Puisi-Puisi Linus Suryadi AG

Sastra 0
Linus Suryadi AG

Linus Suryadi AG

Puisi-Puisi Linus Suryadi AG – Linus Suryadi AG lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 3 Maret 1951 dan meninggal pada 30 Juli 1999. Kumpulan puisinya: Langit Kelabu (1980), Pengakuan Pariyem (1980), Perkutut Manggung (1986), Rumah Panggung (1988), Kembang Tunjung (1988), Lingga-Yoni (belum terbit), puisi bersetting wayang dan watak dalam Ramayana dan Mahabrata, Yogya Kotaku (belum terbit). Juga menulis beberapa buku esai sastra dan menyunting Tonggak: Antologi Puisi Indonesia Modern, sebanyak 4 jilid yang terbit tahun 1987.

Di bawah ini adalah beberapa puisi karya Linus Suryadi AG :

Pematung

Jangan tanyakan apa yang kuperbuat ini
Tapi kenapa aku berbuat demikian
Jangan tanyakan berapa harga batu ini
Tapi ada apa aku jadi demikian

Di balik batok kepalaku mencandra :
Bocah cilik bebas telanjang
Rambut terurai dikepang dua
Tatap matanya sorgaku yang hilang

Jangan tanyakan bagaimana kuberbuat ini
Pedih-kasihnya berproses perlahan
Tenaga hidupku berhimpun satu
O, jangan tanyakan apa kudapat tebusan!

 

Kemudian Senyap, Kemudian Gelap

 

Kemudian senyap, kemudian gelap

engkau berjalan demikian tegap

Jika hari, engkau tahu, berayun

dalam lena kabut-kabut terbantun

 

Jatuh di tanah-tanah yang anggun

jatuh kita yang sangsi: Kenapa di sini

Kenapa engkau dan aku bersendiri

suara pun menebak: suaramukah ini?

1971

Elegi

Akulah tongkang sendirian
Perahu di tengah lautan
Sunsang menampung malang
Rambu-rambu dunia lataku
Mendayungkan tiang tenggelam
Meraih letih, o, gelombang
Lautan suara sibuk
Dalam diri memburu
Memburu yang kehilangan

1971
Alibi

Antara ayat-ayat suci
Engkau pun mencari
Halaman yang hilang
(anak kecil mengejar bayang-bayang)
kapan cuaca tiba
meredakan gemuruh kedirian
berterompah impian
(di sisi kesepian)
ada pun sesuatu
derasnya topan
derunya rindu
dendam kekecewaan

1971

Baron

 

Engkau dengarkah di sini: dentum ombak dan karang

gugusan pantai selatan, tepi jurang-jurang dalam

Horison yang jauh , lengkung langit berawan

membias ke laut, dalam, membiaskan permukaan

 

Engkau dengarkah di sini: dentum ombak dan karang

menembus sungai perlahan, susut muara tenggelam

Gempuran yang bertahan, angin semesta mengemban

perpaduan kasih, dalam, perpaduan dendam

1974

Jurang

“Monika!” teriak seseorang di tebing kanan

“Merdeka!” balas seorang di tebing kiri

Lalu keduanya melambai-lambaikan tangan

Mereka merasa bahwa salamnya kesampaian

1975

Lagu Tentang Seorang Penggesek Rebab

3000 gesekan lebih perih dari 3000 rajaman
3000 sayatan lebih pedih dari 3000 tikaman
mijil diulang-ulang. Tembang sedih; kenapa
mencapai kelembutan harus lewat kekerasan?
Sampai teriakan menjelma menjadi bisikan
Sampai kekakuan menjelma menjadi keluwesan
Sampai luluh derita. Sampai lebur di badan
Sampai tumbuh dan berbuah kebijksanaan!

1981

Nocturno

Bagaimanakah kau hendak memotret rasi-rasi bintang

yang berguling dalam gelombang cahaya langit malam?

Bagaimanakah kau hendak menghitung galaksi Bima Sakti

yang warna-warni dan timbul tenggelam dalam kelam?

 

Ya, bagaimanapun kau hendak merekam gelagat insan

yang sarat dogma kitab-kitab dan rahasia penciptaan

1992

Itulah tadi beberapa puisi karya Puisi-Puisi Linus Suryadi AG yang diambil dari berbagai sumber. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply