Puisi-Puisi Jumari HS.

Sastra 0
Puisi Jumari HS.

Puisi Jumari HS.

Cikancah-Cyber – Beberapa puisi karya Jumari HS. yang dapat kami himpun dari majalah Horison :

Sembahyang Airmata

Ini sembahyang airmata yang menetes rindu

Ia ingin menjelma gerimis di musim kemarau dengan rintik ketulusan

Setelah hatinya dikepung terik baying-bayang peradaban

Tak ada yang tertunda selagi nafas masih dapat menghirup udara

Atau mata kita ikhlas, takjub berpaling melihat cahaya

Saat doa-doa berguliran ada sungai mengalir mengantarkan cinta

Saat sunyi bersujud ada purnama terbit di jiwa

Saat hidup sementara ada kabar kematian yang menyapa

Ini sembahyang airmata yang bergulir membelah samudera

Ia ingin berlayar dalam debur ombak memecah karang keangkuhan

Setelah pencariannya dipenuhi kekalahan-kekalahan

Ini sembahyang airmata

Berlinang membasuh debu-debu yang melekat

Di dalam dada!

Kudus, Mei 2016

 

Matahari Mengutuknya

Bagi para pemerkosa dan pembunuh Yuyun

 

Di hidupku masih tercium darahmu

Baunya menyerupai angin mengantarkan gerimis luka

Menetes di kelopak mata, sampai sajak-sajakku menjerit kesakitan

Di urat nadiku

Darahmu mengalir dan mengalir, mengaruskan kepedihan

Suaranya menyembilu di relung-relung hati

Suaranya menggergaji harapan-harapan kasih saying

Keadilan menyalakan kemarahan atas kebiadaban

Pada airmata yang menetes perih itu

Terbayang nasibmu seperti menyaksikan bilur-bilur hujan

Menderas perih dari peristiwamu yang tak akan terlupakan

Dan matahari pun mengutuknya, bukan?

Di sini,

Berjuta-juta nafas ibu dan anak-anak mengantarmu

Sampai ke pintu surga.

Kudus, Mei 2016

 

Ingin Menjadi Ombak

Di bibir pantai itu

Aku ingin menjadi ombak

Menderu dalam lautMu.

Kudus, Mei 2016

 

Tangis Tembakau

Di lembar daunmu

Aku dengar tangis ibu-ibu itu

Melinting-linting nasibnya

Di batu-batu.

Reklamasi I

“Jika laut jadi lumpur

Lumpur jadi tanah

Tanah jadi batu-batu

Batu-batu disulap jadi hotel, wisma,real estate,

Super market, lapangan golf maupun gedung-gedung perkantoran,

Lalu ke mana air dan ikan-ikan itu pergi?” keluh para nelayan sambil mengusap

Airmata yang menetes perih

“Jika sawah-sawah jadi perumahan

Perumahan jadi kelaparan

Kelaparan jadi kebencian

Kebencian jadi pertikaian

Pertikaian jadi baying-bayang,

Lalu di mana keteduhan dan ketentraman hidup?” ratap para petani

Yang mencangkul keringatnya

Di sini, laut dan sawah tinggal kenangan

Kenangan tinggal sembilu

Sembilu yang menyayat-nyayat di kalbu!

Kudus, April 2016

 

Membaca Gerimis

Terdengar rintih gerimis di luar jendela

Aku membacanya pada angin risau kehilangan jejak

Dan tanah itu tinggal bebatuan, kerasnya

Menggumpal di kalbu

Di sini, matahari sudah tak sehangat masa lalu

Terik membakar mimpi dan harapan siang-malam

Sungai-sungai pun mengarus dendam, mengajak kita melihat berbagai

Keangkuhan, menebar baying-bayang

Membaca gerimis itu

Aku membaca paragraph-paragraf kekalahan

Yang berjumpalitan mempertontonkan bermacam-macam luka

Memerih di setiap bait-bait doaku

Membaca gerimis itu

Ada sakit menetes-menetes

Di tinggalkan tanah.

Kudus, April 2016

Selalu Saja …

 

Selalu saja kau mendengarkan rintih puisi dari angin yang dating tak berpeta

Selalu saja kau baca kegaduhan huruf dan angka-angka yang berjumpalitan di ruang pesta

Selalu saja kau rasakan gulir airmata yang memerih diperas keangkuhan

Selalu saja kau menemukan kasih saying dijungkirbalikkan kebohongan

Selalu saja kau tak perdaya dan kita senantiasa dipaksa berjalan tertatih-tatih

Memanggul baying-bayang luka.

Tentang Jumari HS :

Lahir di Kudus, 24 November 1965. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Merapi, Minggu Pagi, Suara Pembaharuan, Suara Merdeka, Wawasan, Darma, Kartika, Suara Karya, Jawa Pos, Swadesi, Bernas, Pikiran Rakyat, Radar Tasik, Koran Muria, Lampung Pos, The Jakarta Pos, dan lain-lain. Dimuat juga diberbagai antologi bersama.

Sering diundang dan aktif dalam forum sastra nasional maupun internasional. Di tahun 2012 diundang baca puisi dan diskusi sastra di Universitas Hankuk, Seoul, Korea Selatan.

Penyair ini sekarang menjadi redaktur pelaksana tabloid Wanita Kudus. Dia juga ketua Teater Djarum. Buku puisi tunggalnya yang telah terbit berjudul Tembang Tembakau (2012) dan Jejak yang Hilang (2015). Buku kumpulan cerpennya adalah Bayang-Bayang Kematian (2016). Dia tinggal di Kudus, jawa Tengah.

Tags:
Rate this article!
Puisi-Puisi Jumari HS.,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply