Inilah Asal Mula Kata dan Tradisi Mudik

Artikel 0
Tradisi Mudik

Tradisi Mudik

Cikancah-Cyber – Mudik merupakan sebuah istilah yang kerap kali terdengar dikala menjelang lebaran. Sebenarnya ‘Istilah Mudik’ itu ternyata punya arti tersendiri, lantas apa artinya?

Asal Mula Kata  Mudik

Kalau melihat laman Wikipedia, mudik diartikan sebagai kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Namun ternyata kata mudik ini sebenarnya merupakan singkatan yang berasal dari Bahasa Jawa Ngoko.

Dalam Bahasa Jawa Ngoko, kata mudik merupakan singkatan dari ‘mulih dilik’ yang artinya adalah pulang sebentar.

Sebenarnya kata mudik ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan ‘Lebaran’. Namun seiring dengan perkembangan zaman, kata mudik kini telah mengalami pergeseran makna.

Kata mudik berkaitan erat dengan kata ‘udik’ yang artinya kampung, desa, dusun, atau daerah yang merupakan lawan kata dari kota. Dengan pendekatan itu, maka kata mudik diartikan sebagai kegiatan seseorang yang pulang ke desa atau kampung halamannya.

Awal Mula Tradisi Mudik

Beberapa ahli mengatakan tradisi mudik sudah ada sejak zaman nenek moyang, karena masyarakat Indonesia merupakan keturunan Melanesia yang berasal dari Yunan, Cina. Sebuah kaum yang dikenal sebagai pengembara. Mereka menyebar ke berbagai tempat untuk mencari sumber penghidupan.

Pada bulan-bulan yang dianggap baik, mereka akan mengunjungi keluarga di daerah asal. Biasanya mereka pulang untuk melakukan ritual kepercayaan atau keagamaan. Pada masa kerajaan Majapahit, kegiatan mudik menjadi tradisi yang dilakukan oleh keluarga kerajaan. Para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya. Hal ini dilakukan untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki.

Selain itu ada pula pendapat mengatakan bahwa mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Mereka sudah mengenal tradisi ini bahkan jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri.

Biasanya tujuan mereka pulang kampung untuk membersihkan pekuburan dan doa bersama kepada dewa-dewa di kahyangan untuk memohon keselamatan kampung halamannya yang rutin dilakukan sekali dalam setahun.

Membersihkan pekuburan dikenal dengan istilah tradisi ‘nyekar’ yang masih terlihat hingga kini. Kebiasaan membersihkan dan berdoa bersama di pekuburan sanak keluarga sewaktu pulang kampung masih banyak ditemukan di daerah Jawa.

Sejak masuknya Islam, mudik dilakukan menjelang Lebaran. Dan istilah mudik lebaran baru berkembang sekitar tahun 1970-an.

Saat itu Jakarta sebagai ibukota Indonesia tampil menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat. Bagi penduduk lain yang berdomisili di desa, Jakarta menjadi salah satu kota tujuan impian untuk mereka mengubah nasib.

Hampir lebih dari 80 persen para urbanis yang datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan biasanya hanya mendapatkan libur panjang pada saat lebaran saja.

Pada momentum inilah yang dimanfaatkan untuk kembali ke kampung halaman. Sama seperti halnya di Jakarta, mereka yang bekerja di kota lain hanya bisa pulang ke kampung halaman pada saat liburan panjang yakni saat libur lebaran. Sehingga momentum ini meluas dan terlihat begitu berkembang menjadi sebuah fenomena.

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply