Cerpen : Sebuah Penyesalan

Sastra 0
Penyesalan

Penyesalan

Cikancah-Cyber – Pak Riki adalah seorang Ayah yang sangat bijaksana dan tidak sombong, walau dia sangat kaya, dan mempunyai banyak perusahaan di berbagai daerah. Dia mempunyai seorang istri yang shaleh bernama Firda, mereka dikaruniai 2 anak yaitu Doni dan adiknya Deni.

Doni mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang dengan Deni. Dia sangat sombong dan pemboros tidak seperti Deni yang sangat ramah dan pintar. Doni mempunyai teman-teman sama sifatnya seperti dia. Mereka suka menghambur hamburkan uang dengan cara membuat pesta yang mungkin tidak ada gunanya.

Dan tiba-tiba mereka pun jatuh miskin akibat ayahnya tertipu oleh sutu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Pak Riki. Keluarga mereka pun sangat kecewa atas kejadian itu tetapi Pak Riki dan istrinya tetap sabar dan tabah menghadapi semua ini. Meski semua yang dimiliki mereka semua hilang, tetapi mereka masih bisa hidup di rumah yang sederhana.

“Ini Rumah atau gubuk sih?” Tanya Doni.

“Jangan begitu kak, tidak baik.” Kata Deni.

“Maafkan Ayah ya nak, mungkin hanya rumah ini yang bisa kita tempati.” Kata Ayahnya.

“Aku tidak mau tinggal di rumah ini, aku malu sama teman temanku, jika aku miskin.” Bentak Doni.

“Sabar ya nak!, kita harus hadapi semua cobaan ini.”kata bu Firda.

“Aku benci sama ayah,” kata Doni.

“Ayah mohon, jangan marah nak!” kata Pak Riki.

Doni pun tidak mendengarkan perkataan ayahnya, dia langsung pergi menuju rumah temannya yaitu Dono. Mereka malah main game di rumah Dono. Sampai-sampai tidak terasa hari pun sudah sore, mentari pun sudah tertidur lelap. Adzan magri pun telah berkumandang. Ibunya Dono menyuruh Doni untuk pulang, takut orang tuanya khawatir. Walaupun sebenarnya Doni sangat malas untuk pulang. Tetapi Doni malu kepada Ibunya Dono. Dan akhirnya Doni pun pulang.

Beberapa lama kemudian Doni pun sampai di rumahnya. Dia masuk tanpa mengucapkan salam atau perkataan apapun. Tentu saja ayahnya pun memarahinya.

“Jam segini baru pulang ,dari mana saja kamu,?Datang-datang tidak mengucapkan salam, dimana letak sopan santun kamu?” ucap Pak Riki.

“Dari Dono,”jawab Doni dengan singkat, dia pun langsung pergi ke kamarnya, tanpa melaksanakan shalat magrib, bersama orang tuanya.

Orang tuanya pun bingung harus bagaimana lagi mendidik dan membimbing Doni. Sementara Doni masih tetap nakal dan tidak berubah. Perilakunya seperti anak kecil. Walaupun dia sudah kelas 3 SMP.

Keesokan harinya Doni pun pergi ke sekolah, dia terpaksa jalan kaki, karena sudah tidak ada lagi kendaraan yang tersisa satu pun, termasuk motor bison kesayangan Doni. Doni pun sangat benci kepada ayahnya.

Waktu di sekolah Doni berusaha menyembunyikan musibah yang ia jalani sekarang, dia masih pura-pura kaya, karena dia malu kalau teman-temannya tau yang sebenarnya. Doni merasa dirinya paling kaya dan paling tampan di sekolahnya.

Bel tanda istirahat pun berbunyi. Doni dan teman-temannya pergi ke kantin sekolah.

“Don, kita ke kantin yuk!” ajak Dono.

“Iya, ayo lagian perutku udah berisik nih,” ujar Doni.

“Iya ayo” kata teman-teman yang lain.

“Kami minta di traktir dong!” kata teman-teman Doni.

“Iya gampang bisa di atur,”kata Doni, sambil menyembunyikan kejadian yang dialaminya.

Mereka pun makan bersama-sama dengan lahapnya. Sampai-sampai mereka tidak sadar, bahwa yang dimakannya sangat banyak. Beberapa lama kemudian mereka pun selesai makan. Doni segera menuju ibu kantin untuk membayarnya. Ternyata semuanya Rp 50.000. Doni bingung untuk membayarnya, karena Doni punya uang hanya Rp50.000 di kantung celananya. Dan berpikir sejenak. Dan diapun memutuskan untuk membayarnya. Karena jika dibayar pasti dia akan diejek oleh temannya.

Mereka pun kembali ke kelas. Waktu di kelas, Hana memanggil Doni kekasihnya.

“Don, kamu udah bayar kas kelas belum?” Tanya Hana.

“Belum sayang, emangnya kenapa?” kata Doni.

“Oh, kalau belum, cepat bayar dong, nanti bu Susi akan melihat buku kas kita, dan bila ada yang belum bayar akan di hukum.” kata Hana.

“Aduh, uangku ketinggalan Han,” kata Doni berbohong.

“Ya udah, aku bayarin,”kata Hana lagi.

“Iya makasih ya,”Kata Doni.

“Iya” kata Hana.

Kegiatan belajar mengajar pun berlangsng, tidak berapa lama, bel tanda pulang pun berbunyi. Doni pulang sendiri jalan kaki. Dan itu membuat heran teman-temannya.

“Don, kenapa kamu jalan kaki? Kemana motor kesayangan loe?” Tanya Dono.

“Motorku di bengkel, karena sedikit ada masalah dalam mesinnya,”ujar Doni berbohong.

“Oh iya, ya udah bareng aku aja, sampai bengkel”ajak Dono.

“Enggak ah, gak usah”kata Doni.

“Ya udah terserah kamu aja, aku duluan ya, kata Dono.

“Iya ,”kata Doni.

Doni pun terpaksa berbohong, karena sebenarnya motornya sudah disita.

Doni pun sampai di rumah , Doni marah-marah kepada ayahnya. Karena Doni tau ayahnya belum mendapatkan pekerjaan baru. Doni memaksa ayahnya untuk keluar rumah dan meludahinya. Tentu saja ayahnya marah dan menampar Doni.

Ayah keterlaluan, ayah jahat.” kata Doni, sambil pergi ke kamarnya.

“Maafkan ayah, nak” kata Pak Riki.

Pak Riki pun sebenarnya tidak sengaja menampar Doni, tapi karena marah Pak Riki pun secara tidak sadar menampar Doni.

“Sabar ya” ucap Bu Firda.

“Iya bu, ya udah ayah mau mencoba melamar pekerjaan dulu ya bu, doain ayah semoga bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan halal ya bu!” kata Pak Riki.

“Iya … ibu selalu mendoakan ayah.” Ujar bu Firda.

“Iya bu. Ayah pergi dulu. Assalamuallaikum.” kata Pak Riki.

“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.” Kata bu Firda.

Bu Firda langsung menghampiri Doni ke kemarnya.

“Nak jangan begitu sama orang tua, itu tidak baik.”kata bu Firda.

“Lagian aku kesal bu sama ayah, kita miskin sekarang semuanya karna ayah. Ayah sangat bodoh, dan gak becus bekerja.” Gerutu Doni.

“Heh jangan sekali lagi kamu berkata begitu, jangan salahin ayah kamu nak, semua ini mungkin cobaan dari Allah yang harus kita hadapi.” kata bu Firda.

“Tapi bukan gini caranya bu,  Allah hanya bikin aku malu saja.Aku benci Allah.”kata Doni

“Astagfirullohaladzim, hus … jangan pernah salahin Maha Pengasih. Dosanya sangat besar nak,”nasihat ibu Firda.

“Biarin, sekarang ibu keluar. Jangan pernah ceramah di sini. Berisik tahu bu ….”bentak Doni.

 “Innalilahi wainna ilaihi rojiun. Ibu gak nyangka kamu begitu sama orang tua.”kata bu Firda.

Bu Firdapun keluar dari kamar Doni sambil menangis, dia sangat sakit hati, batinnya terasa remuk ketika mendengar perkataan yang dilontarkan oleh anaknya. Dan ibu Firda berpikir harus bagaimana lagi mendidik Doni. Adiknya pun heran melihat ibunya menangis.

“Ibu …, mengapa ibu menangis?” Tanya Deni.

 “Enggak nak. Ibu cuma kelilipan kok.”ujar ibu Firda.

 “Oh iya.”kata Deni.

Tidak beberapa kemudian ayahnya pun datang, mukanya kelihatan bahagia dan cerah bagaikan matahari yang bersinar di siang hari.

“Ibu … bu … bu ….” Panggil Pak Riki.

“Iya ada apa yah teriak-teriak?”ujar ibu Firda.

“Ayah diterima bekerja bu, sekarang ayah bekerja sebagai supir bu Lia.”kata Pak Riki.

 “Oh syukur Alhamdulillah yah.”kata bu Firda.

“Iya, sekarang mana anak-anak bu?”Tanya Pak Riki.

“Ada tuh di kamarnya.”kata ibu Firda.

Pak Riki pun pergi ke kamar Doni dan segera memberitahukan kabar gembira itu tetapi Doni malah menghina ayahnya. Pikir Doni menjadi supir itu bukan pekerjaan yang layak untuk Pak Riki. Tetapi Pak Riki berusaha membujuk dan berusaha tetap sabar dan tabah.

Keesokan harinya Doni pun berangkat ke sekolah diantar oleh ayahnya. Ketika diperjalanan Doni bertemu dengan teman-temannya. Dan langsung mengajaknya.

“Hei ayo bareng aku.”Ajak Doni.

“Iya” kata 3 temannya.

“Eh mobil baru nih.” Kata 3 temannya.

“Iya dong ….Bagaimana bagus kan?”Tanya Doni.

“Iya.” kata seorang temannya.

Padahal mobil itu mobil bu Lia, majikan Pak Riki. Tetapi Doni mengakui mobil itu punya dirinya sendiri.

Sampai di sekolah Doni mulai belaga sombong atas mobil yang dia tumpangi. Ayahnyapun hanya diam saja karena takut di marahi oleh Doni.

Satu minggu kemudian Pak Riki pun jatuh sakit karena banyak pikiran dan terlalu lelah. Pak Riki pun dirawat di rumah sakit. Tetapi Allah berkata lain. Pak Riki harus pulang ke asalnya. Sejak saat itu Doni pun sadar dan merasa bersalah atas semua perilaku yang telah ia lakukan terhadap ayahnya. Doni sangat menyesal dan berjanji Doni akan berubah menjadi anak yang lebih baik lagi.*****

 

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply