Ia Tak Pernah Meninggalkanku

Sastra 0
Ia Tak Pernah Meninggalkanku

Ia Tak Pernah Meninggalkanku : Sebuah Cerpen Amelia Yahya

Ia Tak Pernah Meninggalkanku

Cerpen Amelia Yahya

Ia Tak Pernah Meninggalkanku – Aku berbaring di lantai, menendang-nendang keras dan menjerit sampai tenggorokan terasa serak. Bola mataku sampai berurat dan memerah. Semua karena ia memintaku untuk menyimpan seperangkat mainan ke dalam kardus bekas air mineral. “Aku benci kamu,” jeritku. Usiaku enam tahun saat itu dan tak mengerti mengapa aku selalu merasa marah.

Sejak usia dua tahun aku tinggal bersama keluarga asuh. Ibu kandungku tak dapat membesarkanku dan kelima kakakku, karena kami tak mempunyai ayah atau orang lain yang dapat mengurus kami. Akhirnya, kami dimasukkan ke rumah asuh. Aku merasa kesepian dan bingung. Aku tak tahu cara mengungkapkan bahwa hatiku sakit. Mengamuk adalah satu-satunya cara yang kutahu untuk menunjukkan perasaanku.

Karena banyak membuat masalah, akhirnya ibu asuhku yang terakhir mengirimku kembali ke agen adopsi, sama seperti ibu asuhku yang sebelumnya. Aku merasa bahwa aku adalah anak yang paling sulit dicintai di dunia.

Lalu aku bertemu Roselie. Usiaku sudah tujuh tahun dan aku sedang tinggal dengan keluarga asuhku yang ketiga saat ia berkunjung. Ibu asuhku memberi tahu bahwa Roselie belum bersuami dan ingin mengangkat anak, dan aku tak menyangka ia akan memilihku. Aku tak dapat membayangkan ada orang yang menginginkanku tinggal bersamanya terus-menerus.

Hari itu, Roselie mengajakku ke kebun strawberi. Kami bersenang-senang. , tapi Aku tak menyangka akan bertemu dengannya lagi.

Beberapa hari kemudian, seorang suster di rumah asuhku memberi tahu bahwa Roselie ingin mengangkatku menjadi anaknya. Lalu ia bertanya “Apakah kau tidak keberatan tinggal bersama satu orangtua, bukan dua?”

“Aku cuma ingin ada yang menyayangiku,” kataku.

Roselie berkunjung keesokan harinya. Ia menjelaskan bahwa pengurusan adopsi memerlukan waktu setahun, tapi aku dapat segera pindah ke rumahnya. Aku senang tapi juga takut. Aku dan Roselie benar-benar asing. Aku bertanya-tanya apakah ia akan berubah pikiran setelah mengenalku? Roselie dapat merasakan ketakutanku. “Aku tahu hatimu telah disakiti,” katanya sambil memelukku. “Aku tahu kamu takut. Tapi aku berjanji, aku tak akan mengusirmu. Sekarang, kamu adalah anakku.”

Aku terkejut melihat airmatanya berlinang. Tiba-tiba aku sadar bahwa ia juga merasa kesepian seperti diriku! “Baiklah, Ma,” kataku.

Minggu berikutnya aku bertemu dengan Oma, Opa, Om, Tante, dan sepupuku yang baru. Rasanya aneh, tapi menyenangkan bersama-sama orang asing yang memelukku seakan mereka sudah mencintai dan menyayangiku. Saat aku pindah ke rumah mama, untuk pertama kalinya aku memiliki kamar sendiri. Dindingnya dilapisi kertas dan seprainya bercorak sama. Ada meja rias antik dan lemari pakaian yang besar. Aku hanya memiliki beberapa potong pakaian yang kubawa di dalam kantung kertas.

“Tak usah khawatir, Mama akan membelikan barang baru yang bagus-bagus untukmu,” katanya.

Aku merasa aman saat tidur malam itu. Aku berdoa agar aku tak perlu meninggalkan tempat itu. Mama baik sekali padaku. Ia mengajakku berdoa. Ia membelikan binatang peliharaan dan memberikan pelajaran merawat hewan dan bermain piano. Setiap hari ia mengatakan ia sangat menyayangiku. Tapi itu belum cukup untuk menyembuhkan rasa sakit di hatiku. Aku terus menunggunya berubah pikiran. “Kalau aku nakal sekali, ia pasti meninggalkanku, sama seperti yang lain,” pikirku.

Jadi aku mencoba menyakitinya sebelum ia menyakitiku. Aku mempertengkarkan real madrid vs atletico madrid hal-hal kecil dan marah-marah kalau kemauanku tidak dituruti. Aku membanting pintu. Kalau mama mencoba melarang, kupukul dia. Tapi, ia tak pernah kehilangan rasa sabarnya. Ia selalu memelukku dan berkata tetap menyayangiku. Kalau aku marah, ia menyuruhku melompat di atas trampolin dan teriak.

Karena prestasi belajarku di sekolah buruk semenjak aku pindah ke rumahnya, mama sangat tegas mengenai PR-ku. Suatu hari waktu aku sedang menonton TV, ia masuk dan mematikannya. “Kamu boleh nonton setelah selesai mengerjakan PR,” katanya.

Aku marah, mengambil buku dan melemparnya. “Aku benci kamu dan aku tak mau tinggal di sini lagi!” teriakku.

Aku menunggunya menyuruhku mengepak pakaian. Saat ia tidak menyuruhku demikian, aku bertanya, “Kamu tidak mengembalikanku ke rumah yatim piatu?”

“Aku tak suka melihat kelakuanmu,” katanya. “Tapi aku tak akan pernah mengembalikanmu ke sana. Kamu adalah anakku sekarang, dan antara ibu dan anak tak pernah saling meninggalkan,” lanjutnya.

Lalu mendadak aku sadar. Mama yang ini berbeda. Ia tak akan menyingkirkanku. Ia sungguh-sungguh mencintaiku. Aku sadar, bahwa aku sangat mencintainya juga. Aku menangis dan memeluknya.

Pada tahun 1998, saat mama secara resmi mengangkatku sebagai anak, seluruh keluarga kami merayakannya di salah satu hotel ternama di Jakarta. Menyenangkan rasanya memiliki keluarga. Tapi aku masih takut. Mungkinkah seorang mama menyayangiku terus? Amarahku tak langsung lenyap. Tapi setelah beberapa bulan berlalu, aku bisa meredam amarah.

Hari ini usiaku menginjak 17 tahun. Semua prestasiku membuat mama senang. Aku memiliki satu ekor kuda, dua ekor anjing, dan tiga ekor kura-kura. Cita-cita dan impian terbesarku adalah menjadi dokter hewan. Aku dan mama senang melakukan kegiatan bersama-sama, misalnya belanja dan menunggang kuda. Kami tersenyum kalau orang berkata kami mirip. Mereka tak percaya bahwa ia bukan ibu kandungku.

Sekarang aku lebih bahagia daripada yang pernah kubayangkan. Kalau aku sudah dewasa, aku ingin menikah dan punya anak, tapi kalau itu tak terjadi, aku akan mengangkat anak seperti mama. Aku akan memilih anak yang kesepian dan ketakutan dan tak akan menyerah seperti mama melihatku dulu.

“Alexandra…,” panggil mama. Ini sudah waktunya makan malam.

Aku bahagia mama tidak meninggalkanku. Ia tak pernah sekali pun menyerah. Ibuku adalah pahlawanku. (Sumber: Horison-online.com)

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply