Hubungan Intertekstual Sajak Chairil Anwar

Artikel, Sastra 0

hubungan intertekstual

Hubungan Intertektual Sajak Chairil Anwar

Hubungan intertekstual sajak Chairil Anwar – dengan sajak-sajak para penyair sesudahnya banyak dipengaruhi oleh sajak-sajak Chairil Anwar sebagai pelopor Angkatan ’45. Oleh karena itu untuk memahami sajak-sajak penyair sesudahnya perlu dilihat hubungan intertekstualnya dengan sajak Chairil Anwar. Sajak Chairil Anwar merupakan hypogramnya dengan sajak penyair sesudahnya.

Sajak Chairil Anwar yang menjadi hypogram ini adalah “Kepada Peminta-minta” yang merupakan saduran sajak “Tot Den Arme “ karya penyair Belanda Willem Elsschot.

 

KEPADA PEMINTA-MINTA

Baik, baik, aku akan menghadap Dia

Menerahkan diri dan segala dosa

Tapi jangan tentang lagi aku

Nanti darahku jadi beku

 

Jangan lagi kau bercerita

Sudah tercacar-cacar semua di muka

Nanah meleleh dari muka

Sambil berjalan kau usap juga.

 

Bersuara tiap kau melangkah

Mengerang tiap kau memandang

Menetes dari suasana kau datang

Sembarang kau merebah.

 

Mengganggu dalam mimpiku

Menghempas aku di bumi keras

Di bibirku terasa pedas

Mengaum di telingaku.

 

Baik, baik, aku akan menghadap Dia

Menyerahkan diri dan segala dosa

Tapi jangan tentang lagi aku

Nanti darahku jadi beku.

            (Deru Campur Debu, 1959:17)

Dalam sajak di atas berisi tentang penderitaan si peminta-minta itu memiliki hubungan intertekstual sajak Chairil Anwar dengan sajak-sajak para penyair sesudahnya menjadi hypogram sajak-sajak  yang berikut ini :

Toto Sudarto Bachtiar

Kepada Si Miskin

     Terasa aneh dan aneh saja

Sepasang-sepasang mata memandangku

Menimpakan dosa

Terus terderitakankah pandang begini?

 

Rumah-rumah terlalu rendah

Dan tanganku hanya bisa menggapai

Di antara ruang tak berudara

Di mana keluh mengapung-apung

Takut mengguratkan fajar yang salah

Dan perjalanan masih jauh

Tapi antara kami

Tak ada yang memisahkan lagi

            (Suara, 1977:45)

Ajip Rosidi

Moksha

datanglah malam datanglah pagi

waktu di luar kemampuanku lagi

setelah dengking kereta detik di dinding

semua kelu mengejek padaku

 

datanglah malan dan lekaslah pergi

tiada ruang buatku bernapas tanpa mata menuding

karena aku merebah pada janji

karena aku bukankan diri kepadanya

 

tiada mata melepas daku lalu

karena ada noda aku memberikan

tubuh kedanya, mempercayai janji

dalam ia menyusupkan wajah, mengerang nyeri

 

seribu mata tertuju padaku

hingga ke gelap pekat dan benci menuding

seolah aku telanjang di depan mereka

 

datangpun malam tak kuharap lagi

waktu di luar kemampuanku, kuraih sepi

telah lebur benci dan malu dalam diri

(Pesta, 1956:25)

Rendra

Berpalinglah Kiranya

(Tentang seorang Pengemis yang terlalu)

Berpalinglah kiranya

mengapa tiada kunjung juga?:

muka dengan parit-parit yang kelam

mata dan nyala neraka.

 

Larut malam hari mukanya

larut malam hari hatiku jadinya

mengembang-kembang rasa salah jiwa.

 

Dosa. doa lalu lalang merah hitam

memejam-rejam mata-mata ini dunia.

 

Berpalinglah kiranya

mengapa tiada kunjung jga?:

Kaca-kaca gaib menghitam air kopi hitam.

Biji-biji mata di rongganya memantulkan dosa-dosa

seolah-olah dosa itu aku yang punya.

 

Padaku memang ada apa-apa. Cuma

tidak semua baginya, tidak juga kan menolongnya.

Pergi kiranya, pergi! Mampus atau musnah:

Jahatlah itu meminta dan terus meminta

 

Terasa seolah aku jadi punya dosa.

Bukan sanak, bukan saudara. Lepaslah kiranya ini siksa.

Aku selalu mau beri tak usah diminta.

Tapi ia minta dan minta saja dan itu siksa.

 

Berpalinglah kiranya

mengapa tiada kunjung juga?

            (Empat Kumpulan Sajak, 1978:155-6)

Subagio Sastrowardojo

Rasa Dosa

muka putih di jendela

mengikut aku dari subuh

 

semua kekal

 

nyawa

jejak membekas di lumpur hati

 

kata

suara bergema di ruang abadi

 

tangan

jari gemetar menyaput sajak

 

mata

kenangan akhir membakar diri

 

muka putih di jendela

mengikut aku dari subuh

 

tanganku lumpuh

(Simphoni, 1975:18)

Jadi dengan uraian singkat di atas ternyata bahwa makna sajak Toto Sudarto Bachtiar, Ajip Rosidi, Rendra, dan Subagio Sastrowardojo itu akan menjadi lebih jelas, maknanya dapat lebih penuh tergali apabila dijajarkan secara intertektual dengan sajak Chairil Anwar “Kepada Peminta-minta” sebagai hypogramnya.

Demikian artiket singkat tentang hubungan intertekstual sajak Chairil Anwar dengan sajak-sajak para penyair sesudahnya, semoga bermanfaat.

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply