Puisi-Puisi Goenawan Mohamad

Sastra 0
Goenawan Mohamad

Puisi-puisi Goenawan Mohamad

Salah seorang sastrawan Indonesia terkemuka adalah Goenawan Soesatyo Mohamad yang dilahirkan di Batang, 29 Juli 1941. Ia juga merupakan salah seorang pendiri Majalah Tempo. Ia merupakan adik Kartono Mohamad, seorang dokter yang menjabat sebagai ketua Ikatan Dokter Indonesia.

Kumpulan esainya adalah Potret Seorang Peyair Muda Sebagai Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata, Waktu (2001), Eksotopi (2002).

Begitu pula banyak karya berupa puisi yang dibukukan, seperti Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), dan Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Ada Puisi  Goenawan Mohamad yang berupa sajak-sajak atau puisi pilihannya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, oleh Laksmi Pamuntjak, terbit dengan judul Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004).

Pada tahun 2006, Goenawan dapat anugerah sastra Dan David Prize, bersama esais dan pejuang kemerdekaan Polandia, Adam Michnik, dan musikus Amerika, Yo-yo-Ma. Tahun 2005 ia bersama wartawan Joesoef Ishak dapat Wertheim Award.

Sedangkan karya terbaru Goenawan Mohamad adalah buku berjudul Tuhan dan Hal Hal yang Tak Selesai (2007), berisi 99 esai liris pendek. Edisi bahasa Inggrisnya berjudul On God and Other Unfinished Things diterjemahkan oleh Laksmi Pamuntjak. Di bawah ini adalah puisi-puisi karya Goenawan Mohamad:

DI MALIOBORO

–kepada seseorang yang mengingatkan saya akan Iramani, yang dibunuh di tahun 1965–

Saya menemukanmu, tersenyum, acuh tak acuh
di sisi Benteng Vriedenburg

Siapa namamu, kataku, dan kau bilang:
Kenapa kau tanyakan itu.

Malam mulai diabaikan waktu.
Di luar, trotoar tertinggal.

Deret gedung bergadang
dan lampu tugur sepanjang malam

seperti jaga untuk seorang baginda
yang sebentar lagi akan mati.

Mataram, katamu, Mataram…

Ingatan-ingatan pun bepercikan
–sekilas terang kemudian hilang– seakan pijar
di kedai tukang las.

Saya coba pertautkan kembali
potongan-potongan waktu
yang terputus dari landas.

Tapi tak ada yang akan bisa diterangkan, rasanya

Di atas bintang-bintang mabuk
oleh belerang,

kepundan seperti sebuah radang,

dan bulan dihirup hilang
kembali oleh Merapi

Trauma, kau bilang
(mungkin juga, “trakhoma?”)
membutakan kita

Dan esok los-los pasar
akan menyebarkan lagi warna permainan kanak
dari kayu: boneka-boneka pengantin
merah-kuning dan rumah-rumah harapan
dalam lilin.

Siapa namamu, tanyaku.
Aku tak punya ingatan untuk itu, sahutmu.
1997

TIGRIS

Sungai demam
Karang lekang
Pasir pecah
pelan-pelan

Gurun mengerang: Babilon!
Defile berjalan

Lalu Tuhan memberi mereka bumi
Tuhan memberi mereka nabi

Antara sejarah
dan sawah
hama
dan Hammurabi

Setelah itu, kita tak akan di sini

Kau dengarkah angin ngakak malam-malam
ketika bulan seperti
susu yang tertikam
ketika mereka memperkosa
Mesopotomia?

Seorang anak berlari, dan seperti dulu
ia pun mencari-cari
kemah di antara pohon-pohon tufah

Jangan menangis.

Belas adalah
Iblis karena Tuhan telah menitahkan airmata
jadi magma, bara yang diterbangkan bersama
belibis, burung-burung sungai yang akan
melempar pasukan revolusi
dengan besi dan api
“Ababil! Ababil!” mereka akan berteriak.
Bumi perang sabil.

Karena itulah, mullah, jubah ini
selalu kita cuci dalam darah di tebing
Tigris yang kalah
Dari Najaf ada gurun. Kita sebrangi
dengan geram dan racun. Dan tiba di Kerbala
akan kita temui pembunuhan
yang lebih purba.

(Ibuku. Seandainya kau tahu kami adalah anak-anakmu)
1986

PADA ALBUM MIGUEL DE COVAROBIAS

Kuinginkan tubuhmu
dari zaman
yang tak punya tanda,
kecuali warna sepia.

Pundakmu
yang bebas ,
akan kurampas
dari sia-sia.

Akan kuletakan sintalmu
pada tubir meja:
telanjang
yang meminta

kekar kemaluan purba,
dan zat hutan
yang jauh, dengan surya
yang datang sederhana.

Akan kubiarkan waktu
mencambukmu,
lepas. Tak ada yang tersisa
dalam pigura

juga api yang tertinggal
pada klimaks ketiga,
juga para dewa, juga kau
yang akan runduk

Kematian pun akan masuk kembali
kembali, kembali…
Mari.
Kuinginkan tubuhmu

dari zaman
yang tak punya tanda
kecuali
warna sepia
1996

TENTANG SEORANG YANG TERBUNUH DI SEKITAR HARI PEMILIHAN UMUM

“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku”

Seperti jadi senyap salak anjing ketika ronda menemukan mayatnya
di tepi pematang. Telungkup. Seperti mencari harum dan hangat padi.
Tapi bau sing itu dan dingin pipinya jadi aneh, di bawah bulan.
Dan kemudian mereka pun berdatangan – senter, suluh dan
kunang-kunang – tapi tak seorang pun mengenalnya. Ia bukan orang sini, hansip itu berkata.

“Berikan suara-Mu”

Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih.
Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik.
Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak
bertandagambar. Ia tak ada yang menagisi, karena kita tak bisa menangisi. Apa gerangan agamanya ?

“Juru peta yang Agung, dimanakah tanah airku ?”

Lusa kemudian mereka membacanya di koran kota, di halaman
pertama. Ada seorang menangis entah mengapa. Ada seorang
yang tak menangis entah mengapa. Ada seorang anak yang letih
dan membikin topi dari koran pagi itu, yang diterbangkan angin
kemudian. Lihatlah. Di udara berpasang layang-layang, semua
bertopang pada cuaca. Lalu burung-burung sore hinggap di kawat,
sementara bangau-bangau menuju ujung senja, melintasi lapangan
yang gundul dan warna yang panjang, seperti asap yang sirna.

“Tuhan, berikan suara-Mu, kepadaku”

 

2

Karena malam tak sepenuhnya tertembus, juga

oleh kelelawar yang mabuk, taufan antah-berantah

dan rembulan yang gila, harapan jangan-jangan

bermula dari sikap yang tak mengeluh pada batas.

 

Makin tahu manusia tentang luasnya alam semesta,

makin tampak bumi menyendiri dan manusia

terpencil. Planet ini hanya setitik noktah yang

cepat hilang. Tapi pada saat yang sama, dalam

keadaan yang praktis terabaikan itu, hilang dan

ketiadaan bukanlah sesuatu yang luar biasa.

 

Hidup begitu dekat dan Ketiadaan begitu megah.

Saya teringat sebaris kalimat Sitor Situmorang

dalam sajak “Cathedral des Chartres”: “hidup dan

kiamat bersatu padu.”

 

9

Angkor Wat: saya berdiri di depan Candi Bayon.

Hutan dan kesunyian, patung dan puing, kabut dan

hujan, dan para biksu yang berteduh di ruang-ruang

kecil candi seraya bersemadhi …

 

Tidakkah mereka sebenarnya tengah bersatu dengan

Waktu yang tak terduga dalamnya – bukan waktu

yang dibentangkan ke khalayak ramai, bukan waktu

yang gampang diukur, tapi sebuah ekstasis. Saat

yang dahsyat. Saat ketika sang subyek raib, tak lagi

berdaulat.

 

Buddha memang mengajarkan anatman dan anitya:

ia menunjukkan bahwa tak ada subyek yang sama,

tak ada yang permanen. Hidup adalah sebuah arus

eksistensi yang selalu lahir kembali, tapi tiap-tiap

kali berbeda, tiap-tiap kali satu momen kelahiran tak

ingat akan kelahiran sebelumnya, juga tak akan tahu

kelahiran yang kelak.

 

Agaknya itu sebabnya kematian, keberanian,

kesedihan, dan cinta, tak henti-hentinya ditulis

dan diabadikan oleh para penyair – dan apa yang

menggetarkan dari Mahabharata, yang sayu dari

Shakespeare tak terasa sebagai hanya replika, tak

cuma mengulang hal yang itu-itu saja.

 

Sebab itu, bagi mereka yang percaya akan dukkha,

anatman, dan anitya, patung adalah puing, hutan

adalah kesunyian, dan hujan seperti kabut.

 

74

Antara alasan dan arah terbentang garis, tapi tak

selamanya hidup menempuh garis itu. Mawar

ada tanpa kenapa, ia mekar karena mekar, kata

Angelus Silesius.

 

Tak adakah alasan Tuhan? Sang mistikus

akan menjawab “tidak.” Hanya Tuhan yang

dibayangkan sebagai sosok, hanya Tuhan macam

itu yang butuh alasan dan tujuan – dan dengan

demikian seakan-akan Ia bergerak dalam-ruang.

Tanpa kejutan. Tanpa menyebabkan rasa lega.

Mungkin itu sebabnya Nietzsche hanya mau

percaya kepada Tuhan yang menari.

 

63

Tamblingan: Siapa yang pernah menanam pohon

akan tahu bahwa yang tumbuh bukan hanya

sebuah batang dalam ruang, tapi juga sebentuk

tanda dalam waktu.

 

Berapa ratus tahun terhimpun dalam hutan yang

masih utuh di sekeliling Danau Tamblingan?

Ribuan pokok tua dan muda saling merapat, jalin-

menjalin bersama perdu, carang dan sulur; sekitar

pun tambah rimbun oleh gugus-gugus pakis yang

entah sejak kapan menyembunyikan jalan setapak.

 

Senja itu saya berjalan di sana, di tepi telaga di

perbukitan Bali Utara itu, menembus semak,

entah berapa kilometer, dalam kesepian yang

hanya terusik oleh bunyi langkah sendiri. Jauh di

timur, di tepi danau, tampak sebuah pura kecil

yang nyaris terlindung. Di saat itu, di separuh

gelap yang hijau itu, yang kekal hadir. Keabadian

bergerak. Tiap detik seakan-akan menyelinap

menyatu dalam klorofil daun damar. Abad seakan-

akan bergetar di ruas batang trembesi.

 

Mungkin sebab itu, ketika hutan ditebang, waktu

pun berubah. Bagaikan sepetak tanah yang

gundul, di mana jalan akan direntang dan pasar

akan dibangun, waktu pun terhantar, datar, siap

diukur. Tamasya itu – hutan yang hilang, waktu

yang dirampat – tak lagi punya tuah. Ia hanya

punya harga. Ia hanya punya guna. Tiap jengkal

telah tercampak, menyerah ke dalam rengkuhan

kalkulasi manusia. Waktu yang menakjubkan, juga

“puak yang perkasa dan damai” itu – ungkapan

Marcel Proust tentang pohon-pohon – pun tak

dilahirkan kembali.

 

Hutan, saya kira, adalah wilayah penghabisan

di mana Kegaiban masih belum hilang, di mana

Misteri belum dipetakan. Itu sebabnya, dulu, raja-

raja yang uzur menyingkir ke dalamnya sebagai

pertapa, untuk – seperti Destarastra, disertai

Gandari dan Kunthi dalam bagian terakhir

Mahabharata – menantikan mati. Para penguasa

yang mengubah diri jadi resi itu tak lagi berniat

menaklukkan dunia. Mereka datang ke rimba

menemui kembali pohon-pohon.

 

35

Saya berdiri di bawah surya pukul 9:00 yang

menyenangkan di sebuah pagi di tahun 1962.

Pori-pori kulit serasa bergetar, ultraviolet matahari

meresap. Saya sendirian. Tapi burung-burung

gereja sibuk bergantian hinggap di pelataran.

Dari pohon tepi jalan, bayang-bayang juga turun

menyentuh tanah.

 

Apa gerangan arti burung-burung, hangat pukul

9, pohon yang rindang? Di tahun 1960-an itu saya

telah melupakan pertanyaan macam itu. Bangun

pagi, berjalan siang, dan tidur malam saya tak

menyadari bahwa ada nilai tersendiri dalam hal-

ikhwal yang cuma melintas, tak pasti, dan sepele.

Waktu itu Indonesia adalah arena kata-kata yang

membahana: “Revolusi,” “Sosialisme Indonesia,”

“Dunia Baru” – semuanya dengan huruf kapital,

semuanya dengan pekik, poster, dan pengeras

suara, semuanya menggugah, menerobos jiwa.

 

Saya memandangi kembali burung-burung itu.

Tiba-tiba saya sadar, tak pernah saya terkesima

akan hal yang sebenarnya dahsyat tapi tersisih:

warna bulu yang menakjubkan itu, sepasang mata

yang seperti merjan jernih itu, sayap yang serba

sanggup itu. Ternyata selama ini saya tak punya

waktu buat tetek-bengek. Kami hanya menyimak

soal-soal besar agar dunia jadi lebih adil di masa

depan.

 

Ada yang salah agaknya. Masa depan hanya

berarti jika kita tak bilang “tidak” kepada burung

gereja di pelataran hari ini.

 

81

Kita hidup dengan warisan Cervantes. Para

ksatria telah punah. Kita tahu, Don Quixote,

lelaki tua krempeng yang naik kuda jelek itu

– yang membayangkan diri seorang Don yang

bersedia berperang untuk menegakkan nilai-nilai

yang luhur – adalah tetap Alonzo Quixano yang

miskin. Bila ia meninggalkan rumahnya buat

bertualang dan berperang untuk memperbaiki

Dunia, itu karena ia majenun.

 

Namun dari tangan Cervantes, Don Quixote justru

kemajenunan yang mengharukan: di sampingnya

ada Sancho Panza. Petani pendek tambun dengan

pikiran sederhana ini mengikutinya dengan setia,

antara percaya dan tidak.

 

“Ajaibilah aku tanpa keajaiban!” serunya suatu

kali. Ia tak punya waham. Ia tahu bahwa

bertempur melawan kincir angin bukanlah

bertempur melawan raksasa yang menyamar

dengan sihir. Ia tak melihatnya sebagai suatu

konfrontasi yang dramatik. Ia bisa hidup tanpa

drama. Tapi ia tak meninggalkan Alonzo

Quixano.

 

Bagi Sancho, hidup adalah kiat untuk beroperasi

di celah-celah apa yang mungkin. Tapi hidup

tak hanya sepenuhnya terdiri atas yang “apa

tak mungkin.” Ternyata manusia juga bisa

menghendaki sesuatu yang mustahil tapi niscaya,

misalnya keadilan. Terkadang ada sesuatu yang

berharga di luar tatanan praktis, sesuatu yang

mendorong manusia untuk membuat sejarah.

 

Justru karena miskin, Sancho bisa dekat dengan

Don Quixote.

 

Ia tahu hanya manusialah yang bisa bermimpi

dan menyiapkan perubahan, justru di dunia yang

tak terpenuhi. “Manusia menentukan, Tuhan

mengecewakan,” begitulah ia berkata.

 

89

Keadilan adalah sesuatu yang ada justru karena

tak hadir. Ia ibarat akanan. Kita melihatnya ketika

kita berdiri di tepi laut dan memandang nun

jauh di sana, tanpa tahu bagaimana wujudnya.

Ia kosong yang selaik kolong – kosong yang

dapat diberi nama dan ditunjuk. Ia absensi yang

menghimbau; tandanya luka pedih yang terjadi

ketika ketidak-adilan menguasai ruang.

 

Mungkin itulah sebabnya riwayat pergolakan

sosial di Indonesia adalah riwayat orang-orang

tertindas yang menantikan yang tak ada: Ratu

Adil. Semakin absen keadilan, semakin yakin

orang-orang ia akan muncul secara dramatis di

hari akhir.

 

Akhirnya sejarah adalah kisah orang-orang yang

mencicil: dalam penantian itu, manusia menebus

yang absen dengan mencoba merawat keadilan

(dengan “K”) tiap hari, bagaikan merawat lapisan

humus di ladang kebersamaan.

 

Keadilan, dengan “K”, tentus saja tetap disimpan

dalam kamus, meskipun kamus itu tak dapat

mendefinisikannya dan mengurungnya.

 

45

Praha, atau Den Haag, atau … Kota ini seperti tak

terbiasa juga dengan dingin, dengan malam,

meskipun berabad-abad ia berdiri, setengah

lelah. Gedung-gedung menanggungkan musim

tak putus-putusnya, tapi juga di ujung Oktober

ini ada yang terasa mengkeret oleh cuaca; plasa,

taman, boulevard, juga pasar yang tadi siang

terhampar. Hujan menjatuhkan ujungnya yang

tajam, kerap, dingin. Dari beberapa sudut,

lampu jalan – masing-masing seperti bersendiri

– adalah cahaya yang kuyup. Angin mengaum.

Kita mendengar derunya lewat di antara celah

yang terbentuk oleh bangunan tinggi.

 

Tak ada orang di jalanan. Semakin larut malam,

semakin tampak aspal dan semen bertambah

datar. Mobil melintas satu-satu, seperti terpaksa.

Trem, bahkan dengan derak roda pada rel, jadi

bagian dari sunyi yang tak dikehendaki.

 

Kota ini seperti tak terbiasa juga dengan malam

… Tapi benarkah? Tiap kota mengandung paras

yang pura-pura. Tiap kota punya wajah yang

hanya kita ingat ketika gelap, hujan, dingin,

Desember; datang. Tiap kota adalah ruang scene

dan ob-scene: ada yang dipertontonkan, ada yang

disingkirkan seperti najis. Gelandangan yang

merapat ke pojok-pojok. Para penjaga malam

yang merasa sial. Pelacur yang terhalau. Bajingan

yang selamanya siap. Di sebelah lain dari poster

iklan Gucci yang dipasang di halte-halte, mungkin

ada anak kecil penjual korek api dari cerita

Andersen, seorang bocah lapar yang mencoba

melawan beku, di sebuah hari Natal, dengan

menyalakan batang-batang geretan satu demi

satu, sampai habis. Kita tahu ia akan mati, tak

nampak.

 

67

Laut itu perempuan. Menurut legenda yang

beredar sejak Mataram, ia Ratu Kidul dari

samudera Selatan yang sesekali datang

mendampingi Panembahan Senapati, pendiri

kerajaan itu, orang kuat abad ke-16.

 

Dalam Kitab Wedhatama yang ditulis tiga abad

kemudian, Senapati bukanlah seorang penakluk,

tapi pertapa pengembara yang menyapa siapa saja

dengan manis, sabar dan tulus, mardawa ing budaya

tulus. Demikianlah di pantai selatan itu ia duduk

bersemadi hingga larut, mengundang datang ke

dalam dirinya sumber yang dalam dan jauh yang

mengirim ombak tak putus-putusnya.

 

Tapi ada ambivalensi di sini. Dalam semadi itu

laut menjelma jadi sesuatu yang masuk ke dalam

diri, namun ia seakan-akan dapat digenggam di

telapak tangan:

 

Kinemat kamot ing ndriya

Rinegem sagegem dadi

 

Dengan kata lain, di satu pihak Senapati

membiarkan dirinya terbuka kepada yang-lain

yang nun di sana, tapi di lain pihak ada kehendak

merengkuh dan berdaulat atasnya, dumadya

angratoni. Dalam dirinya ada sikap menghayati

hidup sebagai pengembaraan di atas bumi, di

bawah langit, di antara yang fana, di hadapan

yang “ilahiat” – empat lipatan yang disebut

Heidegger sebagai das Geviert. Tapi pada saat

yang sama Wedhatama meletakkannya dalam posisi

yang unggul. Kepadanya sang Ratu Kidul datang

merunduk, sor prabawa lan wong agung ngeksiganda,

bagaikan kalah oleh aura yang terpancar dari

orang agung Mataram itu.

 

Tapi bagaimana pun sang laut tetap berdaulat.

Ratu Kidul hanya datang mendampingi sang

pertapa dalam alam yang tak terlihat, dalam

momen yang hening, djoroning alam palimunan,

ing pasaban saben sepi. Dengan kata lain, dalam

suasana meditatif. Hanya dengan itu, hanya

dalam keadaan itu, di mana empati berbicara

nugraha atau berkat Sang Ratu masih berlaku.

 

56

Yang membedakan Sherlock Holmes dari tokoh

dalam dongeng Andersen ialah pipanya. Dengan

itu sang detektif menutup mulutnya, menghindari

percakapan, berkonsentrasi penuh untuk berpikir,

dan secara sistematis menggerakkan nalarnya

setapak demi setapak sampai akhirnya, bravo, sang

pembunuh terungkap. Baru setelah itu, Holmes

berbicara dengan sahabatnya, Watson. Atau lebih

tepat, menjelaskan logikanya kepada pembaca

melalui Watson.

 

Dalam dongeng Andersen, tokoh dan kebenaran

lahir bersama dalam percakapan. Bahkan

terkadang dalam keramaian. Tentang maharaja

yang tertipu pakaian ajaib, misalnya. Kita ingat

saat kebenaran muncul ketika di sela-sela para

penonton yang tengah mengelu-elukan maharaja

itu seorang bocah berteriak, “Hai, baginda

telanjang!” hingga orang ramai pun sadar bahwa

si anak benar dan mereka pun berteriak, “Hai,

baginda telanjang!”

 

Tapi Andersen tak menutup dongengnya di

sini. Alkisah, Baginda pun tetap melanjutkan

parade, tetap tegak, tetap bugil, dan seperti yakin.

Mungkin ia berharap orang ramai itu akhirnya

akan percaya bahwa ia sedang mengenakan

pakaian yang tak akan tampak oleh mata mereka

yang pandir.

 

Dengan kata lain ia mempersoalkan: apa

kebenaran, sebenarnya? Seandainya ia pernah

dengar Goebbels …

 

Goebbels, menteri propaganda Nazi itu,

memperkenalkan sebuah mekanisme: bila

sepotong dusta diteruskan berulang-ulang, ia akan

berubah jadi kebenaran. Dengan meneruskan

parade, sang maharaja tampaknya setuju bahwa

kebenaran adalah hasil konsensus, dan konsensus

tak bebas dari kebohongan dan kekuasaan.

 

Dalam arti tertentu dongeng ini menertawakan

zaman rasionalisme, ketika subyek diperlakukan

sebagai sumber nalar yang kekar dan lurus –

ketika orang menduga bahwa tak ada kekuasaan

di luar itu dan percaya bahwa kita bisa mencapai

kebenaran dengan memasang pipa di mulut, tak

bicara, menyendiri.

 

28

Agama dimulai dari hening dan saat yang

dahsyat dan berakhir dengan konstruksi. Budha

di bawah sebatang pohon di Bodh Gaya, Musa

di puncak Sinai, Muhammad di Gua Hira: tiap

situasi hadir sebagai situasi terpuncak, momen

yang tak lazim, ketika seseorang mengalami

kehadiran sesuatu yang Maha Lain, yang numinous,

sebagaimana digambarkan Rudolf Otto: misterius,

menakutkan, memukau. Di abad ke-5, atau 500

tahun sebelumnya, Santo Agustinus mengucapkan

perasaan yang mirip: “Dan aku gemetar dengan

kasih dan ngeri.”

 

Agama dimulai dengan gemetar, ada rasa kasih

dan ngeri, ada amor dan horror – tapi tampaknya

sesuatu dalam sejarah manusia telah menyebabkan

ia berakhir dengan sesuatu yang rapi: desain dan

bangunan. Berabad-abad setelah bertemu dengan

sang numinous, kita pun menyaksikan sesuatu yang

tak lagi mengungkapkan senyap. Di hadapan kita

kenisah yang megah, mesjid yang agung, gereja

yang gigantis, patung Budha dari emas yang

terbujur 14 meter, pagoda dengan pucuk yang

berkilau – dan umat yang makmum, berdesak …

 

Tampaknya pengalaman religius akhirnya selalu

dicoba diabadikan dengan sesuatu yang kukuh

– yang sebenarnya fantasi tentang yang kekal.

Atau yang menjulang – yang sebenarnya fantasi

tentang yang luhur. Atau yang gemerlapan – yang

sebenarnya fantasi tentang yang indah mempesona.

 

Akhirnya bukan sepi yang mengambil alih, tapi

struktur.

 

Yang umumnya tak disadari ialah bahwa struktur

itu harus disusun dengan kekuatan yang terhimpun.

Siasat dan alat harus dikerahkan seperti ketika

kita membangun imperium dan mengurus bisnis.

Kalkulasi akan dibuat atas segalanya, termasuk

waktu – yang tak lagi sama dengan momen ajaib.

Waktu jadi sesuatu yang bisa dipetak-petak dan

diukur. Waktu jadi seculum.

 

Persis di situlah yang sekuler merasuk di dalam

yang religius.

 

34

Yang indah memang bisa menghibur selama-

lamanya, membubuhkan luka selama-lamanya,

meskipun puisi dan benda seni bisa lenyap. Ia

seakan-akan roh yang hadir dan pergi ketika kata

dilupakan dan benda jadi aus.

 

Tapi apa arti roh tanpa tubuh yang buncah dan

terbelah? Keindahan tak bisa jadi total. Ketika

ia merangkum total, ia abstrak, dan manusia dan

dunia tak akan saling menyapa lagi.

 

91

Dengan menerima metafor kita tahu, bahwa pada

mulanya bukanlah Kata, melainkan tafsir. Dunia

menyentuhnya sepanjang perjalanan, ruang dan

waktu mengubahnya.

 

Memang mencemaskan jika Yang Kekal, juga

tanda-tandanya, tak hadir di antara kita:

masa lalu akan terasa bodoh dan masa depan

hampa. Tapi kesalahan kita selama ini ialah

menyimpulkan bahwa jika Yang Kekal mustahil

bergabung dengan yang fana, maka ia sebenarnya

tak ada. Atau sebaliknya: yang fana kita anggap

yang berdosa.

DALAM KEMAH

Sudah sejak awal kita berterus terang dengan sebuah teori: cinta adalah potongan-

potongan pendek interupsi – lima menit, tujuh menit, empat … Dan aku akan

menatapmu dalam tidur.

 

Apakah yang bisa bikin kau lelap setelah percakapan? Mungkin sebenarnya kita

terlena oleh suara hujan di terpal kemah. Di ruang yang melindungi kita untuk

sementara ini aku, optimis, selalu menyangka grimis sebenarnya ingin menghibur,

hanya nyala tak ada lagi: kini petromaks seakan-akan terbenam. Jam jadi terasa kecil.

Dan ketika hujan berhenti, malam memanjang karena pohon-pohon berbunyi.

 

Kemudian kau mimpi. Kulihat seorang lelaki keluar dari dingin dan asap napasmu:

kulihat sosok tubuhku, berjalan ke arah hutan. Aku tak bisa memanggilnya.

 

Aku dekap kamu.

Setelah itu bau kecut rumput, harum marijuana, pelan-pelan meninggalkan kita.

2010

DI DEPAN SANCHO PANZA

Di depan Sancho Panza yang lelah,

seorang perempuan bercerita tentang sajak

yang disisipkan ke dalam hujan

yang tak tidur.

 

Tentu saja Sancho tak mengerti

bagaimana sajak disisipkan

ke dalam hujan, tapi ia mengerti

cinta yang sungguh. Dipegangnya tangan

perempuan itu dan berkata, “Jangan cemas.”

 

Memang sebenarnya perempuan itu cemas:

Seseorang mencintainya dan ia tak tahu

untuk apa. Ia tak tahu kenapa sajak-sajak tetap terbuang

dan laki-laki itu tetap menuliskannya, sementara hujan

hanya datang kadang-kadang. Malah guruh lebih sering,

seperti brisik kereta langit yang menenggelamkan

antusiasme yang tak lazim. Atau logat yang asing.

Atau angan-angan yang memabukkan.

 

“Semua ini jadi lucu,” kata perempuan itu.

Dan Sancho pun sedih. Sebab ia pernah melihat seorang kurus,

tua dan majenun, yang memungut sajak yang lumat

dalam hujan, yang percaya telah mendengar sedu-sedan

dan cinta dari cuaca, meskipun yang ia dengar

adalah sesuatu yang panjang dan sabar

seperti gerimis.

2009  

TELESKOP

Ia memandangimu dari jauh: sebuah teleskop tua, yang tak akan kelihatan,

seseorang yang sedikit sok-tahu tapi maklum: pejalan cahaya yang sebenarnya takut

menyentuhmu.

 

Itu sebabnya, nak, pada suatu sore, ia bertekad pergi ke pohon tumbang itu, tempat

kau pada suatu hari duduk. Tak ada jejak di sana. Mungkin tubuhmu selamanya tak

menginjak bumi: seperti capung dengan mata yang tak tampak dan sayap yang

bergetar berulang kali.

 

Ia tahu tanganmu menanting jam. Berkeringat. Tapi ia tak akan berani menghambur

ke depan menawarkan akhir yang lain. Ia hanya akan kembali memandangimu dari

jarak yang tak tentu. Merasa makin tua, merasa makin jauh, dalam ruang yang

memuai, meskipun ia tetap sisipkan teleskop itu

 

di saku jaketnya. Sebenarnya sejak tahun itu, sejak ia melihatmu terdiam di depan

pintu itu, ia sudah ingin berkata: Lihat, aku tak menguntitmu. Tapi ia tak pernah yakin

kepada siapa ia berkata. Ia cuma yakin suaranya tak mengejutkan. Hanya jam itu, di

tanganmu, yang selamanya mengejutkan.

2009

UNTUK FRIDA KAHLO

Frida Kahlo menulis dalam catatan hariannya: ”Hidup yang

diam, pemberi dunia, apa yang paling penting ialah tiada

harap.” Di sana disebutnya juga fajar, pagi, rekan-rekan merah,

ruang besar biru, daun-daun di tangan, burung yang gaduh …

 

Apakah yang kita mengerti sebenarnya, tadi: kesederhanaan

lagu tentang nasib, atau arus tak sadar pada tinta, darah dalam

dawat, deretan kata-kata murung? Apa penanda, apa petanda?

 

Frida tak pernah menjawab. Berhari-hari yang nampak adalah

lelaki, tamu-tamu, yang berdatangan, melalui beranda Rumah

Biru, menyapanya, duduk-duduk, minum teh, mencicipi kue,

dan berceloteh dan melucu, sambil berdiskusi tentang tuhan

yang mereka ingkari dan kedatangan Trotsky

Mereka berkata, ‘Tidak, Frida, kau tak apa-apa’

Tapi di alis itu …

 

di alismu langit berkabung

dengan jerit hitam

dua burung

 

di ragamu tiang patah

di kamar narkose, ampul tertebar:

sisa sakit dan sejarah

 

tapi kijang yang tak menjerit di hutan

pada luka lembing penghabisan

adalah seorang perempuan

 

uluhati yang tercerabut

tapi terbang, menjemput Maut

adalah seorang perempuan

 

Kemudian akan datang lusa: dari Cayougan orang-orang akan

pulang, dan akan datang pula orang lain. Ada yang telah

berangkat mengurus revolusi atau kembali menenteng tas dan

kertas-kertas – manifesto yang kehilangan bunyi. Tapi semua

berkata, “Tidak, Frida, kau, kita, juga Diego Riviera, telah

berusaha untuk setia, tapi kita bukan apa-apa lagi. Dunia

sudah tak seperti dulu.”

 

Bukan apa-apa …

 

tapi di matamu kaulihat

piramid-piramid sakit

mencari air kaktus

pada pucat langit

 

Lalu kaulukiskan airmatamu,

seperti mutiara dan

putih cuka

di tembikar kulitmu

 

Di atasnya para santo

dan wajah Diego: praba dan cahaya

yang membakar kekal

mimpi Meksiko

 

 

Di ruang Meksiko itu, dengan gaun putih Tehuana, Frida

menghentikan kursi rodanya. Kamar berubah suhu, tapi hidup,

seperti dulu, adalah kini yang berganti-ganti. Kekekalan – yang

telah mengalami semua, dan akan menyaksikan semua – tak

ada. Palet yang memamerkan luka, paras Judas, rangka dari

kertas, buket kembang lavender yang tertahan di tangan:

elemen waktu yang berakhir setiap hari, setiap kali.

 

Terkadang ia tergoda juga untuk lupa: dilukisnya korsase putih

yang tetap bersih dan Noguchi (di dada seorang perempuan, di

Manhattan, yang jatuh dari gedung-gedung, dengan raut

cemerlang, bunuh diri).

 

Apakah mati sebenarnya? Konon di tempat tidurnya – sebelum

orang mengangkatnya ke api kremasi – ada seorang yang

datang dan mencium parasnya, penghabisan kali, “Frida, kau

adalah ketakjuban kepada harum brendi, senyum di

percakapan dan ranum pisang dalam sajikan makan malam.

Kau tergetar kepada apa yang sebentar.”

 

Barangkali mati adalah transformasi, perjalanan ramarama

yang sedih yang menghilang ke arah roh: keabadian yang tak

tahu telah berubah lazuardi.

 

“Apa yang akan kulakukan tanpa yang absurd dan yang

sementara?”

Benar, begitulah ia pernah bertanya.

1993-1994

MISALKAN KITA DI SARAJEVO

Buat B.B dan kawan-kawan

 

Misalkan kita di Sarajevo; mereka akan mengetuk

dengan kanon sepucuk

dan bertanya benarkah ke Sarajevo

ada secelah pintu masuk.

 

Misalkan kita di Sarajevo: tembok itu,

dengan luka-luka peluru,

akan bilang “tidak”,

selepas galau.

 

Tapi kau tahu musim, di Sarajevo

akan mematahkan engsel,

dingin akan menciutkan tangan,

dan listrik lindap.

 

Orang-orang akan kembali

dari kedai minum,

dan memandangi hangus

di loteng-loteng.

 

Apakah yang mereka saksikan sebenarnya

di Sarajevo: sebentang samun,

tanah yang redam?

Apakah yang mereka saksikan sebenarnya?

 

Keyakinan dipasak

di atas mihrab dan lumbung gandung

dan tak ada lagi

orang membaca.

 

Hanya mungkin pada kita

masih ada seutas tilas,

yang tak terseka. Atau barangkali

sebentuk asli katahati?

 

Misalkan, misalkan, di Sarajevo: bulan

tak meninggalkan replika,

di dekat menara, tinggal warna putih

yang hilang dari azan

 

Misalkan angin juga kehilangan

perangai

di pucuk-pucuk poplar kuning

dan taman yang tak bergerak.

 

Pasti nenek peri, dengan suara kanker di perut,

akan berkata,

“Tinggal cobaan dalam puasa

di padang gurun, di mana kau tak bisa.”

 

Mengapa kita di Sarajevo?

Mengapa gerangan kita pertahankan kota ini?

Seperti dalam sebuah kisah film,

Sarajevo tak bisa takluk.

 

Kita tak bisa takluk

Tapi keluar dari gedung rapat umum,

orang-orang sipil

akan mengenakan baju mereka yang terbaik,

 

mencium pipi para isteri, ramah tapi gugup,

meskipun mereka, di dalam saku,

menyembunyikan teks yang gaib itu:

“Bukan roti, melainkan firman.”

 

Batu-batu di trotoar ini

memang tak akan bisa jadi roti

cahaya salju di kejauhan itu

juga tak akan jadi firman

 

Tapi misalkan kita di Sarajevo

Di dekat museum itu kita juga akan takzim

membersihkan diri: Biarkan aku mati

dalam warna kirmizi.”

 

Lalu aku pergi

kau pergi, berangkat, tak memucat

seperti awal pagi

di warna kirmizi

1994

PADA SEBUAH PULAU

Badai hanya pulang gema, di sini, seperti ratap pulau

dari karang-karang kambria

yang gelap.

 

Pantai mengangakan rahang, menelan waktu

yang datang bertubuhkan

gelombang

 

Tanah melulur

ekulaptus.

Sejarah menembus.

 

Pada batukapur tua ia menyusun sember itu – yang akhirnya tak ada

Beratus tahun kemudian ia pun kembali,

jejak, kerak, sisa, tanda: fana, barangkali tak fana

1994

BERLIN, 1993

Berlin berteriak

dalam bengis sirene

Kau tersentak:

“Jangan tinggalkan aku di Friedrichstrasse”

 

Kucium pelupukmu, kelopak yang gelap

di kaca etalase:

Kenapa luka itu tak pernah nampak

seusai berita dan parade?

 

Pohon-pohon linden sebelum Mei

seperti rangka, seperti berdiri,

nyeri, di kamp tahun ‘42

pagi hari.

 

Kulihat rautmu yang turki,

rambutmu yahudi

Berlinmu yang lain,

setelah aku pergi

 

Aku pun bertanya, bisakah kita berlindung

pada senja yang tak memihak,

pada malam sejenak,

dan metamorfose?

 

Berlin hanya berteriak

hanya berteriak

dalam serak

dan bengis sirine.

1994-1996

DI PASAR LOAK

Di pasar loak jejak timpa menimpa, menghapus kau dan aku,

mengingat kau mengingat aku

 

Pengalaman adalah karpet tua, anakku, pompa-pompa,

gambar burak, gambar yesus, kamus-kamus, gaun malam dan

hordin panjang, di mana dulu ada sebuah rumah, di mana kita

tak ada, kita tak punya, di mana seekor parkit mungkin

mencoba bernyanyi, mencoba menyanyi, dan seseorang tutup

pintu, dengar, papa, aku tak kembali, tak akan kembali

 

Kenangan adalah seperti manik-manik yang ditawarkan peniup

harmonika itu: butir-butir putih yang teruntai, tak berkait,

sebuah montase, sederet huruf morse, Selamatkan Kami,

Selamatkan Kami, Kami Tenggelam, percintaan yang tak ingin

jadi hantu dalam mimpi malam.

 

Perpisahan adalah sebuah isyarat kematian, orang tua penjual

kaca itu berkata dan bertanya, siapa kita sebenarnya, mengapa

1994

SAJAK SELATAN

Buat Y.Y

 

Ia lepas topi kepada burung-burung

dan sore hari orang Samarkand

 

Ia lihat matahari menitipkan parasnya pada pualam

 

Asar lewat, sekelebat

asar seorang komisar

 

ketika bayang dan cahaya yang silau

saling memburu

di madrasah biru

 

Ia dengar surah

seperti Tuhan belum pernah

dikalahkan

 

seperti desau kapas

dari ladang pedalaman

 

Tapi di dalam balai ada orang nyanyi, kisah caravan

dan sajak orang Bukhara

yang mereka bacakan, mereka bacakan, sampai

Lenin-Lenin plastik

leleh di aula

dan orang terdiam

dalam perjamuan

 

Barangkali ia dengar juga bunyi esok

yang lain lagi?

 

Bunyi waktu, yang seperti pisau,

bunyi mimpi yang robek,

bunyi malam yang kadang sampai

di langit Uzbek?

 

Ia lihat burung-burung bertambah hitam,

hinggap,

seperti tirai.

 

Di malam itu ditulisnya surat

(meski ia tak tahu di mana kau, Yevgeny),

“Di Samarkand sesuatu terlindung di kedap daun,

aku melihatnya

di pohon-pohon lampai.”

1996

BINTANG PAGI

Bintang pagi: seperti sebuah sinyal

untuk berhenti. Di udara keras kata-kata berjalan, sejak malam,

dalam tidur: somnabulis pelan, di sayap mega, telanjang,

ke arah tanjung

 

yang kadang menghilang. Mungkin ada

sebuah prosesi, ke sebuah liang hitam,

di mana hasrat – dan apa saja yang teringat – terhimpun

seperti bangkai burung-burung

 

di mana tepi mungkin tak ada lagi.

Siapa yang merancangnya, apa yang mengirimnya?

Dari mana? Dari kita? Ada teluk yang tersisih

dan garis lintang yang dihilangkan, barangkali.

 

Sementara kau dan aku, duduk, bicara,

dalam sal panjang.

Dan aku memintamu: Sebutkan bintang pagi itu,

hentikan kata-kata itu. Beri mereka alamat!

 

Kau diam. Mungkin ada sejumlah arti yang tak akan hinggap

di perjalanan, atau ada makna, di rimba tuhan,

yang selamanya menunggu tanda hari:

badai, atau gelap, atau –

 

bukan bintang pagi.

1996

30 TAHUN KEMUDIAN

30 tahun kemudian mereka bertemu di restoran dekat danau.

 

Hujan dan kenangan berhimpitan, berbareng,

seperti lalulintas yang langgeng.

 

Terkadang badai meracau,

langit kian dekat, dan dari tebing dingin berjalin dengan basah

pucuk andilau

 

ketika mereka duduk berlima,

dengan tuak putih tua,

 

bertukar cerita tentang lelucon angka tahun

dan rasa asing pensiun,

 

mengeluhkan anak yang pergi dari tiap bandar

dan percakapan-percakapan sebentar.

 

Terkadang mereka seakan-akan dengarkan teriak trompet dari

kanal seperti jerit malaikat yang kesal

 

dan mereka tertawa. Sehabis sloki ketiga,

waktu pun berubah seperti pergantian prisma:

 

masa lalu adalah huruf yang ditinggalkan musim pada

marmar makam Cina.

Kerakap memberinya warna. Kematian memberinya kata.

 

Dan pada sloki ke-4 dan ke-5 mereka dengarkan angin susul

menyusul, seakan seorang orang tua bersiul

 

dengan suara kisut

ke bulan yang berlumut.

 

Pada sloki ke-6 mereka menunggu malam singgah dalam

topeng Habsi. Dan tuhan dalam baju besi.

 

30 tahun kemudian mereka tak akan bertemu lagi di sini.

1996

NUH

Pada hari Ahad kedua, kota tua itu tumpas. Curah hujan

tak lagi deras, meskipun angkasa masih ungu, dan hari gusar.

Rumah-rumah runtuh, seluruh permukaan rumpang, dan

tamasya mati bunyi, kecuali gemuruh air. Memang ada jerit

terakhir, yakni teriak seorang anak.

 

“Ia jatuh,” kata laporan yang disampaikan kepada Nakhoda

“dari sebuah atap yang bongkah. Air bah menyeretnya

Kakinya memang lumpuh sebelah. Dengan cepat ia pun

tenggelam, seperti yang lain-lain: neneknya, ibu-bapaknya,

saudara-saudaranya sekandung. Ia tenggelam, seraya memekik,

begitu juga seluruh kota.”

 

Nakhoda itu tersenyum. Segera diberitakannya kabar terakhir itu

kepada Nuh yang sedang berdoa di kamarnya dalam bahtera.

Orang alim itu terdiam sebentar, lalu bangun dan berjalan ke

buritan. Ia ingin menyaksikan sendiri benarkah gelombang telah

selesai membunuh.

 

Memang: banjir itu tak lagi ganas, seakan-akan naga yang

kenyang bangkai.

 

Dan di sisa kota itu ia lihat mayat, terapung, menggelembung,

hampir hitam, beribu-ribu, seperti menantikan sesuatu.

Ia lihat gagak dan burung-burung marabou, bertengger di atas

perempuan-perempuan tua yang terserak busuk. Di permukaan

air itu bahkan hutan-hutan takluk dan senja seakan terbalik,

seperti pagi. Nuh pun berbisik,”Kaum yang musyrik, yang tak

dikehendaki…”

 

Ia menghela napas, lalu kembali ke anjungan. Bau bacin

menyusup dari cuaca, bahkan sampai ke ruang doa, dan ia

merasa kota itu akan segara jadi payau. Maka tatkala langit

teduh, Nuh segera meminta agar bahtera diarahkan ke sebuah

dataran tinggi yang masih utuh, di utara. Ia berkata, ”Keadilan,

perkara besar itu, telah dibereskan Tuhan.” Dan ia mendarat.

 

Lepas dari air, ia merunduk di tepian itu dan diucapkannya

syukur. Lalu segera disuruhnya persiapkan korban hewan di

kaki bukit. Harum daging bakar pun sampai ke langit, dan

membuat surga berbahagia. “Ya, Maha Dasar, tak ada lagi yang

bisa keluar,” begitulah sembah yang diucapkannya, ketika hari jadi

terang dan jemaat berdoa untuk kota-kota yang akan datang,

yang kukuh, patuh. Kota-kota Nuh.

1998

PERJALANAN MALAM

Wer reitet so spat durch Nacht und Wind?

Er ist der Vater mit seinem Kind

– GOETHE

 

Mereka berkuda sepanjang malam,

sepanjang pantai terguyur garam.

Si bapak memeluk dan si anak dingin,

menembus kelam dan gempar angin.

 

Adakah sekejap anak tertidur,

atau takutkan ombak melimbur?

“Bapak, aku tahu langkah si hantu,

ia memburuku di ujung itu.”

 

Si bapak diam meregang sanggurdi,

merasakan sesuatu akan terjadi.

“Kita teruskan saja sampai sampai,

sampai tak lagi terbujur pantai.”

 

“Tapi ‘ku tahu apa nasibku,

lepaskanlah aku dari pelukmu.”

“Tahanlah, buyung, dan tinggallah diam,

mungkin ada cahaya tenggelam.”

 

Namun si hantu tak lama nunggu:

dilepaskannya cinta (bagai belenggu).

Si anak pun terbang ke sebuah cuaca:

“Bapak, aku mungkin kangen di sana.”

1976

ASMARADANA

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa

hujan dari daun,

karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda

serta langkah

pedati ketika langit bersih kembali menampakkan

bimasakti,

yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada

yang berkata-kata.

 

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia

melihat peta,

nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak

semuanya

disebutkan.

 

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.

Sebab bila esok

pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh

ke utara,

ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang

akan tiba,

karena ia tak berani lagi.

 

Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.

Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.

Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan

wajahku,

kulupakan wajahmu.

1971

DI BERANDA INI ANGIN TAK KEDENGARAN LAGI

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi

Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari

Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba

Kudengar angin mendesak ke arah kita

 

Di piano bernyanyi baris dari Rubayat

Di luar detik dan kereta telah berangkat

Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata

Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

 

Aku pun tahu: sepi kita semula

bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata

Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela

mengekalkan yang esok mungkin tak ada

1966

BARANGKALI TELAH KUSEKA NAMAMU

Barangkali telah kuseka namamu

dengan sol sepatu

Seperti dalam perang yang lalu

kauseka namaku

 

Barangkali kau telah menyeka bukan namaku

Barangkali aku telah menyeka bukan namamu

Barangkali kita malah tak pernah di sini

Hanya hutan, jauh di selatan, hujan pagi

1973

CERITA UNTUK MITA

Di tromol itu kulihat permen dan bintang-bintang

dan gambar seorang perempuan pirang.

Ia memperkenalkan: “Aku dari sebuah masa kecil.

Kau kukenal dalam kenangan.”

 

Sebenarnya aku tak banyak punya kenangan

tapi malu untuk ditertawakan

“O, ya, siapa ya nyonya, kapan datang dari Belanda?

Ia tertawa: “Salah, aku merk manisan Amerika.”

1976

Z

Di bawah bulan Marly

dan pohon musim panas

Ada seribu kereta-api

menjemputmu pada batas

 

Mengapa mustahil mimpi

mengapa waktu memintas

Seketika berakhir berahi

begitu bergegas

 

Lalu jatuh daun murbei

dan air mata panas

Lalu jatuh daun murbei

dan engkau terlepas

1971

DINGIN TAK TERCATAT

Dingin tak tercatat

pada termometer

 

Kota hanya basah

 

Angin sepanjang sungai

mengusir, tapi kita tetap saja

 

di sana. Seakan-akan

 

gerimis raib

dan cahaya berenang

 

mempermainkan warna.

 

Tuhan, kenapa kita bisa

bahagia?

1971

KWATRIN TENTANG SEBUAH POCI

Pada keramik tanpa nama itu

kulihat kembali wajahmu

Mataku belum tolol, ternyata

untuk sesuatu yang tak ada

 

Apa yang berharga pada tanah liat ini

selain separuh ilusi?

Sesuatu yang kelak retak

dan kita membikinnya abadi

1973

POTRET TAMAN UNTUK ALLEN GINSBERG

Ia menebak dari warna kulit saya

dan berkata, ‘Tuan pasti dari dunia ke-3.’

Lalu ia, dari dunia pertama, mengunyah makan pagi

seraya mengutip Mao Tse-tung

dan sebuah sajak gunung – ramah sekali.

 

Bisakah ia tidur

sebelum anggur

lalu mungkin mimpi

di lindungan malaikat masehi?

 

Ia telah jalan dalam angin

dan mengucup es-krim

dan membaca berita di halaman pertama

tentang sebuah perang

di Asia Tenggara

 

Ia kini duduk bersila

di bangku taman kotapraja

mungkin semadi

mungkin aku tidak mengerti

karena ia berkata:

‘Di Vietnam tak ada orang mati’

Tak ada Vietnam dan Orang tak mati.’

 

Lalu ia mencari kepak burung

ia mencari merpati

ia mencari lambang

ia mencari makna hari.

Ia mencari seakan ia tahu apa yang ia

ingin temukan dan tiba-tiba ia menuliskan:

 

‘Revolusi, Revolusi, Tak bisa Dipesan Hari Ini.’

Lalu ia bangkit ia mual ia mencium

bau biasa dari kakus umum;

ia basah oleh tangis dan ia meludah:

‘Kencingilah kaum borjuis!’

Adakah ia Nabi?

 

Tuhan. Di taman ini orang juga ngelindur

tentang perempuan-perempuan berpupur

dan sebuah mulut berahi kudengar memaki:

‘Bangsat, kenapa aku di sini!’

Atau mungkin ia ngelindur tentang sebuah dusun

yang hancur dan sisa infantri dan mayat

dan ulat dan ruh dan matahari?

 

Aku dengar seorang-orang tua, yang kesal dan

berkata: ‘Di sekitar hari Natal, pernah terjadi

hal yang tak masuk akal. Misalnya mereka

membom Hanoi sebelum (bukan sesudah) aku minum

kopi.’

1973

SAJAK UNTUK BUNGBUNG

Tiap tengah malam hujan mendarat

pada atap anak yang mimpi

Tentang seorang pilot, tanpa pesawat

di atas sawah dan pagi hari

 

Cemas itu, nak, memang telah jadi umum

dan akan sampai pula kemari

Nah rapikan rambutmu sebelum kucium

dengan tangkai daun yang lama mati

1976

NOTA UNTUK UMUR 49 TAHUN

Pasir dalam gelas waktu

Menghambur

Ke dalam plasmaku

 

Lalu di sana tersusun gurun

Dan mungkin oase

Tempat terakhir burung-burung

1990

DI ANTARA KANAL

Jarimu menandai sebuah percakapan

yang tak hendak kita rekam

di hitam sotong dan gelas sauvognon blanc

yang akan ditinggalkan.

Di kiri kita kanal menyusup

dari laut. Di jalan para kelasi

malam seakan-akan biru.

“Meskipun esok lazuardi,” katamu.

Aku dengar. Kita kenal

kegaduhan di aspal ini.

Kita tahu banyak hal.

Kita tahu apa yang sebentar.

Seseorang pernah mengatakan

kita telah disandingkan

sejak penghuni pertama ghetto Yahudi

membangun kedai.

Tapi kau tahu aku akan melepasmu di sudut itu,

tiap malam selesai, dan aku tahu kau akan pergi.

“Kota ini,” katamu, “adalah jam

yang digantikan matahari.”

2012

TENTANG CHOPIN

 

Kembali ke nokturno, katamu. Aku inginkan Chopin.

Seperempat jam kemudian, tuts hitam pada piano itu menganga.

Malam telah melukai mereka.

 

Mungkin itu sebabnya kau selalu merasa bersalah, seakan-akan sedih adalah bagian dari ketidaktahuan.

Atau kecengengan. Tapi setiap malam, ada jalan batu dan lampu sebuah kota yang tak diingat lagi, dan kau,

yang mencoba mengenangnya dari cinta yang pendek, yang terburu, akan gagal. Di mana kota ini? Siapa yang

 

meletakkan tubuh itu di sisi tubuhmu?

Semua yang kembali

hanya menemuimu

pada mimpi yang tersisa

di ruas kamar….

 

Coba dengar, katamu lagi,

apa yang datang dalam No. 20 ini?

 

Di piano itu seseorang memandang ke luar

dan mencoba menjawab:

Mungkin hujan. Hanya hujan.

 

Tapi tak ada hujan dalam C-Sharp Minor, katamu.

2012

YANG TAK MENARIK DARI MATI

adalah kebisuan sungai

ketika aku

menemuinya.

 

Yang menghibur dari mati

adalah sejuk batu-batu,

patahan-patahan kayu

pada arus itu.

2012

AKTOR

Aktor terakhir menutup pintu.

“Caesar, aku pulang.”

Dan ruang-rias kosong. Cermin jadi dingin

seperti wajah tua yang ditinggalkan.

 

Siapapun pulang. Meski pada jas dengan punggung yang berlobang ia masih rasakan ujung pisau itu menikam dan akerdeon bernyanyi pada saat kematian.

“Teater,” sutradara selalu bergumam, “hanya kehidupan dua malam.”

“Tapi tetap kehidupan,” ia ingin menjawab.

Ia selalu merasa bisa menjawab.

 

Ia menyukai suaranya sendiri

dan beberapa kata-kata.

Tapi pada tiap reruntukan panggung

ia lupa kata-kata.

 

Pada tiap reruntukan panggunng

ia hanya ingin tiga detik — tiga detik yang yakin:

dalam lorong Kapai-Kapai, Abu tak berhenti

hanya karena cahaya tak ada lagi.

 

Ia tak menyukai melankoli.

2012

RITE OF SPRING

Tari itu melintas pada cermin:

bagian terakhir Ritus Musim.

Gerak gaun — paras putih –

tapak kaki yang melepas lantai….

 

23 tahun kemudian di kaca ia temukan wajahnya.

Sendiri. Terpisah dari ruang.

Lekang, seperti warna waktu pada kertas koreografi.

 

Tapi ia masih ingin meliukkan tangannya.

“Aku tak seperti dulu,” katanya,

“tapi di fragmen ini kau memerlukan aku.

Aku — hantu salju.”

 

Suaranya pelan. Seperti derak tulang

ketika di ruang latihan itu tak ada lagi adegan.

Hanya nafas. Mungkin ia masih di situ.

2012

Demikian artikel tentang kumpulan puisi-puisi karya Goenawan Mohamad, yang diambil dari beberapa kumpulan puisinya, semoga bermanfaat.

 

 

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply