Puisi-Puisi Sulaiman Djaya

Sastra 0

Sebelum Hujan Jadi Kalender Basah

Sebelum hujan jadi kalender-kalender basah
di matamu kubayangkan pohon-pohon dan cuaca
saling berbagi rahasia
senja yang tak lagi belia

Aku pandangi dinding malam
dari jendela kaca
bersama seneon lampu kamar
ketika dingin mencuri

bintang-bintang di galaksi
dan di meja lembab
maut pun menulis puisi.
Barangkali kau akan berpikir

waktu sebenarnya
adalah apa yang membuat kita
menjadi lebih akrab
pada segala yang tak terduga.

Aku pernah bertanya ‘di manakah Tuhan berada’
ketika firman-firman suci diubah jadi senjata?
Namun segera aku jadi bosan
kepada mereka yang tertipu majelis-majelis

di abad ini. Sayang, kutulis puisi ini,
ketika kita mencintai kebenaran
dari segala kebetulan
yang justru acapkali membuat kita heran.

Kemarin, ketika gerimis
seperti kasidah para darwis, aku teringat
bagaimana kau membacakanku sekomposisi larik
tentang hidup yang jadi indah

karena selalu mempermainkan kita
dengan hasrat dan teka-teki
yang membuat kita marah atau bergairah
entah karena apa?

Dan di Desember yang kesekian kali ini,
barangkali, di esok nanti
kita akan lagi-lagi menulis puisi
dari keluguan atau gairah yang tak kita mengerti.

2015

Kalender November

Di sini gerimis adalah puisi
dan lagu rindu di dalam hati.
Barangkali mendung
adalah lembab senja
yang menerka sepotong cahaya

di sepasang matamu.
Masih kukenang perbincangan malam kita
sembari meramal masa depan
dan menjumlah angka-angka.

Sungguh katakan padaku, Pran,
bagaimana aku harus jatuh cinta
pada sore dan lanskap cuaca
yang kau terjemahkan dalam sajak
dan jejak-jejak hujan

yang jadi melankolia
pada secangkir kopi hitam.
Mengapa nasib seperti pencuri
yang pandai bersembunyi?

Sungguh, di sini, Pran, kuumpamakan
jalanan basah dan sendu dedaunan
seperti sebuah hikayat
yang tak lagi punya amsal
bagi bisu berputarnya jarum-jarum jam.

2015

Sumber : horison-online.com

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply