Sejarah Kritik Sastra

Artikel, Sastra 0
kritik sastra

Sejarah Kritik Sastra

Kritik sastra  berasal dari kata krinein bahasa Yunani yang memiliki arti menghakimi, membanding, atau menimbang. Kata krenein itu sendiri menjadi pangkal asal kata kreterion yang berarti dasar, pertimbangan, penghakiman. Krites atau hakim adalah orang yang melakukan pertimbangan dan penghakiman. Bentuk krites inilah yang menjadi dasar kata kritik yang digunakan sampai sekarang.  Istilah kritik sastra sudah ada sejak tahun 500 sebelum Masehi.

Bangsa Yunanilah yakni Xenophanes dan Heraclitus yang pertamakali menggunakan kritik sastra ketika mengecam pujangga Homerus yang gemar mengisahkan cerita tentang dewa-dewi yang dianggap tidak senonoh dan bohong. Kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh lain seperti Aristophanes (450-385 SM), Plato (427-347 SM), dan disusul oleh Aristoteles (384-322 SM).

Criticus adalah buku kritik satra pertama dan lengkap yang ditulis oleh Caesar Scaliger (1484-1585), karena dapat dijadikan sebagai sumber pengertian kritik modern. Yang di dalamnya mengungkapkan perbandingan antara pujangga Yunani dan Latin dengan menitikberatkan pada pertimbangan, penyejajaran, dan penghakiman terhadap Homerus guna mengagungkan Vergillius.

Pada abad ke-17 dalam sastra Inggris istilah critic mulai dipakai baik untuk menunjukkan orang yang melakukan kritik (kritikus) maupun untuk pembuatan kritik itu sendiri. Kemudian muncul pula istilah critism yang dipakai John Dryden (1677). Kemudian istilah tersebut menjadi lebih kokoh setelah terbitnya buku John Dennis, The Grounds of Critism in Poetry (711). Critism dipandang lebih tepat daripada critic.Istilah critism dipandang sebagai istilah yang mencakup pengertian yang luwes, dan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan dan pengajaran sastra.

Sekitar awal abad ke-20-an istilah dan pengertian kritik sastra mulai dikenal di Indonesia, setelah para sastrawan memperoleh pendidikan di negara Barat walaupun sebelumnya juga sudah ada penilaian dan penghukuman terhadap sastrawan dan karyanya dalah kehidupan sastra Nusantara.

Syair-syair Nuruddin ar-Raniri dibakar karena di dalamnya terkandung ajara mistis yang bertentangan dengan ajaran penyair Hamzah Fansuri, bahkan dinilai sangat membahayakan ajaran agama pada umumnya. Begitu pula dengan sastra suluk dan sastra Jawa seperti Kitab Darmagandul dan Kitab Suluk Gatoloco, karena dianggap menyampaikan ajaran mistik yang bertentangan dengan ajaran agama.

Malahan ada beberapa karya sastra yang dilarang peredarannya oleh pemerintah karena dianggap mengandung pikiran yang bertolak belakang dengan kepentingan umum dan kenegaraan. Perlakuan terhadap karya sastra semacam ini tidak dapat digolongkan dalam pengertian kritik sastra dalam artian yang sesungguhnya.

Kritik sastra sudah ada dalam kehidupan sastra Nusantara dalam arti yang seluas-luasnya. Hanya tidak berbentuk tulisan dan tidak mempunyai aturan yang sistematis. Kritik pada masa itu berlangsung secara lisan.

Dengan munculnya kritik sastra di Indonesia maka sudah memiliki tiga studi sastra yakni teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Istilah kritik sastra pernah dihindari karena dianggap perkataan itu mengandung makna yang cukup tajam sehingga sering dimunculkan sinonimnya seperti penyelidikan, pengkajian, telaah, bahasaan, atau ulasan. Namun akhirnya kata kritik sastra digunakan secara luas dan tumbuh berkembang dengan baik, seiring munculnya beberapa buku kritik sastra H.B. Jassin dan penulis lainnya.

Demikian artikel singkat tentang sejarah kritik sastra dan asal kata kritik sastra. Semoga bisa menambah wawasan kita semua.

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
Sejarah Kritik Sastra,5 / 5 ( 2votes )
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply