Puisi Sang Penyair Pelo Widji Tukul

Sastra 0
Puisi Sang Penyair Pelo Widji Tukul

Puisi Sang Penyair Pelo Widji Tukul

Puisi Sang Penyair Pelo Widji Tukul – Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963, meninggal di tempat dan waktu yang tidak diketahui, hilang sejak diduga diculik, 27 Juli 1998 pada umur 34 tahun) adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Tukul merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Sejak 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui rimbanya, dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer[1]. (Sumber Wikipedia). Di bawah ini beberapa puisi Sang Penyair Pelo :

1982

Puisi Kemerdekaan

Kemerdekaan adalah nasi

Dimakan jadi tai

Puisi Kemerdekaan, Agustus 1982

1983

Jam

tak usah terkejut pun

putar jarum jam akan merajutmu

kisah lama yang selalu bisu

menabur belantara pertanyaan baru

Angke, 9 Maret 1983

 

Api

api yang bernama rahmat

tak mungkin dimatikan, tak akan kumatikan

maka kubiarkan menjilat mata batinku

membakar gelap tergelap perabot kamar impian

bisiknya:

:-korek saja rasa nyeri dari rongga benakmu

 

cukil saja lalu bakar abukan kosongkan bola mata

dari angan hitam kelabu

:-dunia kita dunia yang terlanjur

 

:-mau apa lagi? mau apa lagi?

 

sebelum pergi rahmat mengecup kerut dahiku

dan jiwapun penuh!

(dan pipiku kiri kanan masih merah bekas ciuman)

(dan wajahku masih merah dadu)

:-jalan, nak, anak lanang

 

suatu waktu siapa pu pasti tertegun

 

seperti kamu

Angke, 9 Maret 1983

 

Semenjak Aku Berkenalan denganmu

semenjak aku berkenalan dengan-Mu

inilah yang kukerjakan

mengutungi lengan dan kaki

yang tumbuh di umur sekujur

 

inilah yang membikin pilu

bertemu dengan-Mu

tak perlu kemana-mana

tapi inilah yang terjadi

lengan dan kakiku selalu tumbuh

sedang untuk memelukmu tak perlu jari ini

 

serinu lenganku

seribu kakiku

menjauhkanku pada-Mu

Palur, 23 November 1983, Solo

 

(Akasia Bercerita)

sebuah topi mahal terjatuh di jalan raya

pada suatu sore sesudah hujan lebat

tak dipungut kembali oleh pemiliknya

 

akasia di tepi jalan

dengan butiran air di pucuk-pucuk daunnya

aku bercerita dengan jujur

sedia apa kiranya sampai pipinya sipu-sipu malu

pipi akasia

pipi kotamu pula

 

tadi seorang gelandangan menyebrangi jalan ini

lalu lintas ramaihingga agak lama di di seberang

jalan sana

agak lama dia memodong anak bayinya

agak lama hujan tercurah memandikan mereka berdua

agak lama bayinya menangis dalam curah hujan

tapi tak ada topi di kepala mereka

dan orang-orang yang punya payung

bersiul-siul memuji kebesaran alam ciptaan tuhan

 

topi mahal itu jatuh di jalan itu juga

tapi hujan sudah reda lama

topi mahal itu tak dipungut kembali oleh pemiliknya

bukanlah harganya tak seberapa?

13 Desember 1983. 24.00.

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply