Bagaimana Radikalisme di Poso, Setelah Basri ditangkap dan Santoso tewas ?

Berita, Nasional 0
 Bagaimana Radikalisme di Poso, Setelah Basri ditangkap dan Santoso tewas ?

Bagaimana Radikalisme di Poso, Setelah Basri ditangkap dan Santoso tewas ?

(Cikancah-Cyber) Bagaimana Radikalisme di Poso, Setelah Basri ditangkap dan Santoso tewas ? – Baru-baru ini Basri telah ditangkap. Basri yang merupakan tangan kanan sekaligus salah satu buronan paling dicari dari kelompok Santoso, disebut semakin memperlemah kelompok yang menamakan diri mereka Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Seorang pengamat terorisme mencemaskan radikalisme kelompok Santoso, yang tewas dalam operasi militer Juli (18/07) lalu, sudah sempat tertanam di sebagian warga Poso dan sekitarnya.

“Itu semua tergambar dari warga yang datang menghadiri pemakaman Santoso. Tampak jelas jumlah warga yang simpati kepada Santoso cukup banyak,” ungkap pengamat terorisme, Solahudin.

Berdasarkan pantauan di Poso yang hadir pada pemakaman Santoso di Kecamatan Poso Pesisir Juli (23/07) lalu, ada sekitar seribuan simpatisan Santoso.

“Mereka ini melakukan pawai. (Waktu Santoso dikuburkan) suara takbir dikumandangkan keras. Suasananya, kalau hadir langsung, itu mencekam,” tutur seorang wartawan televisi.

Dia mengaku dilarang mengambil gambar terlalu detail ke wajah simpatisan. “Mereka pakai tutup muka semua.”

Solahudin mengungkapkan alasan adanya simpatisan warga lokal itulah yang membuat MIT, yang dideklarasikan Santoso pada 2012, masih bisa bertahan di Poso.

Menurutnya, bantuan logistik yang terus mengalir kepada MIT  sebagian berasal dari masyarakat Poso. Ia mengungkapkan besarnya simpati kepada kelompok Santoso, bisa ditarik ke konflik komunal di Poso yang terjadi sekitar tahun 2000.

“Saat itu aparat pemerintah absen di Poso, tidak bisa memberikan perlindungan kepada umat Islam. Kemudian, muncul Santoso yang memberikan perlindungan,” papar Solahudin.

“Sehingga banyak warga Poso yang melihat Santoso sebagai pahlawan, sampai sekarang, meskipun yang dia lakukan adalah tindak pidana terorisme,” katanya.

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen (Pol.) Boy Rafli Amar, menepis besarnya dukungan masyarakat Poso kepada MIT. Boy membantah banyaknya simpatisan yang hadir pada pemakaman Santoso.

Mereka itu warga (biasa), ingin lihat-lihat saja. Biasa kan, namanya di kampung, banyak kegiatan yang bisa jadi perhatian masyarakat. Apalagi mereka pernah kenal Santoso,” tutur Boy Rafli.

Basri, tokoh kelompok teroris MIT, ditangkap Satuan Tugas (Satgas) Tinombala, Rabu (14/09), hampir secara kebetulan sesudah anak buahnya, Andika, ditemukan tewas karena hanyut di Sungai Puna, Poso.

Laki-laki yang disebut Polri ditangkap tanpa perlawanan ini adalah pengganti Santoso, setelah pucuk pimpinan kelompok yang berbaiat ke ISIS itu tewas.

Boy Rafli menyebutkan dengan ditangkapnya Basri dan tewasnya Andika, anggota jaringan tersebut sekarang tinggal 12 orang, dengan lima atau enam pucuk senjata api.

Dengan kondisi jumlah anggota dan logistik itu, Polri mengklaim MIT semakin lemah. Meskipun masih ada satu pimpinan pengganti Santoso yang belum ditangkap, yaitu Ali Kalora, Boy Rafli menilai, penangkapannya tinggal menunggu waktu saja.

Satgas Tinombala, yang dibentuk sejak Januari 2016 untuk menumpas jaringan terorisme di Poso, akan terus dikerahkan untuk menangkap seluruh anggota MIT yang tersisa.

Pengamat terorisme Solahudin menegaskan hard approach (melalui operasi militer) tidak akan menyelesaikan akar masalah terorisme. “Yang akan menyelesaikan masalah itu adalah soft approach,” katanya.

Solahudin menjelaskan strategi yang dimaksudnya itu terkait dengan deradikalisasi, tetapi tidak hanya kepada narapidana terorisme. Kontra radikalisme, berupa kampanye kepada orang-orang yang belum atau berpotensi terpapar, supaya tidak benar-benar menjadi radikal. Sumber:bbc.com.

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply