Suminten Cerpen M.Fudoli Zaim

Sastra
cerpen

Suminten Cerpen M. Fudoli Zaim

Cerpen M. Fudali Zaini tersebut bertemakan sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan. Penggunaan bahasa pada cerpen ini sederhana, seperti bahasa sehari-hari menjadikan cerpen mudah dipahami. Tokoh-tokohnya pun digambarkan secara sederhana, yaitu tokoh yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada nilai-nilai atau unsur kehidupan. Pada cerpen M. Fudoli Zaim pun terdapat nilai-nilai kehidupan, di antaranya nilai religi atau agama, nilai sosial budaya, dan nilai pendidikan atau ajaran moral. Seperti cerpen di bawah ini:

 

 SUMINTEN

 Suminten mau membuka seluruh bajunya di hadapanku. Kukatakan tidak usah.

“Kan Bapak harus liat semua bekas pukulan itu.”

“Tapi tak perlu semuanya. Yang saya lihat sudah cukup meyakinkan.”

Ia membetulkan lagi bajunya, lalu duduk.

“Sudah berapa lama kerja sama dia?”

“Setahun lebih.”

“Ya. Kalau tidak dipukuli, paling tidak dicaci maki habis-habisan. Saya seperti tak ada harganya lagi.”

“Oo, ya, Nona siapa?”

“Howeida.”

“Memang belum kawin?”

“Kawin sih sudah, nikah barangkali yang belum,” ia sambil tersenyum.

Aku pura-pura kurang memperhatikan. Dapat juga ia melucu dan sedikit nakal. Kusuruh seorang pembantuku untuk membelikan sarapan. Setelah kutanya ia bilang, sejak dari tadi ia belum makan pagi.

* * *

Kadang-kadang aku memang jengkel juga menangani hal-hal yang seperti itu.  Sebenarnya itu bukan tugasku. Tapi karena apartemenku hanya beberapa puluh meter dari kantor, aku yang selalu kebagian getahnya. Hari ini hari libur. Biasanya aku tidur sampai agak siang. Namun tadi pagi masih cukup gelap bel pintuku sudah berdering-dering terus. Bukan itu saja. Karena aku purapura tidak mendengar dan membiarkan bel itu terus berbunyi, akhirnya pintuku juga digedor. Aku bangkit dan membuka pintu.

“Ada apa sih, pagi-pagi buta begini?” kataku jengkel.

“Maaf Tuan, saya terpaksa gedor pintu Anda. Seperti biasa, seorang TKW melarikan diri. Ia ketakutan sekali, dan sebaiknya Anda datang menemuinya walaupun hanya sebentar.”

“Fakih tidak ada?”

 “Sudah saya telepon tadi. Tapi kata pembantunya, ia sekeluarga sudah berangkat ke luar kota.”

“Pak Gatot?”

“Juga sama.”

Busyet! Pikirku sambil menggerutu sendiri. Tentu mereka ke pantai. Tak ada sempat lagi dalam musim panas begini. Karena aku satu-satunya yang ada dalam satu kantor, akulah yang dipanggil. Penjaga itu memang tak salah,ia hanya menjalankan tugas.

* * *

Seperti biasa, aku datang sambil bersungut-sungut. Menyuruh orang itu duduk di kursi berhadapan denganku. Tanya namanya, Suminten. Mengapa lari dari majikan, ia bilang, sudah tak tahan lagi karena selalu dicaci maki dan dipukuli. Sudah berapa lama tiba di sini? Baru beberapa bulan. Sebelumnya di Jedah. Di sana semua saudara majikannya juga memukulinya. Bangsat!

Pikirku, manusia mereka anggap seperti anjing saja mentang-mentang mereka punya duit berlimpah. Gaji selalu dibayar penuh? Kalau soal gaji sih baik, tetapi sekali lagi saya selalu dipukuli. Lalu ia membuka lengannya, pertama yang kanan,kemudian yang kiri. Menyusul kemudian bahu, lalu punggung, lalu betis kanan dan kiri. Tambah ke atas, lutut, ke atas sedikit, lalu ia mau membuka seluruh tubuhnya dengan begitu polos seperti seorang bocah.

Kukatakan tidak usah. Bekas-bekas pukulan itu memang jelas sekali dan seperti juga mengiris-ngiris kulitku. Kusuruh ia istirahat dulu di sebuah kamar di basement kantor yang memang sering digunakan untuk itu, setelah kubelikan makan pagi.

* * *

Aku kembali ke rumah untuk melanjutkan sedikit lagi tidurku yang terganggu tadi. Kasihan juga, pikirku. Usianya yang sudah tidak dapat dikatakan muda lagi, tubuhnya yang agak kurus kering dan wajahnya yang begitu melas dan kuyu. Aku ingat ibuku. Sebelum kutinggalkan kantor, kukatakan kepada seorang pembantuku bahwa tak seorang pun boleh menemuinya. Kalau majikannya datang atau siapa pun menanyainya, suruh ia tunggu di ruang tamu, sampai aku datang. Biarkan perempuan itu istirahat secukupnya. Aku pun ingin istirahat juga.

Satu jam kemudian bel pintuku berdering lagi. Paling-paling pembantuku di kantor itu datang lagi. Betul, ia sudah berdiri di situ tatkala pintu kubuka.

“Majikannya datang,” katanya padaku singkat.

“Mau mengambil perempuan itu?”

“Maunya begitu, tapi saya suruh ia menunggu di ruang tamu.”

“Bagus.”

Aku sengaja berlambat-lambat mandi, sarapan, dan berpakaian. Hari ini dan besok adalah hari libur yang aku punya hak untuk menikmatinya. Baru satu jam kemudian, kutemui si majikan itu. Ia seorang wanita yang cukup menawan, sekitar tiga puluhan usianya, bersama seorang pria yang kukira seorang lelaki Barat.

“Saya Howeida,” katanya memperkenalkan dirinya padaku tatkala kami salaman. “Ini teman saya, Richard.”

“Oo ya, apa yang dapat saya bantu untuk Anda?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Begini. Pembantu saya, Suminten, melarikan diri tadi pagi setelah mencuri sejumlah uang saya.”

“Betul. Ada kira-kira beberapa ratus pound yang ia curi.”

“Saya tanyakan dulu nanti sama dia.”

“Sebab, itu saya minta ia kembali ke rumah bersama saya.”

“Oo, itu yang tidak dapat. Ia tidak mau lagi kembali kepada Anda.”

“Kan ia pembantu saya? Saya telah membayarnya tiap bulan dan saya telah membayar segala sesuatu yang berkenaan dengan keberangkatannya kepada perusahaan yang mengelolanya di negeri Anda”

“Betul. Tapi, Anda telah memperlakukannya tidak manusiawi. Malah Anda telah menganggapnya lebih hina dari binatang. Anda telah memukuli seluruh bagian tubuhnya dengan semena-mena.”

“Itu tidak betul.”

“Ia telah memperlihatkan luka-luka tubuhnya kepada saya.”

Perempuan itu terdiam, wajahnya seketika berubah. Aku pura-pura tidak melihatnya.

“Tapi, babu itu harus kembali kepada nona ini dan Anda tidak boleh menahannya,” tiba-tiba si lelaki bernama Richard itu bangkit dari kursinya.

Kuperhatikan sejenak lelaki jangkung dan tampan itu dari kaki sampai kepala.

“Anda bukan suami nona ini kan?” kataku agak sinis.

“Hm, bukan.”

“Anda warga negara apa?”

“Amerika.”

“Anda tak ada urusan dengan saya dan Anda sama sekali tidak boleh ikut campur masalah kami. Ini urusan saya dengan nona ini!” kataku agak keras.

“Tapi … saya teman Nona Howeida.”

“Teman sih teman, tapi ikut campur sama sekali tidak. Saya dapat mempersilakan Anda keluar dari tempat ini kalau Anda berlaku tidak sopan lagi.”

Pelan-pelan lelaki itu duduk kembali. Bangsat! Pikirku, mentang-mentang dari negara adikuasa lalu merasa dirinya berhak mencampuri urusan semua orang. Betul-betul tidak tahu diri!

“Urusan begini sebaiknya Anda jangan bawa teman cowboy Anda itu ke mari,” lanjutku kepada si nona. Perempuan itu hanya diam dan memberi isyarat sebentar dengan mataya kepada si jangkung.

“Lantas, dapat saya ketemu dengan pembantu saya itu?”

“Ia masih tidur,” kataku.

Memang ia masih tidur tatkala sesudah itu kuketok pintu kamarnya. Waktu sudah bangun, pertama-tama ia menolak untuk bertemu dengan majikannya itu. Tapi, setelah kukatakan bahwa aku akan menemaninya, ia mau.

“Tadi nona ini mengatakan, bahwa engkau telah mencuri uangnya. Betul?”

<p s

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Comments are closed.