7 Kesamaan Dimas Kanjeng dan Pimpinan Padepokan Ksatriaan Satria Aji yang Keji

Berita, Kriminal, Nasional 0
7 Kesamaan Dimas Kanjeng dan Pimpinan Padepokan Ksatriaan Satria Aji yang Keji

7 Kesamaan Dimas Kanjeng dan Pimpinan Padepokan Ksatriaan Satria Aji yang Keji

(Cikancah-Cyber) – Biasanya pedepokan itu sebagai tempat sakral dan lokasi untuk menuntut ilmu. Tapi belakangan ada beberapa padepokan yang membuat heboh karena mengajarkan hal-hal menyimpang. Bahkan dijadikan sebagai tempat berbuat kejahatan.

Ini yang terjadi di Padepokan Kanjeng Dimas Taat Pribadi di Probolinggo, Jawa Timur dan Padepokan Kstarian Satria Aji di Depok, Jawa Barat. Dua pimpinan padepokan ini bahkan memiliki kesamaan.

Dilansir dari JawaPos.com soal kesamaan perbuatan pimpinan padepokan yang menjadi sorotan di kalangan masyarakat:

1. Sama-sama Membunuh Pengikutnya

Kanjeng Dimas Taat Pribadi adalah salah satu pemimpin padepokan yang terkenal di Probolinggo, Jawa Timur. Dia ditangkap ribuan aparat dari Polda Jatim karena mendalangi pembunuhan dua orang santrinya.

Dia adalah Abdul Gani dan Ismail. Keduanya dihabisi oleh sejumlah pecatan tentara yang menjadi pengikut Kanjeng Dimas. Konon katanya, dua orang ini dihabisi karena ingin membeberkan kebobrokan Kanjeng Dimas yang dianggap menipu.

Sementara Anton Hardianto alias Aji pemimpin Padepokan Ksatriaan Satria Aji membunuh dua muridnya yakni Ahmad Sanusi dan Shandy Eko Budianto.

2. Sama-sama menggunakan cairan

Kanjeng Dimas Taat Pribadi dilaporkan lagi atas kasus pembunuhan. Selain membunuh Abdul Gani dan Ismail Hidayah, dia dicurigai terkait atas kematian Kasianto dan Najemiah. Keduanya adalah pengikut Dimas Kanjeng yang menyetor uang dengan jumlah cukup besar. Kasianto setor Rp 300 juta, sedangkan Najemiah sudah memberikan Rp 200 miliar.

Keduanya kini telah meninggal. Keluarga curiga meninggalnya kedua orang ini berhubungan dengan air yang diberikan Dimas Kanjeng. Pasalnya beberapa saat sebelum meninggal mereka sempat menenggal air yang dianggap suci.

Seminggu setelah meminum air Kasianto menunjukkan gejala-gejala aneh. Jarinya biru-biru, kukunya menghitam. Dia juga muntah darah. Tidak lama setelah dibawa ke rumah sakit, dia meninggal. Begitu juga dengan Najemiah. Ujung jarinya menghitam sebelum meninggal dunia.

Sementara Anton Hardianto membunuh anak buahnya dengan cairan juga. Yakni dengan kopi yang ditaburkan potasium sianida. Korban yakni Ahmad Sanusi dan Shandy Eko Budianto adalah pengikut setia Anton. Tapi keduanya akhirnya harus mati di tangan sang panutan.

Keduanya disuguhkan kopi saat bertandang ke padepokan pelaku. Kopi bertabur sianida itu langsung mematikan korban dalam sekejap karena efek dahsyat yang ditimbulkan.

3. Sama-sama penipu

Kanjeng Dimas, dia begitu terkenal sebagai orang yang mampu menggandakan uang. Akibat keahliannya itu dia kini harus berurusan dengan polisi. Hingga sekarang belum terbukti bahwa dia bisa menggandakan uang dengan mudahnya. Sehingga dia kini dicap penipu. Tak sedikit anak buahnya yang ditipu. Modusnya sama, yakni menyetorkan uang dulu, baru nanti uang itu digandakan olehnya.

Sementara Anton, dia juga melakukan penipuan kepada anak buahnya. Ahmad Sanusi dan Shandy Eko Budianto adalah pengikut lamanya. Keduanya belakangan dijanjikan emas batangan oleh pelaku.

Bukannya mendapat emas, malah nyawa melayang. Kedua korban dihabisi Anton setelah datang ke padepokan dengan membawa sejumlah harta benda yang menggiurkan.

4. Memiliki banyak pengikut

Baik Kanjeng Dimas dan Anton Hardianto yang menjadi pelaku pembunuhan adalah pemimpin padepokan yang pengikutnya tak sedikit. Untuk Anton yang bermarkas di Limo, Depok, Jawa Barat memiliki ratusan pengikut. Ini bukanlah jumlah kecil.

Tapi itu masih kalah dengan jumlah pengikut Kanjeng Dimas yang mencapai ribuan.

5. Punya  banyak perangkat klenik

Kanjeng Dimas Taat Pribadi memiliki padepokan yang besar. Tak hanya itu, di dalam padepokannya, polisi banya menemukan perangkag klenik atau perdukunan.

Di rumah Kanjeng, banyak sekali ditemukan benda berbau klenik. Seperti keris, kuningan, logam dan benda lainnya yang dianggap sakral. Sementara di rumah Anton Hardianto, polisi menemukan keris, jimat bertuliskan ayat suci, kuningan, dan logam yang diakui pelaku sebagai emas murni tapi bukan.

6. Sama-sama fenomenal

Baik Kanjeng Dimas maupun Anton sama-sama fenomenal di kalangan masyarakat. Bedanya kedua orang ini dalam melakukan aksi penipuan. Bila Kanjeng Dimas menggandakan uang, Anton malah menjanjikan emas batangan bagi pengikutnya.

Lalu Kanjeng Dimas juga dikenal diikuti ribuan pengikut. Dan kebanyakan dari mereka sangat setia.

Untuk Anton, yang membuatnya begitu fenomenal adalah cara membunuh anak buahnya. Dia mengaku terinspirasi kasus kopi maut dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso. Jessica dituduh menabur sianida ke Es Kopi Vietnam yang disedot Wayan Mirna Salihin.

Ini membuatnya terinspirasi dan menabur potanium sianida ke kopi hitam yang disuguhkan kepada dua pengikutnya.

7. Dijerat pasal berlapis

Kanjeng Dimas Taat Pribadi harus berurusan dengan polisi. Dia disebut membunuh dia pengikutnya. Selain itu dia juga lakukan penipuan, dengan modus menggandakan uang.

Akibat ulahnya, polisi membidiknya dengan pasal berlapis. Pertama dia dikenakan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Kedua dikenakan Pasal 378 KUHP tentang penipuan.

Sementara Anton Hardianto dikenakan Pasal 340 KUHP juga untuk kasus pembunuhannya. Tidak hanya itu, dia dikenakan juga Pasal 365 KUHP tentang pencurian dan kekerasan karena berusaha merampas harta benda anak buahnya.

Artikel menarik lainnya :

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply