Latar Belakang Sosial-Budaya

Artikel, Sastra 0
sosial budaya puisi

Latar Belakang Sosial Budaya

Latar belakang sosial budaya sangat diperlukan dalam memahami sebuah puisi. Karena dengan latar belakang sosial budaya dapat memberikan makna  sepenuhnya pada sebuah puisi. Selain puisi dianalisis secara struktural atau unsur intrinsiknya dan dihubungkan dengan ksejarahan, maka analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial budaya.

Sebuah karya sastra mencerminkan masyarakatnya, hal ini mengingat bahwa seorang sastrawan merupakan anggota masyarakat, maka tidak bisa lepas darinya. Seorang penyair tidak bisa lepas dari pengaruh latar belakang sosial budaya masyarakatnya. Latar belakang sosial budaya itu tergambar dalam tokoh-tokoh yang dikemukakan, sistem kemasyarakatan, adat-istiadat, pandangan masyarakat yang terungkap dalam karya sastra.

Para penyair Indonesia berasal dari beragam masyarakat, baik  yang berlatar belakang sosial budaya Jawa, Sunda, Bali, Aceh, Kalimantan, dan sebagainya. Untuk memahami dan memberi makna puisi diperlukan pengetahuan tentang latar belakang sosial budaya yang melatarinya. Misalnya dalam memahami puisi Linus Suryadi dan Subagio Sastrowardojo, maka pembaca harus memiliki pengetahuan tentang wayang.

Beberapa puisi Subagio Sastrowardojo yang termuat dalam Keroncong Motinggo seperti Kayon, Wayang, Bima, Kayal Arjuna, dan Asmaradana diperlukan pengetahuan tentang wayang dan cerita wayang. Dalam Asmaradana diceritakan episode cerita Ramayana. Puisi Subagio Sastrowardojo tersebut sebagai berikut :

ASMARADANA

Sita di tengah nyala api

tidak menyangkal

betapa indahnya cinta berahi

 

Raksasa yang melarikannya ke hutan

begitu lebat bulu jantannya

dan Sita menyerahkan diri

 

Dewa tak melindunginya dari neraka

tapi Sita tak merasa berlaku dosa

sekedar menurutkan naluri

 

Pada geliat sekarat terlompat doa

jangan juga hangus dalam api

sisa mimpi dari sanggama

(1975a: 89)

Orang tidak akan memahami puisi Asmarada tanpa memiliki pengetahuan tentang cerita wayang atau cerita Ramayana. Dalam puisi Asmaradana ini ceritanya dengan sengaja diubah oleh Subagio Sastrowardojo untuk mengemukakan pikiran sendiri. Ini menunjukkan kreativitas Subagio sebagai seorang penyair.

Untuk menunjukkan pemahaman puisi dengan mengingat latar belakang sosial budaya yang mendasarinya, berikut ini puisi karya  Darmanto Jt. (1980: 40)

ISTERI

— isteri mesti digemateni

   ia sumber berkah dan rezeki

(Towikromo, Tambran, Pundong, Bantul)

Isteri sangat penting untuk ngurus kita

Menyapu pekarangan

Memasak di dapur

Mencuci di sumur

mengirim rantang ke sawah

dan ngerokin kita kalau kita masuk angin

Ya. Isteri sangat penting untuk kita

Ia sisihkan kita,

kalau kita pergi kondangan

Ia tetimbangan kita,

 kalau kita mau jual palawija

Ia teman belakang kita,

kalau kita lapar dan mau makan

Ia sigaraning nyawa kita,

kalau kita

 Ia sakti kita!

Ah. Lihatlah. Ia menjadi sama penting dengan

kerbau, luku, sawah, dan pohon kelapa.

Ia kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walau cape

Ia selalu rapih menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa

sukur: tahu terimakasih dan meninggikan harkat kita sebagai

lelaki. Ia selalu memelihara anak-anak kita dengan bersungguh-

sungguh seperti kita memelihara ayam, itik, kambing atau jagung.

Ah. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai

melupakannya:

Seperti lidah ia di mulut kita

                                                                tak terasa

 Seperti jantung ia di dada kita

                                                                                tak teraba

Ya. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai

melupakannya.

Jadi waspadalah!

Tetap, madep, manteb

Gemati, nastiti, ngati-ati

Supaya kita mandiri — perkasa dan pinter ngatur hidup

Tak tergantung tengkulak, pak dukuh, bekel atau lurah

Seperti Subadra bagi Arjuna

makin jelita ia di antara maru-marunya:

Seperti Arimbi bagi Bima

jadilah ia jelita ketika melahirkan jabang tetuka;

Seperti Sawitri bagi Setyawan

Ia memelihara nyawa kita dari malapetaka.

Ah.Ah.Ah

Alangkah pentingnya isteri ketika kita mulai melupakannya.

Hormatilah isterimu

                                Seperti kau menghormati Dewi Sri

Sumber hidupmu.

Makanlah

Karena memang demikianlah suratannya!

— Tiwikromo.

Darmanto Jt hidup dalam lingkungan yang berlatar belakang sosial budaya Jawa, maka ia tidak terhindar cerita-cerita Jawa, wayang Jawa, begitu pula akrab dengan pandangan hidup orang Jawa. Semua tergambar dalam puisi-puisinya seperti puisi Isteri.

Dalam puisi Isteri tergambar sosial budaya Jawa petani. Kedudukan dan guna isteri seperti tergambar dalam bait pertama. Hal ini sudah menjadi kebiasaan atau adat turun temurun.  Dengan memahami latar belakang sosial budaya orang dapat memahami kesungguhan puisi itu bahwa isteri petani sangat penting dan cukup terhormat kedudukannya. Dengan demikian pembaca dapat memberikan penilaian yang tepat terhadap puisi Isteri.

Dalam latar belakang budaya Jawa seorang isteri seperti Dewi Sri (terhormat), seperti Subadra (lembut hatinya, cantik, baik hati, adil, tidak membenci, penuh kasih sayang pada siapapun), seperti Arimbi (memelihara anak-anak dengan penuh kasih sayang), dan sepeti Sawitri (isteri yang sangat mencintai suaminya).

Demikian artikel singkat tentang latar belakang sosial budaya para penyair puisi yang sangat berpengaruh dalam puisi-puisinya. Semoga bermanfaat.

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply