Aliran Postmodernisme dalam Dunia Sastra

Artikel, Sastra 0
Aliran Postmodernisme

Aliran Postmodernisme

Aliran Postmodernisme dalam Dunia Sastra – Suatu karya sastra terlahir karena adanya dorongan-dorongan insaniah seseorang sebagai manusia. Kodrat manusia sebagai insaniah itu adalah keinginan manusia untuk mengungkapkan diri, untuk menaruh minat pada realitas kehidupan, dan pada dunia khayal yang diangankan sebagai dunia nyata.

Sejalan dengan kodrat insaniah seseorang itulah, maka dunia sastra sebagai dunia pengarang penuh dengan realitas kehidupan, sebab pengarang dalam menciptakan karyanya berpijak pada dua dunia yang berbeda.

Sstra itu dalam satu sisi berpijak pada dunia seni, sedang di sisi lain berpijak pada dunia ilmu. Sastra sebagai seni bisa dinikmati sedangkan sebagai dunia ilmu, sastra bisa diteliti dan di deskripsikan. Ilmu tentang sastra meneliti sifat-sifat yang terdapat di dalam teks-teks sastra, dan bagaimana teks-teks tersebut berfungsi di dalam masyarakat

Sastra sebagai karya imajinatif selain unsur-unsur yang ada di dalam teks, juga mempunyai keterkaitan dengan sesuatu di luar teks. Hal yang tidak terwakilkan itu berkaitan dengan penciptaannya, zaman atau lingkungannya bahkan masalah kehidupan yang luas seakan-akan cerita itu adalah suatu kenyataan.

Sastra menyajikan nilai-nilai keindahan serta memaparkan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya, mengandung pandangan yang berhubungan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik, maupun berbagai problema kehidupan

Seiring dengan perkembangan zaman, dunia sastra mengalami pergolakan. Pergolakan tersebut tidak bisa dipisahkan dari konteks modernisasi, khususnya dalam bidang filsafat, ilmu, seni dan kebudayaan. Manusia merasa tidak puas dan tidak dapat bertahan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kapitalisme, serta cara berpikir modern. Modernisme dianggap sudah usang dan harus diganti dengan paradigma baru yang disebut postmodernisme.

Menurut Wikipedia postmodernisme adalah faham yang berkembang setelah era modern dengan modernisme-nya. Postmodernisme bukanlah faham tunggal sebuat teori, namun justru menghargai teori-teori yang bertebaran dan sulit dicari titik temu yang tunggal.

Sedangkan menurut Jean Baudrillard dalam Munir Fuady, 2005: 98); Postmodernisme adalah meleburnya batas wilayah dan pembedaan antar budaya tinggi dengan budaya rendah, antara penampilan dan kenyataan, dan segala oposisi biner lainnya yang selama ini dijunjung tinggi oleh teori sosial dan filsafat konvensional.

Jadi dengan demikian, posmodern secara umum adalah proses dediferensiasi dan munculnya peleburan di segala bidang. Postmodernisme erat kaitannya dengan sosiologi sastra, pendekatan sosiologis sangat dipertimbangkan pada era postmodernisme.

Dasar filosofis pendekatan sosiologis adalah adanya hubungan hakiki antara karya sastra dengan masyarakat. Hubungan-hubungan yang dimaksudkan disebabkan oleh: (a) karya sastra dihasilkan oleh pengarang, (b) pengarang adalah anggota masyarakat itu sendiri, (c) pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat, dan (d) hasil karya sastra itu dimanfatkan kembali oleh masyarakat.

Sehingga semangat yang dibagun postmodernisme dan sosiologi dalam dunia sastra saling berkaitan karena memiliki objek penelitian yang sama yaitu masyarakat dan segala sesuatu yang dihasilkan masyarakat itu sendiri

Munculkan postmodernisme sebagai sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat sosial, antara lain: (1) postmodernisme adalah pergerakan ide yang menggantikan ide-ide zaman modern (yang mengutamakan rasio, objektivitas, dan kemajuan); (2) postmodernisme memiliki cita-cita, ingin meningkatkan kondisi ekonomi dan sosial, kesadaran akan peristiwa sejarah dan perkembangan dalam agama, penyiaran seni dan budaya.

Aliran Postmodernisme dalam Dunia Sastra muncul sebagai reaksi terhadap fakta tidak pernah tercapainya impian yang dicita-citakan dalam era modern. Era modern yang mengedepankan reason, nature, happiness, progress, dan liberty sepintas telah menghasilkan kemajuan yang pesat dalam bidang seni dan budaya bahkan sastra.

Kenyataan yang terjadi modernisme memberikan dampak negatif bagi kehidupan sosial masyarakat. Rasionalitas modern gagal menjawab kebutuhan manusia secara utuh. Ilmu pengetahuan terbukti tidak dapat menyelesaikan semua masalah manusia. Teknologi juga tidak memberikan waktu senggang bagi manusia untuk beristirahat dan menikmati hidup.

Sastra modernisme mengatakan bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai struktur yang sama, sehingga teks (hasil sastra) dapat dibaca dan dipahami secara universal. Dalam hal ini terdapat perbedaan dengan postmodernisme yang menganggap bahwa makna tidaklah terdapat dalam teks, melainkan muncul dari masing-masing pribadi yang membaca teks.

Secara tidak langsung, hal ini menyatakan bahwa seorang penulis tidak dapat menuntut haknya atas pemaknaan teks yang ditulisnya karena semua orang boleh membaca teks tersebut dan memaknainya sesuai dengan penafsiran masing-masing.

Demikian artikel tentang Aliran Postmodernisme dalam Dunia Sastra, semoga senantiasa bermanfat bagi semuanya.

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply