Jalaluddin Rumi dalam Jalan Menuju Cinta

Sastra 0
Jalan Menuju Cinta

Jalan Menuju Cinta

Jalaluddin Rumi dalam Jalan Menuju Cinta – Beberapa pilihan puisi Jalan Menuju Cinta karya Jalaluddin Rumi terdiri dari 59 puisi dan 5 cerita :

 

Yang Seribu dari Jiwaku

Wahai Tuhan Pemilik Keindahan, Pemilik Anugerah

Masukilah jiwaku

sebagaimana kau masuki kebun yang penuh bunga

 

Hanya sebab kerling-Mu batu berubah jadi manikam

Satu isyarat dari-Mu telah cukup untuk

mencapai setiap tujuan

 

Datang, datanglah. Engkaulah kehidupan dan pembebasan manusia

Datang, datanglah. Engkaulah mata dan cahaya Yusuf

Eluslah kepalaku. Sebab sentuhanmu mencahayai kegelapan tubuhku

 

Datang, datanglah. Engkau menganugerahkan keindahan dan rahmat

Datang, datanglah. Engkau penyembuh seribu jenis penyakit

Datang, datanglah. Meski belum pernah kau tinggalkan aku

tetaplah kemari dan dengarkanlah puisiku

sebab Engkaulah yang seribu jumlahnya dari jiwaku

 

Pergilah dan bawa serta kerinduan masa lalu

Engkaulah Kekasihku

 

Jika Raja tidak bersemayam di singgasana dunia ini

Yang ada hanya kegelapan dan kegamangan

 

Engkau bergembira dan hidup dengan napas-Nya

Engkau bergerak karena kekuatan yang mengalir dari cinta-Nya

Sekarang saatnya, seperti seniman, Engkau mencipta

Sekarang saatnya, seperti pelayan, engkau menyapu

 

Setiap yang Kau sentuh akan menuju

dan terbang bersama sayap-sayap bidadari

Namun, ingatlah, sayap-sayap itu tak cukup kuat

membawamu terbang menuju Tuhan

Sama seperti seekor kuda bagal yang dikendarai Nabi

Hanya cinta yang akan membawamu kembali menuju Tuhan

 

Awan Hitam

Luluhkan dirimu

Luluhkan dirimu dalam cinta

Ketika kau luluhkan dirimu dalam cinta

akan kau temukan segalanya

 

Luluhkan dirimu

Luluhkan dirimu

Jangan takut kehilangan

Karena engkau akan bangkit dari atas tanah

dan memeluk surga abadi

 

Luluhkan dirimu

Luluhkan dirimu

Larikan dirimu jauh-jauh dari bentukan tanah

Sebab tubuhmu adalah belenggu

maka engkau narapidana

Lemparkan dirimu keluar dari tembok penjara

dan berjalanlah bersama para raja dan pangeran

 

Luluhkan dirimu

Luluhkan dirimu di telapak kaki Raja yang mulia

Ketika kau luluhkan dirimu di hadapannya

engkau akan menjadi Raja

 

Luluhkan dirimu

Luluhkan dirimu

Berlarilah dari awan hitam yang menyelubungimu

Akan kau lihat cahayamu sendiri

bersinar seterang cahaya purnama

 

Sekarang masukilah kesunyian

Inilah jalan yang paling bisa kau percayai

untuk meluluhkan dirimu …

 

Seperti apakah hidupmu, seperti apa? – Bukan apa-apa

selain perjuanganmu melawan seseorang

Bukan apa-apa, selain pelarianmu dari kesunyianmu

 

Siapa yang mengatakan bahwa yang abadi telah mati?

Siapa yang mengatakan bahwa Cahaya hidup telah redup?

Musuh matahari tinggal di atas atap

Dengan mata terpejam ia berteriak lantang,

“Matahari yang terang benderang telah mati!”

 

Seperti Ini

Jika seseorang bertanya

“Seperti apakah keindahan yang sempurna itu?”

Tunjukkan wajahmu padanya, lalu ucapkan

Seperti ini

 

Jika seseorang bertanya

“Seperti apakah bentuk bulan purnama?”

Panjatlah atap tertinggi, lalu berteriaklah lantang

Seperti ini

 

Jika seseorang bertanya

“Seperti apakah sayap bidadari itu?”

tersenyumlah kepadanya

Jika ia bertanya tentang aroma surga

Peluklah ia rapat-rapat, biarkan wajahnya

membusai rambutmu,

Seperti ini

 

Jika seseorang bertanya

“Bagaimana Isa menghidupkan orang mati?”

Jangan ucapkan apa-apa kepadanya walau

hanya sepatah kata —

Ciumlah pipinya dengan lembut,

Seperti ini

 

Jika seseorang bertanya

“Bagaimana rasanya terbunuh cinta?”

Pejamkan matamu, lalu sobeklah bajumu

Katakan padanya,

Seperti ini

 

Jika seseorang bertanya tentang rupaku

Tengadahkan wajahmu, lalu pandanglah

angkasa dengan matamu lebar terbuka

Seperti ini

 

Sesungguhnya jiwa memasuki satu jiwa lalu

jiwa lainnya

jika ia masih meragukannya pula

Masuklah dirimu ke rumahku

lalu ucapkan selamat tinggal kepadanya

Seperti ini

 

Kapan pun seorang pencinta mengisakkan tangisannya

Ia kisahkan kembali cerita kita

Dan Tuhan menekurkan kepala-Nya

mendengarkan

Seperti ini

 

Aku seperti gudang penyimpan harta berharga

Aku serupa dengan kepedihan pengingkaran pada diri

Agar kau bisa melihatku, arahkan

pandangmu lebih rendah, ke tanah

Lalu pandanglah surga

Seperti ini

 

Hanya angin sepoi saja yang mengetahui

rahasia penyatuan

Dengarkanlah suara lembutnya

membisikkan satu lagu bagi setiap hati

Seperti ini

 

Jika seseorang bertanya

“Bagaimana seorang pelayan akan dapat

meraih rahmat Tuhan?

menjadi lilin yang bersinar hingga terlihat setiap orang?”

Seperti ini

 

Aku juga ditanya tentang aroma tubuh Yusuf

yang memperjalankannya dari satu kota ke kota lainnya

Itulah aroma tubuhmu

yang ditiupkan Tuhan dari dunia-Nya yang sempurna

Seperti ini

 

Aku ditanya lagi tentang aroma tubuh Yusuf

yang membuka mata dan penglihatan yang buta

Itulah tiupan-mu

yang menyapu kegelapan dan menjernihkan

pandangan mataku

Seperti ini

 

Mungkin Syams akan lebih dermawan

Mengisi relung-relung hati kita dengan cinta

Mungkin ia akan menaikkan satu lengkung alisnya

dan melempar kita dengan satu lirikannya

Seperti ini

 

Jangan lagi kita percakapkan malam!

Pada lintasan hari-hari kita malam tak pernah singgah

Pada agama Cinta kita

tak ada agama dan tak ada cinta

Cinta ialah lautan Tuhan yang tak bertepi

Namun, alangkah mengherankan,

Ribuan jiwa tenggelam dalam lautan itu dan

berteriak lantang

“Tuhan tidak ada!”

 

Wahai mata, gosokkan kemejamu dalam darah

Wahai jiwa, gantungkan baju-bajumu pada

roda kehidupan dan kematian

 

Wahai lidah, biarkan Pencinta menyanyi

Wahai telinga, mabuklah oleh nyanyian-Nya

 

Yang tercinta

Ada sebuah tempat di mana kata-kata

menjadi sunyi

di mana bisikan-bisikan hati muncul dan

tak tertabiri

 

Ada sebuah tempat di mana suara

menyanyikan keindahanmu

sebuah tempat di mana setiap nafas

memahat dirimu

di jiwaku

 

Wahai Kekasih, Dekap Aku dalam Cintamu

Asap yang menari bersama cinta –

Wahai Kekasih, dekap aku seperti asap yang menari itu

Panas yang membakar dalam api

Wahai kekasih, dekap aku seperti panas membakar api

 

Lilin cintaku terbakar oleh rasa kangen

Seperti lelehan lilin ia menangis

Seperti sumbu lilin yang terbakar habis

Wahai kekasih, dekap aku seperti lilin yang

meleleh karena sumbunya terbakar api

 

Saat sekarang kita berjalan bersama menyusuri jalan cinta

Tak dapat kita tidur lagi malam-malam

Di rumah penginapan pemusik menabuh genderang dan drum –

Wahai Kekasih, dekap aku seperti pejalan dan pemusik itu

 

Malam gelap, para pecinta tak terlelap

Jangan ganggu mereka dengan keinginan untuk tidur sejenak

Satu yang mereka inginkan, di sini bersama kita

Wahai Kekasih, dekap aku seperti para pencinta luapkan cinta

 

Penyatuan diri bagaikan sungai yang mengalir dengan

sepenuh godaan menuju laut

Malam nanti bulan akan mencium bintang-bintang

Majnun menjelma Laila –

Wahai Kekasih, dekap aku seperti mereka

 

Tuhan adalah segalanya

Ia menganugerahi kebaikan bagi penyair itu

Segala yang kusentuh dan kulihat berubah menjadi nyala cinta

Wahai Kekasih, dekap aku dalam pernyataan cinta yang serupa

 

Pada hari cintamu menyentuhku

Aku menjadi gila hingga kawanan orang gila

menjauhiku dan lari dariku

 

Kata-kata dari sang pujangga tak kan pernah menawan

mantra yang kau sorotkan ke jiwaku lewat gerak alis mata

 

Di Kesunyian

Seorang penuntun telah memasuki hidup ini

diam-diam

Pesannya terdengar hanya dalam sunyi

 

Hiruplah anggurnya

Luluhkan dirimu

Jangan kau hinakan kebesaran cintanya

Sebab ia meringankan mereka yang menderita

dalam sunyi sepi suara

 

Beningkan permukaan cermin dengan tiupan nafasmu

Pergilah bersamanya, tanpa kata-kata

Ia mengetahui seluruh amalanmu

Dia adalah seseorang yang memperjalankan

roda suara

dengan diam sunyi kata

 

Setiap pikiran yang terkubur di hatimu

Akan diperlihatkannya padamu satu demi satu

dengan diam

 

Ubahlah setiap bentuk pikiranmu menjadi seekor burung

Biarkan mereka terbang ke bagian bumi yang lain

Yang satu burung hantu, satunya burung elang,

satunya lagi burung gagak

Masing-masing berbeda satu sama lain

Namun dalam sunyi mereka hakikatnya sama

 

Agar bisa memandang Bulan yang tak

terlihat mata telanjang

Arahkan pandanganmu ke dalam batinmu

Lihatlah dirimu

dalam diam

 

Di dunia ini dan dunia berikutnya

Jangan kau perbincangkan ini dan itu

Biarkan ia yang akan menunjukkan

semuanya kepadamu

gemerlap satu …. dalam diam

Tentang  Jalaluddin Rumi

Rumi hidup dalam kemasyhuran. Ia menjabat sebagai rector pada sebuah Universitas di Anatolia, ibukota Konya (sekarang Turki). Pada usia tiga puluh empat tahun ia mempunyai ratusan murid setia, raja pun termasuk muridnya. Hal yang paling tak bisa dilupakan dan tercatat dalam sejarah hidup Rumi ialah sebuah peristiwa yang menandai perubahan dalam keseluruhan hidup Rumi selanjutnya. Yaitu, pertemuannya dengan seorang darwis pengembara yang bernama Syamsi Tabriz.

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply