Madah Kelana Sanusi Pane

Sastra 0
Madah Kelana Sebuah Kumpulan Puisi Sanusi Pane

Madah Kelana Sebuah Kumpulan Puisi Sanusi Pane

Madah Kelana Sanusi Pane – Sanoesi Pane (1905-1968) mula-mula menulis sajak-sajak yang dimuat dalam majalah-majalah di Jakarta dan Padang. Buku pertamanya Pancaran Cinta (1926), disusul Puspa Mega (1927), dan terakhir Madah Kelana (1931). Juga mengarang buku Sandyakala Ning Majapahit, Kertadjaja danManusia Baru.

Puisi Karya Sanusi Pane dalam Madah Kelana berjumlah 50 puisi, dengan tebal buku 62 halaman. Di bawah ini adalah beberapa puisi dari Madah Kelana :

Dibawa Gelombang

Alun membawa bidukku perlahan

Dalam kesunyian malam waktu,

Tidak berpawang, tidak berkawan,

Entah kemana aku ta’tahu

 

Jauh di atas bintang kemilau,

Seperti sudah berabad-abad;

Dengan damai mereka meninjau

Kehidupan bumi, yang kecil amat.

 

Aku bernyanyi dengan suara

Seperti bisikan angin didaun;

Suaraku hilang dalam udara,

Dalam laut yang beralun-alun,

 

Alun membawa bidukku perlahan

Dalam kesunyian malam waktu,

Tidak berpawang, tidak berkawan,

Entah kemana aku ta’tahu

 

Awan

Awan datang melayang perlahan,

Serasa bermimpi, serasa berangan,

Bertambah lama, lupa di diri,

Bertambah halus, akhirnya seri,

Dan bentuk menjadi hilang

Dalam langit biru-gemilang.

Demikian jiwaku lenyap sekarang

Dalam kehidupan teduh tenang.

 

Teratai

Kepada Ki Adjar Dewantara

Dalam kebun di tanah airku

Tumbuh sekuntum bunga teratai:

Tersembunyi kembang indah permai,

Tidak terlihat orang yang lalu.

Akarnya tumbuh di hati dunia,

Daun berseri Laksmi mengarang:

Biarpun ia diabaikan orang,

Seroja kembang gemilang mulia.

Teruslah, o Teratai Bahagia,

Berseri di kebun Indonesia,

Biar sedikit penjaga taman.

Biarpun engkau tidak dilihat

Biarpun engkau tidak diminat,

Engkaupun turut menjaga Zaman.

 

Sajak

O, bukannya dalam kata yang rancak,

Kata yang pelik kebagusan sajak.

O, pujangga, buang segala kata,

Yang ‘kan cuma mempermainkan mata,

Dan hanya dibaca selintas lalu,

Karena tak keluar dari sukmamu.

 

Seperti matari mencintai bumi,

Memberi sinar selama-lamanya,

Tidak meminta sesuatu kembali,

Harus cintamu senantiasa.

 

Tanah Bahagia

Bawa daku ke negara sana, tempat bah’gia

Ke tanah yang subur, dipanasi kasih cinta.

Dilangiti biru yang suci, harapan cita,

Dikelilingi pegunungan damai mulia.

 

Bawa daku ke benua termenung berangan,

Ke tanah tasik kesucian memerak silau,

Tersilang sungai kekuatan kilau kemilau,

Dibujuk angin membisikkan kenang-kenangan.

 

Ingin jiwa pergi ke sana tidak terkata:

Hatiku dibelah sengsara setiap hati,

Keluh kesah tidak berhenti sebentar jua.

 

O, tanah bah’gia, bersinar emas permata,

Dalam dukacita engkau mematahari.

Pabila gerang tiba waktu bersua?

 

Betapa Kami Tidakkan Suka

Betapa sari

Tidakkan kembang,

Melihat terang

Simata hari.

 

Betapa kami

Tidakkan suka,

Memandang muka

Sijantung hati.

 

Taj Mahal

Kepada “Anjasmara”

Dalam Taj Mahal, ratu astana,

Putih dan permai: pantun pualam

Termenung diam di tepi Jamna

Di atas makam Ardjumand Begam,

Yang beradu di sisi Syah Jahan,

Pengasih, bernyanyi megah mulia

Dalam malam tiada berpadan,

Menerangkan cinta akan dunia,

Di sana, dalam duka nestapa,

Aku merasa seorang peminta

Di depan gapura kasih cinta,

Jiwa menjerit, di cakra duka

Ah, Kekasihku, memanggil tuan.

Hanya Jamna membalas seruan.

 

Doa

O, Kekasihku, turunkan cintamu memeluk daku.

Sudah bertahun aku menanti, sudah bertahun aku mencari.

O, Kekasihku, turunkan rahmatmu ke dalam taman hatiku.

Bunga kupelihara dalam musim berganti, bunga kupelihara

dengan cinta berahi.

O, Kekasihku, buat jiwaku bersinar-sinar!

O, Keindahan, jiwaku rindu siang dan malam, hendak me-

mandang cantik parasmu.

Datanglah tuan dari belakang pegunungan dalam ribaan pagi

tersenyum.

O, beri daku tenaga, supaya aku bisa bersama tuan melayang

sebagai garuda menuju kebiruan langit nilakandi.

 

Bimbang

Aku duduk dalam kesunyian jiwaku dan mencoba membu-

nyikan lagu pada kecapi. Ah, tiada suara yang keluar dan

aku menundukkan kepala, termenung akan tanah air menge-

luarkan lagu yang tidak menyambung waktu silam.

Adinda datang dan berkata dengan suara penuh duka,

“Mengapa Tuan termenung saja, tidak membunyikan lagu

penghibur hati? Sudah lama cantingku berhenti, tidak sanggup

melukis tenunanku, karena engkau tidak kudengar membunyi-

kan kecapi.”

Aku mengangkat kepada dan memandang dia dengan mata

murung caya.

“Aduh, Adinda, hatiku lemah mendengar suara yang tidak

sepadan dengan kehijauan tanah airku.”

 

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
Madah Kelana Sanusi Pane,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply