Sastra Melayu Klasik

Artikel, Sastra 0
Sastra Melayu

Sastra Melayu

Sastra Melayu Klasik – Dalam sastra Indonesia, sastra Melayu Klasik tidak diketahui kapan kemunculannya. Yang dapat dikatakan adalah bahwa Sastra Indonesia Lama muncul bersamaan dengan dimulainya peradaban bangsa Indonesia, sementara kapan bangsa Indonesia itu ada juga masih menjadi perdebatan.

Ada yang berpendapat bahwa Sastra Melayu Klasik bermula atau berawal pada abad ke-16 Masehi. Semenjak itu sampai sekarang gaya bahasanya tidak banyak berubah. Ada satu dokumen yang pertama ditulis dalam bahasa Melayu Klasik adalah sepucuk surat dari Raja Ternate, Sultan Abu Hayat kepada raja João III di Portugal dan bertarikhkan tahun 1521 Masehi.

Sedangkan ada juga yang berpendapat bahwa Sastra Indonesia Lama berakhir pada masa kebangkitan nasional (1908), masa Balai Pustaka (1920),  masa munculnya Bahasa Indonesia (1928), ada pula yang berpendapat bahwa Sastra Indonesia Lama berakhir pada masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (1800-an).

Dengan demikian maka ada dua versi besar periodisasi sastra Indonesia. Versi pertama adalah bahwa sejarah sastra Indonesia dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar yaitu 1) Sastra Indonesia Lama, 2) Sastra Indonesia Baru, dan 3) Sastra Indonesia Modern. Sedangkan versi kedua membagi sejarah sastra Indonesia menjadi empat kelompok besar, yaitu 1) Sastra Indonesia Lama, 2) Sastra Indonesia Peralihan, 3) Sastra Indonesia baru, dan 4) Sastra Indonesia Modern.

Sastra Indonesia Lama adalah masa sastra mulai pada masa pra-sejarah (sebelum suatu bangsa mengenal tulisan) dan berakhir pada masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Ada juga yang mengatakan bahwa sastra Indonesia lama berakhir pada masa balai Pustaka. Sastra Indonesia Lama tidak dapat digolong-golongkan berdasarkan jangka waktu tertentu (seperti halnya Sastra Indonesia baru) karena hasil-hasil dari sastra masa ini tidak mencantumkan waktu dan nama pengarangnya.

Di bawah ini adalah pembagian Sastra Indonesia Lama, yaitu :

Berdasarkan bentuknya, sastra Indonesia Lama dibagi menjadi dua, yaitu : (1) Prosa Lama dan (2) Puisi Lama. Berdasarkan isinya, Sastra Indonesia Lama dibedakan menjadi tiga, yaitu : (1) Sastra Sejarah, (2) Sastra Undang-undang, dan (3) Sastra bagi raja atau penguasa. Sedangkan berdasarkan pengaruh asing, Sastra Indonesia Lama dibedakan menjadi tiga, yaitu : (1) Sastra Indonesia asli, (2) Sastra Indonesia lama pengaruh hindu, dan (3) Sastra Indonesia lama pengaruh Islam.

Adapun ciri-ciri Kesusastraan Indonesia Lama adalah :

  1.  Bersifat anonim, yaitu nama pengarang tidak dicantumkan dalam karya sastra.
  2. Merupakan milik bersama masyarakat. Timbul karena adat dan kepercayaan masyarakat.
  3. Timbul karena adat dan kepercayaan masyarakat.
  4. Bersifat istana sentris, maksudnya ceritanya berkisar pada lingkungan istana.
  5. Disebarkan secara lisan.
  6.  Banyak bahasa klise, yaitu bahasa yang bentuknya tetap.

Orang yang berjasa dalam penyebaran sastra Indonesia Lama adalah pawang.  Ia adalah kepala adat (istilah sekarang mungkin sama dengan “dukun” dalam kebudayaan Jawa). Jabatan ini berbeda dengan kepala suku.

Dick Hartoko dan Rahmanto mengatakan bahwa pawang dikenal sebagai orang yang mempunyai keahlian yang erat hubungannya dengan hal-hal yang gaib. Ia termasuk orang yang keramat dan dapat berhubungan dengan para dewa atau hyang. Pawang terbagi atas pawang kutika (ahli bercocok tanam dan hal-hal yang berhubungan dengan rumah tangga), pawang osada (ahli dalam jampi-jampi), pawang malim (ahli dalam pertenungan), dan pawang pelipur lara (ahli bercerita). 

Demikian artikel tentang Sastra Melayu Klasik, semoga senantiasa bisa bermanfaat.

Tags:
Rate this article!
Sastra Melayu Klasik,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply