Cerpen – Persahabatan Beda Agama

Sastra 0
Persahabatan Beda Agama

Persahabatan Beda Agama

Cikancah-Cyber – Sebuah cerpen yang menggambar kehidupan bermasyarakat dalam persahabatan yang berbeda agama. Cerpen ini dibuat oleh Firda Nuralipah saat masih duduk di Sekolah Menengah Pertama.

Hana seorang anak  usia remaja yang baik hati, cerdas, cantik, setia kawan, dan selalu berbakti  pada orangtuanya.  Firda seorang anak usia remaja yang mandiri, pemarah, dan egois. Mereka berdua telah lama bersahabat. Mereka tinggal di sebuah Desa yang asri serta nyaman jauh dari kebisingan kota yang hingar bingar.

Rumah mereka pun berdekatan  , serta sekolah yang sama, dan kelas yang sama, membuat  keduanya  bisa  sering bersama. Dimana ada Hana di situ juga pasti ada Firda. Sampai-sampai mereka berirkrarkan  bersahabat slamanya. Tidak boleh berhianat. Harus saling membantu. Walaupun mereka berbeda agama, Hana beragama Islam sedangkan Firda beragama Kristen. Tetapi hal ini tidak jadi masalah untuk mereka. Mereka tetap bersatu dalam menjalin hubungan persahabatan. Mereka tidak peduli dengan perbedaanya.

Suatu hari yang cerah, mentari baru menampakan dirinya dari ufuk timur diiringi kicauan burung bersahutan, Firda mengajak Hana untuk pergi. “ Han, temani aku  ke toko Pak Dulah, dong. Aku perlu buku dan pulpen nih. Nanti kamu aku belikan coklat. Kamu suka kan?” Ajak Firda.

Hana ragu-ragu. Ia sedang mengerjakan tugas rutinnya. Menyapu lantai, membersihkan debu, menyapu halaman, mencuci baju, mencuci piring, dan ia harus memandikan adiknya, karena  ibunya sedang pergi.

“Aku lagi sibuk Fir, aku minta maaf, kali ini kamu pergi sendiri saja ya. Tidak terlalu jauh kan?” Kata Hana kemudian.

“Huuuh … Cuma begini aja kamu tidak mau bantu. Kamu ini tidak setia kawan! “ Gerutu Firda kesal  . Ia mengayuh sepedanya cepat-cepat.

Hana jadi tak enak hati. Tapi harus bagaimana lagi. Dia harus membantu ibunya karena ayahnya sudah tidak ada. Hanya Hana yang selalu membantu ibunya.

Sejenak Hana melamun, ingat  sejak ia berkorban untuk persahabatan mereka ,dulu berkali-kali  ia terpaksa  lembur mengesum baju sampai larut. Karena, di siang hari waktunya banyak tersita menemani Firda. Kadang, ibu sampai marah karena jadwal jahitan pelanggan banyak yang tertunda. Hana terpaksa berbohong sedang mengerjakan tugas kelompok. Sebetulnya Hana merasa bersalah telah berbohong pada ibunya. Semua itu demi Firda. Hana merasa kasihan pada Firda yang hanya tinggal dengan neneknya. Orang tuanya telah lama berpisah dan semua tinggal di luar kota. Hana melanjutkan pekerjaannya lagi.

Keesokan  harinya Hana pergi ke sekolah sendirian karena Firda sudah berangkat lebih dulu dan meninggalkan Hana. Sesampai di sekolah Hana masuk ke kelas saat itu juga, Hana dan Firda bertemu.  Mereka hanya saling menatap ,tidak ada sapa dan tegur diantara mereka. Lima menit lagi bel tanda istirahat akan berdering. Anak-anak yang sudah selesai mengerjakan soal, diizinkan keluar  kelas oleh bu Riska. Dengan gembira, hampir  setengah murid kelas 7B bergegas keluar, termasuk Hana . “Han, ayo ke kantin bareng aku, “ ajak Susi  sambil gandeng Hana.

Hana  masih celingak celinguk mencari Firda sahabatnya. Keduanya tak sebangku lagi , sejak bu Riska menukar letak duduk para siswa. Itu dilakukan supaya siswa-siswa lebih saling kenal. Dan tidak berkelompok-kelompok. Bagi Hana , berteman dengan  siapapapun itu mudah sekali. Tapi tidak begitu bagi Firda.  “Aku sedang menunggu Firda. Ternyata dia belum selesai” kata Hana.  “Wah Firda masih lama. Tadi, waktu aku mau mengumpulkan jawabanku, dia baru mengerjakan soal nomor delapan,”kata Susi.’’ “Kalau begitu , kamu duluan aja Sus, Aku  harus menunggu Firda. Dia bisa marah nanti,” kata Hana kemudian . “ Aaaah …, kita semua kan teman. Ayolah, sekali ini saja ke kantin bersama kami. Lagi pula kami ada rencana penting untuk Firda.Ayo … dong,” desak Susi . Akhirnya Hana nurut juga. Mereka membeli teh dan donat. Lalu menuju ke bangku di bawah pohon yang rindang. Di sana beberapa temanya telah menanti.

Ketika mereka sedang asyik membahas sesuatu, tiba-tiba datanglah Firda. Wajahnya merah karena marah. Nafasnya tak beraturan menahan tangisan. ”Hana tega sekali kamu. Mengapa kamu tega meninggalkan ku? Aku masih bisa maafkan kalau kemarin kamu tidak bisa menemani aku ke toko. Tapi sekarang kamu malah main sama anak lain. Kamu tidak setia kawan. Aku benci padamu!” Semua terdiam. Selang beberapa lama kemudian Hana berkata,”ini tidak seperti yang kau bayangkan, jangan salah paham Fir!” “Alahh kamu bohong, nyatanya kamu pergi ninggalin aku begitu saja.” “Tapiiiiiii Fir…,” “Aahhhh sudah lah,aku tidak ingin lagi mendengarkan perkataan mu , kamu itu penghianat.”

Firda berlari sambil menangis. Dan sepanjang hari itu Firda tak mau bicara lagi kepada Hana sampai-sampai pulang pun tidak mau bersama Hana. Hana sedih jadinya.

Sesampainya di rumah Hana mengadu kepada ibunya. “Ibu apa yang harus aku lakukan?” Tanya Hana pada ibunya, setelah ia menceritakan semua yang telah terjadi. Ibu menghela nafas dalam dalam. ”Sayang …, sahabat sejati itu bukanlah harus selalu lengket seperti perangko,” ujar ibu.    “Tapi kami telah berjanji tidak akan berhianat, janji kan harus di tepati Bu,” kata Hana. “Berhianat itu kalau kamu membuka rahasia atau menjelekkan sahabat mu pada orang lain .Bersahabat untuk selamanya itu baik. Tapi lebih baik lagi bila kamu punya sahabat, kita selalu membutuhkan orang lain dalam hidup ini kita tidak bisa hidup tanpa orang lain,” ujar ibu. “Jadi, sahabat yang baik itu yang bagaimana , bu?” Tanya Hana. “Sahabat yang baik selalu ada dalam suka maupun duka, dalam susah maupun senang, dalam tangis maupun tawa dan selalu mendukung jika sahabat nya berbuat baik. Dan mengingatkan, jika ia melakukan kesalahan. Tak ada rasa iri. Hanya perasaan tulus memberi,” jelas ibu. “Jadi apa yang harus aku lakukan pada Firda?” Tanya Hana lagi.   “Tetaplah bersikap ramah padanya, supaya dia tau kamu tetap ingin menjalin persahabatan dengannya, “ kata ibu lagi.

Hana mengangguk sambil tersenyum lega. “ Terima kasih ibu.” Kata Hana, sambil pergi meninggalkan ibunya, untuk mengerjakan tugas sekolah. Sambil mengerjakan tugasnya Hana berfikir sejenak dalam hati, Hana yakin, Firda tak akan lagi marah padaku. Karena sebenarnya siang tadi , aku, Susi, dan teman yang lain sedang menyusun rencana rahasia. Dua hari lagi Firda akan berulang tahun. Mereka akan berpatungan untuk memberi  Firda kejutan di kelas.

Hari yang telah direncanakan pun tiba.  Hana dan teman sekelasnya  memberi kejutan kepada Firda. Dengan mengguyurkan air ditambah telur dan tepung kepada tubuh Firda saat bel pulang sekolah berbunyi. “Byuur…,” Firda merasa kesal dan sangat kaget, Firda sejenak marah kepada temanya, karena belum menyadari sebenarnya apa yang terjadi. ”Apa-apaan ini…?” Rungut Firda.  Dan teman-temanya segera mengasihkan kue ulang tahun, yang di iringi lagu HAPPY  BIRTHDAY. “Selamat ulang tahun, sahabatku”kata Hana. Serentak diikuti oleh teman yang lainya. ”Hari ini hari bahagia kamu Fir,”kata Susi, sambil memeluk Firda. ”Terima kasih teman-teman, maafkan aku telah salah sangka atas kejadian kemarin,”kata Firda kemudian. Walaupun sederhana tapi semua itu berarti bagi Firda, Hana dan teman yang lain. Saat itu juga Hana dan Firda menjalin persahabatan lagi yang sempat retak. Firda ulang tahun  bersamaan dengan  HARI NATAL.

Firda merayakan ulang tahunnya bersama nenek di rumahnya, walaupun dalam hati Firda merindukan sesosok orang tua hadir di sampingnya. Tetapi keinginan Firda belum tercapai. Saat di Gereja  Firda  berdoa meminta keajaiban akan datang saat ini juga, sosok  kedua orang tuanya. Tapi… entahlah semua kehendak tuhan manusia hanya berencana.

 

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply