Media Sosial dan Literasi

Artikel, Bahasa 0
Media Sosial dan Literasi

Media Sosial dan Literasi

Media Sosial dan Literasi – Paul DiMagio yang dalam artikelnya, Social Implications of the Internet (2001), menggambarkan bahwa internet atau jejaring komputer di era masyarakat digital memiliki potensi secara radikal mengubah tidak hanya bagaimana cara seseorang bertransaksi bisnis dengan orang lain, tapi juga esensi atau hakikat keberadaan manusia di dalam lingkungan masyarakat.

Di era digital seperti sekarang ini, jejaring komputer yang semula hanya bisa diakses oleh sekelompok kecil elite saja, menurut Smith dan Kollock (2005), kini penggunaannya telah meluas. Dan, menjadi subjek perdebatan politik, kepentingan masyarakat, serta menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kehadiran jejaring komputer telah membuat orang bisa menciptakan ruang sosial baru di dunia maya yang lintas batas dan melampaui ruang serta waktu. Tetapi, bagi masyarakat yang mengalami cultural lag dan memanfaatkan media sosial plus teknologi sebagai perpanjangan menyuarakan kepentingannya, jangan heran kemudian muncul kabar-kabar bohong alias hoax. Dan, para hater dengan bebas menyampaikan rumor, bahkan hasutan.

Di era masyarakat post-industrial, kehadiran jejaring komputer tidak hanya berperan sebagai media komunikasi, tetapi juga menjadi media kelompok yang mempertahankan dan mendukung lebih banyak interaksi yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.

Berinteraksi di dunia maya, selain mengasyikkan, bebas, dan melampaui ruang serta waktu, sering kali juga menjadi aktivitas yang lepas kendali. Terutama ketika orang mulai menyadari bahwa berselancar di dunia maya benar-benar membuat mereka seolah-olah bisa menembus dunia.

Wilson (2000) mencatat paling tidak ada tiga karakteristik dari komunitas virtual di cyberspace yang membedakannya dengan komunitas tatap muka. Yaitu, (1) liberty, kebebasan dari kondisi sosial geografis yang membatasi identitas yang melekat pada diri seseorang; (2) equality, penghilangan hierarki, dan (3) fraternity, hubungan yang terbentuk antaranggota dalam komunitas tersebut.

Sementara itu, Tambyah (1996) mengidentifikasi tiga karakteristik atau dimensi dari adanya internet: (1) space/time compression, di mana internet memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi dengan cepat meski berada di tempat yang berbeda; (2) no sense of place, interaksi yang terjadi di dunia yang menyediakan konsep anonimitas yang memungkinkan terjadinya multiplikasi peran dan jati diri; (3) blurred boundaries and transformed communities, batasan-batasan yang umumnya terdapat di dunia nyata menjadi kabur dan komunitas virtual yang baru terbentuk.

Jadi, berbeda dengan penggunaan telepon yang hanya berfungsi sebagai sarana telekomunikasi yang terbatas, internet pada hakikatnya adalah sebuah dunia imajiner. Tempat di mana setiap orang dapat melakukan apa saja. Bahkan melakukan sesuatu yang mungkin belum pernah ada di dalam kenyataan sehari-hari.

Internet makin digemari masyarakat karena ia sesungguhnya adalah subtitusi dari ruang publik nyata yang belakangan ini makin menghilang. Kerinduan untuk bercengkerama dengan sesama dan membangun hubungan sosial dalam kelompok yang ’’akrab’’ bagi masyarakat dapat terpenuhi dan mereka rasakan justru saat mereka ada pada kesendirian di ruang kamar atau kantor. Yakni, tatkala mereka berselancar di dunia maya.

Di era digital, ketika penggunaan teknologi dan internet makin masif, tetapi di saat yang sama tidak didukung tingkat literasi yang memadai, yang muncul kemudian adalah masyarakat yang rapuh. Dikatakan rapuh karena hanya gara-gara dipicu kabar hoax dan hasutan para hater, tanpa menimbang lebih jauh, mereka dengan mudah termakan kabar tidak jelas.

Kelompok masyarakat digital minus literasi adalah kondisi yang sering kali melahirkan ketidakjelasan, sikap reaksioner, dan bahkan tidak mustahil kemudian mendorong perkembangan aksi kerumunan yang tidak terkontrol.

Padahal, masyarakat digital seharusnya kritis dan dengan cepat bisa mengonfirmasi apakah sebuah berita benar atau tidak dalam hitungan detik. Tapi, dalam masyarakat digital yang tidak didukung tingkat literasi yang kritis, yang muncul kemudian adalah kegamangan dan kerentanan mereka untuk termakan provokasi.

Dalam hal ini, pemerintah harus mengembangkan pendidikan dan sosialisasi untuk meningkatkan literasi masyarakat. Sebab, tanpa itu, bukan tidak mungkin kita akan terperosok di lubang yang sama. (Sumber:JawaPos.com).

Tags:
Rate this article!
Media Sosial dan Literasi,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply