Sejarah Puisi Jawa Modern

Sastra 0
Geguritan

Geguritan

Cikancah-Cyber – Di dalam kesusastraan Jawa mutakhir, atau yang disebut Kesusastraan Jawa Gagrag Anyar ( Kesusastraan Jawa Modern) terdapat istilah guritan atau geguritan. Istilah ini pada mulanya adalah istilah yang dikenal pada sebuah puisi Jawa tradisional.

Guritan tradisional terikat pada aturan tertentu. Aturan-aturan itu berupa : (1) jumlah gatra (baris) tidak tetap, (2) setiap gatra berisi 8 wanda (suku kata), (3) bunyi pada akhir gatra bersuara sama, dan (4) awal guritan memakai perkataan sun-gegurit, yang bermakna: aku mengarang guritan.

Dalam masyarakat Jawa guritanitu memiliki fungsi sebagai alat pendidikan dan alat untuk menyindir keadaan masyarakat. Contoh :

Sun-gegurit :

Wateke wong kampong Jati,

Satiti angati-ati,

Waning gawe weding juti,

Tresna mring janmi sesami,

Bawa leksana ber budi,

Lega lila trusing budi,

Tuku maring sakeh janji,

Bekting Gusti yayah wibi.

Dalam  bahasa Indonesia artinya sebagai berikut : Ku-gurit/Tabiat orang kampung Jati/ Teliti dan berhati-hati/ Berani bekerja dan takut jahat di hati/ Cinta sesame manusia/ Bersopan santun baik budi/ Rela dan ikhlas sampai di hati/ Benar-benar menepati janji/ Tuhan, ayah ibu mereka berbakti.

Guritan seperti di atas sudah tidak pernah muncul lagi dalam kesusastraan Jawa modern. Sekarang yang muncul adalah guritan baru yang berarti puisi bebas. Kemunculan guritan baru ini bias dilihat dalam majalah dan surat kabar berbahasa Jawa seperti Kejawen, Penyebar Semangat, Jaya Baya, Panji Pustaka, Api Merdika, dan lain-lain.

Kemunculan guritan baru ini yang selanjutnya disebut puisi Jawa Modern, dalam kesusastraan Jawa tidaklah mudah. Para perintis harus melakukan perjuangan yang berat, sebab pada masa itu para redaktur majalah dan surat kabar belum dapat menghargai atau menerima kehadiran puisi itu.

Perintis penulis puisi Jawa modern adalah : R. Intoyo, Subagijo Ilham Notodijoyo, Nirmala, Niniek I.N., Khairul Anam, Joko Mulyadi, Sustiyah, dan lain-lain.

Intoyo dan Subagijo Ilham Notodijoyo dianggap orang yang pertama kali menulis puisi Jawa modern. R. Intoyo dalam kesusastraan Indonesia termasuk dalam Angkatan Pujangga Baru. R. Intoyo terpengaruh dengan pembaharuan puisi Pujangga Baru, maka dia mencoba melakukan pembaharuan dalam puisi Jawa.

Pada masa Pujangga Baru puisi berbentuk soneta sangat digemari para penyair, maka R.Intoyo ikut menulis puisi yang berbentuk soneta itu. Puisi ini kemudian diperkenalkan dalam Kesusastraan Jawa. Majalah Kejawen No.26, 1 April 1941, memuat sebuah puisi soneta karangan R. Intoyo. Puisi tersebut berjudul Dayaning Sastra.

Subagijo Ilham Notodijoyo juga menulis puis Jawa yang berbentuk soneta. Salah satu puisinya berjudul Gelenging Tekad yang dimuat di majalah Penyebar Semangat No.20, Juli 1949.

Pembaharuan puisi Jawa berlangsung terus sekitar tahun 50-an. Pada masa itu penyair R. Intoyo dan Subagijo Ilham Notodijoyo sudah jarang menulis puisi. Maka bermunculanlah para penyair baru dalam beberapa majalah dan surat kabar seperti Penyebar Semangat, Jaya Baya, Mekarsari (Maret 1957), Waspada (Februari 1952), Crita Cekak (Agustus 1955), Kekasihku ( 1956).

Majalah Crita Cekak mempunyai tempat khusus dalam pertumbuhan dan perkembangan kesusastraan Jawa modern. Majalah ini merupakan majalah sastra Jawa yang isinya seperti majalah Kisah H.B. Yassin dalam kesusastraan Indonesia.

Majalah Crita Cekak mula-mula dipimpin oleh Subagijo Ilham Notodijoyo. Namun sejak Januari 1958, majalah ini diasuh oleh Purwadhi Atmodiharjo. Dalam majalah ini puisi Jawa modern mendapat tempat yang terhormat.

Penyair angkatan 50-an antara lain : St. Iesmaniasita, Rakhmadi K., Mulyono Sudarmo, Muryalelana, Sl. Supriyanto, Trim Sutija, Susilamurti, Lesmanadewa Purbakusumah, Ts. Argarini, Mantini W.S., Kuslan Budiman, dan lain-lain.

Puisi tahun 50-an itu banyak terpengaruh oleh puisi-puisi penyair angkatan 45 dari kesusastraan Indonesia yang mereka terima semasa mereka duduk di bangku sekolah.

Pada tahun 1963 majalah Jaya Baya membuat tradisi baru. Tradisi itu adalah tidak hanya memuat puisi Jawa modern seperti iklan tetapi dibuatkan rubrik khusus bermana Taman Guritan. Resminya dipakai pada terbitan No.1 Th.XVIII, 1 September 1963.

Dalam Rubrik Taman Guritan sangat berperan penting dam pertumbuhan dan perkembangan puisi Jawa modern. Rubrik ini diasuh oleh Basuki Rakhmat, seorang redaktur yang mempunyai wawasan yang baik terhadap puisi Jawa modern.

Tahun 60-an telah lahir penyair-penyair baru seperti : Eddy DD, Herdian Suharjono, Anie Sumarno, Iwan Respati, Prajna Murti, Muyadi Nawangsaputra, dan lain-lain.

Bentuk dan isi puisi tahun 60-an kian beraneka warna jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini muncul puisi-puisi panjang yang berbentuk balada. Berkaitan dengan tradisi lisan (cerita rakyat).

Pada tahun 70-an puisi Jawa modern lebih beraneka warna lagi. Pertumbuhan dan perkembangannya ditunjang dengan banyaknya majalah dan surat kabar baru berbahasa Jawa. Seperti Kunthi (1970), Parikesit (1971), jaka Lodang (Juni 1971), Dharma Kandha (1970), dan Dharma Nyata (Juni 1971).

Para penyair yang lahir tahun 70-an antara lain : Pur Adhi Prawoto, Sukarman Sastrodiwiryo, Wiyantirin Citrowiradi, S. Warsa Warsidi, Ngalimu Anna Salim, Ki Adi Sasmidi, dan lain-lain.

Dari nama-nama penyair di atas nama Pur Adhi Prawoto terkenal sebagai pendiri Grup Diskusi Sastra Blora. Ia lincah, aktif, kreatif, dan berinisiatif.

Puisi Jawa modern masih terus tumbuh berkembang sampai sekarang. Hal ini ditandai dengan munculnya para penyair muda pada awal tahun 80-an. Teguh Munawar, Iman Subaweh, A. Nugraha, Titah Rahayu, dan lain-lain. Mereka masih mencari dan berlatih. Kepada merelah harapan untuk menjadi penyair Jawa modern yang berwibawa.

Semoga perkembangan Puisi Jawa modern terus berlanjut, agar memperbanyak dan meperkaya ragam puisi dalam khasanah kesusastraan Indonesia. Semoga.*****

Artikel menarik lainnya :

Tags:
Rate this article!
Sejarah Puisi Jawa Modern,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply