Analisis Keunikan Cerpen Pemburu Air Mata Karya Noviana Kusumawardhani

Sastra 0
Cerpen Pemburu Air Mata Karya Noviana Kusumawardhani

Cerpen Pemburu Air Mata Karya Noviana Kusumawardhani

(Cikancah-Cyber) – Cerpen Pemburu Air Mata menyimpan berbagai keunikan bila dipandang dari berbagai aspek. Keunikan-keunikan cerpen Pemburu Air mata tersebut bisa dilihat dari :

Keunikan Sampul

Sampul Cerpen “Pemburu Air Mata” ini memperlihatkan wajah orang yang sedang menangis menandakan orang-orang di sekitar penduduk itu selalu mengeluarkan air mata, baik dalam keadaan suka maupun duka.

Dari tampilan sampulnya, pembaca menjadi sangat penasaran atas penampilan sampulnya, apalagi tampilannya memperlihatkan orang-orang yang sedang menangis, dan gambarnya juga agak-agak berbentuk karikatur, jadi kita sulit untuk memahami apa isi yang terkandung di dalamnya, dan apa maksud dari gambar sampulnya.

Keunikan dari Judul

Judulnya saja sudah membuat orang-orang terheran-heran akan isi cerpen ini. Pemburu Air Mata, merupakan judul yang unik. Banyak orang yang bilang, kok air mata diburu sih, seperti orang berburu binatang liar saja ? Memang, terlihat jelas dari judulnya, dalam isi cerpen ini orang-orang terus terusan menangis, bagaikan memburu air mata, bagaimana pun keadaan dan kondisi yang dialami dalam desa tersebut, para penduduk terus saja mengeluarkan air mata. Jadi, orang-orang terus penasaran dengan keunikan judul dari cerpen ini.

Keunikan Unsur Intrinsik

Plot (Alur)

Alur dalam cerpen ini alur maju, di mana awalnya mereka terus-terusan mengeluarkan air mata, dan pada akhirnya mereka sangat sulit untuk menangis, terutama para lelaki, karena sudah dipengaruhi oleh salah seorang lelaki yang bilang, “Airmata hanya untuk para perempuan. Lelaki tidak menangis. Karena hanya lelaki pengecut saja yang menangis.”

Sungguh, kalimat itu seperti angin puting beliung yang merontokkan semua peradaban dalam satu helaan napas. Semua lelaki yang mendengarnya langsung tanpa sadar menghentikan air matanya.

Sejak saat itu, terjadilah proses penghentian besar-besaran air mata oleh para lelaki di desa itu. Wajah-wajah lelaki di desa itu yang tadinya begitu ringan dan penuh dengan harapan, tiba-tiba menjadi tegang dan tampak sekali ada desakan-desakan air yang mati-matian ditahan di dalam sekat-sekat dadanya. Benar, lelaki tidak menangis. Begitu jargon baru yang terjadi didesa itu dan itu fatal.

Dari kata seorang lelaki itulah, para lelaki di desa tersebut tidak lagi mengeluarkan air mata. Tetapi, pada saat itu, para lelaki ingin sekali menangis, tapi tidak bisa, dan akhirnya mereka menyesal dan berfikir, bahwa yang menyebabkan mereka tidak bisa menangis adalah pengaruh dari omongan salah seorang lelaki tersebut, betapa menderitanya mereka yang tidak bisa hidup tanpa air mata, dan akhirnya para lelaki tersebut sangat-sangat menyesal telah mendengar omongan dari salah seorang lelaki yang telah mempengaruhi mereka.

Sekarang mereka hanya bilang, tidak ada canda tawa tanpa melimpahkan air mata. Dan sudah jelas, alur yang digunakan adalah alur maju, di mana di dalam cerpen ini ceritanya terus menyambung dan berurutan tanpa melihat ke belakang, atau melihat dan menceritakan masa lalu.

Setting (Latar)

Latar tempatnya adalah di sebuah desa, dan latar waktunya adalah di pagi hari dan malam hari. Latar tempat dapat ditemukan di dalam sebuah penggalan cerpen berikut ini; Begitulah desaku begitu damai dan nyaman dan penuh keberlimpahan dengan air mata, dalam kalimat tersebut menjelaskan tentang para penduduk desa sangat menikmati apa yang dialaminya, baik dalam keadaan suka maupun duka mereka terus mengeluarkan air mata.

Sedangkan latar waktu di pagi hari dapat ditemukan di dalam sebuah penggalan cerpen berikut ini;Setiap pagi saat matahari pertama kali menyetubuhi bumi, genting-genting rumah penduduk di desaku berkilauan bersahut-sahutan dan dari kilau itu bermunculan warna-warni seperti pelangi yang menyilaukan memantul ke angkasa. Dan latar waktu di malam hari dapat dilihat dalam sebuah penggalan cerpen berikut ini; Malam entah kenapa selalu mampu memecahkan rongga-rongga dada dan membuat denyut jantung lebih cepat.

Point of View (Sudut Pandang)

Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen ini adalah sudut pandang orang pertama, yaitu si “aku”, seolah-olah menceritakan tentang dirinya sendiri, atau apa yang pernah dialami oleh si penulis dalam cerpen tersebut.

Berikut dapat dilihat dalam sebuah penggalan cerpennya; Desaku menjadi desa terindah di seluruh negeri dan air mata adalah hal yang sangat biasa ditemukan di sini. Penduduk desaku hidup dari air mata.

Ada sudut pandang lain juga yang digunakan dalam cerpen ini yaitu, sudut pandang orang ketiga, yaitu kata “orang” dan kata “dia” berikut ini adalah penggalan cerpennya; Ketika ditanya mengapa dia tidak mengeluarkan air mata oleh kepala desa yang diyakini sangat sakti karena mampu mengeluarkan air mata seputih susu sungai-sungai sorga itu, jawabannya sungguh mengglegarkan “Airmata hanya untuk para perempuan. Lelaki tidak menangis. Karena hanya lelaki pengecut saja yang menangis.

Berikut juga contoh penggalan cerpennya yang menggunakan kata ”kami”. Kami tidak mengenal air mata kesedihan ataupun kebahagiaan. Kami hanya mengenal air mata adalah napas. Seperti detak jantung yang berdentam setiap detik, air mata di desa ini pun adalah hidup mereka

Keunikan Isi Cerita

Cerpen ini sangat menarik untuk dibaca, awalnya kita berpikir kalau isi novel ini adalah tentang tangisan-tangisan yang tak ada gunanya. Mereka berpikir bahwa, Air mata akan menjadi makin langka. Air mata pada akhirnya melahirkan hanya lolongan.

Air mata pada akhirnya menjadi absurd maknanya dan para pemburu air mata tak pernah lelah memburunya karena mereka benar-benar tahu bahwa hidup mereka akan kembali penuh dengan air mata. Tapi, dibalik itu tersimpan sejuta warna-warni kehidupan yang belum kita ketahui sebelumnya.

Air mata yang terus-terusan mengalir membasahi pipi, baik dalam keadaan suka maupun duka. Orang-orang terus berpikir, kok mereka bisa menangis dalam keadaan apapun ya ? Ini yang selalu menjadi tanda tanya bagi setiap pembaca cerpen ini, dan dapat dilihat dalam penggalan cerpennya;

Begitulah desaku begitu damai dan nyaman dan penuh keberlimpahan dengan air mata. Air mata yang menjadi hidup dan juga bahagia. Orang-orang sederhana dengan air mata bercucuran ternyata membuat hati orang-orang di desaku menjadi orang-orang kuat luar biasa. Orang-orang yang pemberani. Bahkan malam dengan kepekatan akan duka sekalipun tak mampu membuat mereka menghindar dari gulita.

Setelah dianalisis, cerpen ini mengandung makna yang begitu mendalam. Karena, tanpa air mata, canda tawa tidak akan tercipta. Sungguh mengesankan.

Inilah Cerpen Pemburu Air Mata :

Pemburu Air Mata Karya Noviana Kusumawardhani

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply