Puisi-Puisi Karya Isbedy Stiawan ZS

Sastra 0
"Menikmati Kopi Lampung" Puisi Isbedy Stiawan ZS

“Menikmati Kopi Lampung” Puisi Isbedy Stiawan ZS

Cikancah-Cyber – Ini adalah beberapa puisi karya Isbedy Stiawan ZS yang berhasil kami himpun.

 

Menikmati Kopi Lampung

 

segelas kopi mengepul pagi ini

menari dalam gumul kabut

di pucuk gedunggedung

di suatu sudut kota tua

tanpa kau. Tiada senyum juga

celotehmu; sebelum laut

melompati dam

memaksaku berenang

 

kuhirup berkalikali kopi

yang kubawa dari kebun tamong1

seperti juga pernah diangkut

para pedagang eropa

berates tahun silam

ditumpuk bersama rempahrempah

kuhirup tapi bukan lagi sebagai anak duli

yang meringis di bawah kaki.

7-11-2015

1 Tamong (bahasa lampung), berarti paman.

 

Karel Doormanstraat

: bersama Asjone Martin Sikumbang

 

langit seperti luruh dan kuingin

tangkap kabut putih yang diam

di kelopak mataku. serupa kapas

dingin di tubuh. ada getar meski

tak bias kuraba maut yang tiba

di jalan karel doorman ini

aku menghimpun kata tapi tak

juga tersusun namaku

 

betapa sulit menyusun kalimat

dalam gigil ini, selain curiga

dan benci. tanah air yang kurindu

serasa cepat lesap. namanama

kawan menjelma menjadi lawan. pisau

tumbuh di manaman, bagai burung

terbang bebas: menajam mata

amat merah. – kau penujum suci

kini jadi penujah. menubuhkan

amarah

 

silangkata, warna jalan berdarah. kau

menulis pisau dan luka. kuantar perban

membalut dendam, menutup mata

pisau. “jadilah tunanetra. gelap semesta,

benderang di hati!” kalimat itu

sebagai pembuka,

 

mula meniti. setiap kita. di mata

meluap embun.

8 November 2015

Paddy Murphy’s,

Suatu Malam Belabuh

 

hampir saja lupa dari mana aku datang

di kafe ini tak ada lagi salam atau

menanyakan alamat. di mejameja itu

botol bir berdansa. tak ada tanah airmu

di sini, selain lapangan sepakbola

di layar lebar: aroma keju dari tubuh

van kompeni. bau amis alcohol, celoteh

dan teriakan yang tak kupahami

maknanya

 

aku semakin di negeri jauh, di tanah air

aku juga tersisih. seperti gelasgelas

kosong di bibir meja. bagaikan

periang di pinggir lapang. betapa pun

ada wasit, kita abaikan pula peluitnya

 

di kafe paddy Murphy’s aku jadi eropa

merampas rempah dari sari bu,i

namun tiada dalam lembar sejarah!

 

Aku makin kehilangan lading

Dari kekuasaan.

Rtdm, 8 November 2015

Denhag di Tengah November

 

“aku terlambat,” kata waktu pada air yang mengaliri kanal

bagai ular meliuk dari satu tikungan ke lain sudut

namun tak muara di laut, sebab lahirnya dari

awan. lalu waktu memburu di belakang, ingin

menimpukku dengan bandul yang selalu

menggerakkan detik menuju menit dan jam

 

“begitulah kuciptakan waktu agar kau mencinta

dan membenci. supaya tahu asal maupun

selesai: – lahir lalu kematian – demi

semesta,” lanjut arloji

 

pada kanal yang terbentang atau meliuk di tengah kota,

waktu selalu arif. “kalau tak, kujadikan kota

ini seperti masa Nuh,” ujarnya.

 

dan tak inging kubayangkan saat aku di sini,

Nuh berteriak: “naiklah ke perahuku, atau

Kau tenggelam dalam kota ini!”

14 November 2015

Bertamu di Rumah Sitor

: menjelang setahun wafat Sitor Situmorang

 

Pagi ini, kekasih, aku tak bisa apa

di ters rumah sitor melepas asap

rokok. tapi tak juga mengusir

minus 5 derajat terasa, dan gerimis

yang diantar angin. patung

sitor buatan Barbara seperti menemaniku

dengan segelas teh manis dan

rokok. kami bercakap-cakap ihwal

65, bui, dan menetap dipaslaan

 

sitor bercerita mengagumi gadis itali,

meski yang ia kawini putrid belanda

atas cintanya: leo yang tampan

namun pandai memasak

 

di teras rumah sitor, kupandangi

jalan paslaan berkabut. gerimis rinai,

angin tak berkarib. “masuklah, kau

orang asing di sini, sitor seperti

menyilakan aku duduk di ruang tamu

mencicipi bonbon dan grolsch

 

di ruang tamu, kami berhadapan. sitor

selalu menempati kursi biasa diduduki

layaknya singgasana raja. “aku raja

dari toba, merasa nyaman di belanda.”

 

Indonesia bagaikan hutan

Ia menetap di tanah kelahiran istri

Sebagai warga yang satu mata ke italia

dan mata lain pada barbara

sedangkan hati ada di toba

 

Toba

Toba

sitor pun istirahat

membawa puisi-puisi.

Apeldoom, 24 November 2015

Danau di Depan Pintu

 

sisa musim gugur

daundaun mengendap

di depan pintu

ingin kembali

ke rahim ibu

 

di sepotong November

dalam cangkir teh

daundaun jatuh

dari tegukkan terakhir

 

dan kelak, kala salju

jatuh di tubuhmu

aku purapura mati

 

tak ada lagi kenangan

matahari hilang

kota ini jadi kelam

 

aku jadi peminta

 

berlari dan berlari

sepanjang jalan

temaram….

Witte Rozen, 17 November 2015

Tentang  Isbedy Stiawan ZS :

Isbedy Stiawan ZS lahir dan besar di Tanjungkarang, Lampung. Ia menulis puisi, cerpen, essai, dan karya jurnalistik yang dipublikasikan di pelbagai media Jakarta dan daerah.

Buku puisinya Menuju Kota Lama memenangkan Sayembara Buku Puisi Terbaik Hari Puisi Indonesia (2014) dan kumpulan cerpen Peremouan di rumah Panggung termasuk 10 buku prosa terbaik versi Khatulistiwa Literary Award (2014).

Buku puisinya yang lain, Pagi Lalu Cinta (2015), dan kumpulan puisi islami Perjalanan sunyi (2015). Sumber: Horison Majalah Sastra (Juli 2016)

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply