Tantangan Untuk Mendikbud Baru

Artikel, Pendidikan 0
Tantangan Mendikbud

Tantangan Mendikbud

Tantangan Untuk Mendikbud Baru – Komite III DPD RI yang salah satu lingkup tugasnya mengawasi kinerja pemerintah di bidang pendidikan menilai, tantangan terbesar dunia pendidikan Indonesia salah satunya adalah luas cakupan wilayah dan masih belum sempurnanya kualitas pendidikan, seperti sistem belajar mengajar, kompetensi guru, infrastruktur, dan pemanfaatan teknologi, serta belum ada sistem nasional yang mampu memacu minat baca.

“Kompleksitas masalah inilah yang mengakibatkan pemeringkatan tingkat pendidikan Indonesia di tingkat dunia masih terus berkutat di papan bawah. Satu persatu persoalan ini mesti diurai oleh Mendikbud yang baru.

Untuk sistem pendidikan, tantangan besarnya adalah bagaimana Mendikbud bisa memformulasi sistem yang mampu menghadirkan proses belajar mengajar menjadi asyik, menyenangkan, setara dan berkualitas. Menurut Fahira, jika ingin merubah wajah pendidikan, bukan melulu soal mengganti kurikulum tetapi bagaimana melatih kompetensi guru agar mampu membuat proses belajar mengajar menjadi asik dan menyenangkan.

Tantangan di bidang infrastrukur pendidikan terutama di daerah terpencil, terluar, dan tertinggal juga cukup berat. Pemerintah pusat diharapkan dapat mengintervensi pembangunan sarana dan prasarana pendidikan di daerah terpencil, terluar, dan tertinggal yang ada di seluruh Indonesia. Walau sudah ada otonomi daerah, intervensi dibutuhkan agar ada percepatan pembangunan berbagai sarana dan prasarana pendidikan di daerah-daerah yang memang, baik secara geografis dan sumber daya alam dan manusia punya keterbatasan.

“Membangun Indonesia dari pinggiran sesuai slogan presiden, itu harus diartikan bukan hanya pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan atau jembatan semata tetapi juga membangun manusianya. Ini jauh lebih penting. Caranya dengan menyempurnakan infrastruktur pendidikan di daerah-daerah pinggiran, termasuk juga penyediaan tenaga pengajar yang berkualitas. Ini yang saya lihat belum maksimal,” ujar Fahira.

Tantangan lain adalah melanjutkan bahkan lebih mengoptimalkan pelaksanaan Ujian Nasional (UN), sistem penerimaan siswa baru, dan masa orientasi sekolah (MOS) yang saat ini sudah menunjukkan perbaikan ke arah yang lebih baik.

“Saat ini UN sudah tidak lagi menjadi momok, dan praktik perploncoan saat MOS sudah berangsur hilang. Kami berharap ini lebih dioptimalkan. Kami juga berharap, Mendikbud baru segera memformulasikan materi pendidikan anti kekerasan, terutama kekerasan seksual secara komprehensif dalam berbagai mata pelajaran,” saran Fahira.

Terakhir, harapan yang digantungkan kepada Mendikbud yang baru adalah meningkatkan kapasitas guru dan fasilitas PAUD karena PAUD adalah kawah pembentukan anak-anak Indonesia agar tumbuh jadi pribadi yang mandiri, percaya diri, punya rasa sosial yang tinggi, cepat beradaptasi, berani jujur, dan punya rasa ingin tahu yang besar sehingga di masa depan mampu menjalankan negeri ini dengan baik. “Usia nol hingga enam tahun merupakan tahun emas atau golden years pembentukan karakter anak. Kemdikbud harus beri perhatian lebih untuk PAUD.

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply