Sastra Bernuansa Sejarah

Artikel, Sastra 0
sastra

Sastra Bernuansa Sejarah

Banyak karya sastra yang bernuansakan sejarah. Isi dari karya sastra tersebut mengandung nilai-nilai kepahlawanan atau semangat perjuangan. Karya sastra yang memuat kisah masa silam bukanlah rekaman fakta sejarah yang sesungguhnya, melainkan hasil rekaan. Sekalipun demikian karya itu bukan sepenuhnya imajinasi pengarannya, tetapi berdasarkan unsur-unsur perjuangan yang terjadi pada masa silam itu.

Kita dapat menyimak dalam novel Mutiara (Nur Sutan Iskandar, 1946), Pagar Kawat Berduri (Trinoyuwono, 1963), Surapati (Abdul Muis, 1965), Robert Anak Surapati (Abdul Muis, 1987).

Dalam novel Mutiara, mengisahkan tentang prilaku penjajahan di Aceh. Walaupun pengarang tidak terlibat secara langsung dalam peristiwa tersebut, tetapi mata batin pengarang mampu menjangkau dan menjadi saksi sejarah yang terjadi. Pengarang bertutur dalam karyanya yang mengandung pesan jiwa kepatriotan atau patriotisme. Jelaslah dalam novel tersebut tersirat nilai kepahlawanan :

Cut Mutia agak termangu-mangu

… “Tuhan, aku bersumpah akan meneruskan perjuangan bangsa ini sekuat-kuat tenagaku ini. Tak ada mati yang kuharapkan hanyalah mati syahid dalam mempertahankan agama, bangsa, dan tanah airku yang suci ini.”

 Begitu pula dalam novel Pagar Kawat Berduri mengangkat unsur sejarah pada masa perang kemerdekaan, yakni perang revolusi menjelang penyerahan kedaulatan 1949. Dalam karya sastra tersebut menampilkan kisah kehidupan orang tahanan di kamp darurat Salatiga. Walaupun terbelenggu penderitaan, dalam dada mereka tumbuh semangat membela negara.

Selain yang berupa novel ada pula karya sastra yang bernuansa sejarah yang berupa puisi epos atau balada yang bertemakan perjuangan. Seperti puisi Amir Hamzah yang mengemukakan keperkasaan Hang Tuah, Chairil Anwar menanpilkan kegagahan Pangeran Dipenogoro, M. Saribit Afan menampilkan keberanian Jenderal Soedirman, dan Subagio Sastrowardojo menampilkan ketegaran Mongonsidi ketika menghadapi eksekusi.

Keperkasaan, kegagahan, keberanian, ketegaran para tokoh dalam karya sastra itu dapat kita hayati kembali dalam mengisi wawasan kebangsaan kita saat ini. Seperti karya Subagio Sastrowardojo (Mongonsidi) menumbuhkan cinta bangsa bagi generasi penerusnya.”Aku adalah dia yang berteriak ‘merdeka’ sebelum ditembak mati. Aku adalah dia, ingat, aku adalah dia!”

 Peristiwa masa silam tidak mungkin berulang lagi, namun pola kejadiannya bisa saja tampil masa kini dan masa akan datang. Seperti ungkapan mengatakan ‘kita perlu belajar pada sejarah’. Demikian artikel tentang karya sastra yang bernuansakan sejarah yang pernah terjadi.

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
Sastra Bernuansa Sejarah,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply