Cerpen Jalur Membenam Karya Wildan Yatim

Sastra 0
Jalur Membenam Karya Wildan Yatim

Jalur Membenam Karya Wildan Yatim

Cikancah-Cyber – Di bawah ini salah satu cerpen karya Wildan Yatim yang berjudul Jalur Membenam.

Jalur Membenam

Karya Wildan Yatim

Ada bunyi genta kerbau sedang memamah dan suara bercakap. Sayup-sayup terdengar orang besenandung lagu pesisir. Sekajap ia ingat sedang berbaring di kamarnya di Bandung, dan jika nanti ia meraba-raba akan tersentuh tubuh isterinya, dan anak-anaknya tidur di dipan sendiri dan ia harus bangkit untuk memperbaiki selimut mereka.

Tapi kemudian ingat lagi, tak ada bunyi seperti itu di Bandung. Rupanya kini ia sedang dalam perjalanan yang panjang, mengelisahkan dan menyakitkan. Dalam kesuraman kini ia memandang isi kamar. Pakaian yang kusam bergantungan di paku, koper-koper yang besusun dan bau dekil serta apak asap, yang membawanya kepada suasana kampung.

Senandung yang besungut kini menghilang. Genta kerbau tiap sebentar berkelining terus.

Sebuah mobil menderu dari jauh, makin dekat, sampai baknya berdentang- dentung lalu, remnya mendenyit, dan beberapa jurus terdengar derum halus dan dentum-dentum gas lewat knalpot, lalu mobil itu menderu lagi, digas di suatu tempat dan mati. Seruan-seruan, pintu-pintu yang ditutup, dan gedor-gedoran.

Pukul berapakah sekarang? pikirnya. Ia selubungkan kain sarungnya, lalu memperhatikan jarum arloji yang terang. Pukul tiga kurang.

Dalam tidurnya kembali di subuh itu ia bermimpi melihat seorang perempuan sedang menari di panggung. Rambutnya dijalin dua dan bibirnya kemerahan. Di sampingnya ada lagi empat penari lain. Mereka menari berayun-ayun, sedang perempuan yang di tengah bernyanyi sambil menari. Ketika tarian selesai perempuan yang di tengah tadi membungkuk kepada penonton yang besorak dan bersuit dan layar hiaju pun merapat dari sisi. Ia lihat pula ia sendiri bergegas melangkah ke pintu luar panggung, untuk menunggu perempuan penari yang di tengah ke luar. Tapi anehnya yang dia jumpai ialah isterinya sendiri. Lalu dikegelapan ia lihat penari itu sedang berjalan pulang dengan dibimbing seorang pemuda tampan dan tak menoleh sedikit pun kepadanya.

Ketika terbangun untuk kedua kalinya ia mendengar denting bingkai ban dipukul dan dijungkit. Sianar matahari menyorot dari celah dinding pelupuh. Arlojinya menunjukkan pukul setengah tujuh. Ia bangun, membuka kaus kaki dan celana, mengambil anduk dan sabun dan membuka pintu. Di meja panjang ada beberapa orang duduk minum. Kain sarung diselubungkan ke lutut dan kaki. Dari pintu dan jendela lebar yang terbentang nampak sebuah prahoto. Ada rodanya yang didongkrak dan bannya kini sedang dipompa seorang kenek. Terdengar kenek itu bicara Mandailing dengan temannya yang sedang membungkuk di atas mesin mobil.

“Oh, sudah bangun, Nak?” tegur empunya lepau. Pakaiannya ia lihat masih yang dipakai tadi malam. Bersarung dan berbaju kaus yang kumal. Rambutnya yang agak gondrong ditutupi kopiah lusuh dan kekuningan. Ia memakai tengkelek yang bertumit tinggi, tiap sebentar berderuk-deruk pada lantai tanah.

“Nasi satu, Bagindo!” terdengar seseorang berseru. Empunya lepau melangkah ke pajangan. Sambil menggosoki piring ia menghadap kepadanya.

“Anak mau mandi di belakang atau di surau? Terserah! Tapi kalau di belakang mungkin kurang tenang. Maklumlah lepau, Nak!”

“Jauhkah surau itu?”

“Itu itu, di sebrang. Kelihatan atapnya dari sini.” Pemuda itu melangkah menghampiri Bagindo. Bagindo menunjuk, dan menyampirkan lap di bahu. “Dekat jembatan sana ada jalan kecil.”

Di muka surau ada kolam besar yang airnya berasal dari sebuah pancuran dari batang pinang. Air pancuran sendiri berasal dari kali kecil, yang jauh ke hilir mengalir melebar pada alas yang berbatu kecil dan barulah jadi sempit dan mengalir pelan di bawah jembatan. Di kali, beberapa meter di hilir surau, ada tabir dau kelapa yang kini nampak sudah berjela dan berlobang. Beberapa perempuan sedang mencuci dan memandikan anak di situ. Pemuda itu ingat akan mimpinya yang semalam. Aneh, pikirnya. Kenapa ia kuimpikan mendadak? Sekarang ingat, penari yang ia lihat dalam mimpi itu pernah tinggal di desa ini, tapi kabarnya sudah lama pindah ke Sidempuan. Apakah kini ia di sini lagi? tanyanya dalam hati. Sambil bertanya-tanya dalam hati itu ia menjeling-jeling sedikit ke tepian perempuan, siapa tahu ada dia di situ sedang mencuci. Tapi tak mungki dia datang ke kali ini, kalu ia memang masih tinggal di sini, bantahnya sendiri. Konon ia tergolong kaya di daerah ini, tentulah ia tinggal di rumah saja bersenang-senang.

Habis mandi dan sembahyang-sembahyang yang terlambat-, kembali ia menyusuri jalan setapak di pinggir kali itu dan kembali lagi mencoba melirik ke tepian perempuan. Sejurus ia terkejut ketika melihat ada seorang perempuan berkulit putih dan berambut dijalin dua dan teruntai ke punggung. Begitulah kira-kira rambut perempuan yang dia impikan itu dulu. Tapi perempuan itu lebih gemuk, dan sedang memunggungi dia. Ketika perempuan itu menoleh ternyata ia keliru. Barangkali ia tidak di desa ini lagi! kata hatinya menegaskan.

Di muka simpangan jalan ke Talu ia berhenti sebentar. Jalan raya itu bersemak dan pada beberapa tempat ada jalu-jalur dalam bekas tindihan roda mobil atau pedati. Ada juga onggokan-onggokan tahi kerbau. Pada beberapa tempat jalur-jalur itu mengering kerontang pada tempat lain mengandung genangan air, dan di situ terendam dahan kelapa yang membusuk, dekat-dekat di atas melingkuplah bukit-bukit yang pokok pohon-pohonnya nampak memutih, dan kabut berjela di sampingnya.

Ia terkenang akan suasana masa darurat. Sering ia menyusuri jalan ini dengan berjalan kaki bersama teman-teman sekolah dulu, di mana betis terasa pegal dan keras seperti batu, dan tangan gempal serta tembam oleh kepenuhan aliran darah.

Di rumah yang manakah dia dulu tinggal? pikirnya pula, sambil memandangi rumah-rumah dan lepau-lepau di tepi jalan, melangkah kembali ke lepau tempat dia bermalam.

“Pak, tahukah Bapak nama seorang saudagar yang pernah bertahun-tahun tinggal di sini dan telah pindah ke Sidempuan?” tanyanya kepada Bagindo. Ia berkata itu sambil masih melihat terus ke jalan simpangan menuju Talu, tangan serta giginya menggigil.

“Pernah tinggal di sini katamu, Nak?” Dan kini sudah pindah ke Sidempuan?”

“Ya! Dan kudengar saudagar itu tergolong kaya di daerah ini dulu. Aku sudah lupa namanya. Tapi kudengar berasal dari Rao!”

“Ada dua saudagar kaya yang lama tinggal di sini dan pernah pindah ke Sidempuan. Engku Nurdin dan Haji Jalil, memang dari Rao. Barangkali Engku Nurdin yang Anak maksud.”

“Kukira itulah dia. Apakah isterinya bernama Hasnah? Asal Talu?”

“Isterinya itu temanku sekolah dulu. Sudah lama mereka pindah ke Sidempuan?”

“Mereka sudah pindah lagi ke sini, Nak. Sudah ada setengah tahun.”

“Ha? Pindah lagi ke sini?”

“Memang di masa PRRI dulu mereka pindah kira-kira enam tahun ke Sidempuan. Yakni sejak Engku Nurdin dilepaskan tentara dari tahanan. Lama juga dia dulu ditahan. Ada setahun.”

“Kenapa ditahan? Terlibat? Ada keluarganya yang ke luar?”

“Sama sekali tidak! Kurang terang sebabnya maka ditahan. Ada yang bilang waktu peristiwa G-30-S dulu ia pergi ke Rao, dan di sana juga pernah ditahan beberapa bulan.”

“Kasihan! Ditahan-tahan terus! Sekarang tidak lagi, bukan? Yang manakah rumah mereka? Aku mau ke sana sebentar. Apakah isterinya masih kenal padaku?!”

“Rumah mereka di ujung kampung ini, jalan ke Talu. Nanti ada sebuah jembatan. Beberapa meter dari situ, sebelah kiri, itulah rumahnya. Rumah itu berloteng, tak ada lagi rumah lain yang berloteng sekitar situ. Mudah mencarinya.”

“Terima kasih, Pak. Bikinkanlah nasi sekarang.”

“Anak mau makan sekarang?”

“Ya! Siapa tahu sebentar lagi ada mobil.”

“Kukira belum. Biasanya mobil si Murad yang ke sana hari ini. Tapi ia sedang ke Bonjol. Kemarin dia pergi, kalau tak ada halangan nanti siang baru kembali.”

“Apakah tak mungkin mobil lain yang datang, umpanya dari arah Rao?”

“Ya! Sebuah lagi kesempatan Anak untuk dapat mobil hari ini. Ialah mobil si Bidin, yang sesewaktu lewat di sini untuk mengangkut getah ke Sasak. Anak tahu, sejak jalan-jalan raya di daerah itu hancur, banyak saudagar yang mengangkut getahnya ke Padang lewat laut.”

“Mobil Engku Nurdin juga akan datang besok dari Medan. Kudengar mereka akan terus ke Simpang Empat!” Yang bicara itu ialah seorang saudagar yang sedang duduk menusuki gigi di sudut meja.

“Mobilnya yang mana?” tanya seorang kampung, yang jongkok di atas bangku sambil menyelubungkan sarung pada lutut. Ia sedang merokok pucuk nipah yang besar.

“Yang dibawa Mukhtar!” Ia berdiri dan melangkah ke luar. Ia pergi mengutik-ngutik sepeda.

Pemuda itu makan kini. Di depannya terhidang sepiring nasi membubung dan berkepul, dan sepiring gulai ikan tawar segar.

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply