Sisi Negatif Dalam Perayaan Kelulusan

Artikel, Pendidikan 0
Tradisi negatif konfoi,corat-coret

Tradisi Negatif Perayaan Kelulusan

Dalam menghadapi pengumuman kelulusan sekolah yang sebentar lagi akan dilaksanakan untuk tingkat SMP/Mts sedangkan untuk tingkat SMA/SMK yang sudah dilaksanakan, suasana akan menjadi tegang, membuat peserta didik nervous. Hal tersebut dikarenakan begitu banyak bayangan para peserta didik jika mereka tidak lulus. Tentunya akan merasa minder dan berpikir bahwa masa depannya akan hancur sehingga cita-cita mereka tidak akan tercapai. Sudah pasti akan mengecewakan kedua orangtua mereka yang selama ini mengharapkan supaya anaknya sukses dalam mengenyam pendidikan.

Begitu banyak respon setiap peserta didik saat melihat nomor ujiannya. Tentunya bagi yang lulus, pasti sangat senang dan merasa lega karena terlepas dari bayangan buruk terhadap dirinya. Namun, bagi peserta didik yang melihat bahwa dirinya tidak lulus , tentunya merasa shock. Bahkan, ada yang jatuh pingsan, menangis histeris karena tidak sanggup menerima keadaan maka akan merasa depresi. Memang banyak dampak yang diakibatkan lantaran kelulusan itu. Bagi peserta didik yang dinyatakan lulus tentunya mereka merayakannya dengan berbagai macam cara. Namun, pada umumnya banyak di antara mereka yang melakukannya dengan cara perilaku yang menyimpang.

Fenomena kelulusan itu, disambut dengan berbagai hal ekspresi, baik ekspresi positif ataupun negatif. Akan tetapi, kelulusan lebih banyak dirayakan dengan hal-hal yang bernuansa negatif atau menyimpang. Dari pihak sekolah, pada umumnya, tak bisa berkutik banyak menanggulangi perilaku menyimpang yang dilakukan oleh peserta didiknya. Makanya, perilaku menyimpang tersebut semakin merajalela di kehidupan  zaman kini. Contoh dari adanya perubahan globalisasi bagi generasi muda, yakni budaya konvoi dan coret-mencoret seragam.

Sebagaimana yang kita ketahui, banyak hal yang dapat meluapkan kegembiraan seseorang. Apalagi di kalangan anak muda, di mana sesosok sedang mencari jati dirinya. Pasti sangat banyak hal-hal irasional yang dilakukannya. Hal yang sudah akrab di mata dan ingatan kita bahwa cat pilox dan anak-anak remaja, khususnya para peserta didik sudah seperti memiliki ikatan. Entah apa maksudnya, sebuah kertas berlabel lulus dari dinas pendidikan menarik jari-jari mereka untuk menyemprotkan cat pilox pada kain yang telah mereka gunakan selama tiga tahun, yang memberi mereka identitas sebagai pelajar.

Curat-coret kelulusan, mungkin itu salah satu bentuk apresiasi mereka terhadap keberhasilan mereka untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Namun, ini merupakan salah satu contoh negatif para pelajar kita pasca kelulusan. Foya-foya ini sebenarnya bukanlah hal yang mempunyai hal positif sedikitpun.

Selain budaya curat-coret juga budaya konvoi atau ugal-ugalan merupakan kebiasaan yang sudah menjadi kebiasaan turun-temurun di setiap sekolah. Konvoi menjadi ajang pamer kegembiraan ketika peserta didik telah tahu dirinya lulus. Ajang pamer ini, berlangsung di jalan raya yang penuh sesak. Biasanya, peserta didik melakukannya dengan berjalan atau berkendara berombongan berkeliling menyusuri jalan-jalan.

Kebiasaan konvoi ini terkadang sambil mencoret baju mereka bahkan menyemprot rambut dan jilbab mereka juga menggunakan spidol dan piloks. Mereka tak menyadari bahwa dibalik konvoi tersebut mengintai kecelakaan lalu lintas. Inilah yang disayangkan andai kegembiraan beralih menjadi kesedihan. Selain itu, mengakibatkan kerugian orang lain yaitu membuat macet lalu lintas bahkan memancing bentrok antarpengguna jalan. Jika ini terjadi, maka tak terelakkan lagi timbul perkelahian, yang bisa dikatakan sebagai anarkisme atau premanisme jalanan.

Mencoret seragam sekolah dijadikan oleh peserta didik sebagai media meluapkan seluruh emosi dan mengutamakan rasa kesenangan semata atas apa yang telah mereka usahakan selama mengikuti proses belajar. Namun, tren mencoret seragam adalah perilaku menyimpang yang merugikan akibat tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Sebagai peserta didik yang berpendidikan, seharusnya mencoret seragam tidak perlu dilakukan. Padahal bekas baju seragam itu, lebih baik disumbangkan. Daripada dicoret-coret lebih bagus sekolah tersebut disimpan untuk adiknya nanti atau disumbangkan ke pada yang membutuhkan.

Ada beberapa langkah yang ditempuh oleh pihak sekolah untuk mengatasi atau menyikapi pelampiasan tindakan negatif atau menyimpang yang dilakukan oleh peserta didik pasca kelulusan yaitu:

(1)    Mensosialisasikan dampak negatif tindakan tersebut kepada peserta didik.

(2)    Menyediakan media aspirasi bagi peserta didik.

(3)    Memperketat peraturan sekolah.

(4)    Mengalihkan kegiatan setelah pengumuman seperti doa bersama.

(5)    Pengendalian melalui institusi dan noninstitusi.

(6)    Pengendalian secara lisan, simbolik, dan kekerasan.

(7)    Pengendalian melalui imbalan dan hukuman (reward and punishment).

(8)    Pengendalian sosial formal dan informal.

 (9)   Pengendalian sosial melalui sosialisasi.

(10) Pengendalian melalui tekanan sosial.

Berikut ini tips atau cara untuk peserta didik agar tidak ikut dengan pelampiasan negatif:

  1. Selalu mensyukuri kelulusan tersebut kepada Allah SWT.
  2. Mengubah paradigma atau pola pikir dalah memilih dan memilah, mana yang baik dan jelek.
  3. Tidak usah latah atau ikut-ikutan.
  4. Membuat acara pasca kelulusan. Hitung-hitung sedekah, peserta didik bisa buat acara kecil-kecilan, seperti traktiran, makan sama, belanja bareng, jalan-jalan, main ke pelbagai wahana, dan sebagainya.
  5. Berkumpul dengan keluarga dalam rangka merayakan kelulusan.
  6. Melakukan hal-hal yang bermanfaat, seperti ikut Bimbingan Belajar (Bimbel) supaya dapat masuk di universitas yang kita inginkan.
  7. Berbagi dengan yang lain yang membutuhkan bantuan kita (bersedekah)

Demikianlah sebagian langkah-langkah dalam melakukan hal yang positif pasca kelulusan. Jangan melakukan hal yang tak berguna karena akan merusak masa depan. Janganlah merayakan kesenangan secara berlebihan.

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply