close your window

do your hair

wear your black suit

don’t forget to put on your shoes

then, kiss your ass goodbye!

diancuk!

bukan main jenaka sekarat mereka

makhluk-makhluk suarga ternyata

sama saja konyolnya dengan coro-coro hale manoa

minta ampun

aku mau muntah

ho-oiiik!

i lay high in a somnambulistic dream

demam coro yang malang kepukul wishful thinking

tentang dunia cantik yang barangkali, mungkin,

— bahkan hampir saja bisa diciptakan

aku menatap bengong bagaimana para indonesian sholar itu

makan pizza yang besar, wangi, hangat, apalagi bundar

minum bir sambil main saling puji:

—    wah. kalau mas kayam sih… (jempol!)

—    rak. rak. yen kowe pujonggo tenang… (c’est magnifique)

—    a. a!

kakekane!

tak layakkah aku muntah cuma karena aku coro?

(aku rela saja mati

asal kudapat hakku untuk jijik

tak ada lagi alasan bagiku untuk hidup

sudah kusaksikan semesta

kucoba resapkan bagaimana demokratiknya para so called intellectuals)

tiba-tiba

the band stings my ears

musik yang kusuka

lagu cowboy yang biasa dinyanyikan

saviour

—    ku selagi ia menggembala dari atas closetnya:

—    i’ll fuck a woman

i’ll fuck a woman

i’ll fuck a woman!

aku loncat ke meja

—    sorry darmanto

aku sangat lapar

darmanto tersenyum

barangkali ia senang sungut antenaku, atau sayap mosaikku,

atau mata intanku atau barangkali kepalaku yang terlalu kecil

dibanding badanku

—    silahkan! katanya

—    waw! you are really the democrat sir.

 

—    fantastik!

coro sama derajat dengan manusia

keliling meja makan pizza

 

—    hmm, ck ck ck. nice

hmm. ck. ck. ck. great

waw what a darmanto!

tapi tiba-tiba

seperti cendawan bom atom

tangan umar kayam yang besar mengembang di atasku

—    oh. no. don’t!

aku mencoba meloncat

tapi ideku memaksaku tetap duduk

menjadi martir!

membuktikan mungkinnya demokrasi!

menentang apa yang mereka bilang kodratku –

dengan kemauan!

kurang ajar!

 

—————–

ah.darmanto

sebentar lagi aku mampus

goodbye mein herr

goodbye

auf wieder sehen

aloha!

2. Beberapa pilihan puisi Darmanto Jatmandalam Sang Darmanto

Memandang Padang Alang-alang pada Suatu Malam

 

Tiada kusaksikan sesuatu

Waktu aku menatap jauh kepadamu

Angin membunyikan suara tak tentu

Meraba bibirku:

Ia seolah bisikan

Ia seolah nyanyi

 

Sebab aku tak boleh berdusta

Maka kubilang padamu:

Ia hanyalah angin yang menyentuh bibirku belaka

(Wah. Aku sudah cemas

Kalau-kalau aku bilang itu peri

Padahal sekadar ilalang yang berayun

Sentuh-menyentuh pucuk ke pucuk).

 

Namun daripada kita diam

Ayo kita nyanyikan bukan dusta dari nenek moyang kita

Sir sir pong dele gosong

Sir sir pong dele gosong

 

Tentu bukan dusta

Sebab sebagai kata mereka:

Itulah milik kita yang sah

Yang telah diuji dan diasah oleh sejarah.

 

Tiada kudengar sesuatu

Waktu aku menilingkan telingaku kepadamu

Angsa-angsa berbaris di bawah bulan

Mendongak-dongakkan kepala secara serempak:

Seolah menjerit

Seolah menari

 

Namun

Sebab aku tak boleh berdusta

Maka kubilang padamu:

Mereka tentu tidak minta keajaiban

Dari terang bulan menuju ke hujan

(Wah. Sulaiman

Wah. Anglingdarma)

 

Sungguh

Tiada kudengar

Tiada kusaksikan

Riuh rendah

Karnaval topeng-topeng

(Namun toh terasa

gemuruh yang menyesak

gemerlap yang me…….

 

Haii!

Siapa yang paling bodoh

Copot topengmu!

Buka suaramu!

 

Dan tiba-tiba:

Wah!

Tuhan tersipu-sipu di muka kita

Tapi

Siapakah Dia?

 

Menghadap-Mu Pagi Ini

24 huruf

bersijingkat

membentuk semboyan-semboyan yang bijak

aku pun paham

bermula dari-Mu pula

lahir suara dan tanda

dan Kata

dan Aku

 

Serempak nyanyi

Serempak bersorak

 

Dan aku pun rebah!

3. Beberapa pilihan puisi Darmanto Jatmandalam Ki Blakasuta Bla Bla

Kuyup dalam Kabut

 

Pablo Neruda:

Sekali pernah aku

jemu jadi manusia

 

Tubuhku mengerang kena selesma

memerah regangkan seluruh jaringan urat syarafku

terasa nyaring nyanyi pedih

dan jerit tunggal yang kelu di mulutku:

Gusti!

 

Menggigil aku oleh lesu

dan sunyi yang menyusut umur

kanak-kanak yang cengeng

nelangsa

distrap ibu.

 

(Sementara pendaftaran kuliah mesti dikerjakan

Traveller’s cheque mesti diuangkan

Tempat tinggal mesti dicari

—  Aku mengerang

Dan lantai hotel

serasa diombang-ambingkan)

(O. rupiah, O Poundsterling

Tegakah paduka membiarkan beta

O.terkaing-kaing?!)

 

Diam-diam

Cuaca membeku

Nol derajat minus

 

Dan aku menggapai

Kelu

 

Bla Bla

 

kayak rayap orang-orang london ngerubung liang-liang subway

pating kruntel madhumani, mombasa, guillermo, sontoloyo

dan mereka terus juga nyeloteh: yes sir

bla bla!

no sir

bla bla!

orang-orang london terus juga gemrenggeng

rambut-rambut pirang, kepala-kepala botak, kribo-kribo

sari, sweater, jacket, jumper

berdesak-desakan.

bla bla!

terus juga mereka merayapi

pintu-pintu, escalator-escalator, tangga-tangga

dengan sepatu booty, lenvin, bally, cardin

bla bla!

 

sementara angin menggoyangkan daunan

di highbury barn

kabut menyembunykan bola

dari kaki-kaki yang kemudu-kudu nendang

dan bunga-bunga untuk para wreda

hilang dari halaman-halaman gereja

(om rep sidem permanem)

bla! bla!

madhumani, ovum, jelly, kontrasepsi

daging, kapas, kulit

sampah yang didorong lori dari highbury

ke euston, oxford, piccadilly

sampah

cuma

junk junk!

rubish

cuma

pah pah!

cuma

daging

cuma

kulit

cuma

tulang

bla! bla!

 

sampai soho

sirna jadi sunya ruri

boom o ya ta ta!

Museum

 

we’re captive on carousel of time

can’t return we can only look behind

– joni mitchell

 

Sejarah mampat di sini

Audzubillah baunya!

Tubuh berpeluh para budak Zimbabwe

bagai lembu

rom tom tom tom

kelu!

Tubuh berlumur darah Abraham Lincoln

tam tam tam

begitu kejam

paduka!

 

Asap kanon

dan asap pabrik,

Asap dupa

dan asap tembakau

— Alangkah bedanya ya Allah!

Di mana bau sedap masakan cina:

Wan Tun, Chop Suey:

Di mana bau wangi plumeria:

Di kubur

Atau di rambut ni Roro Mendut.

 

Anganku menyeludup ke kamar, kasur, mata angan-angan

Ke mana nenek moyang kita merangkak bagai kura-kura

Geyang, geyong, geyang.

(Sementara di Yogya misalnya,

Para mahasiswa pada ndangdutan

Sambil sesekali sesenggakan:

Nganggo payung semplok

Londo ira ilok

Tunggu kraton bobrok!)

So slow. So slow

Sontoloyo!

 

Dan tiba-tiba

1945

Tentara sekutu menyerbu Surabaya

Welha. I was just three dear, dear

 

Dan jendral Mallaby mati!

 

Aye. I was innocent man!

Dan tentara-tentara gurkha berguguran!

I do regret, yes, I do regret.

Union Jack yang telah menghias sepatu Sri Ratu

ketika Inggris masih memerintah samudera

sekarang cuma terpampang di sini: Di Museum!

Sementara jamur dan lumut

asik ngrikiti keutuhannya.

Yuhuu yang telah dikibarkan di tiang perahu

Yippee yang telah diteriakkan dari menara stadion

Bravo yang telah didengungkan dari puncak pabrik

Perahu stadion, pabrik yang telah dibangun di pucuk meriam

Ternyata telah dibangun di atas daging tulang

Hitam keriting

Sipit kuning

Coklat melarat

Lhailah!

 

Di antara bussy misty pussy of history

Di pojok museum London

Aku terhenyak: Di manakah aku dalam pesta sejarah ini?

 

Come on darling

Where are your footprinsts?

Sementara beribu-ribu orang yang

melambai-lambaikan Union Jack mereka

menyerbu stadion sepak bola

Lenyap. Tak ada bekas-bekas tapak kaki mereka.

 

Sambil duduk

Paul Mc Cartney mendendangkan lagunya:

Mull of Kyntire

Lihatlah. Betapa santainya

Calon pengganti patung Nelson di atas menara

Trafalgar?!

 

Isteri

isteri mesti digemateni

ia sumber berkah dan rejeki

(Towikromo, Tambran, Pundong, Bantul)

 

Isteri sangat penting untuk ngurus kita

Menyapu pekarangan

Memasak di dapur

Mencuci di sumur

mengirim rantang ke sawah

dan ngeroki kita kalau kita masuk angin

Ya. Isteri sangat penting untuk kita

 

Ia sisihan kita,

kalau kita pergi kondangan

Ia tetimbangan kita,

kalau kita mau jual palawija

Ia teman belakang kita,

kalau kita lapar dan mau makan

Ia sigaraning nyawa kita,

kalau kita

Ia sakti kita!

Ah. Lihatlah. Ia menjadi sama penting dengan

kerbau, luku, sawah dan pohon kelapa.

Ia kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walau cape

Ia selalu rapih menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa

sukur; tahu terima kasih dan meninggikan harkat kita sebagai lelaki.

Ia selalu memelihara anak-anak kita dengan bersungguh-sungguh

seperti kita memelihara ayam, itik, kambing atau jagung.

Ah. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai

melupakannya:

Seperti lidah ia di mulut kita

tak terasa

Seperti jantung ia di dada kita

tak teraba

Ya. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai

melupakannya.

 

Jadi waspadalah!

Tetep, madep, manteb

Gemati, nastiti, ngati-ati

Supaya kita mandiri, perkasa dan pintar ngatur hidup

Tak tergantung tengkulak, pak dukuh, bekel atau lurah

 

Seperti Subadra bagi Arjuna

makin jelita ia di antara maru-marunya;

Seperti Arimbi bagi Bima

jadilah ia jelita ketika melahirkan jabang tetuka;

Seperti Sawitri bagi Setyawan

Ia memelihara nyawa kita dari malapetaka.

 

Ah. Ah. Ah

Alangkah pentingnya isteri ketika kita mulai melupakannya.

 

Hormatilah isterimu

Seperti kau menghormati Dewi Sri

Sumber hidupmu.

Makanlah

Karena memang demikianlah suratannya!

— Towikromo

 

Sekarang Bahwa Aku Merasa Tua

Know the limitation

Suffered thou not!

 

Sekarang bahwa aku merasa tua

Memandang pohon-pohon berdaunan

Kenapa aku mesti bertanya:

Sudahkah tiba saatnya

Belalang menetas dari telurnya

Kupu terbang meninggalkan kepompongnya?

Memandang kupu beterbangan

Belalang berloncatan

Kenapa mesti aku bertanya:

Bukankah akan tiba saatnya

Belalang terbang

Kupu berloncatan?!

 

Sekarang bahwa aku merasa tua

Nyinyir aku bertanya-tanya

Kenapa anak-anakku mesti menjadi tua

Dan suatu hari juga nyinyir bertanya-tanya:

Kramaleya jadi admiral

Kenapa bukan Blakasuta

—    Kromo belang hidungnya

Waktu kecil ditanduk domba

—    Bloko minggat waktu kecilnya

Ngomong benci sama bapaknya

—    Leyo nggembala di gunung kapur

—    Suto nanem padi di sawah lumpur

 

Ah. Ah. Ah

Sekarang bahwa aku merasa tua

Tak bisa lagi kubayangkan tingkah si Blakaleya

Pergi ke kota

Sekolah Belanda

Nghamili Bawuk

Tapi nikahi Pinten

Hmm

Sekarang bahwa aku merasa tua

Bukankah tak layak aku bertanya-tanya?!

Tapi nalar bedebah ini

Borok bagi baksil-baksil busuk

Bisakah ia berkawan dengan api

Yang membakar padi dan domba?

—    Tentu saja kita tak bisa hindari mati, katamu

Tapi bukankah ada cara mati yang mulia? katamu pula

 

Sekarang bahwa aku merasa tua

Gemetar tanganku nyentuh bibirmu

Istri yang tua

Bijak dan setia

Taka ada lagi asmara untuk kita bagi berdua

Hanya tinggal angan-angan

Menetes pada kedua telapak tangan kita.

 

Ah. Ah. Ah

Sekarang bahwa aku merasa tua

Aku tahu ada limit waktu bagi kita

Ada batas kalori jatah kita

Yang habis kita bakar sia-sia

Waktu kau purik

Dan aku berjina

 

Sebab bukankah bunga-bunga tulip yang mekar di luar

Tak bermaksud menyuramkan hyacinth yang kupelihara di kamar?

—    Tapi kenapa mesti tanganku gemetar

Ngusap wajahku yang makin tua

Yang sungguh mati bukan urusanku?!

 

Dan sekarang bahwa aku merasa tua

Kenapa terus juga aku nyinyir bertanya-tanya

Sementara jawabnya dulu telah lama kauberikan

Waktu kau bersimpuh di kakiku

Yang lumpuh oleh beribu perkara

—    Ya. Ya. Kita pernah muda.

 

Ah. Ah. Ah

Sekarang bahwa aku merasa tua

Tertatih –tatih aku

Bahkan tak bisa menyuapkan nasi ke mulutku

Baru aku tahu

Bahwa aku hanya telah hidup karena kebaikanmu!

Karena tubuhmu, sawah yang siap dicangkul

Dan bukan karena lengan-lenganku yang perkasa

Karena hatimu, buah yang siap dipetik

Dan bukan karena nalarku yang cerdik

 

Dan aku

Sang admiral

 

Karmaleya

 

Bersimpuh di kakimu

 

Blakasuta

 

Istriku.

4. Beberapa pilihan puisi Darmanto Jatmandalam Karto Iya Bilang Mboten

Jeng

 

Jeng,

 

hari ini sudah lebih dua puluh tahun aku menulis sajak

sejak aku menulis Perahu Layar di Remaja Nasional

Yogya, 28 Juli 1959:

 

Kembang layar, kembang

sibak air, ukir wajah laut

kembang layar, kembang

tabur angin, renangi langit

 

pada nelayan aku berteriak lantang:

ai abang, abang

pasang layar abang, pasang layar!

lalu hati meronta berdoa kepada Tuhan:

O Tuhan, bawalah manusia ini ke padang juang

bawalah manusia ini ke tempat taburan ikan

biar hati beriak menyusuri kehidupan.

 

lalu dengan alum aku pun menembang:

kembang layar, kembang

laju ke ujung bumi, batas langit dan laut.

 

Jeng,

 

hari ini kukumpulkan sajak-sajakku tahun 1979/1980

lalu kuberi nama “karto iya bilang boten”.

 

hari ini kembali kutanyakan padamu

sudahkah kukatakan apa yang seharusnya kukatakan?!

 

Rumah

 

Sang Guru Laki kepada Rabinya:

Rumah itu Omah

Omah itu dari Om dan Mah,

Om artinya O, maknanya langitnya, maksudnya ruang,

bersifat jantan

Mah artinya menghadap ke atas, maknanya bumi, maksudnya

tanah, bersifat betina

Jadi rumah adalah ruang pertemuan laki dan rabinya

Karenanya kupanggil kau Semah, karena kita serumah

Sapulah pekarangan rumah kita bersih cemerlang

Supaya bocah-bocah dolan pada kerasan

memanggil-manggil bulan dalam tetembangan:

—    Mumpung gede rembulane

Mumpung jembar kalangane

Suraka surak: Horee!

Na Na Na

Di kiri dan di kanan rumah ada pekarangan

Di mana biasa orang menanam empon-empon

Jahe untuk menghangatkan tubuh kalau lagi selesma

Kencur untuk ngompres kalau lagi babak belur

Kunir supaya anak yang dikandung nanti kuning lencir

Lha di pojok kanan pekarangan ada sumur

Perlu untuk membersihkan kaki kita sebelum masuk rumah

Pertanda kita selalu resik dan anteban

Tak ketempelan demit jin setan periyangan

Nah

Inilah pendapa rumah kita

Mandala dengan empat saka guru dan delapan tiang penjuru

Di atas pintu tertulis rajah:

Ya maraja Jaramaya

Yang maksudnya: Hai kau yang berencana jahat,

berhentilah berencana!

Di sinilah kita akan menerima tamu-tamu kita

Sanak kadang, tangga teparo

Yang nggaduh sawah, ladang atau raja kaya kita

Merembug sesuatu yang perlu untuk kesejahteraan bersama

Sementara di belakang pendapa ada pringgitan

di mana kelak kau bisa duduk bersila bersama anak-anak

Menyaksikan Ki Dalang Karungrungan

Menghidupkan ringgit wayang di tangannya

Medar kebijaksanaan Sastra Jendra

Lewat tutur, suluk dan tembang

Ah Ah Ah

Rumah kita bisa bak istana Junggringsalaka

Bila gamelan dimainkan

Dan waranggana nembang sahut-sahutan

Sementara digandok sebelah

Para batih serumah

Biasa silih asah, silih asih, silih asuh

Dan menyerahkan kepercayaannya dalam rumeksa kita

Somahku

Di belakang pringgitan itulah sentong

Di mana pusaka nenek moyang kita memancarkan pamornya

Keris Luk Pitu, tombak Kyai Tancep serta payung

Ra Kodanan

menjaga kita dari segala malapetaka

Di sinilah kita samadi, merukunkan diri dengan Allah

Membebaskan diri dari keterikatan duniawi

Lega, lila, legawa

Menerima nasib kita

Sebelum kupadukan tubuhku dengan tubuhmu

Sambil kutanamkan benihku

Dengan greget dan sengguh yang tak kenal mingkuh

(Kelak, memang ada baiknya kalau kita naikkan

Begawan Ciptoning, sunggingan empu Kasman

Di atas slintru sentong kita

Supaya mereka pun paham

Terkadang aku jadi Mintaraga

Terkadang pula jadi Arjuna Wiwaha

Dan kau jadi Batari Supraba)

Nah. Di muka gandok itulah sepen kita

Dengan tanda rajah:

Ya silapa palasiya

Yang maksudnya: Hai kau yang memberi lapar, berilah

kekenyangan!

Di atasnya Dewi Sri,

Di depan pintu Cingkarbala dan Balaupata

Menjaga sepen kita agar tetap sepi dari hama

Menjaga rezeki kita dari para durjana

Merekalah yang akan membuka pintu sepen kita

Bagi para papa yang membutuhkan bantuan kita

Dan akhirnya

Di sanalah garase untuk kerbau dan sapi kita!

Somahku.

Di bawah atap inilah kuserahkan sapu rumah ke tanganmu

Supaya kaupelihara rumah kita dengan premati

Jadikanlah ia kolam bagi ikan-ikan

Jadikanlah ia sawah bagi padi-padian

Jadikanlah ini rumah karena di sinilah kasih bertempat

tinggal

Buatlah slametan

Dengan gunungan nasi kuning di tambir

Iwak ingkung, beserta uba rampenya

Setikang setikung

Gedungku watu gunung

Siapa mengharu biru milikku

Jadilah mangsa Kalabendu

Hu!

———

Rabi Sang Laki:

Katakanlah, wahai katakanlah

Di mana angin bersarang,

Gelombang tidur

Awan melepaskan penatnya

Dan hari merebahkan diri

Katakan o katakanlah Guru Lakiku

Di mana orang-orang papa

Bakal kautempatkan dalam rumah kita?!

 

Sambel Bawang dan Terasi

 

Ngaisah Isah Isah:

Sambel cocok betul untuk kita

Pengganti lauk bagi kita yang tak

berkecukupan

Penambah selera bagi mereka yang

tak pernah kekurangan

Sambel terasi sangat bagus untuk

pencernaan

apalagi kalau dimakan dengan kol

pete dan kacang panjang

Lha sambel bawang sangat baik

untuk penambah nafsu makan

apalagi kalau untuk para petani penjual

bawang tentunya.

 

Ngaisah memang spesialis sambel.

Adapun filsafat sambelnya kalau diringkas jadi begini

bunyinya:

Dengan sambel kita memayu ayu bawana!

Nyambel adalah profesi dan karirnya

Sambil nyambel ia merapal mantram-mantramnya

—    Dulit sambel sedulit

Dulit sedulit jadi sedep

Sedep sedulit jadi rasa

Rasa sedulit jadi ruh

Ruh sedep sejagat manjinglah di sambelku

Jadikanlah keranjingan ndara tuanku

Ya Allah ya Khayun

Ya Allah ya Khodirun

 

Demikianlah Ngaisah Isah Isah

Mengasah kalau lagi isah-isah

Mengasoh kalau lagi ngasuh

Ulah raga kalau lagi nimba

Mencipta kalau lagi ngulek sambel

Ia adalah wujud nyata dari Filsafat Sosrokartanan:

—    Sugih tanpa banda

Menang tanpa ngasorake

Di dapurnya yang mungil

Segala tetek bengek duni modern berbaris di sana:

Ada refrigerator, ada oven, ada rice cooker

bahkan ada pula tape recorder

yang memainkan keroncong selagi ia kesurupan nyambel:

Semua bukan miliknya tetapi semua adalah wewenangnya

—    Di dapur ini den nganten cuma wenang minta

Tapi perkara sedap tidaknya, sayalah yang menentukannya!

Ialah pemangku ajaran Jeng Gusti Pangeran Haryo

Mengkunegoro IV:

—    Rumangsa melu anduweni

Wajib melu angrungkebi!

Sewaktu banjir bandang melanda Sampangan

mati-matian ia menyelamatkan barang-barang tuannya

di samping muntu dan coweknya

Ia bukan babu

Ia spesialis sambel

Seperti tuannya dokter spesialis amandel

Ia orang merdeka

Karenanya ia juga punya etos kerja

—    Tukang sambel pun mbakyu

Punya angan-angan dan impian

Siapa tahu

Suatu kali akan kesampaian

Itulah Ngaisah Isah Isah

Orang merdeka yang memang memutuskannya

Untuk jadi pelayan bagi tuannya

Karena hanya dengan demikianlah ia merasa

Tetap memiliki kemerdekaan

Dalam posisi ketidakpunyaannya

—    Ndara tuan tokh membutuhkan kesetiaan saja

Seperti saya membutuhkan pengertiannya:

Begitu katanya setiap kali ia berkaca

Dalam upacara yang disebutnya

“Mulat sarira angrasa wani”

Menggenapkan ajaran Jeng Gusti

Panutannya.

5. Beberapa pilihan puisi Darmanto Jatmandalam Golf untuk Rakyat

Golf untuk Rakyat

 

Lho. Kang Karto. Kok cuma ngelamun di kebun?

Sudah pernah main golep apa belum?

Kalau belum, ya tunggu sampai dapat dawuh

Siapa tahu, sekali sampeyan ayunkan stick sampeyan

Langsung deh dapet “hole in one”

 

Ini perkara pembangunan lapangan golf di awal PJPT II di Indonesia

Den Mantri Jerohan ngendika: Golf dapat meningkatkan

kesejahteraan rakyat!

Sedang Mantri Kanuragan bilang: golf pertanda masyaratakat

kita sudah lebih sejahtera!

Lha iya berapa banyak lapangan golf mesti dipasang

untuk menyejahterakan 200 juta rakyat!

Berapa tumbal mesti dikorbankan

untuk mengempiskan kantung-kantung kemiskinan?!

 

Gusti,

kami tunggu dawuh paduka!

 

Sementara Mantri Pagupon pesan: Silakan bikin padang golf mister,

asal jangan gusur rumah rakyat!

Dan Mantri Besar Jagabaya wanti-wanti: Silakan bikin padang golf

sir, asal bangun juga sarana olahraga buat para kanoman!

 

Gusti,

kami tunggu sabda paduka!

 

YesYou are right!

Tak gampang jadi orang “kajen keringan”

Serba “ewuh aya ing pambudi”

Apa ya haram memiliki vila, yacht, jet, golf stick

buat meningkatkan citra bisnis dan memperkuat “bargaining power”

Apa ya salah mengembangkan keunggulan kompetitif

dengan menguasai hitech dirgantara, samudra, persada?

Duh Gusti

Bersabdalah!

 

–     Nenek moyang kita sih selalu mengajar kita hidup prihatin

Tapi tak pernah mengajar kita kiat bagaimana jadi kaya.

+    Ah. Yang bener. Lha filsafat “ojo dumeh” itu?

Sa beja-bejane kang lali, luwih beja kang eling lan waspada?!

Jadi perkara padang golf ini Kang Karto,

karena menyangkut kepentingan nasional

Yang nggegirisi dan gawat keliwat-liwat

Marilah sama-sama kita tunggu dawuh.

Siapa tahu, sekali sampeyan ayunkan stick sampeyan

Langsung dapat “hole ini one”

Hadiahnya bisa buat beli loji, pengganti

rumah sampeyan yang kegusur Raden Sukosrono

bolehnya muter taman golf internasional ke Indonesia!

 

Patriotisme Kromo

 

                                                                Indonesia Incorporated:

                                                                Mengubah ambisi jadi dedikasi!

 

Pulang studi dari Jepang

Kromo belanja semangat bushido

belajar melukis sumi’e

sembari latihan kendo

di desanya, di kebon mbako.

 

Kalau mau gemah ripah loh jinawi

Indonesia mestinya jadi perusahaan saja

Ada presiden direkturnya, ada presiden komisarisnya,

satpam, serikat sekerja,

tapi yang penting, ada Basic Philosophy nya!

Ini bukan sekedar transformasi budaya

Ini metamorphoses bangsa!

 

Mampir di Semaul Umdong Korea Selatan

Kromo mengembangkan gagasannya:

Kanoman sebaiknya jadi brigade pembangunan

cancut taliwanda mengubah impian jadi kenyataan.

Generasi tua tu mestinya berkorban

mencukupkan diri dengan semangkuk bubur

celana pangsi hitam dan RSS

sekedar untuk bertahan

membuka harapan untuk generasi yang akan datang

 

Indonesia INC

bakal mengubah warganegara jadi sumberdaya manusia

yang memiliki keunggulan kompetitif

dengan ilmu dan teknologi

berkepemimpinan demokratis

serta tentu saja filsafat dasar “post capitalism”

: Sugih tanpa bandha!

 

Singgah di Hong Kong

Kromo kulak Hong Sui, Goa Mia, Dong Su dan tentu saja Hoki

Lupa Cheong Sam, Ang Pao, Amy Yip maupun Lin Ching Shia.

“Bisnis itu hidup dan hidup itu bisnis!”

“Bekerja cari uang itu untuk orang melarat

membiarkan uang bekerja untuk manusia itu konglomerat!”

“Sepatu itu biar indah tetap di kaki,

topi biar runyam tetap di kepala!”

Sampai di tanah tumpah darahnya,

Nggrigak, Gunung Kidul,

Kromo merancang proklamasi negara usaha-nya:

“Kami, para pemilik tanah air dan tenaga kerja Indonesia

dengan ini menyatakan berdirinya Indonesia INC

Kemiskinan akan kami jadikan kemakmuran

Kebodohan jadi kecerdasa

Kenistaan jadi kemuliaan!

Kami sedia bekerjasama, tapi tak sudi ketergantungan!

So. Go to hell IGGI!”

 

Kita telah membangun Borobudur

Kita telah bangun PLTN di Jepara

Proyek otorita BATAM

Toni Roma’s ribs restaurants, Sizzler,

Hard Rock Café di samping kampung Betawi & Oud Batavia

Jadi kang, tak ada alasan untuk muram

Bener!

Rupiah boleh jatuh di Wallstreet,

Tembakau boleh numpuk di Bremen,

Yayuk Basuki boleh kalah di Wimbledon

Tapi Indonesia INC bakal tetap jaya

seperti Nippon sejak jatuhnya rezim Tokugawa

Kita punya Rendra

Kita punya Habibie,

Kita punya mas Prayoga, oom Liem, eyang Oei Tiong Ham

dari pajak mereka akan kita bangun koperasi

dan dengan koperasi, kita angkat martabat lik Parto dan bik Meniek

Okay?!

 

Jadi, tak ada alasan untuk ewuh aya mas

Mari kita rubah republik jadi kumpeni

Satu negara perusahaan yang tak terbayangkan

juga oleh Sun Tzu, Musashi atau Panembahan Senopati.

 

Demikianlah hasil langlang buana Kang Kromo

njajah deso milang kori

Tolong jangan ditangkap

bila beda pendapat.

We’re entering postmodern era bung

Pikiran mesti terbuka

Hati mesti ikhlas dan rela!

 

————————–

 

Di jalan Terate di Bandung

tanggal 2 Juli 1986

Sukardal menulis:

“Saya mati korban Tibum”

lalu ia menggantung diri di pohon tanjung

–    Innalillahi wa innailaihi rojiun

–    Rest in Peace Sukardal

Hai Tibum!

 

Tibum tu ya apaan sih, bisik Moci

Lho Tibum tu ya tibum

Tibum itu bukan tissue, bukan timba, apalagi t. shirt

Tibum itu t.i.b.u.m: tibum

Bum bum bum

. jangan salahkan Tibum kalau mereka merampas becakmu

lalu membuangnya ke laut Jawa

mereka cuma melaksanakan tugas mereka!

(Astagfirullah. Ampunilah kiranya!)

Jalan salahkan Tibum kalau mereka merubuhkan rumah

kardusmu sepanjang rel SMG-Jkt

Mereka aparat yang patuh pada perintah!

(Astagfirullah. Ampunilah kiranya!)

Jangan salahkan Tibum kalau mereka menggusur PKL

sepanjang trotoar Simpanglima

Mereka disiplin. Efektif dalam melaksanakan instruksi

(Ampunilah wahai

Jangan biarkan Ribum jadi bahan ejekan anak-anak ingusan:

Bum bum bum. Tibum tibum tibum)

 

Seorang guru besar sosiologi dari kampusnya berkilah:

Seperti juga birokrasi, Tibum itu Cuma jari-jari mungil gurita

raksasa yang bernama

Pembangunan

Gurita yang juga memangsa beribu Sukardal lagi di berbagai

negeri sedang berkembang.

Itulah prakteknya dan itulah teorinya. Mudheng?!

Sementara Ki Ageng Kali bertutur:

Sebenarnya masih ada lho cara lain untuk membangun; namun, yah

Halleluya. Puji Tuhan yang telah membebaskan Sukardal dari

penderitaan

(Tuhan sertamu)

Halleluya. Puji Tuhan yang telah menyelamatkan kita dari

piramida pengorbanan

(Tuhan sertamu!)

 

–    Tapi Sukardal bukan martir, bukan santu

Ia mati bunuh diri!

– Ya Allah. Ampunilah ia

karena tidak mengerti apa yang dilakukannya.

–    Ia bukan samurai yang harakiri

menegakkan martabat para satria Jepang

– Ya Allah. Ampunilah ia

karena ia tidak mengerti apa yang dilakukannya.

–    Amin!

 

–   Ia bukan pejuang Intifadah Palestina

Ia manusia biasa yang mati dengan dendam dan kecewa

Ampunilah kiranya bila matinya sia-sia

Jangan permainkan namanya

Dasar lagi sial Dal Dal

Dal idul idal inah!

 

Dan sekarang wahai Sukardal

Katakanlah di mana rumahmu, di surga mana

Adakah kausaksikan hati Tibum yang gegetun

dengan luka tombak di lambungnya

dan luka paku di telapak tangannya?

–    Wahai Sukardal

Jabatlah tangan Tibum yang mestinya jadi gembalamu

–    Wahai Tibum

Jabatlah tangan Sukardal yang mestinya jadi tugasmu menjaganya

Tuhan bakal memberkati kalian

Mengalirlah ampun dari keluberan hati kalian

Amin!

 

Hei Tibum

Hei Sukardal

Merdeka!

 

 

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply