Pecahan Ratna Aoh K. Hadimadja

Artikel, Sastra 0
Pecahan Ratna Aoh K. Hadimadja

Pecahan Ratna Aoh K. Hadimadja

Pecahan Ratna Aoh K. Hadimadja – Buku kumpulan puisi dan drama karya Aoh K. Hadimadja yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya tahun 1971. Terdiri dari tiga bagian, masing-masing berjudul (1) Pecahan Ratna, (2) Di Bawah Kaki Kebesaran-Mu, dan (3) Drama tiga babak Lakbok.

Pecahan Ratna dan Di Bawah Kaki Besar-Mu, mula-mula dimuat dalam majalah Pantja Raja tahun 1946, dan mendapat hadiah Balai Pustaka tahun 1947. Kemudian bersama-sama dengan Lakbok terbit sebagai buku berjudul Zahra (1950). Sebagian dari isinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris di Amerika oleh Burton Raffel dan dimuat dalam bukunya Anthology of Modern Indonesian Poetry’45 (1964).

Dalam Pecahan Ratna tampak jiwa Aoh yang romantis dan religius seperti tercermin dari salah satu sajaknya berikut ini: “Aku sujud di bawah duli kaki-Mu.// Rasa yang masih ada padaku bangga akan diri yang hina ini, Tuhanku, hanyutkan segara bersama lumpur yang lekat padaku!// Aku rangkaikan kata, aku susun seindah dapat hanya untuk Engkau semata.// Nama-Mu hanya tercapak di Langit Indah, tempat insan menadahkan harap akan rahmat yang tak terbatas.”

Pecahan Ratna cetakan ketiga 2016 terdiri dari 100 halaman. Di bawah ini adalah kumpulan Puisi dan Drama dalam Pecahan Ratna:

Pecahan Ratna

I

Pabila engkau sungai dan aku mentari akan kupancarkan sinarku

sekuat tenaga, agar engkau tertawa riang menyanyi suka.

 

Tak ada lagilah hutan dan jurang yang sunyi sepi, dilalui semua

oleh gelakmu.

 

Dara dan bujang akan menari-nari ke luar rumah mengenakan

kain seindah ada menuai padi yang penuh bersalur mas berkat

harimu yang murah-kaya

 

tenang dan tenteram engkau tinggalkan daratan hayat, karena

tanah yang tandus-kering telah engkau subur-hidupkan dan

menujulah engkau ke Samudera-Raya bergulung berbuih hikmat.

1944

 

II

 

Insyaflah, wahai adik, akan kilat cahaya, kesangan Tuhan akan

dirimu?

 

Awan pecah, aku tegak, biduk kukayuh pula

 

Dan bilapun aku hancur terdampar karang, berbahagialah aku,

tulangku terserak di dasar laut bersama mutia yang mengenang-

kan dikau!

1944

 

III

 

Bagai langit melengkung kelam penuh bintang bertabur mewah,

wahai adinda, demikianlah halus jaring rambutmu.

 

Hitam-ikal rambut tertutup, bertebar bunga sutera biru, aduh

juita, patah kalam tak sampai kata.

 

Hanya kenangan meliput senja, mentari turun, engkau pergi …

1944

 

IV

 

Serasa-rasa tak lama lagi aku akan menutup mata selama-

lamanya …

 

Rela aku! Dalam matamu terbayang kita, engkau dan aku mengen-

darai kereta-kencana ditarik kuda menari suka.

 

Bersorak-sorai orang di tepi jalan mukul bermacam-macam

bunyi-bunyian melalui gerbang dihias bunga dan panji berkibar.

 

Aku rela, aku pergi dahulu …

1944

 

V

 

Herankah engkau, adik, sudah kutahu pohonku tak ‘kan berbuah

masij juga aku menari-nari menyanyi riang?

 

Ah, mengapa tidak!

 

Pohon, burung, sungai, semua menyanyi. Mengapa aku tak ‘kan

turut pula?

 

Nikmat berdesir pohon dalam kemarau panas terik. Riang

bernyanyi burung di dahan-patah. Bersih berderu air terjun di

jurang-dalam.

 

Mengapa aku tak ‘kan menyanyi sekalipun di musim kemarau

setahun lama, di atas dahan yang retak-kering, di tepi jurang

gelap-gulita?

1944

 

VI

 

Gemuruh deguman hatiku,

surat jatuh tak tersangka,

setahun lama

terasing tulisan merelung-gelung.

 

Bila sungguh cita tak sampai,

darah menetes berhenti sudah,

namaku terang,

terukir indah di baru karang.

 

Dengan senyum merangkul derita,

dipahatnya namaku di atas batu,

tegak menjulang menghalang malang:

“Tak lekang di panas tak lapuk di hujan.”

1944

 

VII

 

Akan kucari papan yang tebal, ya Tuhanku, untuk kujadikan

perahu bersama dia berlayar di telaga Al-Kautsar.

 

Payah sungguh papan kucari, berat pula memikulnya, tetapi

perahu mesti jadi, biar aku berkeringat darah.

 

Bersama dia akan kuberlayar, di atas biduk yang kubentuk di

telaga-suci ciptaan janji-Mu-lama.

1944

 

VIII

 

Bagaikan pecah hatiku akan meniarap di telapak kaki-Mu, dahiku

menekan girang bergelut-suka.

 

Akan kubasuh kakiku sebersih dapat memasuki majelis tempat

kesayangan-Mu berkumpul ramai.

 

Destar pilihan akan kupakai, harum wangi-wangian akan semer-

bak dari pakaian.

 

Mari, adinda, engkau kenakan juga hiasanmu indah mengha-

dap Kekasih, tempat gantungan kita di atas tanah yang terban

senantiasa …

1944

 

IX

 

Mengapa kerjaku tak laju juga? Tertahan-tahan tanganku, terke-

nang yang pergi entah bila bertemu pula.

 

Hampa duniaku keliling, sampai jauh merata daratan ke pantai-

landai dirangkum ombak.

 

Hanya awan temanku. Pecah-pencar di sawang-lapang.

1944

 

 

X

 

Kau jadikan kembang beraneka-warna. Kau pancarkan matahari

supaya dunia terang, kata-Mu untuk kami semua, ya, Tuhanku.

 

Mengapa besar benak kesayangan-Mu melimpah rahmat tak

ada hingga?

 

Kembang mengenakan kerabu menyambut fajar, teja bersorak-

sorai dalam arakan, lekat-terpikat sudah pandangku.

 

Mengapa pula Engkau tuangkan dadaku penuh dengan lagu di

alun rindu, dengan madah ditayang sayang?

1944

 

XI

 

Akan kusimpan untuk dikau, kasih, dupa yang kukumpulkan

di taman-raya.

 

Pabila kelak engkau bersimpuh bersampur sutera, dan kaubakar

dupa kupungut itu, mengalunkan asap diiringi du’a, kita

duduk berdamping khidmat.

1944

 

XII

 

Akan kulekatkan suratmu di Kitabku-Suci, adinda, agar kenangan

padamu suci senantiasa.

 

Bila bacaanku mengalun menembus kabut, malam pergi siang

datang, suratmu terkembang menunjuk halaman di mana ku-

sampai.

 

Biarlah yang suci di tangan Yang Suci selalu …

 

XIII

 

Dalam petiku kecil-terukir kupisahkan surat-surat suteramu halus.

 

Bila tak ada lagi dawat mengalir, suara burung tak terdengar

pula. Jemputlah peti itu, adik; di atasnya terukir-seni garudera

sepasang menjaga.

 

Jangan khawatir jadi sutera-benang-jalinanmu tidak tersimpan

baik.

1944

 

XIV

 

Terperanjat aku mendengar katamu.

 

Pohonku benar tidak memayung-indah. Hanya dalam khayalanku

jua daunnya rimbun, dahannya rampak, padahal patah mudah

dipakai gantungan.

 

Baik aku tebang, adik, hingga bantun dengan akar-akarnya.

 

Segar tamasya sekarang, langit cerah, pandangan adik.

 

Cuma ingin kukumpulkan atalnya, untuk dibakar menjadi dupa,

menghanyutkan daku di malam gelap!

1944

 

XV

 

Pernahkan Tuan rasakan api yang menghangus melidah-kilat,

pernah Tuan rasakan pahit segetir pahit, pernahkah Tuan

rasakan yang membekam-peram, mengoyak-renggut, memerah-

ramas?

 

Berbahagialah Tuan yang terasing penyakit itu!

1944

 

XVI

 

Tidakkah hidup ini tangga semata untuk mencapai bahagia seluas

kata?

 

Marilah kita cari tangga sekokoh dan sepanjang dapat, adinda,

agar terpetiklah buah idaman!

1944

 

XVII

 

Alam seluruh mengenangkan Dikau, Junjungan, diutus menga-

yunkan sudah di dunia gelap.

 

Banyak musyafir kujumpai kini memancarkan cahaya yang Kau

bawa dahulu.

 

Bagiku, Tuan, bunga-api yang hinggap di padangku membakar

sudah semak-belukar, menjilat-jilat membasmi yang tumbuh

masih.

29 Maulud 1363

 

XVIII

 

Apakah guna kita tersedu-sedan, adik, karena jalan kita tidak

bertemu di taman-raya?

 

Ah, bukankah kini kita sedang memungut bunga, jelita-wasih

suntingan adik di sanggul-molek?

 

Kukumpulkan juga pucuk dan bunga, engkau rangkaikan kelak

menghias Rumah tempat kesangangan-Nya berpesta-ramai.

1944

 

XIX

 

Tertawa aku mendengar keluhmy; maaf, adik.

 

Belum tahu masih engkau siapa aku.

 

Merampas, meremas, merompak kerjaku dahulu. Istana, mahligai

orang kurebut, kupakai untuk kesenanganku melulu.

 

Terdampar aku sekali peristiwa. Timbul-tenggelam aku digulung

ombak.

 

kasih-Nya hanya aku belum hanyut dan terapung ke pulau Harap-

an.

 

Kini aku kelana Cuma. Menikmat panas Cahaya lagi menggigil.

Belum siap pula berlayar menempuh jauh ke pantai terang-

selama.

1944

 

XX

 

Wangi pandan di depan rumah, harum tanjung di tepi jalan,

ah, mengapa yang jernih mewangi membawa aku mengalun

jauh?

1944

 

XXI

 

Engkau Mega …

 

Insan sedap melepas pandang, melepas kenang dagang melarat.

 

Engkaulah Mega … di panas-terik, di senja-marak …

untuk tinjauan dengan semata.

1944

 

XXII

 

Adakah masih, adinda, rambut sehelai jatuh di bahu kukuh,

terentang hitam di baju putih?

 

Ditahan-tekan gelora hati, rambut kubiarkan sesalan kini …

1944

 

XXIII

 

Sendiri aku mengayuh sepeda.

Langit cerah, air berkilat ditimpa cahaya.

Gelak dan bisik tiba terdengar. Beca lalu.

Ah, terayun aku ke alam kenangan, di dalam keretek, hujan

lebat …

1944

 

XXIV

 

Baik aku pergi, bukan?

Pergi jauh dari taman tempat engkau bersenda-gurau.

Aku akan pergi, mendaki puncak menurun lembah.

Dengan hutan akan kunaikkan lagu, dengan tasik akan ku-

bernyanyi, bernyanyi sunyi …

1944

 

XXV

 

Kalau begini, ya, Tuhanku, baik aku tunduk.

Bukan ke sana gerangan jalan yang kutempuh.

Aku tunduk, agar dapat bertemu dengan Dikau!

1944

 

XXVI

 

Bersila-tekun aku di tepi jalan.

 

Panas-terik, hujan-lebat, debu meniup, tak kuhiraukan.

 

Aku menunggu, tetap menunggu …, biarpun raja-siang lama

‘lah turun, puteri malam naik bertahta,

 

Aku menunggu.

 

Semoga Kau, Kasih, lewat juga, aku tersapu jubah, kain-sayang-Mu.

1944

 

Di Bawak Kaki

Kebesaran-Mu

 

I

 

Aku lenyap dalam “tiada”

 

Hanya Engkau jua memenuhi ruangan yang tak berufuk.

 

Gerak yang ada padaku, suara yang keluar dari rahangku hanya

mengenangkan kebesaran-Mu jua, ya Maha Pencipta!

1944

 

II

 

Aku sujud di bawah duli kaki-Mu.

 

Rasa yan ada padaku bangga akan diri yang hina ini,

Tuhanku, hanyutkan segera bersama lumpur yang lekat padaku !

 

Aku rangkaikan kata, aku susuh seindah dapat hanya untuk

Engkau semata.

 

Nama-Mu hanya tercapak di Langit-Indah, tempat insan menadah-

kan harap akan rahmat yang tak terbatas.

1944

 

III

 

Memercik air mengintan permata, girang agaknya dipakai bersuci.

 

Berdandan suka rambut gerangan air hinggap tak terseka.

1944

 

IV

 

Kalau Engkau tak ada, ya Rahman, pada Siapakah aku berlind-

ung di waktu aku digulung rindu, di waktu aku dihanyut duka?

 

Engkaulah Esa menurunkan hujan, membangkitkan terang!

1944

 

V

 

Sebagai itu, ya Tuhanku, cahaya-Mu dahulu menyingsing teram-

temaram.

 

Kasih-Mu jua langit gelap berangsung terang.

 

Kini alam seluruh dicelup cahaya; daun-daunan melambai perak

dalam ayunan hembusan sorga.

1944

 

VI

 

Intan petaruh-Mu akan kujaga baik-baik, ya Rabbi.

 

Debu yang hinggap dalam kelalaianku akan kugosok seberapa

dapat, sehingga indah cemerlang kukembalikan di tangan-Mu

kelak.

1944

 

 

VII

 

Kalau yang kulihat indah sudah, betapa besar hasrat melihat

negeri orang yang katanya lebih indah dari negeriku.

 

Ya, Rabbi, bukan kepalang hasratku demi kudengar kata-Mu

tempat Engkau menyambut tentera-Mu yang terindah dalam

seluruh ciptaan-Mu!

1944

 

VIII

 

Licin, gelap, menurun dan mendaki jalan menuju Engkau.

 

Akh, mengapa sesusah itu jalan ke tempat Engkau bertahta, ya

Tujuan segala?

 

Di manakah Engkau sebentar dekat, sebentar jauh?

 

Aku rindu … Tuhanku! Sinarkanlah pula cahaya-Mu kini!

1944

 

IX

 

Layang kencana kudapat di malam sepi.

 

Betapa sayang Engkau, Tuhanku, idaman lama ‘lah kucari,

kini terkembang nyata.

 

Akan kuukir pualam untuk hiasan ibu menghadap Dikau!

1944

 

X

 

Kelam udaraku keliling; langit harapan melengkung hitam. Hati

pedih teriris-iris.

 

Kuserukan Engkau “Maha Pengampun”

 

Tak adalah sungguh Engkau memanggil aku membela Benteng

Budi, anugerah yang Engkau limpahkan kepada insan?

1944

 

XI

 

Hariku yang ada masih, o, Gantungan segala makhluk, biarlah

suci mengenangkan Dikau senantiasa.

 

Dari mataku akan terpancar mata air tahajud.

 

Nafasku akan menghembuskan ucapan syukur

 

Tenteram dan damai di dalam biarpun taufan di luar hebat meng-

ganas.

1944

 

XII

 

Kalau hendak kuturtkan suara hati, akupun ingin mengawang

ke langit-bintang.

 

Tetapi taman-Mu kulihat penuh semak belukar.

 

Tak sampai hatiku, ya, Khalik, meninggalkan tanaman yang

Engkau petaruhkan kepada ibuku. Biarlah aku menjadi tukang

kebun-Mu selama-lama …

1944

 

XIII

 

Kini siapa yang akan duduk di sampingku tak menjadi soal lagi.

 

Hati retak sudah terpulih, darah menetes sudah kering pula.

 

Aku sujud di bawah kaki-Mu, Tuhan, dan segala duka hilang

lenyap disapu hembusan-Mu.

Jakarta, 1944

 

Lakbok

LAKON DALAM 3 BABAK

 

PELAKU

 

KOSWARA                        Arsitek-Pengairan

RINI                                     Isterinya

SITTI ZAHRA                     Inspektur-Sosial, dulu kekasih Koswara

KARNADI                           Opseter-Pengairan, dulu mempunyai hubungan dengan Rini

SULAIMAN RASID           Mantri-Kepala-Pengairan, korup

WIRANTA                            Ketua “Golongan Kedaulatan Islam” umur 28 tahun

WAKTU                               Sebelum aksi-militer I

 

BABAK I

 

Pagi.

                Dalam kantor Kepala Jawatan Pengairan (kamar-depan rumah Koswara). Sudut kiri meja-gambar. Sebelah kanan meja-tulis serta kursinya. Telepon. Di tengah: tiga kursi dan mejanya tempat menerima tamu. Di sebelah belakang pintu ke rumah Koswara. Sebelah kiri ke serambi-muka. Sebelah kanan pintu ke pavilliyun yang dijadikan kantor-pegawai. Pada dinding peta Rawa-Lakbok. Karnadi sedang asyik memeriksa gambar.

 

ADEGAN I

RINI masuk, agak kaku melihat Karnadi.

Saya kira … suamiku. Maaf, Karnadi! (membungkuk hendak ke luar lagi).

 KARNADI

Rini … eh, Nyonya Koswara!

RINI

Belum lama suamiku masuk ke sini.

KARNADI

Baru saja ia keluar, diminta hadir dalam rapat distrik. (maju selangkah). Rini, hampir tiap hari kita bertemu, tetapi selalu engkau mengelak.

RINI

Telah beberapa kali kuminta, supaya engkau datang ke rumahku membawa isterimu.

KARNADI pedih.

Janganlah ia sebut-sebut lagi. Kau mengerti, aku ingin berbicara dengan engkau sendiri.

RINI lemah.

Aku bersuami, engkaupun telah beristeri.

KARNADI

Beristerikan yang jauh dari idaman.

RINI

Salahku?

KARNADI

Engkau telah meninggalkan daku dan aku jemu mencari teman hidup. Aku picingkan mata, aku pekakan telinga, karena sifat-sifat isteriku sudah kutahu sebelum kami kawin.

  RINI termenung.

 Amat sayang, kaupilih tidak didorong cita-cita. Kutolak permintaanmu dahulu, tetapi kuharap engkau tetap baik padaku. Engkau seorang yang berbudi.

KARNADI

Tak perlu pujian itu

RINI

Karena sikapku tidak berubah padamu, maka kuharap isterimu menjadi temakku pula. Di sini kami orang baru, tak seorangpun yang bisa menjadi tempat curahan beban penghidupan.

KARNADI mengejek.

Hanya karena kesulitan-kesulitanmu, bukan karena ia isteriku, maka engkau ingin berkenalan. Bukan berolok-olok, Rini, kalau aku yang mengucapkan demikian mudah orang mengerti, tetapi engkau! Bukankah engkau berbahagia dengan suamimu?

RINI

Berbahagia? Entahlah. Penghidupan rumah tangga jauh dari yang kureka. Mungkin kalau ada yang bisa kuajak bicara, agaknya tak sesulit itu. Aku khawatir suamiku menjadi lemah, kalau dia setiap hari diganggu oleh kekurangan-kekurangan di dalam rumah tangga.

KARNADI

Demikian besar kesanggupanmu; berani memecahkan kesulitan-kesulitan itu sendiri?

RINI

Banyak yang jatuh menjadi kurban korupsi, karena tanggungannya amat menekan.

KARNADI

Kalau engkau rela, pikulan itu mungkin menjadi ringan juga.

RINI menarik napas.

Bertambah kubiarkan suamiku dalam pekerjaannya, bertambah jauh ia dari padaku rasanya. Tak ada yang penting baginya lagi, hanya Rawa. Rawa ini, Rawa itu, rawa yang hendak dikeringkannya. Ia ditelan mentah-mentah oleh rawa itu. Di Jakarta aku banyak teman, banyak hiburan. Kalau dia pergi turne beberapa hari sekalipun, tidak amat terasa, tetapi di Banjar ini! Apakah bagimu begitu juga, Karnadi, hidup hanya untuk bekerja belaka?

KARNADI

Aku tak ada kepuasan dalam rumah-tangga.

RINI

Maksudmu suamiku demikian juga?

KARNADI

Kuharap tidak. Bukankah engkau didapatkannya, karena dorongan cita-cita? Rumah-tangga bagiku sebuah neraka. Bagaikan menyongsong hari kulangkahkan kaki ke kantor. Sebaliknya serasa dunia menjadi sempit, bila tiba saatnya kantor tutup.

RINI

Sekelam itukah kehidupanmu, Karnadi?

KARNADI

Lebih dari yang dapat ku gambarkan. Karena itu tak ada pekerjaan yang terlampau sulit bagiku. Pun suamimu seorang yang memberikan semarak kepada pekerjaan. Jawatan Pengairan kita ditinggalkan melempem oleh tuan Suarna, pemimpin kita dahulu. Suamimu, ialah penjelmaan almarhum Wiratanuningrat yang membuka Lakbok pertama kali. kalau almarhum berhantam dengan demit dan hantu yang menguasai rawa itu, maka suamimu ialah hantu bagi orang-orang yang merugikan Lakbok dengan bertopengkan pemimpin rakyat dan buruh. Aku benci kepada orang-orang itu, maka akupun berikan tenaga tidak tangguh-tangguh kepada suamimu. Lagi pula suamimu seorang yang mencintai pekerjaannya, gemar dengan percobaan-percobaan. Dengarkanlah, kalau ia sedang membentangkan pendapatnya membuat tanggul secara baru di atas tanah yang goyah itu! Matanya bersinar, air mukanya berseri, karena perkataan itu saja: Lakbok.

RINI

Girang kudengar, engkau suka bekerja bersama suamiku. Suamiku acap menceritakan engkau seorang rajin, tapi baru aku tahu kerajinan dan keriangmu bekerja itu timbul dari air-mata yang berdarah.

KARNADI

Sekalipun pekerjaan itu tidak menyenangkan daku, RINI, aku berbahagia juga setiap hari dalam lingkungan gedung ini. Di balik dinding yang membatasi ruang pekerjaanku, kutahu ada seorang yang kupuja … dari dahulu, sekarang dan di kemudian hari!

RINI terharu.

Baik perasaanmu yang liar itu dialihkan ke dalam saluran yang bisa menyuburkan jiwa yang masih kering, Karnadi.

KARNADI

Perasaan yang suci, Rini.

RINI

Tak ada gunanya direntang-panjang perkataan itu, Karnadi, sebab, maaf, engkau kawanku, dia … suami!

KARNADI

Sekalipun suami yang tak tahu menghargaimu!

RINI

Karnadi …!

KARNADI

Rini …!

RINI

Tak kusangka engkau serendah itu, menjatuhkan lawan secara kasar! Terima kasih! (cepat keluar).

 KARNADI lemas bersandar kepada kursi

(Telepon berbunyi dua kali tidak terdengar. Ketiga kalinya bangkit dan diterimanya). Hallo, hallo, Tuan Koswara? Ya, saya sendiri Karnadi. Inspektur Sosial? Sejam lagi dengan kereta-api dari Kroya. Akan Tuan jemput sendiri? baik, Tuan. Mantri-mantri? sudah dipanggil, supaya berkumpul hari ini. Tidak ada apa-apa. Baik, Tuan.

ADEGAN II

 

Karnadi termenung. Dengan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu Sulaiman Rasid masuk tergopoh-gopoh, membanting tas-kulit di atas meja-tamu.

KARNADI terperanjat.

Ada apa, Tuan Sulaiman Rasid?

SULAIMAN RASID

Mudah saja memanggil-manggil orang jauh dari pantai. Seperti dalam zaman normal saja. Tuan-tuan tidak ada sebulan sekali datang di tempat kami, karena berkeluh juga sulit kendaraan.

KARNADI

Tidak banyak Tuan dipanggil ke sini. Kinipun hanya ada pemeriksaan dari Departemen Sosial. kami tidak tahu alasan sebenarnya, maka kami diperiksa Departemen itu. Mungkin hal biasa saja, mungkin juga mereka ingin mengetahui buruh serta jaminannya.

SULAIMAN RASID

Ha, ha! Jmainan buruh! Tepat sekali Departemen Sosial mengirimkan wakilnya. Janganpun buruh kecil, buruh yang mempunyai tanggung jawab seperti saya sekalipun, apakah jaminannya?

KARNADI

Salah Tuan sendiri. Telah 6 bulan Tuan diminta mengirimkan riwayat hidup. Hingga kini riwayat Tuan belum juga diterima kami.

SULAIMAN RASID

Riwayat hidup? Aku benci riwayat itu. Karena riwayat itu aku mantri, mantri saja, sampai tua bangka aku mantri, sekalipun mantri-kepala! Bukankah kami diukur Tuan-tuan karena didikan? Ya, Tuan, di mana ada perubahan, kalau kemajuan disandarkan kepada didikan belaka yang bukan kemauan kami pula hanya keluaran Sekolah-Setalen itu! Padahal pengalaman kami tidak kalah oleh opseter-opseter yang lepas Sekolah Teknik.

KARNADI

Bukan kehendak saya gaji dan angkatan Tuan ditetapkan menurut pendidikan. Tetapi meskipun demikian, seorang mantri dapat juga menjadi opseter, bukan?

SULAIMAN RASID

Ya, atas usul yang menjadi kepala! Dan bila yang menjadi Kepala itu tidak cocok dengan yang di bawahnya? Mudah saja Tuan berteori. Di mana letak penghargaan Pemerintah terhadap kami, buruh yang telah berjuang sejak revolusi pecah?

KARNADI

Penghargaan Pemerintah tidak diucapkan kepada seorang-seorang. Terlalu banyak yang berjasa. Tapi Tuan Sulaiman Rasid, meskipun telah banyak jasa. Pemerintah tidak segan-segan menghukum orang-orang itu pula, bila ternyata mereka itu menyimpang dan membahayakan pemerintah.

SULAIMAN RASID

Apakah hubungannya ucapan Tuan dengan keterangan saya?

KARNADI

Sepaya disampaikan kepada orang-orang yang berkepentingan alias teman-teman Tuan sendiri.

SULAIMAN RASID

Tuan Karnadi!

KARNADI

Keterangan-keterangan yang sampai kepada kami memberatkan Tuan.

SULAIMAN RASID

Saya berjuang untuk buruh dan rakyat.

KARNADI

Saya muak mendengarnya. Janganlah dipakai perkataan-perkataan yang muluk itu.

SULAIMAN RASID

Saya Komisaris-Besar “Sarekat Buruh Pengairan” yang disahkan dengan angkatan oleh Pengurus Besar sendiri.

KARNADI

Dan saya anggota biasa yang diketahui Tuan. Dapatkah saya keterangan dari Tuan, apakah sebabnya usul saya ditolak? Sebelum Tuan-tuan berangkat ke Jogja untuk menghadiri kongres itu, saya usulkan baik Tuan-tuan tidak berangkat, kalau Tuan-tuan tidak mempunyai prae-advies yang dapat diperdengarkan ke seluruh Indonesia.

SULAIMAN RASID

Kami hanya mendengarkan usul rapat-anggota.

KARNADI

Tetapi rapat anggota tidak ada, ketika Tuan-tuan hendak berangkat.

SULAIMAN RASID

Karena waktu mendesak.

KARNADI

Jadi usul seorang anggota dalam hal itu tidak berlaku?

SULAIMAN RASID

Tidak ada aturan yang menyatakan demikian.

KARNADI

Ha, ha, ha! Siapa yang birokrtais, kamilah yang selalu diejek Tuan? Akan tetapi, Tuan Sulaiman Rasid, Pengurus-Besar di Jogja baik juga sekali-kali mendapat keterangan yang luas dari Tuan sebagai Komisaris-Besar.

SULAIMAN RASID

Saya tidak perlu perintah Tuan.

KARNADI

Saya hanya menganjurkan, sebab dengan “pengaruh” Tuan suasana bisa menjadi jernih kembali.

SULAIMAN RASID

Apakah berhubungan juga dengan utusan Departemen Sosial?

KARNADI

Tidak mustahil. Bagaimanapun juga kami mendapat tuduhan dari Pengurus-Besar “Sarekat Buru Pengairan” yang tembusannya dikirim kepada Departemen Sosial. Tuan tahu, Jawatan Pengairan mempunyai beberapa kapal-bargas. Dua di antaranya ditukar dengan lawon kepala Tentara. Lawon itu kemudian ditukarkan dengan padi kepada rakyat. Karena itu persediaan kita agak cukup untuk bibit, maupun untuk menunjang buruh sekedarnya. Akan tetapi selain dari pada lawon itu kitapun menerima lawon India dari Departemen Sosial.

SULAIMAN RASID

Apakah yang menjadi tuduhan Pengurus-Besar?

KARNADI

Saya kira Tuan lebih tahu. Kami dicap mencatutkan lawon India itu.

(di luar terdengar mobil tiba)

 KARNADI

Tuan Arsitek! (dua-duanya ke luar).

ADEGAN III

Di luar ramai orang berkenalan. Maka masuklah berturut-turut Sitti Zahra, Koswara, Karnadi dan Sulaiman Rasid.

 KOSWARA

Tuan Karnadi, tolong beritahu kepada istri saya, nona Inspektur Sosial baru tiba. (Karnadi pergi. Tamu-tamu dipersilahkan duduk, Karnadi kembali).

ADEGAN IV

 

RINI masuk.

Nona … (kaget).

SITTI ZAHRA tersenyum mendapatkan Rini.

Saya … Sitti Zahra, sudah berkenalan dahulu, apakah kabar, nyonya?

RINI

Saya kira bukan Nona yang akan datang.

KOSWARA kaku.

Sangka akupun begitu.

SITTI ZAHRA

Saya baru tiba dari Banten dan disuruh ke sini. Mula-mula saya tolak; karena semua bepergian, saya terima juga. Pemeriksaan di sini bagi Departemen amat penting.

KOSWARA kepada Karnadi.

Tuduhan lawon yang ditukar dengan padi.

KARNADI

Bukankah itu yang saya sangka juga, Tuan Sulaiman Rasid?

RINI

Baiklah nanti pekerjaan itu dipersoalkan. Makan dan minumlah dahulu, Nona. Sudah disediakan.

SITTI ZAHRA

Terima kasih. Saya sudah makan di kereta-api. Hanya saya agak penat. Semalam dari Cirebon: tadi pagi diteruskan dari Kroya ke sini. (tersenyum). Kalau ada, kopi, Nyonya?

RINI

Mari di dalam.

SITTI ZAHRA

Ingin saya majukan beberapa pertanyaan dulu kepada Tuan-tuan (kepada Koswara, Rini keluar). Berapa mantri juga bekerja di daerah Tuan?

KOSWARA

Tujuh orang. (kepada Karnadi) berkumpul semua?

KARNADI

Baru tiga orang. Tuan Sulaiman Rasid yang hadir di sini, 2 orang sudah tiba, 4 orang lagi akan sampai dengan kereta-api penghabisan nanti sore.

KOSWARA

Kami kira Nona akan tiba besok. Kawat baru diterima kemarin sore.

SITTI ZAHRA

Ya, saya mengerti. Tidak mengapa. Saya bisa mengaso. Kita berapat nanti sore jam 4. Bisa, Tuan?

KOSWARA

Tentu!

ADEGAN V

 

Rini masuk membawa beberapa mangkok kopi dan mepersilahkan hadirin minum. Sebuah paku jatuh dari sanggul Rini di depan Sitti Zahra.

SITTI ZAHRA memungut paku.

Punya Nyonya?

RINI kemalu-maluan.

Ya, saya punya … nasehat orang-orang tua di sini supaya saya pakai paku di dalam sanggul.

SITTI ZAHRA

Apakah sebabnya?

KOSWARA

Sedang mengandung.

SITTI ZAHRA

Ah … (hening sejurus). Saya ingin melihat daerah yang paling miskin, selain dari pada menyelidik lawon itu.

SULAIMAN RASID

Daerah saya, Nona.

SITTI ZAHRA

Baik, besok kita pergi

RINI

Amat jauh, Nona.

SITTI ZAHRA

Berapa jauh?

SULAIMAN RASID

Perjalanan satu hari.

SITTI ZAHRA

Pulang-pergi dua hari. Di sana sehari, menjadi tiga hari dua malam. Perjalanan biasa (tersenyum).

RINI

Tidak cape?

SITTI ZAHRA

Orang di Departemen menunggu laporan saya secepat mungkin. Mereka khawatir lawon yang ditukarkan itu lawon India (kecuali Sulaiman Rasid, yang mendengarkan itu menarik napas).

 KARNADI

Itu saja? Karena tuduhan yang bukan-bukan, segenap Jawatan tegang urat-sarafnya. Lain dari itu, Nona sengaja harus datang ke sini. Laporan-laporan harus dibuat dan tentu pula beberapa instansi lain harus dikunjungi untuk kebenaran penyelidikan. Bukankah itu semua memakan waktu dan ongkos. Tuan Sulaiman Rasid?

SULAIMAN RASID

Apakah saya yang bertanggung jawab?

KARNADI

Tuan, Komisaris-Besar!

SITTI ZAHRA

Saya tak dapat memberikan advis. Saya hanya melihat, mendengar dan meneliti benar tidaknya yang menjadi tuduhan. Pendapat saya sendiri tentu ada. Pemerintah menghargai partai-partai buruh, supaya kuat. Pun kita sendiri bersimpati dan ingin menyokong gerakan buruh di Bogor yang dengan serentak meletakkan jabatannya, karena diganggu PRP (Partai Rakyat Pasundan).

SULAIMAN RASID

Nona tahu betapa penderitaan buruh di Bogor itu?

SITTI ZAHRA

Itulah sebabnya penghargaan saya amat besar. Akan tetapi meskipun demikian baiklah buruh pada umumnya insaf, bahwa tuntutan-tuntutan hanya bisa berhasil dalan negara yang telah selesai memperjuangkan politik-kemerdekaannya. Baiklah kita berterus-terang. Pemerintah kita miskin. Walaupun demikian kita ingin maju, ingin menyelenggarakan bermacam aturan yang memperlindungi buruh.

SULAIMAN RASID

Pendirian Nona niscaya mempengaruhi laporan dan laporan itu tidak objektif lagi.

SITTI ZAHRA

Tembusan laporan selalu dikirimkan  kepada yang berkepentinagn. Saya bukan mata-mata, Tuan Sulaiman Rasid! (tertawa)

 SULAIMAN RASID

Terima kasih Nona. Semua penderitaan buruh dan rakyat saya terangkan di tempat saya, agar dapat menunjukkan bukti-bukti.

SITTI ZAHRA

Dalam rapat nani sore tuan dapat bicarakan juga. Jam 4 bukan, Tuan Koswara?

KOSWARA

Betul, Nona. Rini, Nona Sitti Zahra mungkin hendak melepaskan lelah.

RINI

Sudah diselesaikan.

SITTI ZAHRA

Sudah saya kirim kabar lebih dulu kepada mereka. Terima kasih. Bagi saya pergi sekarang (berdiri).

 KOSWARA

Tuan Karnadi, tolong antarkan Nona Inspektur.

Sitti Zahra meminta diri, diiringkan oleh Karnadi, Sulaiman Rasid pun permisi.

 RINI

Pantas kaujemput, Koswara!

KOSWARA

Siapa, Nona Sitti Zahra?

RINI

Siapa lagi? Tamu-tamu bukan dari “Lalu-lintas” biasanya tidak kaujemput sendiri.

KOSWARA

Aku kebetulan harus lewat di stasiun waktu kereta api berhenti. Bilapun benar disengaja, apa salahnya?

RINI

Benar, apa salahnya menjemput kenangan lama, bukan?

KOSWARA

Rini, engkau curiga?

RINI

Masih ingatkah engkau kita berjalan-jalan di Jakarta dan tiba-tiba nona Sitti Zahra di hadapan Kita? Waktu itu aku diperkenalkan olehmu padanya, tetapi tingkah-lakumu amat kaku benar. Tidakkah aku akan menjadi curiga?

KOSWARA

Boleh jadi engkau tertipu matamu sendiri.

RINI

Sikapmu di rumahpun bukan seperti yang mencintai istrinya.

KOSWARA

Tak ada yang tak kuberikan.

RINI

Apa yang telah kau berikan kepadaku? Telah dua tahun kita kawin. Jangan bertambah, bahkan semakin susut baju dan hiasanku.

KOSWARA

Rini, engkau tahu betapa ingin kubelikan engkau apa yang selayaknya diberikan oleh seorang suami kepada istrinya.

RINI

Ya, apa yang selayaknya diberikan oleh suami kepada isterinya!

KOSWARA

Kutahu, Rini, tidak ada seorangpun gajinya cukup masa sekarang.

RINI

Tidak peduli aku, cukup atau tidak cukup. Tapi aku ingin pula berpakaian seperti orang lain.

KOSWARA

Kalau begitu baik kucari pekerjaan lain.

RINI jengkel.

Koswara! kautahu aku bukan seorang yang mengejar-ngejar benda!

KOSWARA

Apa pula yang kaumaksud?

RINI jengkel sangat.

Belum pula kau mengerti, Koswara, belum pula kau mengerti?

KOSWARA

Semua usaha telah kujalankan, supaya mencukupi keperluanmu, Rini. Semua telah kuberikan kepadamu menurut kekuatanku …

RINI

Semua … semua, kecuali … jiwamu!

KOSWARA

Beranikah engkau menyatakan demikian?

RINI

Istrimu ialah … “Lakbok”!

KOSWARA

Rini, engkau iri kepada pekerjaanku.

RINI

Betapa tidak.

KOSWARA

Lelaki hidup dalam pekerjaannya.

RINI

Riang dan gembira di dalam pekerjaan, karena hati tak puas di rumah. Karnadipun demikian, bukan?

KOSWARA

Karnadi?

RINI

Ya, Karnadi, Karnadimu! engkau hanya tahu dia dalam pekerjaan, di luar pekerjaan engkau tak tahu penghidupan pegawaimu seseorang. Tak tahu engkau pahit-pedih mereka, tak tahu pahit-pedih Karnadi dalam rumah-tangganya.

KOSWARA

Dari mana kau tahu?

RINI

Dari dia sendiri!

KOSWARA

Dari dia sendiri? Masih agak rapat juga tampaknya hubunganmu dengan dia.

RINI

Ha, ha, ha! Kini engkau mencurugaiku. Baik engkau tidak percaya kepadaku, Koswara! Akupun ingin seorang, tempat kucurahkan pahit-pedih ditinggalkan suami! (mencemooh, keluar cepat Koswara termenung).

ADEGAN VI

 

KARNADI masuk.

Sudah saya antarkan, Tuan.

KOSWARA melepaskan keluh.

Duduk, Tuan Karnadi

(Karnadi ragu, lalu duduk).

 KOSWARA

Apakah yang terjadi selama saya tak ada, Tuan Karnadi?

KARNADI

Tidak ada apa-apa, Tuan.

KOSWARA

Amat menyesal saya soal prive ini saya harus bicarakan di kantor. Saya tahu di mana tuan dan istri saya dahulu ada hubungan. Akan tetapi sebelum kami kawin, saya periksa dahulu hubungan itu. Di pihak isteri saya ternyata hubungan itu hanya bercorak persahabatan belaka. Itulah sebabnya saya minta dia jadi isteriku.

KARNADI

Tuan hanya seorang yang mencintai pekerjaan dan pengetahuan.

KOSWARA

Kalau saya hendak kasar, sekalipun demikian Tuan tidak berhak mengganggu rumah tangga orang lain!

KARNADI

Maksud saya, Tuan tidak akan mengerti mengapa hubungan batin saya dengan isteri Tuan belum padam. Perasaan yang dahulu itu amat mendalam. Selain amat suka kepada pekerjaan, saya pun seorang manusia yang mempunyai perasaan. Tuan tidak akan mengerti …

KOSWARA tersenyum.

Mau aku seorang yang mencintai pekerjaan saja seperti yan Tuan ucapkan itu. Mungkin hatiku pun tidak terbagi …

KARNADI

Maksud Tuan?

KOSWARA berdiri, berjalan lalu termenung.

Aku seorang yang tidak percaya kepada “nasib”: langkah juga yang banyak terpeleset di dalam hidupku. Lantaran aku kurang sabar…, ah, perlu apa Tuan tahu … “Nasib” atau “bukan-nasib”, Tuan Karnadi, kita sendiri telah terseret di dalam arus dan bukan tak ada jalanlain dari bertahan sekuat tanaga, berkayuh seberapa dapat jangan sampai terbawa hanyut sama sekali.

KARNADI

Mungkin kurang kelaki-lakian, Tuan Koswara, tetapi untuk bertahan lebih lama di sini …

KOSWARA

Baiklah pikir-pikir dahulu, Tuan Karnadi. Kita bercerai, berarti “Lakbok” ambruk. Kita dipertemukan di sini dalam waktu fajar sejarah memerah. Kesempatan menimbulkan sesuatu yang agak berarti tidak banyak, baiklah kesempatan yang sedikit itu kita pegang dan pergunakan sebaik-baiknya. (menghampiri Karnadi memegang bahunya). Akan tetapi keras benarpun saya tak dapat menahan. Bila api membakar sekam, gedung tujuan akan hangus juga. Saya mengerti, sayapun seorang manusia …

LAYAR

BABAK II

 

Di tepi rawa  tengah hari. dari dalam saluran yang hanya tampak tanggulnya saja, terdenganr suara orang riuh bekerja di sela bunyi belincong. Di sebelah depan agak ke kiri tampak sebuah gubuk tempat orang memeriksa pekerja. Isinya amat sedeerhana: dua buah bangku, sebuah meja kecil dan kursinya. Dari dalam saluran itu naiklah Sitti Zahra diikuti Koswara.

 

ADEGAN I

 

KOSWARA di atas tanggul penuh nafsu.

Lihat, Zahra, setengah kilometer lagi dan Ciseel dihubungkan dengan Citanduy. Maka jumlah sawah akan bertambah 600 hektar!

SITTI ZAHRA

Selesaikan pekerjaanmu di sini. Jika saluran itu siap?

KOSWARA tertawa.

Tidak, masih banyak rawa yang harus dikeringkan. 2000 hektar lagi mungkin. (sambil menunjuk). Sampai langit bertemu dengan air dan di balik itu masih ditunggu tangan manusia mengayunkan cangkulnya … (sebentar kemudian). Panas di sini, mari duduk di Gubuk! (kepada yang bekerja dalam saluran). Katakan kepada Tuan Sulaiman Rasid kami menunggu di atas!

(dari dalam saluran.) Baik, Tuan!

(Koswara dan Sitti Zahra turun dari tanggul menuju gubuk).

 KOSWARA

2000 hektar, Zahra. Beberapa ribu kwintal penghasilan Republik bertambah dalam sekali panen! mau aku alat-alat cukup, alat-alat serta manusia! manusia hidup yang berdarah dan berdaging, bukan bangkai seperti yang kau lihat di sini! Ah … (geraham dikatupkan) dahulu, ketika aku baru berumur 12 tahun aku dibawa pamanku melihat Walahar digali. Beribu-ribu orang yang bekerja. Takel, mesin-mesin berderu uang hamburan. Kini, 20 tahun kemudian tak ku sangka pekerjaan semacam itu dilanjutkan olehku … dalam keadaan serba menyedihkan. Sesungguhnya pekerjaan harus lebih cepat sekarang, kemajuan teknik dalam lapang irigasipun memudahkan pekerjaan. Tetapi seperti kau lihat hampir semua terbentuk di jalan “susah”, meskipun alam merdeka telah menimbulkan kegiatan bekerja yang tiada tara.

SITTI ZAHRA

Pedih aku tak dapat membantumu dalam pekerjaan yang sangat kucintai!

KOSWARA

Jika tertanam di dalam wadukk ini, Zahra. Aku timbul dan tenggelam dengan air yang melalui waduk. Dahulu hantu, demit yang berkuasa di rawa ini. Kini tak pernah lagi kepala kerbau di kubur. Serba adat-kuno dihapuskan juga oleh kesukaran zaman. Zahra …, berapa berbeda cita-cita dahulu dan sekarang. Dahulu kumau  mashur karena … engkau! ingin menciptakan sesuatu, supaya namaku sampai di telingamu. Kemudian keinginanku menciptakan sesuatu yang hebat dan dapat “melalui zaman”, sehingga namaku disebut-sebut orang, sekalipun aku sudah mati. Sesudah aku berkumpul dan bergumul dengan rakyat, berubah pulalah tujuanku. Bukan untuk seseorang lagi tujuan itu, tetapi untuk rakyat yang banyak.

SITTI ZAHRA

Aku takjub mendengar ucapanmu, Koswara. Tetapi dibalik kekuatan yang memancar dari dadamu, aku tertawa pula. Cita-cita yang bersinar dalam pekerjaanmu itu menjadi suram di tengah rumah-tanggamu. Di sini engkau gembira, takhayul terbanteras, di rumah takhayul itu bercengkeram tak mungkin tumbang. Adakah pada tempatnya istrimu memakai paku di dalam sanggul karena mengandung?

KOSWARA menarik napas.

Aku mengerti, Zahra. Untuk menyimpan perdamaian kubiarkan istriku menurut nasehat orang itu.

SITTI ZAHRA

Engkau belum menjadi orang Indonesia yang dicita-citakan 100%, Koswara.

KOSWARA

Antara cita dan hidup masih menganga jurang yang lebar, aku belum 100%, akupun tidak mengharapkan pujian.

Meskipun pada istriku banyak cacat. Istrikulah yang menghubungkan daku dengan tujuan yang akan menjadi dasar.

Seperti kau tahu dahulu otak padaku yang berkuasa, dengan otakku alam mesti tunduk menurut keinginanku: hutan belantara kuangkat. Lautan Hindia yang buas itu kuturunkan. Sebagai seorang yang telah terpengaruh dan biasa berfikir secara Barat

 itu acap kau abaikan bermacam kegaiban yang banyak meliputi isteriku. Akan tetapi bertambah banyak kurenungkan, Zahra, tak mungkin kita orang Indonesia terus menerus berpikir secara Barat itu yang hanya berdasarkan rasio belaka. Sejak Perang Dunia II dengan otaknya itu Barat tak dapat mempertahankan sikap-hidupnya dan kata orang mulailah Barat itu mengalihkan pandanganya ke Timur. Maka kesimpulanku: Tidakkah kita terlebih dahulu harus mencari jalan di Timur ini, kalau kebenaran itu dari Timurpun ada? pikiran-pikiran Timur yang asli itu harus kita jelajah kembali. Orang Barat umpamanya terlampau banyak memikirkan hari kemudian di dunia ini. Penghidupannya telah menjadi suram, karena khawatir memikirkan hari besok. Kita gembira, hari-sekarang hari kita dan besok timbul rezekinya sendiri. Mengapa tidak percaya akan dunia yang kaya-raya ini? itulah Timur, Zahra!

SITTI ZAHRA

Uraianmu itu kuikuti dengan seksama dalam majalah “Laras”.

KOSWARA

Keselarasan itu yang kucari, yang kita semuanya lari, Zahra, baik di Timur, maupun di Barat sesudah Perang-Dunia II itu. Alangkah bahagianya manusia, kalau didapatkannya sebuah jalan dan cepat dipraktekannya dengan sungguh dalam hidupnya sehari-hari: dunia dan akhirat itu suatu garis yang lurus dan oleh karenanya tiada terpisah pula dalam menempuh hidupnya.

SITTI ZAHRA tersenyum.

Tidakkah engkau lebih baik menjadi kiai, Koswara?

KOSWARA

Aku setuju dengan pendapat orang, bahwa yang memecahkan serba soal hidup abad XX itu bukanlah agama, tetapi filsafat.

SITTI ZAHRA

Entahlah, belum sejauh itu pikiranku, meskipun rasa-rasanya kubenarkan juga pahammu itu. bagaimanapun juga kuikuti uraianmu itu.

KOSWARA tertawa.

Itulah sudah cukup, kritikmu boleh menyusul.

SITTI ZAHRA

Tahukah apa yang banyak menarik perhatian orang pula?

KOSWARA

Ya?

SITTI ZAHRA

Kenagan-kenanganmu dalam majalah “Pengairan”, perihal menggali saluran di bawah permukaan laut. Pendapatmu itu dicoba Belanda di Borneo.

KOSWARA

Girang aku mendengarnya. Sebenarnya pendapat itu bukan pendapatku asli. Waktu Negeri Roma dikuasai Caesar pendapat itu sudah umum di kalangan yang ahli. Aku hanya menambah dengan pengalamanku sendiri dan disesuaikan dengan keadaan tanah-air kita. Aku tidak berkeberatan teoriku itu dicoba di Borneo. Borneo itu tanah-air kita juga bukan?

Borneo … (tersenyum), aku teringat Ir. Majid. Di mana dia sekarang?

SITTI ZAHRA

Di Bojonegoro masih menjadi Kepala Pekerjaan Provinsi.

KOSWARA menyindir.

Beruntung benar engkau tinggal padanya dulu, pantas berhutang budi padanya.

SITTI ZAHRA

Apa perlu yang dahulu itu diungkit-ungkit?

KOSWARA

Jika tidak ada dia mungkin telah menjadi pelanggar adat. Karena engkau dari Sumatera, bukankah katanya. “Roboh dan tegak Minang karena adatnya?” yang mengherankan daku, ia sendiri orang Kalimantan, tetapi beristerikan orang Padang-Panjang.

SITTI ZAHRA

Bukan orang Padang-Panjang sebenarnya. Ayahnya dari Medan.

KOSWARA

Meskipun demikian. Bukankah dia seorang terpelajar dan bukankah anggapan itu sudah tidak pada tempatnya?

SITTI ZAHRA

Engkau benci pasanya, karena cita-citamu tidak tercapai. Agak kecewa aku, di samping melihat cara bekerja, jiwamu sekecil itu.

KOSWARA

Sebabnya?

SITTI ZAHRA

Menurut orang-orang yang pandai, orang yang besar jiwanya yang tak tahu benci.

KOSWARA

Katakanlah begitu. Tetapi baik juga mungkin, aku tidak kawin dengan engkau. Aku seorang yang lemah, terlalu banyak meminta kepadamu dan tak pernah memberi. Selama kita berkenalan aku terombang-ambing, sedang garismu tegas: tak dapat.

SITTI ZAHRA

Engkau tidak selemah itu lagi.

KOSWARA

Akupun telah ditempa hidup, Zahra. Tetapi pada waktu aku belum kawin, aku sangat lemah. Setelah aku minta pertimbanganmu. Betapa jadinya kalau kita kawin: kekuatan rohani pada perempuan? itukah juga alasannya, maka aku kawin dengan Rini.

SITTI ZAHRA

Dapatkah kau berikan yang diperlukannya itu?

KOSWARA menarik napas.

Tidak juga. engkaulah yang bertahta di hatiku …

SITTI ZAHRA terharu.

Koswara … engkaupun tahu betapa berat perjuanganku, ketika aku diberitahu olehmu, engkau akan kawin. Tetapi sebenarnya salahku juga, terlampau tunjuk kepada janji waktu meninggalkan keluarga.

Aku yang akan meneruskan “rumah gadang”. sekian tahun aku sekarang tinggal di Jawa terhalang karena perhubungan … kalau tidak karena pekerjaan juga, perhatianku habis memikirkan rakyat semata. Aku Inspektur Sosial yang hanya dapat membayangkan belaka pekerjaan sosialnya … Tahukah betapa pedih aku, di man-mana aku mendapatkan keluh yang sama: buruh tergencet, manusia kurus-kering, tak ada makan, tak ada obat, tak ada pakaian?!

Koswara menarik napas.

ADEGAN II

 

SULAIMAN RASID

naik dari tanggul, menghapus-hapus keringat.

Ah, terguling juga batu itu, Tuan. Kalau kita cukup dinamit sudah lama saluran itu beres.

KOSWARA

Kalau orang yang bekerja itu tidak serusak itu pula.

SITTI ZAHRA

Tidak aku sangka pekerja di sini demikian rusak.

KOSWARA

Nona minta dibawa ke tempat yang paling miskin.

SITTI ZAHRA

Meskipun demikian. Bukankah Lakbok daerah padi?

KOSWARA

Tasikmalaya dan Garut berpuluh ribu jumlah pengungsinya.

SITTI ZAHRA

Tidak ada daerah surplus bagian Tuan untuk mencukupi daerah itu?

KOSWARA

Buruh kami dibayar uang.

SITTI ZAHRA

Dan uang upah itu seperti bisa tidak cukup untuk pembeli beras, mau Tuan katakan.

SULAIMAN RASID

Ganjilnya masyarakat kita. Buruh yang mengeringkan rawa, akan tetapi sesudah rawa itu menjadi sawah, si kaya juga yang mengeduk untung. Buruh tetap buruh, tinggal di gubuk, makan tidak tetap.

SITTI ZAHRA

Tidakkah buruh itu mempunyai kesempatan untuk membeli sawah dari rawa yang kukeringkannya itu?

KOSWARA

Kalau ada yang ingin mempunyai sawah, pasti tidak akan bekerja di sini. Selama keadaan belum normal, kesempatan itu tidak mungkin ada. Uang upah seperti telah dikatakan tidak cukup untuk pembeli beras sekalipun.

SITTI ZAHRA menarik napas.

Di semua lapangan selalu tertumbuk kepada uang, uang, sekali lagi uang! Tidak adakah cita-cita yang tidak bergantung kepada uang?

SULAIMAN RASID

Amat sedih, Nona. Orang lebih banyak pergi ke daerah Bandung. Di sana ada pembagian roti, rokok, yang sakit diobati pula. Di sini …? (tertawa mengejek).

 SITTI ZAHRA

Apakah usaha Tuan?

SULAIMAN RASID

Usaha saya? kalau Jawatan sendiri kandas dalam usahanya, apakah yang diharap dari saya?

KOSWARA

Kalau Jawatan ada juga sedikit berusaha. Tuan-tuan Pemimpin pula yang beruntung.

SULAIMAN RASID

Kami, Tuan?

KOSWARA

Sudah saya terangkan kepada Nona Inspektur, kain pembagian dari India belum dibagikan. Karena buruh kita baru mendapat kain dari tentara sebagi penukaran dengan bargas. Hanya dalam daerah Tuan buruh belum mendapat kain dari Tentara itu!

SULAIMAN RASID merah.

Kain yang diterima kami pasti menimbulkan percekcokkan dalam daerah saya. Lawong yang diterima itu jauh dari mencukupi. Hal itu saya beritahukan kepada Tuan.

KOSWARA

Cukup atau tidak cukup bukan hak Tuan untuk menjual lawon itu di pasar. Sepantasnya pula Tuan beritahukan dulu kepada saya, jika hendak dijual. Tidak pada tempatnya Tuan mencari untung di atas tubuh yang telah telanjang. Padahal Tuan, Komisaris Besar Sarikat Buruh Pengairan!

SULAIMAN RASID

Tuan arsitek! saya tidak senang atas tuduhan Tuan itu, justru di hadapan Nona Inspektur Buruh!

KOSWARA

Justru karena ada Inspektur Buruh! atas undangan Tuan sendiri, maka Nona Inspektur Buruh itu tiba di sini!

SULAIMAN RASID

Itu tuduhan yang kedua! Nona Inspektur, saya tidak senang, saya menyatakan protes terhadap tuduhan-tuduhan majikan saya. Saya tidak pernah merugikan baik buruh, maupun Jawatan. Nona boleh periksa buku-buku saya. Benar, lawon itu dijual, tetapi uangnya saya masukkan pula  sebesar yang mestinya dibayar kepada Jawatan, bila dijual kepada buruh.

KOSWARA

Tuan pintar apa bodoh! Tiap anak kecilpun tahu, harga pasar lebih tinggi dari pada harga pembagian dari saya. Di mana ada yang menjual lawon R 4, sayu yard?

SULAIMAN RASID

Saya tidak tahu berapa harga pasar. Saya bukan saudagar. Nona Inspektur, bila saya ingin untung, telah lama saya menjadi kaya. Gudang-gudang di seluruh keresidenan saya turut merebutnya dari Jepang. Tak seujung rambutpun manjedi milik saya. Apakah ini penghargaanya, air susu dibalas air tuba?

KOSWARA

Saya tak ingin lanjutkan pembicaraan ini, Nona Zahra; perihal lawon itu saya telah uraikan jelas kepada Nona. Kain India belum dibagikan, tetapi apa yang dilakukan tuan Sulaiman Rasid itu tetap saya sesalkan dan harap dicatat oleh Nona.

ADEGAN III

 

WIRANTA masuk. (Kepada Koswara).

Saya bergegas-gegas datang di sini, khawatir kalau-kalau Tuan sudah pergi.

KOSWARA

Siapa, Tuan?

SULAIMAN RASID

Tuan Wiranta, ketua “Golongan Kedaulatan Islam”.

KOSWARA

Apakah keperluan Tuan?

WIRANTA

Saya telah menyampaikan surat kepada Tuan, tetapi balasannya amat tidak menyenangkan hati kami. Tidak satupun permintaan kami yang Tuan penuhi.

KOSWARA

Saya lupa, apakah permintaan Tuan itu lagi?

WIRANTA

Pertama: supaya kebiasaan “hajat bumi” dilanjutkan seperti dahulu. Kedua: supaya mantri Sukria diganti, karena telah menjalankan yang tidak senonoh dengan perempuan salah seorang pegawainya yang kebetulan menjadi anggota kami.

KOSWARA

Saya kira adat yang bertentangan dengan paham kita itu telah lama terkubur bersama kepala-kepala kerbau yang sudah busuk ditanam.

WIRANTA

Saya harap, Tuan Suka mengindahkan perasaan orang.

KOSWARA

Tuan, pemimpin sebuah gerakan Islam yang besar. Menurut hemat saya sewajibnyalah Tuan berantas paham yang telah usang itu

WIRANTA

Tidak mudah memberantas paham-paham yang telah berurat berakar itu.

KOSWARA

(Sebentah melihat kepada Sitti Zahra, lalu kepada Wiranta lagi).

Masyarakat Indonesia-baru perlu orang-orang kuat, tuan Wiranta, sekalipun masyarakat desa! saya sendiri merasa betapa kurang kekuatan itu baik dalam rumahtangga sendiri, maupun dalam pekerjaan untuk melaksankan cita-cita yang besar: mengangkat derajat bangsa kita! Hanya oleh orang-orang yang kuat kebiasaan lama yang sduah tidak sesuai zaman itu dapat dihancurkan. Yang baru, yang baru dan segar kita kehendaki, Tuan Wiranta. Pergilah ke kota dan bergaullah sedapat mungkin dengan orang-orang yang jauh pemandangannya. Tuan masih muda, penuh cita-cita tentu, tetapi cita-cita besar, bukan cita-cita desa!

Saya yakin Tuan dapat menanam paham-paham baru itu di dalam hati rakyat, karena Tuan hidup di tengah rakyat. Janganlah Tuan berpaham sempit, digulung oleh serba keluhan yang dipandang menjadi suatu kewajiban. Perihal Mantri Sukria itu bukan kewajiban Tuan, itu kewajiban Lurah.

WIRANTA

Anggota-anggota menaruh kepercayaan kepada saya.

KOSWARA

Inilah sebabnya saya katakan, Tuan dapat menanam paham-paham baru di hati rakyat, karena Tuan dipercayai mereka. Saya sendiri amat sesalkan salah seorang pegawai saya berlaku demikian curang, tetapi saya sesalkan pula, Tuan telah kirimkan tembusan-tembusan surat itu kepada ketua Perhimpunan Tuan  di Tasikmalaya, kepada Tuan Residen. Tuan Bupati, sehingga seluruh jagat boleh dikatakan tahu perihal peristiwa itu yang sesungguhnya hal tetk-bengek belaka. Tuan Sulaiman Rasid, kalau Jawatan kita tidak terlalu banyak diganggu soal tetek-bengek itu pasti lebih pesat lagi majunya.

SULAIMAN RASID

Saya mengerti Tuan, Tuan Karnadipun sudah menyindir saya secara demikian.

KOSWARA

Nona Zahra, semuanya sudah dilihat dari sini. Saya kira tidak ada yang menarik perhatian Nona lagi.

WIRANTA

Saya permisi pulang, Tuan.

KOSWARA

Kalau bisa, perkara mantri yang curang itu baik didamaikan. Cobalah Tuan Sulaiman Rasid, Tuan berikan nasehat kepada mantri Tuan itu, supaya ia minta maaf. Kalau tidak ada jalan lain, terpaksalah menjadi urusan yang harus dilaporkan kepada Lurah. Saya merasa sayang, karena mantri itu seorang yang baik pekerjaannya.

SULAIMAN RASID

Saya akan bicarakan hal itu dengan Tuan Wiranta.

WIRANTA

Baik kita selesaikan sekarang juga. Orang-orang yang berkepentingan itu ada di bawah, bukan?

SULAIMAN RASID

Nanti saja, Nona Inspektur dan Tuan arsitek mungkin akan pergi sekarang ke rumah saya.

KOSWARA

Kami bisa jalan sendiri. Baik selesaikan sekarang saja, Tuan Sulaiman Rasid. (Sulaiman Rasid dan Wiranta pergi).

 SITTI ZAHRA

Benar juga katamu itu, Koswara, kita terlampau banyak diganggu soal-soal tetek-bengek.

KOSWARA

Ya, amat sayang, setiap orang anggap dirinya sendiri yang paling penting!

LAYAR CEPAT

BABAK III

 

Pagi.

Ruang-makan di rumah Koswara yang dipakai juga sebagai ruang-penerima-tamu. Dari jendela dan pintu belakang tampak pohon cemara dan rupa-rupa tumbuhan yang terpelihara. Koswara baru selesai makan. Rini duduk merengut di hadapannya.

 

ADEGAN I

 KOSWARA

Sejak aku pulang tadi malam tak sedikitpun engkau gembira tampaknya.

RINI

Engkau dan aku tentu saja berbeda. Di sini dalam serba kekurangan, di sana dalam sorga kenangan berjalan-jalan di bawah rembulann …

KOSWARA

Sejak Nona Zahra di sini tak habis-habisnya engkau cemburu.

RINI

Katakan saja”pucuk di cinta ulam tiba”! ( tertawa mengejek). Tidakkah engkau gembira bertemu lagi dengan Nona yang manis itu? Dan sekali ini tidak disertaiku pula! Tentu banyak yang kaucurahkan kepadanya.

KOSWARA

Kenalanku perempuan ada beberapa orang dulu. Tidak pernah engkau cemburu sekeras itu!

RINI

Sikapmu kepada yang lain itu berbeda

KOSWARA

Pernahkah aku berlaku tidak senonoh yang menyatakan aku menyimpang dari garis beristeri?

RINI

Ya, banyak!

KOSWARA, terperanjak, berdiri.

Sungguh, Rini ? …

RINI

Pernahkah engkau terhadapku seperti suami-suami lain terhadap isterinya? Pernahkah aku dibawa bersenda-gurau, pernahkah akau dibawa bepergian, ya, pernahkah aku dibawa bercerita tentang “Lakbok” sekalipun?!

KOSWARA

Pekerjaan itu tidak menarik perhatian perempuan, semuanya serba “kering”.

RINI

Tergantung kepada yang menguraikannya. kepandaian-bercerita tidak penting, yang utama ialah hati yang terbuka! Tidak semua dimengerti orang pembicaraanmu, tetapi kerianganmu acap menangkap hati. Aku dengar kegembiraanmu, bilamana engkau menerima tamu. Padahal tidak semua tamu itu berpengetahuan pengairan. (berdiri) Mengapa dapat gembira engkau dengan yang lain, dengan aku tidak?

KOSWARA

Telah beberapa kali aku membicarakan pekerjaan dengan engkau, tetapi di tengah pembicaraan engkau beralih kepada yang lain, maaf, menurut hematku yang tetek-bengek belaka: si Anu dicerai, si Itu dimadu, apa pentingnya begiku semua?

RINI

Mungkin waktu itu pembicaraanmu terlampau berat, maka pembicaraan itu kualihkan kepada yang ringan. Tidakkah ada waktu sedikit juga bagiku, sedang sepanjang hari engkau “Tenggelam” di rawa itu dan sesudah pulang, bertekun pula sampai jauh malam? Kubakar buku-bukumu itu! (membantingkan kursi).

KOSWARA

Aku tidak puas dengan pekerjaan yang biasa, Rini. Bagi orang lain sesudah kantor ditutup, maka pekerjaan itu selesai. Aku ingin membuat penemuan baru (penuh napsu tangan dikepalkan) yang diperlukan masyarakat.

RINI

Tidak peduli betapa terhimpit hidup isterimu! Pernah engkau ingin mengetahui menggali saluran di bawah permukaan-laut yang berbulan-bulan lamanya. Setelah itu tercapai, kini ingin penemuan lain pula!

KOSWARA

Adakah pengetahuan itu terbatas, adakah orang yang menuntut pengetahuan itu puas dengan satu penemuan?

RINI

Huh! Kalau aku tahu dahulu macam apa engkau ini! (keluar cepat Koswara termenung, lalu berkemas hendak pergi ke kantor).

 

ADEGAN II

 

Di ambang pintu tampak Karnadi.

 KOSWARA

Silakan masuk, Tuan Karnadi.

KARNADI

Saya dengar laporan kunjungan Nona Inspektur bersama Tuan ke daerah Sulaiman Rasid. Kagum juga agaknya Nona Inspektur itu dengan kegiatan Tuan.

KOSWARA

Mengengkat jari ke mulutnya serta melihat ke arah isterinya pergi.

Sst … (agak sejenak) Tuan Karnadi, ada pepatah siang: ada waktunya kita datang, ada waktunya kita pergi. Setahun lebih saya di sini, tibalah saatnya sayapun harus meninggalkan daerah ini.

KARNADI

Saya kurang mengerti, Tuan.

KOSWARA

Saya akan meninggalkan Lakbok dan saya akan meninggalkan Pengairan seluruhnya.

KARNADI

Tuan yang amat mencintai pekerjaan itu? Mustahil, Tuan.

KOSWARA

Kalau saya meninggalkan pekerjaan ini, bukan lantaran langkahku meleset, tetapi benar-benar “nasib” yang aku dulu tak percaya itu. Saya keluar dari Jawatan Pengairan, karena kekuatan-kekuatan yang di luar tenaga saya.

KARNADI

Apakah yang Tuan hendak kerjakan?

KOSWARA

Pertama: sebuah pekerjaan yang tidak menarik hati saya benar-benar, yang tidak mungkin terpaut jiwa saya ke dalamnya. Kedua: yang lebih memberikan keuntungan dari sekarang, karena penghasilanku jauh dari cukup.

KARNADI

Tuan Koswara …! Jika Tuan tidak pernah jatuh di mata saya, maka jatuhlah Tuan pada saat ini. Saya anggap Tuan selalu lebih dari majikan, Tuan seorang pemimpin yang tidak pernah disebut. Tuan seorang yang kuat jiwanya, Tuan seorang yang keras juga terhadap pegawai, tetapi Tuan telah merebut penghargaan juga dari sanubari kami. Apakah Tuan akan melemparkan panggilan hati begitu saja, hendak bernoda kepada sesuatu yang suci? Apakah Tuan yakin di dalam pekerjaan yang baru itu Tuan akan mendapat bahagia yang tidak ternialai seperti di Pengairan? Apakah Tuan yakin, kelak Lakbok itu tidak akan memanggil-manggil hati Tuan lagi, sedang waktu penyelidikan sudah terbuang pula oleh pekerjaan baru? Pernah Tuan berkata kepada saya. Pikir-pikirlah dahulu, Karnadi! Ucapan itu saya ulangi, Tuan. (pergi, di ambang pintu dipanggil oleh Koswara).

 KOSWARA

Tuan Karnadi, Tuan seorang muda yang penuh pengharapan. Kalau saya pergi, mungkin tidak ada arsitek yang memimpin Lakbok ini. Maka terbukalah jalan bagi Tuan untuk mengembangkan sayap.

KARNADI

Tuan Koswara, saya ulangi perkataan Tuan. Apabila salah seorang di antara kita pergi, berarti Lakbok ambruk. Putusan terletak di tangan Tuan.

KOSWARA

Tuan Karnadi, di dalam pekerjaan bukan saja kepandaian yang diperlakukan, tetapi yang utama pula kekuatan batin masing-masing. Saya ucapkan terima kasih atas ucapan-ucapan Tuan itu. Saat itu tidak saya akan lupakan.

ADEGAN III

Di luar tampak Sitti Zahra.

KOSWARA

Silakan masuk, Nona Zahra.

SITTI ZAHRA masuk.

Saya menunggu.

 KOSWARA

Tidak sekali-kali, Nona. Silakan duduk.

SITTI ZAHRA

Saya hendak minta diri dari Nyonya.

KOSWARA

Jadikah juga Nona berangkat hari ini?

KOSWARA

Tuan Karnadi, sebentar lagi saya pergi ke Tasik. Sudikah Tuan antarkan Nona Inspektur ke stasiun. Saya akan panggil istri sata, Nona. (keluar).

 KARNADI

Berhasil jugakah Nona dalam Inspeksi ini?

SITTI ZAHRA

Berkat bantuan Tuan-tuan semua agak menyenangkan juga.

KARNADI

Bagaimana pandangan Nona umumnya tentang pekerjaan kami?

SITTI ZAHRA

Lebih baik dari pada jawatan-jawatan lain: korupsi boleh dikatakan minim; buku-buku beres, hanya masih banyak yang tidak selesai pada waktunya; kantor-kantorpun tampaknya bersih. Hasil dari pada pekerjaan Tuan-tuan tentu saja tak dapat memberikan pendapat, karena saya bukan ahli. Perihal yang mengenai pekerjaan saja, ialah buruh, tentu banyak yang tidak menyenangkan: upah tidak cukup, kesehatan banyak terganggu, perumahanpun menyedihkan.

KARNADI

Kita hidup di dalam zaman yang luar biasa.

SITTI ZAHRA

Oleh karena itulah saya harap kepada Tuan-tuan, supaya lebih-lebih memperhatiakn buruh. Dengan pembakaran bergas dengan padi itu sayapun lihat usaha Tuan-tuan untuk meperingankan beban buruh, tetapi pada hemat saya usaha itu masih belum cukup juga. Usaha itu dapat diperluas dengan membeli barang-barang keperluan hidup sekaligus upamanya.

KARNADI

Sudah kami jalankan, Nona. Kami kirimkan beberapa rombongan ke Cirebon tetapi hasil tidak memadai usaha.

ADEGAN IV

 

KOSWARA masuk.

Semua sudah beres Nona?

SITTI ZAHRA

Sudah. Saya ucapkan banyak terima kasih atas pertolongan Tuan-tuan di sini.

KOSWARA

Jika mungkin kami ingin dikirim laporan Nona itu.

SITTI ZAHRA

Tuan akan terima dari Departemen.

ADEGAN V

Rini masuk, agak kaku menyambut Sitti Zahra.

KOSWARA

Nona Zahra, silakan bercakap dengan isteri saya. Saya harus pergi. Tuan Karnadi nanti antarkan Nona ke stasiun. Saya ucapkan selamat jalan dan mudah-mudahan Departemen mendapatkan cara yang baik untuk mengangkat buruh.

SITTI ZAHRA mengulurkan tangan.

Saya ucapkan sekali lagi terima kasih atas bantuan Tuan-tuan. Agaknya Departemen menyesal telah mengirimkan saya ke sini untuk menjalankan penyelidikan atas tuduhan-tuduhan yang tidak beralasan.

KOSWARA

Itu sudah biasa, Nona. Sekali lagi: selamat jalan! (kepada Karnadi) Tuan Karnadi, turut saya dahulu?

KARNADI

Ya, Tuan. (Karnadipun pamitan dari Sitti Zahra. Koswara dan Karnadi keluar).

SITTI ZAHRA

Saya ucapkan selamat, Nyonya mendapatkan suami seperti Tuan Koswara. Ia seorang yang kuat untuk Negara dan Rakyat.

RINI

Lebih kuat lagi kalau ia mendapatkan Nona sebagai isteri.

SITTI ZAHRA

Saya, Nyonya?

RINI

Ya, mengapa Nona heran amat? Saya tahu hubungan Nona dengan suamiku dulu.

SITTI ZAHRA

Hubungan saya dengan Tuan Koswara tidak lebih dari perkenalan biasa.

RINI

Perkenalan yang menimbulkan semangat berlebih-lebihan.

SITTI ZAHRA

Ia amat mencintai pekerjaannya.

RINI

Ia membanting-tulang, supaya lupa akan rumah-tangganya.

SITTI ZAHRA

Tak mungkin, Nyonya. Ia menceritakan betapa kasih Nyonya kepadanya.

RINI

Ya, dan kasih itu tenggelam seperti batu dalam lubuk.

SITTI ZAHRA

Tidak, Nyonya, perkawinannya dengan Nyonya menjadikan renungan baginya untuk memecahkan soal-soal yang sulit bagi kebahagian bangsa seluruhnya.

RINI

Banyak benar yang Nona ketahui.

SITTI ZAHRA

Sekadar untuk meringankan beban Nyonya.

RINI

Hm, beban saya? Bagaimana hendak meringankannya?

SITTI ZAHRA

Dia niscaya kembali kepada Nyonya, bila Nyonya suka lepaskan kepercayaan-kepercayaan takhayul yang tidak disukainya.

RINI

Kepercayaanku? Bukan itu, bukan itu yang menjadi penghalang (berteriak). Engkau, engkau dalam kepalanya. Engkau, engkau, mengerti, engkau kataku! (menjatuhkankepala di atas meja terisak-isak).

SITTI ZAHRA termenung.

Jangan hati diturutkan, Nyonya. (mengangkat bahu Rini).

RINI melepas tangan Sitti Zahra.

Pergi, pergi! aku tak sudi diganggu.

SITTI ZAHRA

Baiklah hati jangan terlampau diturutkan. Nyonya sedang mengandung.

RINI

Pergi, kataku!

SITTI ZAHRA

Kuharap anak Nyonya yang pertama itu tidak menjadi pemarah.

RINI terisak, sebentar kemudian mengangkat kepala.

Nona Zahra … (Sitti Zahra menghampirinya).

RINI terisak-isak.

Biarkan Koswara dalam pekerjaannya. Saya bahagia akan mendapat kawan.

ADEGAN VI

KOSWARA

Nona belum pergi? ada apa?

SITTI ZAHRA

Tak ada apa-apa. Saya sesalkan sangat laku Tuan terhadap isteri Tuan.

RINI bermuka-berani.

Tak ada yang disesalkan. Nona Zahra. Suami saya hidup dalam pekerjaannya dan saya akan bantu!

(Sitti Zahra heran, kaku)

 KOSWARA heran riang mengembangkan tangan.

Rini! engkau mengerti aku, mengerti aku, Rini? Ah, Rini, kekasihku!

LAYAR CEPAT

 Sukabumi 1947

Tentang Aoh K. Hadimadja:

Dilahirkan di Bandung pada tanggal 15 September 1911. Setelah menamatkan MULO ia bekerja menjadi employer di Perkebunan parakan Salak, Sukabumi. Pada tahun 1939 ia terserang TBC dan dirawat di sanatorium Cisarua. Pada masa itulah ia banyak membaca buku agama dan sastra, di antaranya karangan-karangan Hamka.

Pada waktu  itu ia mencoba menulis sajak, dan sejak saat itu ia menjadi pengarang. Dengan demikian Hamka dianggapnya sebagai guru dalam agama dan sastra. Untuk menambah pengetahuannya dalam kesusastraan, pada zaman Jepang ia menggabungkan diri dengan Pusat Kebudayaan di Jakarta, di mana ia berkenalan dengan Sanoesi Pane, Armijn Pane, Chairil Anwar, Usmar Ismail, dan lain-lain.

Pada tahun 1950-1952 ia melawat ke Sumatera untuk menyelidiki kesusastraan di sana. Pada tahun 1952-1956 menjadi penerjemah di Sticusa, Amsterdam. Sedangkan tahun 1957 sebagai wartawan PIA dan Star Weekly menghadiri perayaan kemerdekaan Malaya di Kuala Lumpur. Kemudian tahun1959-1970 bekerja sebagai penyiar BBC London. Selanjutnya, ia menjadi redaktur Penerbit Pustaka Jaya Jakarta.

Pecahan Ratna mula-mula dimuat dalam majalah Pantja Raja (1946) dan mendapat Hadiah Balai Pustaka 1947. Kemudian terbit sebagai buku berjudul Zahra (1950). Sebagian dari isinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris di Amerika oleh Burton Raffel dalam bukunya Anthology of Modern Indonesian Poetry (1964).

Buku-bukunya yang telah terbit: Beberapa Paham Angkatan ’45 (1952), Manusia dan Tanahnya (1952), Seni Mengarang (1972), Aliran-aliran Klasik, Romantik dan Realisme dalam Kesusastraan (1972), Dan terhamparlah Darat yan Kuning, Laut yang Biru (1975), dan Sepi Terasing (1977)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply