Puisi Bangsal Sri Manganti Suminto A. Sayuti

Sastra 0
Bangsal Sri Manganti Suminto A. Sayuti

Bangsal Sri Manganti Suminto A. Sayuti

Puisi Bangsal Sri Manganti Suminto A. Sayuti – Suminto A. Sayuti lahir di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, 26 Oktober, 1956. Pada dekade 1970-an saat tergabung dengan komunitas Persada Studi Klub Yogyakarta, namanya tidak pernah absen dalam forum-forum diskusi sastra maupun pementasan-pementasan puisi dan teater.

Di kalangan seniman Yogyakarta, Suminto dikenal sebagai pemuda “bengal” yang tidak pernah puas dengan ilmu yang didapat. Proses kreatifnya dimulai dari kegemarannya membaca dan menulis sejak kecil. Semakin tersihir oleh Mobdro PC Download on Windows is also available on this site dunia sastra sejak masuk Yogyakarta sekitar 1974. Sejak bergabung dengan komunitas Malioboro, mulailah ia menancapkan kukunya di dunia sastra.

Penulis yang juga guru besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini, juga menggeluti seni karawitan dan menggagas serta pengurus Masyarakat Karawitan Jawa. Ratusan karya lahir darinya, baik berupa makalah, diktat, buku, kumpulan puisi, cerita pendek, esai sastra, dan sebagainya.

Di bawah ini adalah beberapa pilihan puisi Suminto A. Sayuti dalam Bangsal Sri Manganti :

Kita pun Sampai

Kita pun sampai. Ketika salam rembulan menyapa pantai

Ketika salam rembulan menggandeng kelam. Menjadi

suluk ki dalang

Dengan iringan gending-gending kehidupan. Dalam irama

maskumambang

Juga eling-eling kasmaran. Sorga pun sampai ketika talu,

ketika tayungan

Lalu tancep kayon. Dan kita pun wayang di bawah

blencong kehidupan

Mencabut diri dari simpingan. Kanan dan kiri yang

berkelindan

Sorga pun sampai ketika salam pun rembulan

Yogyakarta, 2012

 

Pohon Trembesi, Pagi Songgoriti

– nita

Pagi pohon trembesi. Melangkah cahaya

Bersama rimbun daun-daun. Gemericik air

Aroma hidup pun mengalir. Lalu kabut

Sepanjang bukit. Sepanjang rindu yang bangkit.

Maka aku pun lereng. Pada perbukitan terjal

Menapaki jalan ajal. Menujumu

Menujumu. Kudekap sunyi

Kudekap dirimu. Serupa dekap hidup dan mati

Malang, 2011

 

Pada Suatu Waktu

– in memoriam Mas Kunto

Lalu gugur daun

Kita terperangah. Dalam hati ngungun

Cuaca berubah. Dalam dingin embun

Ada yang bergegas ke semak rimbun

Kita tak harus menyeka airmata

Biarlah mata kita bersih dan bercahaya

Seperti janji yang pernah terucap

Ketika jajar bilangan belum lagi genap

Pada saatnya kita pun akan segera berangkat

Seperti sudah ditulis dalam surat-surat

Yang kubaca, yang ditulis berabad-abad

Seperti sudah kautulis dalam sajak-sajak

Kapan saatnya segala akan segara beranjak

Ada yang bergegas ke semak rimbun

Bersama gugur daun: Ma’rifat Daun, Daun Ma’rifat

Seperti sajak yang kautuliskan, seikat demi seikat

Dulu seabad yang lalu

Suluk Awang-Uwung kembali kumandang

Dalam irama Ketawang

Menghantar kepergian dan kepulangan

: Selamat jalan!

Yogyakarta, Maret 2005

 

Syair di Pematang

seperti engkau lihat sendiri

segenggam benih sawi telah ditebar

lalu berkecambah di tanah gembur

dan akulah petani itu, menunggu dengan sabar

agar tumbuh dan berkembang, di sela-sela umur

berdiri di tengah pematang

kehidupan pun bermula

membaca bayang-bayang

diri pun tumpah di kubangan tanda

Kertodadi, 2004

 

Melintasi Kotamu

– sugeng tri wuryanto

antara parakan-magelang

temanggung terjaga

berkerudung jarik kawung

menggema kidung

kehidupan orang-orang gunung

ketika hari berangkat berhitung

dan angka-angka berkejaran

menjadi bilangan tahun

engkaupun bertanya: sampai di mana kita

lalu terminal demi terminal

dan tikungan-tikungan terjal

menyela-nyela di antaranya: harapan

kehijauan yang berwajah rampogan

lalu tanah miring, si gunung miring

sebelum kumandang lagon dan pathetan

jiwa teronggok di dasar jurang dalam

seperti gendhing sebelum jejeran

lalu perang kembang

: kita masih setengah jalan!

Yogyakarta, 2005

 

Siang Arafah

serupa kicauan burung kesayangan

semua kenangan menukik menghampiri

menukik ke timbunan daun kuning di hati

daun-daun yang menatap dan melengkung

penuh air sesal warna pucat keperakan

lalu mengalir dalam irama sendu

lalu hiruk pikuk pun dininabobokan

oleh kering angin dan panas cuaca

dan perlahan pepohonan pun henti

lalu tak suatu pun terdengar

tak suatu pun, selain suara bersama

mengagungkan Yang Tak Ada

tak suatu pun

tapi suara itu, istriku

ah – kenapa begitu parau

gagap dan merana!

senandung burung kesayangan, istriku

kembali menerawang

lewat mulut Kekasihku yang pertama

dan senantiasa seperti ketika Dia tiupkan jiwa

pada hari yang pertama

tak suatu pun …

selain suara mengagungkan Yang Tak Ada

tak suatu pun, tapi kenapa suaraku parau

dan begitu merana!

ya, ya

aku mungkin cuma sebuah panggilan

di luar sepotong doa

serupa seorang narapidana

menatap ke arah lubang angin

di kamar tahanan bawah tanah

dan keluasan cakrawala

cuma nampak lewat ciut celah jendela

tapi di manakah puncak gunung bergoa itu, istriku

aku pun paham mengapa pintu goa

selalu saja tanpa cahaya

karna bagaimana mungkin

belepot lembaran catatan harian

disucikan lewat kebohongan dan penipuan

Kekasih, inilah sajakku

Tolong, baca dan aminkan!

Makkah, 2004

 

Sebuah Goa di Puncak Bukit

di sebuah goa kecil

di puncak bukit

seonggok tubuh kerdil

menggapai-gapai langit

engkau mesti bersabar

menakar diri menakar hati

sebelum lakon digelar

ditabuh dulu si babar layar

jangan dulu bertanya

di mana dalang sejati sembunyi

sebelum diri selesai mendaki

sebelum puncak

sebelum goa terlacak

Makkah, 2004

 

Secangkir Kopi

– bandi

Kita seduh hidup dalam secangkir kopi tanpa gula.

Sepiring krispi kangkung. Selusin tahu plempung.

Kumandang gamelan

Kumandang yang kembali. Sebelum tlutur dan palaran.

Surabaya, 2012

Demikian beberapa Puisi Bangsal Sri Manganti Suminto A. Sayuti, selamat membaca dan semoga bermanfaat bagi semuanya.

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply