Tebaran Mega Sebuah Kumpulan Puisi Sutan Takdir Alisjahbana

Sastra 0
Tebaran Mega

Tebaran Mega

Cikancah-Cyber – Di bawah ini merupakan beberapa puisi pilihan karya Sutan Takdir Alisjahbana dalam Tebaran Mega. Kumpulan puisi Tebaran Mega terdiri dari 46 halaman dengan 38 judul puisi.

 

Air Mata

Ngalir, ‘ngalirlah air mata,

Aku tiada akan ‘nahanmu.

Apa gunanya aku halangi,

Engkau ‘ngalirkan penuh kalbuku.

 

Seperti air jernih memancar

Dari celah gunung rimbun,

Seperti hujan sejuk gugur

Dari mega berat mengandung

 

Ngalirlah, wahai air mata

Engkau pun mendapat hakmu

Dari Chalik yang satu.

 

Ngalir, ‘ngalirlah air mata,

Aku hendak merasa nikmat

Panasmu ‘ngalir pada pipiku.

20 April 1935

 

Segala, Segala

Ani, ya Aniku Ani,

Mengapa kamas engkau tinggalkan?

Lengang sepi rasanya rumah,

Lapang meruang tiada tentu.

 

Buka lemari pakaian berkata,

Di tempat tidur engkau berbaring,

Di atas kursi engkau duduk,

Pergi ke dapur engkau sibuk.

 

Segala kulihat segala membayang,

Segala kupegang segala mengenang

 

Sekalian barang rasa mengingat,

Sebanyak itu cita melenyap.

 

Pilu sedih menyayat di kalbu,

Pelbagai rasa datang merusak.

20 April 1935

 

Bertemu

Aku berdiri di tepi makam

Suria pagi menyinari tanah,

Merah muda terpandang di mega

Jiwaku mesra tunduk ke bawah

Dalam hasrat bertemu muka,

Melimpah mengalir kandungan rasa.

 

Dalam kami berhadap-hadapan

Menembus tanah yang tebal,

Kuangkat muka melihat sekitar:

Kuburan berjajar beratus-ratus,

Tanah memerah, rumput merimbun,

Pualam berjanji, kayu berlumut.

 

Sebagai kilat ‘nyinari di kalbu:

Sebanyak itu curahan duka,

Sesering itu pilu menyayat,

Air mata cucur ke bumi.

Wahai adik, berbaju putih

Dalam tanah bukan sendiri!

 

Dan meniaraplah jiwaku papa

Di kaki Chalik yang esa:

Di depanMu dukaku duka dunia,

Sedih kalbuku sedih semesta.

Beta hanya duli di udara

Hanyut mengikut dalam pawana.

Sejuk embun turun ke jiwa

Dan di mata menerang Sinar.

26 April 1935

 

Menyambut Hidup

Ya Allah, ya Rabbani, dalam kebesaranMu Engkau hadiahkan aku hidup ini dengan kegirangan dan keindahannya.

 

Sedunia lebar selam besar Engkau sediakan bagiku dalam limpahan kasihMu: bintang berkelip cahaya di langit malam, kembang mengorak kuncup di padang sinar, unggas bernyanyi di dahan berbuai

 

Bolehkan aku menampik sekalian rahmat dan nikmatMu yang Engkau curahkan dalam kebesaran dan kemurahanMu itu?

 

Aku akan hidup.

 

Mengoraklah kelopak menyambut sinar selama hari masih siang.

 

Selama siang beta akan bermain di taman seperti tiadakan malam dan apabila malam tiba beta akan menyerahkan muka di pangkuan Bunda.

29 Mei 1935

 

Sesudah Dibajak

Aku merasa bajakMu menyayat,

Sedih seni mengiris kalbu,

Pedih pilu jiwa mengaduh,

Gemetar menggigil tulang seluruh.

 

Dalam duka semesra ini,

Beta papa, apatah daya?

Keluh hilang di sawang lapang,

Aduh tenggelam dibisik angin.

 

Ya Allah, ya Rabbi,

Hancurkan, remukkan sesuka hati,

Sayat iris jangan sepala.

 

Umat daif sekedar bermohon:

Semai benih mulia raya

The crash of Showbox for iPad will surely affect the reputation and also users may search for the alternatives for online streaming apps. Showbox for windows For Android/iOS. Play Box HD applications is another alternative for Showbox applications for android, iPhone, and iPad users.

Dalam tanah sudah dibajak.

1 Mei 1935

 

Api Suci

Selama nafas masih mengalun,

Selama jantung masih memukul,

Wahai api, bakarlah jiwaku,

Biar mengaduh biar mengeluh.

 

Seperti baja merah membara,

Dalam bakaran Nyala Raya,

Biar jiwaku habis terlebur,

Dalam kobaran Nyala Raya.

 

Sesak mendesak rasa di kalbu,

Gelisah liar mata memandang,

Di mana duduk rasa dikejar.

 

Demikian rahmat tumpahkan selalu,

Nikmat rasa api menghangus,

Nyanyian semata bunyi jeritku.

 

Kembali

Ketika beta terjaga di dini hari

Melihat alam sepermai ini,

Terasalah beta darah baru

Gembira berdebur di dalam kalbu.

 

Girang unggas bersuka ria,

Gemilang sekar bermegah warna.

Mega muda bermain di awang,

Kemilau embun menyambut terang.

 

Hidup, hiduplah jiwa,

Turut gembira turut mencipta

Dalam alam indah jelita

 

Jalan waktu terhambat tiada,

Siang terkembang malamlah tiba:

Percuma dahlia tiada berbunga.

8 Mei 1935

 

Sesudah Topan

Bertiup, bertiuplah topan!

Liukan, lengkungkan, patahkan, hempaskan jangan sepala.

 

Terbangkan daun sampai ke langit.

Tundukkan puncak menyembah bumi,

Serakkan ranting menabur tanah.

 

Biar mengaduh, biar mengelur biar mengerang putus suara,

Kacaulah perdu, adulah pohon, rusak remuk berpatah-patahan,

Gugurkan buah segala, tua muda jangan dihitung.

 

Apabila topan sudah berhenti,

Apabila hujan reda kembali, sinar suria turun ke tanah.

Beta melihat tunas memecah dan di tanah lembah kecambah

mengorak daun.

10 Mei 1935

 

Awan berkuak

Duduk beta merenung awan,

Bercerai menipis di langit biru.

Sayu sendu alun di kalbu,

Menurut mega berkuak menjauh.

 

Wahai Chalik, mengapa kejam

Seganas ini hidup di dunia?

Mengapa gerang dicerai pisah

Segala yang asik bercinta?

 

Menangislah jiwa tersedu-sedu

Mengalirlah air mata berduyun-duyun.

 

Dalam jiwa sedang meratap,

Dalam sukma pilu mengeluh,

Menyerbu sinar ke dalam kabut,

Menjelma kembali awan menjauh.

 

Beta melihat kilau bergurau,

Beta menyambut suria bersinar.

Segar gembira sukma menggetar

Menunda melanda pergi berjuang

14 Mei 1935

 

Perjuangan

Kepada Taman Siswa

Tenteram dan damai?

Tidak, tidak Tuhanku!

Tenteram dan damai waktu tidur di malam sepi.

Terteram dan damai berbaju putih di dalam kubur.

Tetapi hidup ialah perjuangan.

Perjuangan semata lautan segara.

Perjuangan semata alam semesta.

Hanya dalam berjuang beta merasa tenteram dan damai.

Hanya dalam berjuang berkobar Engkau Tuhanku di dalam dada.

24 Juli 1935

 

Pohon Beringin

Kenangan kepada Solo

Tinggi melangit puncakmu bermegah,

Melengkung memayung daunmu bodi.

Berebut akar mencecah tanah,

Masuk membenam ke dalam bumi.

 

Lemah mendesir daunmu bernyanyi,

Gemulai berbuai dibelai angin,

Nikmat lindap menyerak di kaki,

Mengundang memanggil leka berangin.

 

Nampak beta berkumpul kelana,

Letih semadi berjuang tiada,

Melunjur kaki menyandar kepala,

Menanti nasib damai bahagia.

 

Ya Allah, ya Rabbana,

Turunkan badai datangkan taufan,

Rubuhkan tumbangkan pohon perkasa,

Pelindung lelah, pengiba insan.

 

Rebahkan terbangkan jangan tiada,

Bersihkan bumi dari segala

Tempat terlengah tempat terlena

Tempat terhanyut dalam tiada

 

Lama sudah tani menanti,

Gelisah tangan memegang bajak,

Tiada tertahan hati gembira,

Hendak meluku membalik tanah.

 

Kuning permai benih bernas

Menanti memecah menyerbu hidup,

Girang berbunga girang berbuah

Di dalam hujan disinar suria.

25 September 1935

 

Tentang : Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjahbana lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908, meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 pada umur 86 tahun), merupakan tokoh pembaharu, sastrawan, dan ahli tata Bahasa Indonesia.

Karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana antara lain: Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929), Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932), Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935), Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Layar Terkembang (novel, 1936), Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940), Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969), Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971), Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978), Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi (1978), Kalah dan Menang(novel, 1978), Perempuan di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985), Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan (1985), Sajak-Sajak dan Renungan (1987).

Artikel menarik lainnya :

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply