Sajak Ladang Jagung Taufiq Ismail

Artikel, Sastra 0
Sajak Ladang Jagung Taufiq Ismail

Sajak Ladang Jagung Taufiq Ismail

Sajak Ladang Jagung Taufiq Ismail – Buku kumpulan Sajak Ladang JagungTaufiq Ismail cetakan kedua 2013 ini terdiri dari 80 halaman yang diterbitkan oleh PT. Dunia Pustaka Jaya. Pertama kali diterbitkan oleh Budaja Djaja Dewan Kesenian Jakarta, Juni 1973.

Buku kumpulan sajak ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pertama berisi tujuh (7) puisi, bagian kedua berisi sebelas (11) puisi, dan bagian ketiga berisi sembilan belas (19) puisi. Jadi secara keseluruhan Sajak Ladang JagungTaufiq Ismailterdiri dari tiga puluh tujuh puisi.

Di bawah ini adalah sajak-sajak Taufiq Ismail dalam Sajak Ladang Jagung :

BUKU PERTAMA

 JANUARI 1949

 

Butiran logam membunuh saudaraku

Dirabanya pinggangnya

Ketika dia rubuh

 

Sejemput dendam meluluh hatiku

Di mana kuburnya

Semakin jauh

 

Luka-lukamu

Luka bumi kita

Luka langit yang rapuh

 

Rumpun-rumpun bambu

Dan lereng akasia

Tempatmu berteduh

 

Matanya trembesi

Ngembara di padang lalang

Direnggutkan ke bumi

Dengan tujuh letusan

1956

 

TURUN MALAM

 

Sebuah lembah di depan, sungai menggeliat di perutnya

Di tepi hutan pinus sejenak kita istirahat

Ialah biru yang sepotong, awan menggumpal berkejaran

Gunung benteng terakhir mendukung senja

 

Matahari terbakar dalam api yang sepi

Garis-garis angin mengucapkan selamat malam

Ke tengah kami tiga regu infanteri

Dalam derap bening akan memasuki lembah

 

Ada bintang mulai kemerlap membisik cahaya

Sebuah kota di bawah kabut yang jauh

Gunung-gunung bergetar panji malam semakin jelaga

Mengibarkan tangan angin pada dahanan meluruh

 

Seorang perlahan menyanyikan lagu republik

Bersandar di cemara, laras senjata menunjuk langit

Memicingka mata serta bahu memar mengembara

Rimba akasia di pucuk paling biru

 

Kutepuk kini pundakmu, bukit benteng setia

Sehabis di punggungmu kami sembahyang dalam doa

Ialah langkah merayap malam penyergapan

Ketika sebutir bintang gemerlap membisik cahaya.

1963

 

SETASIUN TUGU

 

Tahun empatpuluh tujuh, suatu malam di bulan Mei

Ketika kota menderai dalam gerimis yang renyai

Di tiang barat lentera merah mengerjap dalam basah

Menunggu perlahan naiknya tanda penghabisan

 

Kleneng andong terputus di jalan berlinangan

Suram ruang setasiun, beranda dan tempat menunggu

Truk menderu dan laskar berlagu lagu perjuangan

Di Tugu seorang ibu menunggu, dua anak dipangku

 

Berhentikan waktu di setasiun Tugu, malam ini

Di suatu malam yang renyai, tahun empatpuluh tujuh

Para penjemput kereta ke Jakarta yang penghabisan

Hujanpu aneh di bulan Mei, tak kunjung teduh

 

Di tiang barat lentera mengerjap dalam basah

Anak perempuan itu dua tahun, melekap dalam pangkuan

Malam makin lembab, kuning gemetar lampu setasiun

Kakaknya masih menyanyi ‘Satu Tujuh Delapan Tahun’

 

Udara telah larut ketika tanda naik pelan-pelan

Seluruh penjemput sama tegak, memandang ke arah barat

Ibu muda menjagakan anaknya yang kantuk dalam lena

Berkata: lambaikan tanganmu dan panggillah bapa

 

Wahai ibu muda, seharian atap-atap kota untukmu berbasah!

Karena kezaliman militer pagi tadi terjadi di Klender

Seluruh republik menundukkan kepala, nestapa dan resah

Uap ungu berdesir menyeret gerbong jenazah terakhir.

1963

 

PENGKHIANATAN

 

Siapa lagi sekarang akan ditangkap. Menanti

Mungkin sebentar lagi mereka akan datang mengetuk pintuk

Mendorong masuk dan menjerembabkan nasib

Di ambang waktu. Dengan berbagai tuduhan

Barangkali agen mereka ada di antara kita

Dengan pestol Browning di pinggir dalam

Kita tak pernah pasti tahu

Mengapa engkau pucat sekali

Intip cermin di atas lemari

Di luar angin pepohonan damar masih berseru

Atau jip-kah itu yang menderu?

Cek sekali lagi: sudahkah semua dokumen dibakar

Bersihkan sisa abu di lubang kloset

Granat dan sten di dinding-papan

Hapalkan nama-nama palsu kalian

Sudjono! Hentikan goyangan kakimu

Merokoklah. Merokoklah di kolong, kalau tak tahan

Udara terlalu pekap di sini, dalam temaram

Kita makin berpeluh tapi jari kenapa menggigil

Udara panas bergetah dengan bau ikan sardin

Seorang bangkit pelan, mengintip di balik gorden

 

Tiba-tiba aku berteriak, melolong-lolong

Tjok dan Momo menerkamku tak berbunyi

Dan menyumbat mulutku

Aku berontak, lepas dalam geliat liar

Tapi badan mereka bagai sapi Bali

Lenganku dikunci mereka ke punggung. Badanku

Dibengkok-busurkan

Keluh serak dari mulutku

‘Lepaskan dia. Dan kau diam’

Kata Budi

‘Kau terlalu tegang’

Diapun menuding ke sudut kamar

Aku terhuyung ke sana, dua langkah

Dan tiga langkah surut kembali

Dalam gerakan terpincang, kataku serak:

‘Budi, aku telah berkhianat’

 

Seluruh kamar tegang dan pekat

Halilintar meledak dalam ruangan

Mata mereka nanap, duka perjuangan semakin berat

Angin pepohonan damar menebas tajam bagai kelewang

 

‘Budi, aku sudah berkhianat’

Aku melihat berkeliling. Mereka diam aneh

Lenganku mulai mengulur, lalu bergantungan

Dengan gelisah aku berputar melihat kawan-kawan

Mataku merah dan liar srigala

Meneriakkan ‘Aku pengkhianat!’

Dan aku tersedu, tertengkurep di tengah kamar

 

Mereka semua diam. Sudjono mematikan rokoknya

Aku menangis seperti anak lima tahun

Yang kehilangan baling-baling kertasnya

‘Tembaklah aku. Mereka sudah tahu semuanya

Sebentar lagi mereka datang

Aku tak tahan Budi, tembaklah aku di sini’

 

Budi memberi tanda. Senjata-senjata dibongkar dari dinding

Dengan perkasa mereka siap berangkat dalam formasi rahasia

Mereka akan menyelinap lewat gang belakang

Sepanjang urat-urat kota memperjuangkan kemerdekaan

Di sela rapatnya rumah-rumaah, meneruskan gerakan di

bawah tanah

Budi melucuti belatiku dan pada Momo memberi perintah

Menggamit Tjok dan Maliki dengan tangan perunggu

Perlahan yang lain berangkat satu-satu

Setiap orang memerlukan menoleh padaku sebentar

Di lantai, aku menekuri jubin sebuah meja

Dan Momo yang akan menjalankan perintah komandan

Berdiri dengan belatiku telanjang di tangan.

1963

 

BUKU TAMU MUSIUM PERJUANGAN   

 

Pada tahun keenam

Setelah di kota kami didirikan

Sebuah musium perjuangan

Datanglah seorang lelaki setengah baya

Berkunjung dari luar kota

Pada sore bulan Nopember berhujan

Dan menulis kesannya di buku tamu

Buku tahun keenam, halaman seratus delapan

 

‘Bertahun-tahun aku rindu

Untuk berkunjung ke mari

Dari tempatku jauh sekali

Bukan sekedar mengenang kembali

Hari tembak-menembak dan dalam penyergapan

Di daerah ini

Bukan sekedar menatap lukisan-lukisan

Dan potret para pahlawan

Mengusap-usap karaben tua

Baby mortir buatan sendiri

Atau menhitung-hitung satyalencana

Dan selalu mepercakapkannya

 

Alangkah sukarnya bagiku

Dari tempatku kini, yang begitu jauh

Untuk datang seperti saat ini

Dengan jasad berbasah-basah

Dalam gerimis bulan Nopember

Datang sore ini, menghayati musium yang lengang

Sendiri

Menghidupkan diriku kembali

Dalam pikiran-pikiran waktu gerilya

Di waktu kebebasan adalah mimpi keabadian

Dan belum terpikir oleh kita masalah kebendaan

Penggelapan dan salahguna pengatas-namaan

 

Begitulah aku berjalan pelan-pelan

Dalam musium ini yang lengang

Dari lemari kaca tempat naskah-naskah berharga

Ke sangkutan ikat kepala, sangkur-sangkur berbendera

Maket pertempuran dan penyergapan di jalan

Kuraba mitraliur Jepang dari baja hitam

Jajaran bisu pestol Bulldog, pestol Colt

PENGOEMOEMAN REPOEBLIK yang mulai berdebu

Gambar laskar yang kurus-kurus

Dan kuberi tabik khidmat dan diam

Pada gambar Pak Dirman

 

Mendekati tangga turun, aku menoleh kembali

Ke ruang yang sepi dan dalam

Jendela musium dipukul angin dan hujan

Kain pintu dan tingkap bergetaran

Di pucuk-pucuk cemara halaman

Tahun demi tahun mengalir pelan-pelan

Di depan tugu dalam musium ini

Menjelang pintu keluar di tingkat bawah

Aku berdiri dan menatap nama-nama

Dipahat di sana dalam keping-keping alumunia

Mereka yang telah tewas

Dalam perang kemerdekaan

Dan setinggi pundak jendela

Kubaca namaku di sana …

 

GUGUR DALAM PENCEGATAN

TAHUN EMPATPULUH-DELAPAN

***

Demikianlah cerita kakek penjaga

Tentang pengunjung lelaki setengah baya

Berkemeja dril lusuh, dari luar kota

Matanya memandang jauh, tubuh amat kurusnya

Datang ke musium perjuangan

Pada suatu sore yang sepi

Ketika hujan rinai tetes-tetes di jendela

Dan angin mengibarkan tirai serta pucuk-pucuk cemara

Lelaki itu menulis kesannya di buku tamu

Buku tahun keenam halaman seratus delapan

Dan sebelum dia pergi

Menyalami dulu kakek Aki

Dengan tangannya yang dingin aneh

Setelah ke tugu nama-nama dia menoleh

Lalu keluarlah dia, agak terseret berjalan

Ke tengah gerimis di pekarangan

Tetapi sebelum pagar halaman

Lelaki itu tiba-tiba menghilang.

1964

 

TENTANG SERSAN NURCHOLIS

 

Seorang sersan

Kakinya hilang

Sepuluh tahun yang lalu

 

Setiap siang

Terdengar siulnya

Di bengkel arloji

 

Sekali datang

Teman-temannya

Sudah orang resmi

 

Dengan senyum ditolaknya

Kartu-anggota

Bekas pejuang

 

Sersan Nurcholis

Kakinya hilang

Di zaman revolusi

 

Setiap siang

Terdengar siulnya

Di bengkel arloji

1958

 

1946: LARUT MALAM

SUARA SEBUAH TRUK

 

Sebuah truk laskar menderu

Masuk kota Salatiga

Mereka menyanyikan lagu

‘Sudah Bebas Negeri Kita’

 

Di jalan Tuntang seorang anak kecil

Empat tahun, terjaga:

‘Ibu, akan pulangkah bapa,

Dan membawakan pestol buat saya?’

1963

BUKU KEDUA

 

GERIMIS PUTIH

 

Malam Oktober yang panjang, dan turun perlahan

Merisik dedahanan telanjang serta deru tertahan

Dada bumilah yang putih dan terlembut

Di pucuk-pucuk ranting keristal sama berpagut

 

Malam Oktober yang pucat, pergi perlahan

Pada basah mengambang biru pipi danau

Bumi yang terlentang malas, pesolek berpupur salju

Lidah logam berdentangan jauh lonceng gereja

 

Dan lengkung langit mengucurkan gerimis putih

Perbukitan tepekur, di lerengnya deretan pohon pina

Tiupan angin ‘tak lagi tajam tapi lembut menyuara

Seperti Emilie tak akan pergi. Seperti dada tak akan pedih

Lengkung langit yang mengucurkan gerimis putih

1956

 

DI TELUK IKAN PUTIH

 

Di Teluk Ikan Putih, telah terjangkar jasmaniku di pelabuhannya

Pada kapal-kapal yang masuk dan tertambat sehari-hari

Anak-anak camar bertebar atas arus melancar

Dan perbukitan dandan perlente pina-pina berduri

 

Di Teluk Ikan Putih menutup siang musim  semi panjang

Pada langitnya keruh asap, bayang bangunan dan baja

Di perut kota bangkitlah malam sambil melenggang

Dan dermaganya hening lelap, berlelehan keristal kaca

 

Selamat jalan, mala-malam putih berhujan kapas

Lewati perarairan alim dengan pipinya dingin

Masih ada yang berlinangan di sela gugusan karang

Ngenangkan musim mengandung belati dalam angin

Jabatlah teluk kami, persinggahan di tahun datang.

1957

 

BUNGA ALANG-ALANG

 

Bunga alang-alang

Di tebing kemarau

Menggelombang

 

Mengantar

Bisik cemara

Dalam getar

 

Di jalan setapak

Engkau berjalan

Sendiri

 

Ketika pepohon damar

Menjajari

Bintang pagi

 

Sesudah topan

Membarut

Warna jingga

 

Dan seribu kalong

Bergayut

Di puncak randu

 

Di bawah bungur

Kaupungut

Bunga rindu

 

Sementara awan

Menyapu-nyapu

Flamboyan

 

Kemarau pun

Berangkat

Dengan kaki tergesa

 

Dalam angin

Yang menerbangkan

Serbuk bunga.

1963

 

KABUT DALAM HUJAN JANUARI

 

Saat angin dan kabut Januari

Berkejaran di atas atap-atap kota

Serasa murid-muridku untukku bernyanyi

‘Hari Ini Nestapa Menyapa’

 

Adakah dingin dalam bunyi senja

Yang bernapas pelan dalam gugur dedaunan

Sampai padamu dalam warna-warna serupa

Dan menyuarakan angin yang gemetaran

 

Di sini aku duduk, jendela kabut berjalin dingin

Bunga di luar musimnya ungu mengangguk-angguk

Kujamah hati kamar ini dan merasa sangat ingin

Berkata, di sini kau mestinya merenda duduk

 

Dan deru di langit yang tak lagi biru

Berdenyar-denyar dalam gugusan badai

Adakah itu yang kauberi nama rindu

Berpijar-pijar namun tak sempat sampai

 

Adalah jalanan yang masuk dalam malam

Bertebaran serta basah daun berjuta

Naps kabut antara desah pohonan

Menyapaku lengang lewat jendela.

1964

 

KAFETARIA SABTU PAGI

 

Menu kafetaria Sabtu pagi :

 

Sepi

 

Aku duduk dan minta segelas air es

Dalam hatiku namamu, dan kau tak ada

Orang-orang berbincang dan ketawa

Sebuah dunia oleng dalam kafe ini

Matahari jauh, suara-suara kendaraan riuh

Sebuah dunia oleng dalam sepi

Akupun berdiri, menghadap pergi

Ada tiada, seperti terpandang jua

Ketika di luar memancar

Matahari pagi

 

Bulan

Mei

1966

 

ADAKAH SUARA CEMARA

 

Ati

 

Adakah suara cemara

Mendesing menderu padamu

Adakah melintas sepintas

Gemersik daunan lepas

 

Deretan bukit-bukit biru

Menyeru lagu itu

Gugusan mega

Ialah hiasan kencana

 

Adakah suara cemara

Mendesing menderu padamu

Adakah lautan ladang jagung

Mengombakkan suara itu.

1972

 

MALAM SEBELUM BADAI

 

Serangga tidak berbunyi pada musim air membeku

dahan-dahan telanjang hitam permukaan sungai pecah

tajam itik-itik sore hari berenang di antara gugus-

gugus putih suaranya riang namun aneh berkabutlah

pohon-pohon taman pohon-pohon hutan apabila kapas

terperinci bagai debu putih berlayangan dari atas

yang tak jelas batas angin memutar ladang-ladang

jagung pada ujung-ujung atap tetes air mendapat

nyawa kristal bergelantungan malam meniupkan sunyi

berat menekan batang-batang cemara membagi warna

warna putih pada semua permukaan yang ada cahaya

bangun pudar dalam sgi-segi empat di atas bukit

kecil menyusun pesan bisu di manakah tupai-tupai

itu serangga-serangga itu burung-burung flamingo

bersayap merah muda angsa-angsa berenang rata di

rawa-rawadengarlah badai mulai membisik dari jauh

mengirimkan sejuta jarum-jarum dingin lewat udara

padang-padang utara rata lewat menara-menara kantor

cuaca sedikit merah gemerlap saat ini mesin-mesin

tak berbunyi kotak-kotak piringan tidak bernyanyi

kelepak sayap unggas-unggas utara sudah lama silam

cakrawala terbenam bumi menyembunyikan sunyi pepohonan

menggumam sunyi dengar badai mulai bersiul dari

jauh memutar padang-padang jagung rata apakah bunyi

badai adakah badai berbunyi sepanjang ladang-ladang

gandum yang jerami sungai putih membayang langit

hilang udara mengental uap kristal cuaca lenyap

cahaya dengarlah badai jauh membisik mengirimkan

sejuta jarum-jarum alit dan dingin lewat padang-

padang dan ladang-ladang membentang.

1972

 

PANTUN TERANG BULAN DI MIDWEST

 

Sebuah bulan sempurna

Bersinar agak merah

Lingkarannya di sana

Awan menggaris bawah

 

Sungai Mississipi

Lebar dan keruh

Bunyi-bunyi sepi

Amat gemuruh

 

Ladang-ladang jagung

Rawa-rawa dukana

Serangga mendengung

Sampaikan suara

 

Cuaca musim gugur

Bukit membisu

Asap yang hancur

Biru abu-abu

 

Danau yang di sana

Seribu burung belibis

Lereng pohon pina

Angin pun gerimis

1971

 

LAGU UNGGAS LAGU IKAN

 

Katak rawa-rawa

Menyanyi sendiri

Pii

Wii

Serangga pepohonan

Daun bermerahan

 

Angsa menggelepar

Dan bernyanyi

Pii

Wii

Ikan danau jauh

Jerami yang luruh

 

Langit mengental

Paya-paya kristal

 

Unggas sembunyi

Hutan pun mati

Bunyi yang sunyi

 

Pii

Wii

1971

 

BULAN

 

Bulan pu merah

Dan tersangkut

Pada rimba musim gugur

 

Sungai pun lelah

Dan mengangkut

Daun-daun bertabur

 

Padang-padang jagung

Serangga mendesing

Baling-baling

Berpusing

 

Lembu mengibas-ngibaskan

Ekornya

Jerami

Terpelanting

 

Bulan merah

Tersangkut

Ke bawa rimba

Musim gugur.

1972

 

DOA SI KECIL

 

Tuhan Yang Maha Kaya

Beri mama kasur tebal di surga

 

Tuhan Yang Pemurah

Belikan ayah pipa yang indah

 

Amin.

1963

 

BUKU KETIGA

 

MESSINA GIBRALTAR

 

Rindu pun karena ujung dua benua

Mengeras di julang perbuatan karang

 

Dendam pun karena biru lekuk Lisboa

Di dada mengenang serasa berlinang.

1958

 

TAMAN DI TENGAH PULAU KARANG

 

Di tengah Manhattan menjelang musim gugur

Dalam kepungan rimba baja, pucuknya dalam awan

Engkau terlalu bersendiri dengan danau kecilmu

Dan perlahan melepas hijau daunan

 

Bebangku panjang dan hitam, lusuh dan retak

Seorang lelaki tua duduk menyebar

Remah roti. Sementara itu berkelepak

Burung-burung merpati

 

Di lingir Manhattan bergelegar pengorek karang

Merpatipun kaget beterbangan

Suara mekanik dan racun rimba baja

menjajarkan pohon-pohon duka

 

Musim panas terengah melepas napas

Pepohonan meratapinya dengan segeletar ranting

Orang tua itu berkemas dan tersaruk pergi

Badai pun memutar daunan dalam kerucut

Makin meninggi.

1963

 

SEORANG KULI TUA DI SETASIUN YOKOHAMA

 

Seorang kuli tua di setasiun Yokohama

Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota

Berdiri agak terbungkuk di depan peron

Handuk kecil di lehernya

 

Beratus penumpang turun sepanjang ruangan

Menari dalam kilau jendela kereta

Ia pun menjamah koporku setelah menatapku

Agak lama

 

Hari itu musimpanas di bulan Agustus

Udara sangat lembap dan angin tak bertiup

Menyeka dahi ditolaknya lembaran uang

‘Aku dulu di Semarang’

 

Dengan hormat diucapkannya selamat jalan

Iapun kembali ke setasiun terbata-bata

Berkaus dan bersepatu putih

Tiba-tiba wajahnya sangat tua

 

Di kapal kenapa kuingat kakak sepupuku

Opsir Peta di Jatingaleh berlucut senjata

Terbunuh dalam pertempuran lima hari

Duabelas tahun yang lalu

 

Hari itu musimpanas di bulan Agustus

Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota

Seorang kuli di setasiun Yokohama

Tiba-tiba wajahnya sangat tua.

1963

 

PELABUHAN SEBELUM PASANG

 

Jika kau bertanya, kesepian, maka lautlah jawabanku

Jika kau menyapa, kesedihan, maka topanlah ujarku

Pelayaran panjang yang mengantarkan kita

Dalam gelombang benua

 

Di kuala perariran, ketika malam sangat muda

Lentera tiang palka, di ruang makan dan buritan

Gemetaran dalam garis putus-putus di pelabuhan

Anak arus yang naik dan turun perlahan

 

Menjelang pelayaran bila badai berbadai

Bercurahan bintang di langit bersemu biru

Gemulung mendung yang menyarankan napas gelombang

Guruh lagumu, wahai pelayaran yang panjang!

 

Kalau kau bertanya, tiga pluit di tiap pelabuhan

Setiap kita bertolak kembali mengemas jangkar tali-temali

Adalah jurang-jurang lautan dengan kandil bintang selatan

Bertetaplah ngembara untuk pelayaran panjang sekali.

1964

 

JALAN BUKIT BINTANG

 

Ada sesuatu jadi, perlahan tengah jalan

Ada langit. Ada tambang. Ada air. Ada hijauan

Ada leher. Ada cakar

Mata yang sayu memandangmu. Memandangku

Seorang anak tukang sate pukul duabelas malam

Berumur sebelas dan bersepatu abu-abu

Dia memandang malam di luar kafe, dia memandangku

Dia memandangmu

Suara-suara malam metropolitan

Cahaya yang melintas-lintas

Lelaki tua itu, ayahnya, atau pamannya barangkali

Sedang memadamkan bara api

Di depan kafe yang mulai sepi

Ada bayang  di jendela flat bermain

Bayang-bayang hitam, bayang-bayang nyaris ungu

Beberapa garis cahaya natrium

Dan tiga lagu Mandarin

Lelaki itu menyiram bara api

Berdesis

Daun meja kafe dari pualam

Ada sesuatu jadi, perlahan tengah jalan

Ada langit. Ada tambang. Ada air. Ada hijauan

Ada leher. Ada cakar

Bayang berlarian sepanjang pertokoan

Melompat dari jendela ke jendela

Anak tukang sate itu membenahi piring

Bayang-bayang beriring-iring

Anak itu menjulurkan lehernya

Lelaki itu mengais bara api

Yang hangus

Dan nyaris mati

Depan kafe sepi

Di sini.

1967

 

FORTALEZA DE MALACA

 

Ada batu karang, salib hitam di atasnya

Segaris pantai dan ombak yang memburu

Ada bukit, di bawahnya benteng tua

Melintas pohon melaka anginpun menderu

 

Tiada lagi sejarah, mungkin tinggal sidik jari

Sejumlah pertempuran dan sekian nama-nama

Lalu laut lepas, padang-padang rumput membentang

Dan meriam terpasang depan gereja

 

Ada batu karang, salib hitam di atasnya

Segaris pantai dan ombak yang memburu

Ada bukit, benteng tua dalam balada

Melintas pohon melaka anginpun menderu.

1967

 

KERETA MALAM DARATAN ASIA

 

Ada yang memburu-buru di belakang kereta malam Thai Express

Ada yang menembus-nembus di antara jutaan dedaunan

Angin meluncur, mersik gugur, bayang-bayang rawa malam

Serasa bukit-bukit benua

Serasa lewat jendela tua

Dentang-dentang suara

Ada yang meloncat-loncat di bantalan rel kereta malam

Ada yang menggores garis sinar di atas kelam

Cahaya tak terjangkau,

mungkin sebutir bintang yang dilupakan

Ada bulan lepas sabit, tegak lurus atas bukit

Tanah-tanah hitam

Padang-padang lalang

Pagoda-pagoda tua

Siul sunyi

Di sini …

Burung-burung hutan

Bunyi air terjun

Warna-warna yang hilang

Warna-warna yang berlainan

Siapa saling mengejar? Kini?

Suara.

Warna.

Nafas.

Cahaya.

Musim kemarau yang terlampau keras

Telah singgah di setasiun kecil

Tak jauh dari danau. Di barat telik yang menganga

Penjaja yang menerikkan jajanan

Debu september yang naik perlahan

Ketika tiga rahib, berjubah merah muda

melintas di jalanan

Pecahan-pecahan batu cadas

Sebuah sinyal yang letih

Dan bunyi peluit putih

Ada yang menggariskan jalan paralel ini

Malam diturunkan, bintang-bintang dipasang dan

angin jadi dingin

Bulan lepas sabit

Pun terbit

Serasa bulit-bukit benua

Serasa lewat jembatan tua

Tanah lalang

Padang habis terbakar

Dentang-dentang suara

Dan garis cahaya parabola, tipis dan tajam

Mungkin sebutir bintang yang kulupakan

selama ini

Gugus Bimasakti

Lewat jendela kayu jati

Meluncur angin dingin

Ada kesunyian memburu di belakang itu dan

aku merasa

ingin

Menoleh. Tapi adalah kelam jutaan daunan

Serasa mersik gugur

Serasa di atas rawa malam

Menggaris cahaya parabola

tipis dan tajam

Mungkin sebutir bintang yang terlupakan

Selama ini.

1967

 

SEMAK-SEMAK ANTENA

 

Siapa itu mengacungkan tangan ke luar jendela

Tingkat teratas

Atmosfir penuh gelombang

Awan di antara antena

Gelombang elektronik, pita-pita magnetik

Mimpi yang bising

Siapa itu melambaikan tangan di sana

Di antara jarum-jarum antena

Sebuah getaran, baiklah …

Sia-siakah?

Getaran lalu-lintas di bawah

Di sana. Di antara aturan-aturan kepolisian

Di antara gasing karbulator

Udara daerah industri yang kotor

Dalam kerucut asap

Dan perumahan kotak-kotak

Lelaki setengah usia di beranda

Membaca koran sore yang mekanis

Penyiar dengan berita otomatis

Hai! Yang melambaikan tangan itu!

Hai!

1967

 

PANMUNJON, MUSIM PANAS 1970

 

Korea, semenanjung itu, matanya terpejam

silau musim panas

dari matahari

ia membaring, memanjang

pada salahsatu

tulangrusuknya, melintang

dan menggelombang

melintas

bukit

demi                      bukit

yang berumput kering

yang berkawat duri

bagaikan sirip

lumba-lumba

yang berenang

diam-diam

di atas rumputan kering

di atas lautan semak

tidak ada suara

tidak ada lalu lintas tidak ada kanak-kanak

tidak ada gerobak air tidak ada

pemandangan desa

inilah

bukit-bukit yang termasyhur itu

bukit-bukit

kubur

yang ada adalah sepotong perut semenanjung

dan cuaca di antaranya

ternyata tidak dapat kita

menentukan

segal-galanya

di sini sengketa

yang

pernah membakar

sumbu-sumbu logam

dan lalu berpijaran

melompat dari

satu bukit

ke bukit lainnya

telah agak padam dan bersembunyi di antara

rumput-rumput

kering

dan menyelinap di antara

semak-semak

liar

atau bertengger jadi segumpal kanker

pada

sebatang

pohon

kastanye

di

puncak

sebuah

bukit

di sana

dan di belakangnya

adalah sungai

dengan warna air

sedikit keruh

saat ini semua diam

ada juga sesekali

margasatwa berbunyi

ataukah sedikit bernyanyi?

tidak kukenal nama serangga itu

tentunya dia akan keluar dari sarang musim

dinginnya, mengibas-ngibaskan sayapnya yang

bagaikan kertas plastik, mengusap-ngusapkannya

pada kakinya yang beruas-ruas dan mungkin

sekali mengeluarkan bunyi yang aneh

dari gesekan itu atau dari tali tenggorok

mungkin begitu

mereka tentunya

berjuta-juta

di tanah ini

lepas musim semi dan sebelumnya

musim dingin yang kejam, sepatutnya

di bulan Juli ini, pada siang ini

mengeluarkan serempak bunyi

yang bisa amat dasyat

inilah angan-angan yang

tidak sepantasnya terjadi

siang hari

siang ini

karena langit amat bersih

cuaca 80 serta lembab

dan di kawasan tak bertuan ini

jalannya tanah, berdebu sedikit merah

dan bisa mengepul

ketika dua orang anak muda itu

mengenakan jaket tahan peluru

mencoba membunyikan mesin jipnya

sementara di lereng sana

beberapa orang mengawasi

ada yang mencangkung

di gardu demarkasi

tidak kukenal nam-nama mereka

tentunya mereka ketika keluar dari barak-barak musim

dingin, mengibas-ngibaskan lengan dan urat-urat

pinggang yang pegal, mengosok-gosok corong-

corong baja mereka dan mungkin sekali pernah

mengeluarkan bunyi yang aneh itu dari picu-picu

atau tidak seimbangnya komposisi bubuk mesiu

mungkin begitu

mereka tentunya

berpuluh-beratus-ribu

di tanah ini

lepas musim semi, lepas musim dingin yang kejam

dan menjelang musim rontok

di padang lepas berbukit-bukit ini

berpandang-pandangan dalam diam

yang bisa akibatnya jadi amat dasyat

inilah angan-angan yang

tidak sepantasnya terjadi

inilah pilem-pilem tua yang

tidak layak diputar lagi

siang hari

siang hari

sementara langit amat bersih

lembab musim panas yang pengap

di atas sepotong tanah semenanjung

di bawah setangkup langit demarkasi

yang mengawasi bukit-bukit

yang

meng-

ge-

lom-

bang

dan kering

di sana sini sedikit hijau

di semak-semak liar

dengan kuntum-kuntum alit

dan kabut jauh yang agak biru

di sini kesunyian mengenalkan dirinya

dengan suasana sedikit tajam

dan papan-papan penunjuk

yang huruf-hurufnya terlalu persegi

serta hitam, agak luntur

mengenai devisi kedua

tetapi di manakah kawanan

burung-burung itu

yang layaknya beterbangan

dalam formasi atau campur-baur

seperti di khatulistiwa

dan sayap-sayap mereka yang

sebentar nampak sebentar hilang

atau semacam elang

yang mengapung bagaikan menggantung

dalam gerakan yang hampir tanpa gerakan

tetapi di manakah kawanan

itu sekarang

di atas bukit-bukit

di bawah setangkup langit

awan pun tiada

langitpun bagai

baki perak

yang menyilaukan

terlalu polos adanya

lengang ini terasa

tajam

amat

sehabis peperangan udara

dengan unggas-unggas logam

yang bisa

menjerit-jerit garang

dan mencecerkan ledakan

ledakan

luarbiasa

dengan asap

asap

dan kerusakan-kerukan

yang matematis

dan putus-putuslah siklus

biologi ini

karena sirkulasi darah dipotong-

potong, sistem tulang dan saraf

diobrak-abrik, silsilah pohon keluarga

ditebang-tebang, panen biji-bijian

dan buah-buahan dirusak, migrasi burung-burung

jadi kacau, air minum bau kelong-

song dan

air

mata

dan

air

ma-

ta …

tunggal

sebatang

pohon

kastanye

ingat

pada

peluru-peluru

cahaya

dua

puluh

tahun

yang

lalu

1970

 

MUSIM GUGUR TELAH TURUN DI RUSIA

 

Seekor burung raksasa pada suatu malam cuaca mengembangkan

sayapnya yang perkasa mengibas-ngibaskannya gemuruh, dan

lena maka rontoklah bulu beludru di langit tua dan biru gugur

dan gugur melayang dan berbaur.

Musim gugur telah turun di Rusia

Berjuta bintik kapas warna putih angsa pada suatu malam cuaca

naik mengembang bersama dan menggeliatlah dia menggelepar

menyerakkan warna dan aroma

Musim panas melayang di atas Rusia

Dengan malasnya burung itu terbang sayapnya mengibaskan

angin agak dingin daun-daun beriozkajadi berganti warna burung

raksasa tiba di atas kutub utara dia berkaca sekilas di laut terus

melayang ke bagian bumi yang lain seraya membagi-bagikan

angin yang agak dingin

Musim gugur talah turun di Rusia

1970

 

 

SAPI DAGING PETERNAKAN BRENTON

 

Inilah pabrik daging yang hidup

Inilah sebuah sistim

Matahari musim rontok bersinar

Tanahnya landai, lupurnya subur

Duaratus meter persegi tai sapi

dalam satu dengkul

Mata rantai produksi kali ini

Adalah kandang-kandangg sapi daging

Peternakan Brenton

 

Dua ribu sapi menguak sekali gus

Dalam persatuan yang mengharukan

Suara mereka adalah

Ilustrasi padang-padang jagung

Tanah yang landai

Lumpur yang subur

Tangki air sembilan ribu galon

Kamar pengaduk makanan

Timbangan 5000 kilo

Kantor catatan kelahiran

buku hitung dagang

Dan bau serbuk manis

Melayang bersama

Tepung jagung

Hinggap pada suara

Dua ribu sapi menguak sekali gus

Dalam persatuan yang mengharukan

Matahari bersinar miring

Masuk celah peredaran udara

Klinik sapi

Hai!

Para pasien leptospira dan diarrea

Si gemuk ternak penjara

Iowa Beef Packerakan memperinci kalian

Lewatpenjagalan

Perusahaan pengalengan

Industri ke seluruh negeri

Dan adpertensi penuh fantasi!

 

Dua ribu sapi menguak sekali gus

Dalam persatuan yang mengharukan

Suara mereka adalah

Ilustrasi padang-padang jagung

Tanah yang landai

lumpur yang subur

Bau sirup yang manis

Debu tepung jagung

Inilah pabrik daging yang hidup

Inilah sebuah sistim

Matahri musim rontok bersinar

Di atap kandang-kandang

Peternakan sapi daging

Kepunyaan Brenton.

1971

 

BOLA BERGULING DI BAWAH PANAS MATAHARI            

 

Di antara orang-orang baik hati duduk pencopet

dalam kendaraan ini

Agama telah dijadikan bus tua

Yang mencari penumpang sebanyak-banyaknya

Bus berjalan. Debu berkibar

Pada suatu sore orang melempar senjata ke tengah jalan

Dan ada lagu mars Pemadam Kebakaran

Bola berguling di bawah panas matahari

Perncitaan adalah nasib yan aneh

Hutan jati ketika rontok daun

Dekat pantai lagi surut

Kanak-kanak main berkejaran

Bola berguling di bawah panas matahari

Bus jalan. Lewat jaringan lalu lintas

Pada suatu pagi aku memejam

Teluk San Francisco, Laut Jawa dan Mediterania

Kemudian sebuah lepau nasi

Orang tua baru selesai dengan mangkuk kahwanya

Di jalan, pergi, hari masih agak pagi

Di atas ada hutan pina

Sawah biasa, ladang lobak dan kebun tebu

Tempat berburu babi

Bola berguling di bawah panas matahari

Medan magnit sepanjang rek kereta api

Bintang terhampar di tempayan langit

Bagai sulaman bintik-bintik cahaya

Atas Padang Giring Giring, atas St. Peterburg lena

Bus jalan. Seorang kanak bercelana pendek

Membawa album hitam

Di tepi jalan kota kecil

Ke muara pelabuhan

Bola berguling di bawah panas matahari

Bus jalan. Banyak debu di warung orang Vietnam

Dan Bur mengangkat gelasnya

Pada sore Savannakhet yang sedikit aneh

Kejutan tangis, dan kauacungkan tinju

Pada matahari

Yang pijar

Hidupku serasa bergolek di atas sutera Siam

Seraya menulis sajak-sajak percuma

Bila mengingatmu

Bola berguling di bawah panas matahari

Alabama, Alabama

Bunyikan lagu biru yang agak ngilu

Duka yang terpental-pental

Alabama

Bus jalan. Chicago muntah

Dan menyiarkan lumpur salju yang hitam

Sebuah kuburan mobil memanggil-manggil

Mengembuskan asam karbon tanpa warna

Dan Malcolm X menudingkan telunjuknya

Bola berguling di bawah panas matahari

Adalah percuma

Menjahit padang pasir

Dengan menara-menara tambang minyak

Bola berguling di bawah panas matahari

Dan kepala Joseph Richard Smith

Maharesi 14 tahun itu berkata:

‘Teruskanlah kalimat ini, Joe :

Jiwamu termaktub dalam iklan-iklan

Lalu …

Dan berkatalah Joe Smith:

‘Jiwaku termaktub dalam iklan-iklan

Dan iklan-iklanku tanpa jiwa’

Bola berguling di bawah panas matahari

Alabama, Alabama

Bunyikan lagu biru yang ngilu

Duka hitam terpental-pental

Alabama

Bola berguling di bawah panas matahari

Bus jalan. Debu berkibar

Dekat pangkalan pedati

Anak itu menendang sedikit keras

Dan bola berguling

Di bawah panas

Matahari.

1972

 

TREM BERKLENENGAN DI KOTA SAN FRANCISCO

 

Pagimu yang cerah. San Francisco, sampai padaku di atas bukit

itu, lautmu bagai bubur agar-agar, uap air di langitmu mence-

cerkan serbuk kabut seperti tepung nilon dan terjela-jela sepan-

jang jembatan raksasamu tepat seperti kartu pos bergambar yang

pernah kubeli di kedai Hindustan duapuluh empat tahun yang

silam di Geylang Road ketika aku masih bercelana pendek dan

asyik menghafalkan nama-nama hebat dengan huruf-huruf c, v

x dan y pada pelajaran ilmu bumi di Sekolah Rakyat partikelir.

 

Matahari terlalu gembira menyinari bukit-bukitmu. Bukit-bukit

yang ditumbuhi rumah-rumah Eropah, Meksiko, Habsyi dan

Cina, bercat putih beratap merah tua dengan bunga-bungaan

yang mekar karena persekutuan akrab dengan musim semi bagai

tak kunjung habisnya. Debu segan padamu. Kotoran mekanika

dan asam arang kauserahkan sepenuhnya pada Los Angeles si

buruk muka. Dia cemburu padamu.

 

Pasar buah dan rempah-rempah. Trem berklenengan dan melun-

cur gila pada penurunan bukit-bukit sama-kaki yang sempit.

Sebuah peti cat meledak di udara dan warna-warna pun dibagi-

bagi pada deretan bangunan didnding trem kota, tulang jembatan,

atap, pintu dan jendela. Angin mengeringkannya dan mengaduk-

nya dengan aroma daun-daun perladangan jeruk serta uap perair-

an dermaga lalu dikibas-kibaskan oleh sayap kawanan burung

camar mengatasi muara lautan.

 

Percintaan bulan dengan lekuk-lekuk tubuhmu semacam percin-

taan anak-anak muda yang garang kemudian dilukiskan oleh

pelukis-pelukis kubistis. Emas yang diburu-buru abad yang lalu

dilambangkan dalam cahaya natrium, amat geometris, lewat ting-

kap-tingkap dan pipa-pipa kaca, simetris dan tidak simetris.

Kapal-kapal angkat jangkar.

 

Di ujung meja panjang terbuat dari kayu mahoni pada suatu bar

dekat Market Street seorang tua berambut putih berkumis putih

berjanggut putih duduk di atas kursi plastik yang bentuknya

seperti bom waktu. “Aku tidak dengan Amerika menyanyi lagi”

ujarnya. Pelayan bar memberinya segelas bir.

 

Amerika tidak menyanyi lagi.

Amerika mengerang.

 

Di atas bar kayu mahoni berlapis formika hampir biru muda,

padang-padang Texas dilipat ke tengah, New York berhamburan

ke dalam Grand Canyon, Niagara mengental, California

tergulung-gulung. Walt Whitman memeras Amerika bagai sehelai

karbon bekas, dan si tua itu menuangkan bir Milwaukee berbusa

ke atasnya.

 

Amerika mengeluarkan bunyi kerupuk kentang kering

Yang dikunyah lambat-lambat

 

Camar-camar teluk San Francisco melayang di atas kedai-kedai

bunga tulipa, menelisik jaringan kawat trm-trem yang

berklenengan dan buang air tepat di atas kantoe asuransi.

Selamat jalan c

Selamat jalan v

Selamat jalan x

Selamat jalan y

Selamat jalan.

1972

 

PEPATAH PETITIH BARU

 

Mata

Gajah di seberang lautan tak tampak

Kuman di pelupuk mata juga tak tampak

 

Humas

 

Menepuk air di dulang

Terpercik ke muka sendiri

Kemudian dilap dengan press release

 

                Ekonomi

Sesal dahulu pendapatan

Sesal kemudian pengeluaran

 

Pendidikan

 

Guru kencing berdiri

Murid mengencingi guru

 

                Hujan

 

Air hujan turunnya ke cucuran atap

Kalau banjir atapnya yang turun ke air

 

                Nasionalisme

 

Hujan batu di negeri orang

Hujan emas di negeri sendiri

Lebih enak di negeri sendiri

 

                Penderitaan

 

Berakit-rakit ke hulu

Berenang-renang ke tepian

Bersakit-sakit dahulu

Bersakit-sakit berkepanjangan

 

                PBB

 

Duduk sama rendah

Berdiri lain-lain tingginya

 

                Gunung Api

 

Maksud hati memeluk gunung

Apa daya gunungnya meletus

 

                Pers

 

Buruk muka pers dibelah

                                                                1972

 

BAGAIMANA KALAU

 

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam, tapi buah

alpukat

 

Bagaimana kalau bumi bukan bulat, tapi segi empat

 

Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah, dan kepada Koes Plus

kita beri mandat

 

Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi, dan ibukota Indonesia

Monaco

 

Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas, salju turun di Gunung

Sahari

 

Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin

dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop

 

Bagimana kalau hutang-hutang Indonesia dibayar dengan pementasan

Rendra

 

Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi, dan segala yang

terjadi pernah kita rancangkan

 

Bagaimana kalau akustik dunia jadi demikian sepenuhnya sehingga

di kamar tidur kau sampai debu bom Vietnam, gemersik

sejuta kaki pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi

serta suara-suara percintaan anak muda, juga bunyi industri

presisi dan margasatwa Afrika

 

Bagaiman kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil

mempertimbangkan protes itu

 

Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan

kita pelihara ternak sebagai pengganti

 

Bagaimana kalau sampai waktunya kita tidak perlu bertanya

bagaimana lagi.

1971

 

ENGKAUKAH ITU, YANG BERDIRI

DI TIKUNGAN ITU

 

Pada saat penyebrangan sesudah makan siang, lepas pantai

Gilimanuk, kulihat kau bersandar di sana sepuluh

tahun yang silam, pohon-pohon palma di belakangmu

 

Ada suatu saat di Margomulyo, sehabis sore Yogya dengan kuku

burung balam mengantar malam, awan dan cahaya

sama tenggelam

 

Berlayar di lautan Jawa dan Hindia, panggilan peluit uap

cerobong asap dan lemparan tali sisal, tak sampai

mencapai pantai

 

Berdiri di pojok lapangan Banteng sebelum ada terminal, engkau

melintas sepintas serasa tidak aku kaukenal, kemudian

kita naik oplet tua Willys tahun lima dua

 

Engkaukah itu depan warung desa Ayuthya, di pojok Metro

Trocadero, di antara rak-rak buku Atheneo, di

kampus pedalaman Indonesia yang bentuknya seperti

gudang-gudang sedeerhana

 

Aku mencatatnya semua dan melupakannya semua, ketika makan

masakan Szechwan yang lezat citrarasanya atau ketika

bersama misi militer, berdiri memandang padang-padang

perbatasan negara yang dibagi dua, selatan dan utara

 

Para pengemis Colombo, Weleri, Marble Arc Underground,

depan museum Tashkent, Ginza, pasar Senen Lama,

Fifth Avenue, kalian semua membikin hatiku ngilu,

tapi sekaligus menyindirku, bahwa sebenarnya daku

juga pengemis kehidupan, dalam ukuran tertentu

Aku mencatatmu dan mencoba melupakanmu

 

Adalah pepustakaan, kuburan dan rumah yatim piatu yang amat

dalam mencekamku, ke manapun aku pergi kucoba

menjenguk jendela dan pagarmu, adakah engkau di

situ dan selintas, engkau ada di situ

 

Pagi ini aku sarapan agak banyak, waktuku adalah ujung musim

semi dan pangkal musim panas, losmenku Stanhope

Placenomor 4, telepon 01-262-4070, kamarku seharga

dua paun tambah pelayanan sepuluh persen

 

Berdiri di West End memikkirkan poster-poster teater, suara-suara

orang Italia menjajakan hamburger dengan saus tomat,

engkaupun lewat, berjalan satu tikungan dan berdiri

depan sebuah boutique lalu kita menatap model dasi

serta baju berwarna-warna gila dan biru tua

 

Restoran Aljazair itu amat lezat, sup ikan Paris luarbiasa dan

masakan Kanton adalah makanan raja-raja, namun aku

rindu juga lepau nasi Padang dan waryng tongseng

Jawa yang bukan main lambannya, karena mungkin

engkau, ada di sana

 

Engkau campur-baur dan seringkali kabur, namun aku menca-

tatmu, untuk rindu dan lalu kucoba, melupakanmu.

1971

KEMBALIKAN INDONESIA KEPADAKU

 

Hari depan Indonesia adalah duaratus juta mulut yang menganga

 

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian

berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian

 

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang

malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa

 

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena

seratus juta penduduknya

 

Kembalikan

Indonesia

padaku

 

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong

siang malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15

watt

 

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan teng-

gelam lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-

renang di atasnya

 

Hari depan Indonesia adalah duaratus juta mulut yang menga-

nga, dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 watt, seba-

gian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian

 

Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-

renang sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam

dan membawa saratus juta bola lampu 15 watt ke dasar lautan

 

Kembalikan

Indonesia

padaku

 

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang

malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa

 

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena

saratus juta penduduknya

 

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt, sebagian

berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian

 

Kembalikan

Indonesia

padaku

1971

 

BERI DAKU SUMBA

 

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu

Aneh, aku jadi ingat pada Umbu

 

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka

Di mana matahari membusur api di atas sana

Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka

Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

 

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput

Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala

Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut

Dan angin zat asam panas mulai dikipas dari sana

 

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari

Beri daku sepucuk gitar, bossanova dan tiga ekor kuda

Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari

Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

 

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda

Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh

Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua

Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

 

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka

Di mana matahari membusur api, cuaca kering dan ternah melenguh

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda

Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

1970

 

AKU INGIN MENULIS PUISI, YANG

 

Aku ingin menulis puisi, yang tidak semata-mata berurusan

dengan cuaca, warna, cahaya, suara dan mega.

 

Aku ingin menulis syair untuk kanak-kanak yang melompat-

lompat di pekarangan sekolah, yang main gundu dan

petak umpet di halaman rumah, yang menangis kare-

na tidak naik kelas tahun ini.

 

Aku ingin menulis puisi yang membuat orang berumur 55 merasa

25, yang berumur 24 merasa 54 tahun, di manapun

mereka membacanya, bagaimanapun mereka memba-

canya: duduk atau berdiri

 

Aku ingin menulis puisi untuk penjual rokok-kretek, tukang ja-

hit kemeja, penanam lobak dan bawang perai, penam-

bang sampah di sungai, penulis program komputer

dan disertai ilmu bedah, sehingga mereka berhenti

sekejap dari kerja mereka dan sempat berkata: hidup

ini, lumayan indah.

 

Aku ingin menulis syair buat pensiunan-pensiunan guru SD, pe-

lamar-pelamar lowongan kerja, para langganan rumah

gadai, plonco-plonci negeri dan swasta, pasien-pasien

penyakit asma, kencing gula serta penganggur-

pengganggur sarjana, sehingga bila mereka baca bebera-

pa sajakku, mereka bicara: hidup di In donesia, mung-

kin harapan masih ada.

 

Aku ingin menulis sajak yang penuh protein. sekedar zat kapur,

belerang serta vitamin utama, sehingga pusi-puisiku

ada sedikit berguna bagi kerja dokter-dokter umum,

dokter hewan, insinyur pertanian dan peternakan.

 

Aku ingin menulis puisi bagi para pensiunan yang pensiunnya

dipersulit otorisasinya, tahanan politik dan kriminal,

siapa juga yang tersiksa, sehinnga mereka ingat bahwa

keadilan, tak putus diperjuangkan.

 

Aku ingin menulis sajak yang bisa membuat orang ingat pada

Tuhan di waktu senang, senang yang sedang-sedang

atau yang berlebihan.

 

Barangkali aku tak bisa menulis demikian.

Tapi aku kepingin menuliskannya.

Aku ingin.

 

Aku ingin menulis puisi yang bisa dibidikkan tepat pada tubuh

kehidupan, menembus selaput lendir, jaringan lemak,

susunan daging, pembuluh darah arteri dan vena,

mengetuk tulang dan membenam sumsum, sehingga

perubahan fisika dan kimiawi, terjadi.

 

Aku ingin menulis puisi di buku catatn rapat-rapat Bappenas,

pada agenda muktamar mahasiswa, surat-surat cinta

muda-mudi Indonesia, pada kolom kiri lembaran

wesel yang tiap bulan dikirimkan orangtua pada

anaknya yang sekolah jauh di kota.

 

Aku ingin menulissyair pada cetak-biru biro-biro arsitek, pada

payung penerjun terkembang di udara, pada iklan-

iklan jamu bersalin, pada tajuk rencana koran ibukota

dan pada lagu pop anak-anak muda.

 

Aku ingin menulis sekali lagi puisi mengenai jendral Sudirman

yang berparu-paru satu, serta tentang sersan dan

prajurit yang terjun malam di Irian Barat kemudian

tersangkut di pepohonan raksasa atau terbenam di

rawa-rawa malaria.

 

Aku ingin menulis syair yang mencegah kopral-kopral tak pernah

bertempur agar berhenti menempelengi sopir-sopir

oplet yang tarikannya payah.

 

Aku ingin menulis sajak ambisius yang bisa menghentikan perang

saudara dan perang tidak saudara, puisi konsep gencat-

an senjata, puisi yang bisa membatalkan pemilihan

umum, menambal birokrasi, menghibur para pengungsi

dan menyembuhkan pasien-pasien psikiatri.

 

Aku ingin menulis seratus pantun buat anak-anak berumur lima

dan sepuluh tahun sehingga bila dibacakan buat me-

reka, maka mereka tertawa dan gigi mereka yang putih

dan rata jelas kelihatan.

 

Aku ingin menulis puisi yang menyebabkan nasi campur dimakan

sarasa hidangan hotel-hotel mahal dan yang menyebab-

kan petani-petani membatalkan niat naik haji dengan

menggadaikan sawah dan perhiasan emas ssang istri.

 

Aku ingin menulis puisi tentang merosotnya pendidikan, tentang

Nabi Adam, keluarga berencana, sepur Hikari, lembah

Anai, Amirmachmud, Piccadily Circus, taman kanak-

kanak, Opsus, Raja Idrus, nasi gudeg, kota Samarkand,

Raymond Westerling, Laos , Emil Salim, Roxas Boule-

vard, Ja’far Nur Aidit, modal asing, Chekpoint Charli,

Zainal Zakse, utang $ 3 milyard, pelabuhan Rotter-

dam, Champs Elysses dan bayi ajaib, semua  – – nya

disusun kembali menurut urutan abjad.

 

Aku ingin menulis puisi yang mencegah kemungkinan

pedagang-pedagang Jepang merampoki kayu di rimba

dalam Kalimantan, melarang penggali minyak dan

penanam modal mancanegara menyuapi penguasa

yang lemah iman, dan melarang sogokan uang pada

pejabat bea cukai serta pengadilan.

 

Aku ingin menggubah syair yang menghapuskan dendam anak-

anak yatim piatu yang orangtua dan paman bibinya

terbunuh pada waktu pemberontakan komunis yang

telah silam.

 

Aku ingin menulis gurindam yang menghapuskan dendam anak-

anak yatim piatu yang orangtua dan paman bibinya

dibunuh pada waktu pemberontakan komunis yang

telah silam.

 

Barangkali aku tidak sempat, menuliskannya semua.

Tapi aku ingin menulis puisi-puisi demikian.

Aku ingin.

1971

Catatan :

Taufiq Ismail lahir di bukittinggi, Sumatra Barat, 25 Juni 1937. Menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan UI, Bogor. Tahun 1956/1957 ia memperoleh beasiswa dari American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, AS.

Kemudian menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Returnees AFSIS (IRA), 1958-1960. Selain giat menulis, semasa studinya aktif dalam organisasi pelajar dan mahasiswa, di antaranya pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UI (1960-1962), dan kemudian bekerja di PT Unilever Indonesia, di antaranya pernah menjadi Manajer Hubungan Luar sampai pensiun.

Buku-buku yang telah terbit yaitu dua kumpulan puisi Tirani dan Benteng (1966). Sebelum itu Tintamas telah menerbitkan sajak-sajak Taufiq dalam antologi Manifestasi (1963). Bersama Ali Audah dan Goenawan Muhamad dia menerjamahkan karya Muhammad Iqbal The Recontruction of Religious Thought in Islam menjadi Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (1965).

Karya-karyanya yang lain : Buku Tamu Musium Perjuangan (1965), Puisi-Puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin dan Langit (1971), Sajak Ladang Jagung (1973), Tirani dan Benteng (1993), Malu Aku Jadi Orang Indonesia (1998), dan setelah 55 tahun berkarya di dunia sastra Indonesia, karya lengkapnya diterbitkan lagi pada tahun 2008 menjadi empat buku, yaitu

  • Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1: Himpunan Puisi 1953-2008,
  • Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 2: Himpunan Tulisan 1960-2008,
  • Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 3: Himpunan Tulisan 1960-2008,
  • Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 4: Himpunan Lirik Lagu 1972-2008.

Demikian puisi-puisi karya Taufiq Ismail yang terdapat dalam kumpulan puisi yang berjudul Sajak Ladang Jagung Taufiq Ismail, semoga bisa menambah wawasan, pengetahuan dan bermanfaat bagi kita semua.

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply