Sinopsis Novel ‘Ziarah’ Karya Iwan Simatupang

Sastra 0
Ziarah Sebuah Novel

Ziarah Sebuah Novel

Cikancah-Cyber – Ziarah merupakan salah satu karya sastra mutakhir Indonesia yang cukup banyak mendapat perhatian dari berbagai kalangan pakar sastra, baik dari dalam maupun luar negeri.

Novel ini dianggap sebagai karya puncak Iwan Simatupang. Pada tahun 1977, novel ini mendapat penghargaan sastra tingkat ASEAN. Pertama kali diterbitkan oleh penerbit Djambatan pada tahun 1968.

Tema Cerita

 Kisah tentang cinta suami pada isterinya yang tak pernah pudar sekalipun isterinya telah meninggal. Ia tidak pernah mempercayai bahwa isterinya telah meninggal.

Setting Cerita

 Sebuah pemakaman di kota besar.

Tokoh Cerita

Si Pelukis atau Tokoh Kita                               :

Seorang suami yang sangat mencintai isterinya. Ia termasuk pelukis yang berbakat.

Opseter Kuburan Kota Praja I                         :

Seorang lelaki tua yang selama hidupnya selalu mengabdi pada pekerjaannya sebagai penguruh pemakaman.

Walikota Kota Praja                                        :

Seorang pejabat yang tidak sabar untuk naik pangkat.

Sang Pemuda atau Opseter Kuburan II          :

Seorang mahasiswa calon doctor sastra dan filsafat. Walaupun sangat intelek dan sebagai calon dokter, ia bersedia menggantikan opseter kuburan I yang bunuh diri.

Sang Mahaguru atau San Profesor                 :

Pembimbing disertasi calon dokter. Pada awalnya ia tidak rela melihat mahasiswa bimbingannya bekerja sebagai opseter kuburan sebab tidak sesuai dengan predikatnya yang calon doctor itu. Namun, justru di masa pensiunnya, ia bekerja di pemakaman tempat mahasiswa bimbingannya bekerja.

Ringkasan Cerita

 Seorang pelukis berbakat tiba-tiba ditinggal mati isterinya. Ia sangat mencintai isterinya sehingga ia tidak pernah percaya bahwa wanita yang dicintainya itu telah meninggal. Ia yakin bahwa isterinya sedang pergi jauh dan akan kembali lagi. Itu sebabnya, hamper tiap detik, ia menunggu kedatangan isterinya. Ia kemudian mengembara ke berbagai tempat untuk mencari isterinya.

Si pelukis tiba di sebuah pekuburan Kotapraja. Di sana ia bertemu dengan lelaki tua yang telah menghabiskan seluruh umurnya sebagai opseter. Lelaki tua itu menawarkan pekerjaan kepada si pelukis sebagai tukang cat tembok pekuburan Kotapraja. Tawaran itu diterima oleh si pelukis. Sejak itu ia bekerja di pekuburan Kotapraja sebagai tukang cat.

Si pelukis menerima pekerjaan itu dengan harapan untuk menjaga pekuburan isterinya karena orang yang ia cintai itu dikuburkan di sana. Dengan menjadi tukang cat pekuburan Kotapraja, ia merasa semakin dekat dengan isterinya. Namun, pekerjaan pengecatan pekuburan itu tidak berjalan lama sebab Walikota Kotapraja tiba-tiba mengeluarkan surat pemberhentian pekerjaan itu. Keputusan itu tidak hanya dalam hal pengecatan tembok pekuburan saja, melainkan seluruh kegiatan di dalam pekuburan itu. Jadi, si opseter tua itu harus berhenti menjadi opseter.

Setelah diselidiki lebih dalam, ternyata alas an walikota menghentikan semua kegiatan pekuburan karena ia menganggap bahwa si opseter kuburan telah menyebabkan kekacauan. Keputusan itu mendapat reaksi positif dari berbagai kalangan dan dianggap sebagai keputusan yang tepat dan berani. Koran-koran segera mempublikasikannya dan nama sang walikota pun langsung melonjak.

Semua itu membuat si walikota menjadi besar kepala. Ia berharap kepopulerannya itu akan menyebabkan kariernya meningkat. Ia juga berkhayal bahwa setelah menjadi walikota, ia akan diangkat menjadi menteri, kemudian menjadi gubernur dan bukanlah hal mustahil bila ia kemudian menjadi perdana menteri. Namun, khayalannya tidak dapat terus-menerus melambung karena kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Sang opseter tua tidak lama kemudian ditemukan bunuh diri di dalam rumah dinasnya.

Berita kematiannya itu membuat geger seluruh pelosok kota. Popularitas si walikota menjadi turun drastic. Ia merasa takut bila berita itu diketahui oleh pemerintah pusat. Bila hal itu terjadi, tamatlah riwayatnya karena kematian sang opseter tua itu adalah akibat keputusan yang dibuatnya.

Sang walikota langsung memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum untuk menguburkan sang opseter tua dengan baik. Kemudian, ia memerintahkan Dinas Jawatan Tenaga Kerja untuk mencari opseter pengganti. Masalah itu membuat bingung para karyawan yang bekerja di kantor Dinas Jawatan Tenaga Kerja. Walaupun demikian, mereka tetap memasang iklan lowongan kerja di seluruh surat kabar yang terbit di Kotapraja. Namun, sekalipun pemuatan iklan itu telah berlangsung lama, tak seorang pun yang dating melamar. Mereka pun menjadi putus asa.

Di tengah-tengah keputusasaan mereka, tiba-tiba dating seorang pemuda yang melamar menjadi opseter. Pada awalnya, mereka sempat merasa ragu karena pemuda itu masih sangat muda dan ia bukanlah sembarang orang. Ia adalah calon doctor sastra dan filsafat. Namun sang pemuda bersikeras, sehingga mereka pun menerimanya.

Si pemuda alias opseter baru itu sangat disukai oleh para bawahannya. Kepemimpinannya sangat tegas, namun luwes dan tidak kaku. Si pelukis juga sangat mengagumi pemuda itu. Selama ia menjadi opseter, pekerjaan mengecat tembok kuburan pun digiatkan kembali. Para aparat pemerintah juga memuji cara kepemimpinannya. Kecerdasannya sangat menonjol dan dengan mudah ia melaksnakan tugas yang diperintahkan oleh perdana menteri baru, yang menggantikan perdana menteri yang lama yang meninggal dunia setelah mengadakan kunjungan ke pekuburan Kotapraja.

Pada suatu hari datanglah dua orang laki-laki ke kantor walikota. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu berkenaan dengan si pemuda opseter itu. Lelaki yang tua adalah professor pembimbing utama si pemuda opseter itu. Ia meminta walikota agar memberhentikan si pemuda itu karena ia tidak rela mahasiswa bimbingannya bekerja sebagai opseter kuburan. Seorang calon doctor tidak tepat menjadi opseter kuburan. Lelaki tua lainnya adalah ayah kandung si pemuda itu. Ia adalah saudagar kaya yang hanya memiliki seorang anak, yaitu si pemuda itu. Ia tidak rela bila anak tunggalnya menjadi opseter kuburan karena hanya sipemudalah yang dapat mengurus hartanya yang banyak itu.

Walikota tidak dapat memutuskan apa-apa karena hal itu bergantung pada si pemuda itu. Ketika diberitahukan tentang keberadaan ayah dan dosennya, si pemuda berkata tegas bahwa ia tidak akan meninggalkan pekerjaannya. Ia juga menegaskan bahwa tak seorang pun yang dapat mencegahnya untuk menjadi opseter.

Suatu hari, ketika pulang kerja dari kuburan, si pelukis merasa terkejut ketika mengetahui bahwa salah satu lukisannya hilang. Ia bertambah heran ketika ia menemukan setumpuk uang valuta asing di rumahnya. Tanpa piker panjang, ia manukarkan uang asing itu menjadi rupiah. Ia sangat terkejut karena jumlah uang yang diterimanya itu sangat banyak. Ia merasa bingung untuk menggunakan uang sebanyak itu.

Karena tidak menemukan jalan keluar menggunakan uang tersebut, ia kemudian mempertaruhkan uangnya untuk sebuah pertandingan sepak bola. Namun, taruhannya menang dan uangnya justru semakin bertambah banyak. Ia tidak mau mempunyai uang sebanyak itu. Kemudian seluruh uangnya ia pertaruhkan lagi pada pertandingan sepak bola berikutnya. Namun, untuk kedua kalinya, ia menang kembali.

Setelah beberapa kali pasang taruhan dan selalu menang, si pelukis berusaha untuk bunuh diri karena merasa sangat bingung. Ia bunuh diri dengan cara terjun dari bangunan bertingkat yang paling tinggi di Kotapraja. Namun, ketika ia terjun, ada seorang wanita sedang berbelanja berjalan di bawah gedung itu dan si pelukis jatuh tepat di dalam keranjang si wanita itu. Ia tidak jadi meninggal dunia. Bahkan, tak lama kemudian, ia menikahi wanita itu, namun pernikahan itu tidak berlangsung lama karena si wanita kemudian meninggal dunia tanpa penyebab yang pasti.

Suatu hari si pelukis dipanggil opseter muda yang memberitahukan kepadanya, bahwa pekerjaan pengecatan tembok pekuburan akan dihentikan. Namun, tidak lama sebelum sang opseter menghentikan pekerjaan pengecatan itu, si pelukis mengatakan kepadanya tentang penguduran dirinya. Tak lama sesudah si pelukis mengundurkan diri, tiba-tiba di lokasi kuburan Kotapraja menjadi sangat ramai. Ternyata si pemuda opseter itu bunuh diri di kamar dinasnya tanpa diketahui penyebabnya.

Setelah menguburkan si pemuda opseter itu, si pelukis bincang-bincang dengan seorang kakek yang juga pekerja pekuburan Kotapraja. Si kakek adalah professor pembimbing si pemuda opseter itu. Setelah berbicara panjang lebar dengan si kakek, si pelukis memutuskan untuk melamar pekerjaan sebagai opseter untuk menggantikan si pemuda. Alasannya, ia selalu dekat dengan isteri yang sangat ia cintai.

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply