Beberapa Puisi Pilihan Ibrahim Sattah

Sastra 0
Puisi Pilihan Ibrahim Sattah

Beberapa Puisi Pilihan Ibrahim Sattah

Beberapa Puisi Pilihan Ibrahim Sattah – Ibrahim Sattah dilahirkan di Pulau Tujuh, Riau Kepulauan, 1943, beliau meninggal dunia di Pekanbaru, 19 Januari 1988. Karya-karya penyair berpendidikan terakhir kelas 1 SMA dan pernah menjadi dosen Universitas Islam Riau serta Wakil Kepala Pusat Penerangan Angkatan Bersenjata RI Riau atau Sumatera Barat itu terkumpul dalam: Dandandid (1975), Ibrahim (1980), dan Hai Ti (1981). Di bawah ini beberapa pilihan puisi Ibrahim Sattah :

SEBAB

ingin kujanjikan laut jadi gurun

ikan dan sekalian hewan

pindahlah ke

bulan

sebab laut sebab pantai

sebab laut bernama laut sebab pantai bernama pantai

sebab maut bernama maut

sebab saatnya

sampai

1980-1981

TAFAKUR

hhhhhhhuuuuuuu

allah

luangkan ruang kanan di gaunggaib gunaguna-Mu

dan kepadanya

berikan

1972

SANSAUNA

Angin berzanji jejak ke punca cemara

membawa dunia

ke rimba di rimba ke rimba

sansauna

di sana dia di sana rimbanya

di sana sansauna

membuka

telaga

ditimbanya debu dari debu dari situ

ditimbanya batu dari batu

ditimbanya

aku

ditimbanya lipan dari lipan dari hewan

ditimbanya naga ditimbanya singa dari sana

ditimbanya bulan dari bulan

dari telaga

cahaya

nya

sansauna rimba sansauna rimba cahaya

ke

rimba

di

rimba

ke

rimba sansauna

di sana angin berzanji jejak ke punca cemara

membawa

dunia

ke

rimba

di

rimba sansauna

di sana dia

di sana sansauna

menyimpan

janji

nya

1980

KAKI

ada kaki kaki kau ada kuku kuku kau

ada katak katak kau ada kuda kuda kau ada kuli

kuli kau

tokkek

kuku kuli kuku kau kaki kuli kaki kau

kaki kuda kaki kau kuku kuda kuku

kau

kuku katak kuku kau

kaki katak kaki

kau

tokkek

kaki ke kanan jauh ke depan jauh ke matahari

mendaki kekiri ke

punca ke mana

kaki ka pai ka ma katamu kataku kaki ka pai lai

kaki ka pai ka ma katamu kataku

kaki ka pai kini

kaki ka pai ka ma katamu

kataku kaki

ka pai

juo

kaki ke mana kita katamu kataku diamlah kau

kaki kau kaki katak kuku katak kuku kau

kuku kuda kuku kau kaki kuda kaki

kau

kaki kuli kaki kau kuku kuli kuku

kau

tokkek

sebut sekian kaki satu sekian kaki kau

sebut sekian kali kali sekian kaki

kau

sebut sekian depa berapa rimba ke kau

sebut sekian dupa berapa mantera ke

kau

sebut sekian kata

berapa doa ke

kau

sebut sebanyak rumput sebut sebanyak mulut

tumpahkan tuak

biar bijak

jejak ke

kau

ke mana kita katamu

kataku diamlah

kau

1980-1981

IBRAHIM

I

maaaaaaak bulan menjilat kudaku huu bulan tak malu

lihat ‘tu kuda menggeliat talinya putus

shiii hausnya putus

mak minta parang – mau apa parang – mau nebang pering –

– mau apa pering – mau juluk bulan – mau apa bulan –

– maaaaaaak kudaku kaku kudaku kaku kudaku –

– kaku

– ?

II

alangkah sukanya masa kanak kemanamana main kasti

kemanamana lari ke tiangtiang

kena rejam maka tak jadi menang

cokcok kelupit kelupit tulang daing

dilidi dilecit dicubit dilepas sampai jauh

mengerling

pergi

sejauh hati

semakin jauh

ke rimba di rimba ke rimba sansauna

ke mana kita katamu kataku diamlah kau

naga tak ada singa tak ada rimau tak ada di sana

sansauna lebih hebat dari naga lebih bisa dari singa

lebih pukau dari rimba

dari walau

wa

walau

wa

walau

wu

walau

wi

1980

KAU

kuku karang kuku kau kuku laut kuku kau

kuku ombak kuku cahaya

suara karang suara kau suara laut suara kau

suara ombak suara kau

mengapa hilang

di mana

mengapa jauh

di mana

mengapa tegak

di mana

mengapa pijak

di mana

mengapa ada

di mana

mengapa diam

di mana

datang aku datang cahaya datang laut

datang ombak datang karang

bisa kau

bisa cahaya

bisa laut

bisa ombak

bisa karang

bisa pulau

tidak kau

tidak cahaya

tidak laut

tidak ombak

tidak karang

tidak pulau

tidak bumi

tidak Adam

tidak ada

tidak aku

tidak dayang-dayangmu

menggapai

menggapaigapai ke

langit

mencari surgawi

mencari wa

mencari wu

mencari wi

mencari wa wu wi

mencari wi wu wa

yang hanya wa

yang hanya wu

yang hanya wi

yang hanya wa wu wi

yang hanya wi wu wa

kuku karang ku kau kuku laut kuku kau

kuku ombak kuku cahaya

pulang cahaya

pulang kau

pulang karang

pulang laut

pulang ombak

pulang kau

pulang cahaya

tinggalkan aku di mana tapi

jangan tinggalkan aku

pulang kau pulang kau pulang kau

pulang

aku

dalam hala-Mu

1972

DUKA

duka ?

duka itu anu

duka itu saya saya ini kau kau itu duka

duka bunga duka daun duka duri duka hari

dukaku duka siapa dukamu duka siapa duka bila duka apa

duka yang mana duka dunia ?

: DUKA DUKI

Dukaku. Dukamu. Duka diri dua jari dari sepi

1972

1974

burung dan ramarama mengangkat sayapnya

pergi berdepan dengan matahari

sebelum akhirnya kembali mendiamkan

sepi

MAUT
dia diamdiam diamdiam dia dia diamdiam diamdiam dia
diamdiam dia dia diamdiam diamdiam dia
dia diamdiam diamdiam dia
dia diamdiam
diamdiam
maut

Tentang Ibrahim Sattah

Ibrahim Sattah lahir tahun 1943 di Tarempa, Pulau Tujuh, Riau. Ibrahim Sattah yang tercatat sebagai anggota Polri ini mulai dikenal ketika puisi-puisinya dimuat di majalah sastra Horison pada tahun 70-an.

Karya-karya penyair berpendidikan terakhir kelas 1 SMA dan pernah menjadi dosen Universitas Islam Riau serta Wakil Kepala Pusat Penerangan Angkatan Bersenjata RI Riau/Sumatera Barat itu terkumpul dalam: Dandandid (1975), Ibrahim (1980), dan Hai Ti (1981).

Tahun 1975 Ibrahim Sattah membacakan puisi-puisinya di Den Haag, Belanda. Di musim panas 1976 ia terpilih menjadi peserta Festival Puisi Antar Bangsa di Rotterdam, mengikuti program Asean Poetry Reading International di Rotterdam.

Pada tahun 2006 penerbit Unri Press menerbitkan kembali kumpulan sajak-sajak Dandandid, Ibrahim dan Haiti dalam buku bertajuk Sansauna. Ibrahim Sattah meninggal pada usia 45 tahun pada selasa pagi 19 Januari 1988.

Oya, 2 sajak di bawah tambahan dari Ahmad Fauzi, dicomot dari majalah Horison…

Bismillah

bismillah mawar
bismillah langit bismillah laut bismillah bumi
bismillah hati
bismillah sekali janji
a i u e o a i u e o a i u e o a i u e o
a i u e o a i u e o
a i u e o

patala mawar rinduku
petala langit bapaku petala bumi ibuku
petala laut lukaku
a i u e o
namaku

mari mawar mari bumi
mari hati
mari laut lepaskan ombakmu
mari langit tuangkan anggurmu
mabuk pun aku
bismillah sekali janji
t r r r r r r r a a a a a a a k k k k k k k k

!

(puisi Bismillah itu penulisannya rata kanan-kiri, tapi di kolom komen jadinya rata kanan)

Dan Dan Did

Maka adalah pasir
Maka adalah batu
Adalah bayang
Adalah air
Dan ini dan itu dan engkau dan aku: Dan Dan did

Di sana pasir di sini pasir di sana batu di sini batu
Di sana bayang di sini bayang di sana ar di sini air
Siapa itu?
Maka adalah lengang
Terkepung dalam beragam makna di mana aku ada
Dan sebagaimana biasa aku pun lupa sesuatu
Yang tak kutahu:
Indandid indekandekid indekandekudeman
indandid

Kaulah itu
Yang membasuh kaki yang membasuh bumi
Yang ada dan tak ada yang hilang tak hilang jauh
tak jauh
Di pasir di batu di bayang di air di sunyi di situ di
sana di sini

Di mana aku?
Kuraba anumu
Kusapa jua diriku
Kanak-kanak dan kupu-kupu
Yang di kakimu itu: Dan dan did
Indekandekid indekandekundeman indandid

1971

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply