Nyanyian Tanah Air

Sastra 0
Nyanyian Tanah Air

Nyanyian Tanah Air

Nyanyian Tanah Air – Saini K.M. lahir di Sumedang, Jawa Barat, 16 Juni 1938. Menyelesikan pendidikan kesarjanaannya pada Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Keguruan Sastra dan Seni Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Bandung.

Naskah-naskah dramanya yang mendapat Hadiah Dewan Kesenian Jakarta adalahPangeran Sunten Jaya (1973), Ben Go Tun (1977), Serikat Kaca Mata Hitam (1979), dan Sang Prabu (1981). Naskah dramanya yang lain, yakni Kerajaan Burung (1980) dan Kalpataru (1981) mendapat Hadiah Direktorat Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; sementara Sebuah Tumah di Argentina (1980) mendapat hadiah Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa DKI Jaya dan Ken Arok (1985) mendapat Hadiah Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1991).

Naskah-naskahnya yang lain adalah Pengeran Geusan Ulun (1963), Siapa Bilang Saya Godot (1977), Restoran Anjing (1979), Panji Koming (1984), Syekh Siti Jenar (1986),Dunia Orang, Mati (1986), Madegel (1987), dan Orang Baru (1988).

Kumpulan esainya: Beberapa Gagasan Teater (1981), Dramawan dan Karyanya(1985) serta Teater Indonesia dan Masalahnya (1988).

Kumpulan puisinya: Nyanyian Tanah Air (1968), Rumah Cermin (edisi 1, 1979),Sepuluh Orang Utusan (1989), dan Rumah Cermin (edisi 2, 1996). Sajak-sajaknya telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman.

Di bawah ini merupakan beberapa pilihan puisi karya Saini K.M. dalam Nyanyian Tanah Air yang terdiri dari 100 buah puisi:

SAJAK BUAT ANAKKU

Sampai di manakah cinta Ayah dan Ibu, Anakku

kalau tidak hingga ke ujung-ujung jari?

Akan tinggal saja menggapai, melambai dari stasiun kecil.

Pelabuhan terpencil.

 

Kemudian engkau sendirilah Ayah dan Ibu

dari Nasibmu

Terimalah Bumi dan Langit, hujan terik

siang serta malam hari kalbumu.

 

Sekali kan tiba saat kau tegak sendiri

Berdirilah atas bahu, ya, pijaklah kepala kami

jangkau bintang-bintang yang dari abad ke abad

cuma dapat kami tengadahi!

1963

SURAT BERTANGGAL 17 AGUSTUS 1946

Kami sambut fajar kami dengan cara tersendiri:

Tenggorok perunggu serak memaki-maki angkasa hitam

yang gemetar atas bumi karat dan rongsokan

tempat tulang-tulang abad lampau rapuh oleh asin air mata.

 

Hari ini pemuda-pemuda mengganti hati mereka dengan baja

Agar bisa tidur berbantal batu dan berselimut angin

Sedang bagi gadis-gadis kami hadiahkan mawar api

Kembang di ujung senapan, bau mesiu alangkah wangi!

 

Dengar! Lidah-lidah api memanggil di malam sepi,

berdentam, berdesing!

Kami pun ke luar, membajak Tanah Air dengan sangkur

telanjang

Menyiramnya dengan darah, memupuknya dengan serpihan

daging,

karena langit hanya menghujankan api dan besi, api dan besi.

1965

KOTA KELAHIRAN

Menghimbau kotaku di dasar hijau lembahmu

Dinafasi angin di dua musim

Ketika fajar berlinang embun

Dan gugur bunga-bunga kemarau.

 

Berapa banyak di sana bulan jatuh ke kali

Terapung dalam alir rindu kita

Surat-surat terlambat atas rentangan rel kereta

Jendela yang senantiasa terbuka ke arah masa lalu.

 

Berapa banyak di sini hujan menguyupkan hatiku

Dan malam lewat atas pelupuk mata terbuka

Jalan panjang merangkai tahun ke tahun

Di likunya wajah-wajah berdesak menyuruki sepi.

1960

PRIANGAN

Di sini tinggal bangsa petani

Hati berakar di dalam bumi

Sedang kali kehidupan

Berhulu di kubur leluhur.

 

Di sini lahir bangsa musafir

Barkawan lembah gunungmu

Jalan kenangan bersilang

Menjangkau dusun dan kota.

 

Di sini hidup  bangsa penyair

Kekasih bulan purnama

Kecapi malam cendana berukir

Semerbak lagu Cianjuran.

1960

NYANYIAN TANAH AIR

Gunung-gunung perkasa, lembah-lembah yang akan tinggal

menganga

dalam hatiku. Tanah airku, saya mengembara dalam bus

dalam kereta api yang bernyanyi. Tak habis-habisnya hasrat

menyanjung dan memuja engkau dalam laguku.

 

Bumi yang tahan dalam derita, sukmamu tinggal terpendam

bawah puing-puing, bawah darah kering di luka,

pada denyut daging muda

Damaikan kiranya anak-anakmu yang dendam dan sakit hati,

ya Ibu yang parah dalam duka-kasihku!

 

Kutatap setiap mata di stasiun, pada jendela-jendela terbuka

kucari fajar semangat yang pijar bernyala-nyala

surya esok hari, matahari sawah dan sungai kami

di langit yang bebas terbuka, langit burung-burung merpati

1963

SISYPHUS

Sisyphus mendorong batu ke puncak gunung

dan batu kembali ke jurang menggelundung.

Bolak-balik beribu tahun: beribu tahun

kau mendaki dan tergelincir, jatuh dan bangun.

 

Jatuh dan bangkit di Babil, Sodom dan Gomorah

Auschwitz, Hiroshima-Nagasaki dan Vietnam.

Dan dari dasar derita, dengan nafas tersengal

kau berseru ke langit, “Apakah artinya ini?”

 

Langit menjawabmu dengan biru, dengan bisu.

Kau pun bangkit lagi; pucat, berdebu dan luka

kembali mendaki dan memandang Angkasa. Mungkin

itulah artinya: Payah dan luka kau tak tunduk.

1974

AHIM, PENGANGKUT SAMPAH

“Selamat pagi, Pak. Ngantor?” demikan sapanya

pagi itu, saat kemarau menggugurkan daun-daun mahoni

“Selamat pagi,”  jawab saya seperti saya juga pernah

menjawab tegur sapa kakeknya tiga puluh tahun yang lalu.

 

Generasi ketiga, bagai generasi daun-daun mahoni

akan jatuh ke bumi dengan cara yang sama;

jadi pupuk, hanya jadi pupuk semata. Demikian

bagimu Ahim tiada kemarin-tiada esok hari.

 

Tujuh belas tahun bangku sekolah, satu perpustakaan

mungkin dapat mengubahmu jadi manusia; dan kau

diterima sejarah. Namun kesempatan itu telah hilang

dalam hidupmu hari ini, bawah timbunan sampah ini.

1986

PAK GURU ACIL

Bagai pohon ranggas pada usia dua delapan

Guru Acil tegar berdiri di depan kelas.

Dengan sabuknya ia kendalikan perut lapar

yang sudah menggerutu pada pukul sebelas.

 

“Anak-anak, buka mata dan lihat dunia!” serunya

pada para siswa yang berjajar duduk

di kelas berlantai tanah dan beratap ijuk.

“Anak-anak, kuajar kalian menulis masa depanmu.”

 

Di sudut Indonesia yang tak terlukis dalam peta

Guru Acil membariskan siswanya menghadap matahari;

berjalan di tanah berbatu dan tersandung-sandung

bagai tentara ia nyanyikan “Halo-halo Bandung”.

1985

DEWI SARTIKA

Kuntum yang berkembang dalam sepi

Di pinggir jalan tempat sejarah lewat

Akankah ia hanya menyebar wangi

Pada angin lalu, pada masa lalu semata?

 

Tidak!

 

Gadis-gadis telah menyimpan benihnya

Menyemai dan menyiraminya dalam kalbu

Dan di bawah lengkung langit, di seberang fajar

Seribu, sejuta lagi akan kembali mekar.

1993

MARSINAH

Jangan lupakan saya, jangan disobek

lembar sejarah yang bersimbah darah.

Saya mati dan makin dalam terkubur waktu,

namun ingat. Saya tak pernah menyerah.

 

Tak pernah mengalah. Karena tanpa perlawanan

hidup tanpa martabat. Tanpa keadilan

adakah yang bernama kemerdekaan? Kemerdekaan,

wahai kata yang terhapus dari teks proklamasi.

 

Jangan lupakan saya: Marsinah. Jadikan saya

tumbal bagi putra-putrimu, saudari-saudarimu

bahkan ibu-kandungmu, agar tak lagi

mereka boleh disiksa, diperkosa, dan dibunuh.

1997

BANDUNG

1

Ada seribu satu alasan untuk meninggalkan rumah

: Padang terbuka di kaki langit atau biru laut

Gelombang demi gelombang membuka cakrawala.

Lalu kau pun berkata: Alangkah pengapnya kota!

 

Saatnya tiba menghapus resah dan masa lalu

: Menghapus kota dari peta hidupmu. Saatnya tiba

Melupakan batas-batas dan jadi warga dunia!

Tak ada kota, katamu, bumilah tempat tinggalku.

 

Sampai di suatu saat, di suatu tempat di tanah asing

Seseorang menyebut nama itu, nama kota itu

Bagai ujung belati suatu tusukan menembus ulu hati

Kau pun mengaduh dan mengerti arti kata rindu.

2

Para pengembara berkata: Kita ini warga kemanusiaan

Mengapa kau mengurung dirimu dalam sebuah kota?

Negeri-negeri sudah kehilangan batasnya dan langit

Dibentangkan bagi semua sayap, bagi semua harap.

 

Di negeri asing pun hutannya hijau dan senyum gadis

Sama-sama kesumba. Bentang layar yang lebih lebar

Julang anjung yang lebih akbar! Dermaga berjuluran

Dari segala pelabuhan, menjanjikan petualangan.

 

Tinggalkan kota dan masa lalu! Kata mereka. Tetapi

Kemarin akan terbawa dalam esok hari dan kau

Tak mungkin melarikan diri dari dirimu sendiri

Dari kota yang jalannya uratmu, udaranya nafasmu.

RINDU

Kata-kata bermimpi tentang diri mereka sendiri

dan jadi lebih cantik, lebih berwarna-warni.

Sementara kita kusut tergesa, diburu waktu

dalam udara bergolak, cemar dan kelabu.

 

Di kantor, kelas, atau kafetaria yang sesak

saya menghirup wangi kata-kata: Cuma sejenak.

O gunjing politik, kuliah slogan, dan lelucon cabul!

Betapa kata-kata terbunuh dan layu di daun telinga

 

Pada suatu kali mungkin kita lolos dari sini.

Berbaring di suatu tempat, tertawa dan bercinta;

di antara kata-kata yang asyik bermimpi

tentang diri sendiri, dan jadi serumpun bunga.

1989

Demikian puisi-puisi Saini KM yang diambil dari Kumpulan Puisi Nyanyian Tanah Air.

Tags:
Rate this article!
Nyanyian Tanah Air,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply