Sastra Indonesia di Masa Jepang

Artikel, Sastra 0
Sastra Indonesia di Masa Jepang

Sastra Indonesia di Masa Jepang

Sastra Indonesia di Masa Jepang – Dalam periodisasi sastra Indonesia kita mengenal sastra zaman Jepang. Sastra Indonesia di masa Jepang hanya berlangsung sekitar 3,5 tahun, waktu yang sangat singkat bagi pertumbuhan suatu kebudayaan. Akan tetapi, dilihat dari peranan sastra itu, bagi perkembangan sastra selanjutnya, maka sastra Indonesia di masa Jepang perlu diberikan ruang tersendiri dalam sejarah sastra Indonesia.

Keberadaan sastra pada masa Jepang akan berpengaruh pada periode sastra berikutnya. Banyak pengarang Angkatan 45 yang mulai berakar pada sastra Indonesia di masa Jepang di antaranya Chairil Anwar, Rosihan Anwar, Idrus, dll.

Pada masa Jepang, penerbitan majalah sangatlah terbatas jumlahnya. Perkembangan Bahasa Indonesia pada masa Jepang sangatlah pesat sehingga sangat menguntungkan bagi para sastrawan di masa itu.

Berikut adalah karakteristik dari sastra Indonesia di masa Jepang :

  1. Umumnya sastra tersiar pada masa itu tidak terlepas dari unsur tendens, yaitu tendens membantu perang Jepang, bahkan sering unsur tendens itu begitu jelas sehingga berubah sifat menjadi propaganda.
  2. Sastra tersiar yang tidak mengandung tendens, umumnya menyatakan maksud isinya dalam bentuk simbolik atau bersifat pelarian dari realitas kehidupan yang pahit.
  3. Sastra tersimpan umumnya berupa sastra kritik yang berisi kecaman dengan sindiran terhadap ketidakadilan yang terdapat dalam masyarakat
  4. Genre sastra yang dominan pada masa Jepang adalah bentuk puisi, cerpen, dan drama.
  5. Dibandingkan dengan corak sastra sebelumnya yang umumnya masih bersifat romantik-idealisme, sastra masa Jepang lebih bersifat realistis (romantik-realistis).

Adapun beberapa pengarang pada masa Jepang yaitu :

  1. Rosihan Anwar, sastrawan ini masuk pengarang pada masa Jepang dengan beberapa karyanya diantaranya cerpen Radio Masyarakat, puisi Seruan Lepas, Lahir dengan Batin, Untuk Saudara, Bertanya, Damba, Kisah di Waktu Pagi, Lukisan, danManusia Baru.
  2. Usman Ismail, ia adalah seorang pengarang drama yang sangat terkenal di masa Jepang. Beberapa drama yang telah berhasil ditulisnya adalah Api, Citra, dan Melati. Sedangkan dramanya yang pernah dipentaskan adalah Liburan Seniman.
  3. Amal Hamzah, ia merupakan pengarang yang mulai menulis di masa Jepang, dan termasuk pengarang yang pada mulanya percaya akan janji-janji Jepang, walaupun pada akhirnya ia mengalami banyak kekecewaan. Karya-karyanya antara lain buku Pembebasan Pertama, cerpen Bingkai Retak, dan Teropong, dan juga kumulan puisi seperti Gita Cinta, Kenangan Kasih, Topan, dan Sine Nomine.
  4. El Hakim, nama aslinya adalah Abu Hanifah, kakak dari Umar Ismail. Ia juga merupakan pengarang yang terkenal di masa Jepang. Karyanya di antaranya adalah kumpulan drama berjudul Taufan di Atas Asia yang terdiri dari empat lakon, drama Rogaya, dan Mambang Laut, serta novel Dokter Rimbu dan sebuah buku berjudul Rintisan Filsafat.
  5. Chairil Anwar, merupakan penyair yang muncul di masa Jepang yang membawa pembaharuan di bidang puisi modern. Puisi yang diciptakannya bersifat revolusioner baik bentuk maupun isinya.  Puisi-puisinya sangat terkenal diantaranya Nisan, Aku, dan Siap Sedia. Sedangkan karangannya yang berupa prosa asli yaitu Pidato Chairil Anwar tahun 1943, dan Berhadapan Mata.
  6. Idrus, ia membawa corak baru dalam bidang prosa, ia memperkenalkan gaya kesederhanaan baru berupa penggunaan kalimat yang pendek-pendek, padat bernas, dan memiliki asosiasi yang luas. Beberapa karangan yang berhasil diciptakan Idrus di masa Jepang dan masa sesudah Proklamasi Kemerdekaan diantaranya cerpen Ave Maria, drama Kejahatan Membalas Dendam, novel Jalan Lain ke Roma, dan beberapa sketsa diantaranya berjudul Kota Harmoni, Jawa Baru, dan Heiho.
  7. Bung Usman, puisi-puisinya banyak dimuat dalam antologi Kesusastraan Indonesia di masa Jepang. Puisi-puisinya umumnyaa bersifat sinis, mengejek masyarakat sekelilingnya namun, kesan puitis pada puisinya tidak didapatkan. Nadanya mendatar dan kering dari irama dan persajakan. Puisinya yang berhasil ditulisnya berjudul Hendak Tinggi, dan Hendak jadi “Orang Besar”???

Ada penyair-penyair lain di masa Jepang ialah M. S. Ashar, B.H. Lubis, Nursyasu, Maria Amin, Anas, Makruf, dan lain-lain. Sedangkan pengarang-pengarang prosa yang lain adalah Bakti Siregar dengan kumpulan cerpennya yang berjudul Jejak Langkah, Karim Hakim dengan novel Palawija, dan Nur Sutan Iskandar dengan novelnya yang berjudul Cinta Tanah Air. 

Demikian artikel singkat tentang Sastra Indonesia di Masa Jepang yang dapat kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan bagi semuanya.

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply