Sinopsis Novel ‘Warisan’ Karya Chairul Harun

Sastra 0
Novel Warisan

Novel Warisan

Cikancah-Cyber – Warisan merupakan salah satu novel buah karya Chairul Harun yang diterbitkan pertama kali oleh penerbit Pustaka Jaya pada tahun 1979. Berikut ini sinopsisnya :

Tema Cerita   

Masalah warisan seorang bangsawan kaya yang menjadi rebutan oleh seluruh kaum kerabatnya. Namun, karena ia meninggalkan utang yang banyak, maka tak satu pun kaum kerabat yang bersedia menerima warisan itu karena mereka harus menutupi utang-utang tersebut.

 

Setting Cerita

 Kuraitaji, Minangkabau, Jakarta.

 

Tokoh Cerita

 Rafilus

Seorang pemuda keturunan Minang yang bekerja di Jakarta.

Bagindo Tahar

Seorang bangsawan kaya raya, ia adalaha ayahnya Rafilus.

Murni

Ibu tiri Rafilus yang difitnah oleh Asnah bahwa ia telah meracuni Sidi Badarudin untuk mendapatkan harta warisan yang lebih banyak.

Siti Baniar

Adik perempuan Bagindo Tahar.

Tuanku salim

Suami Siti Baniar.

Upik Denok

Isteri kedua Tuan Salim.

Sidi Badarudin

Anak Siti baniar dari suami pertamanya.

Asnah

Isteri Sidi Badarudin.

Tun Rudin

Seorang dukun terkenal di Kuraitaji.

Rakena

Salah seorang kerabat Rafilus yang ingin menjodohkan puterinya dengan pemuda itu.

Arneti

Anaknya Rakena.

Maimunah

Seorang janda yang menjadi teman kencan Rafilus.

 

Ringkasan Cerita

Setelah mendengar kabar tentang ayahnya – Bagindo Tahar – yang sakit parah, Rafilus meminta izin kepada ibu dan adiknya untuk menjemput ayahnya ke Jakarta. Ia ingin agar ayahnya berobat di Jakarta karena peralatan rumah sakit di kota tersebut lebih lengkap dibandingkan dengan rumah sakit di Minangkabau. Setelah mendapat izin, ia pun segera berangkat ke Minangkabau.

Namun, kedatangan Rafilus mendapat tantangan keras dari sanak keluarganya yang mengharapkan warisan dari Bagindo Tahar. Mereka menduga kalau kedatangan Rafilus tersebut untuk mengambil warisan dari ayahnya. Di lain pihak, ayahnya pun menolak keinginannya karena ia tidak ingin meninggalkan Siti Baniar –adik kandung Bagindo Tahar- dan Sidi Badarudin –anak kandung Siti Baniar –yang juga dalam keadaan sakit parah.

Ketika Tun Rudin, seorang dukun terkenal di kuraijati, dating ke desa mereka, penyakit Sidi Badarudin dan Siti Baniar semakin parah. Mereka merasa sangat menderita akibat penyakitnya itu. Siti Baniar meraung-raung karena tubuhnya serasa terbakar dan banyak terdapat bercak-bercak merah. Pada malam harinya Sidi Badarudin meninggal dunia tanpa disaksikan oleh isterinya, Asnah.

Tak berapa lama Sidi Badarusin dimakamkan, Asnah dengan ditemani Tun Rudin dan Salim pulang ke rumahnya. Ia bermaksud menyebarkan berita bohong bahwa Murni telah meracuni Sidi Badarudin karena ingin mendapatkan warisan yang lebih besar dari Bagindi Tahar. Ia juga membawa racun untuk membuktikan tuduhannya kepada sanak keluarganya.  Namun, rencana itu tidak terlaksana karena telah diketahui oleh Rafilus dan ia pun menceritakan niat jahat Asnah kepada ayahnya. Bagindo Tahar menyuruh Asnah untuk membuang racun yang ada di tangan wanita itu. Setelah kejadian itu, semua sanak keluarga Rafilus berbalik menyerang Asnah dan menuduh bahwa ia telah meracuni Sidi Badarudin.

Suatu hari, Rakena –salah seorang kerabat bagindo Tahar –mengunjungi rumah Rafilus. Ia ingin menjodohkan Rafilus dengan puterinya, Arneti. Keinginan itu dipenuhi oleh Rafilus sekalipun ia mengetahui bahwa Arneti bukanlah gadis suci. Rafilus tidak menuntut kesucian Arneti karena pada saat itu ia sedang berkencan dengan seorang janda bernama Maimunah. Kedua keluarga itu menentukan hari baik bagi pernikahan Rafilus dan Arneti. Namun, rencana pernikahan tersebut tertunda karena Siti Baniar meninggal dunia. Sementara itu, Tuanku Salim, suami Siti Baniar, justru menikah dengan Upik Denok menjelang kematian isterinya.

Tak lama setelah kematian Siti Baniar, Rafilus dan Arneti pun menikah. Namun, pada malam pengantin, Rafilus meninggalkan rumah Arneti dan kembali ke rumah ayahnya dengan ditemani Maimunah. Melihat sikap Rafilus itu, Arneti justru merasa senang karena ia dapat berkencan dengan pria lain. Sementara itu, rafilus bersama janda itu, tinggal di rumah ayahnya hingga ia meninggal dunia.

Sebelum wafat, Bagindo Tahar mewasiatkan agar Rafilus mengatur pembagian warisan. Pada hari keempat puluh kematian ayahnya. Rafilus mengumpulkan semua kerabatnya untuk membagi warisan, sedangkan ia sendiri tidak mendapatkan sedikitpun dari harta warisan tersebut. Semua kaum kerabat yang mendapat warisan merasa sangat gembira, namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama karena Bagido Tahar meninggalkan banyak utang –akibat perbuatan Asnah dan Tuanku salim –sehingga mereka diharuskan menebus utang tersebut. Karena jumlah utang tersebut hamper menghabiskan seluruh harta warisan, maka kaum kerabat Rafilus menolak mendapatka warisan itu.

Tak berapa lama kemudian setelah urusan warisan itu selesai, Rafilus kembali ke Jakarta. Namun, tiga bulan kemudian, ia kembali ke Minangkabau untuk menjemput Maimunah yang sedang mengandung anaknya. Ia berniat memperisteri Maimunah, sedangkan Arneti telah diceraikan sebelum ia kembali ke Jakarta.

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply