Beberapa Langkah Dalam Memotivasi Anak

Artikel, Pendidikan 0
Langkah Dalam Memotivasi Anak

Langkah Dalam Memotivasi Anak (Foto: Ilustrasi)

Cikancah-Cyber – Setiap orangtua tidak menginginkan anaknya menjadi pribadi pemalas, tidak punya keinginan untuk maju, dan keras kepala ketika dinasehati. Hampir semua orangtua pernah merasakan frustrasi ketika harus menghadapi seorang anak atau remaja yang begitu sulit untuk dimotivasi.

Apapun yang orangtua katakan seolah tidak ada yang masuk dalam hati dan pikiran mereka. Bahkan, semakin kita memberikan mereka dorongan dan arahan, semakin menjadi pula sikap semau hati mereka.

Hal itu terjadi karena ada yang kurang tepat dalam pebimbingnan anak. Oleh karena itu, sebelum kita memotivasi dan mendorong mereka, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan terlebih dahulu. Dikutip dari rumahbunda.com., hal yang harus kita perhatikan terlebih dahulu, yakni :

 Introspeksi Diri

Bukan anak yang kita minta untuk mengintrospeksi dirinya, melainkan kita sendiri sebagai orangtua. Bila anak tidak peduli dengan pelajaran sekolah, tidak tergerak untuk ingin hidup lebih baik, sebaiknya orang tua mengevaluasi pola asuh yang selama ini diterapkan.

Misalnya, Sudah benarkah cara kita selama ini mendidik dan mengasuhnya? Apakah kita selama ini terlalu sering memaksanya melakukan apa yang kita inginkan? Atau malah melakukan pembiaran terhadap apa yang dilakukannya? Apakah kita sering menyalahkannya terhadap segala sesuatu? Atau kita terlalu banyak menuruti apa yang dia inginkan?

Sebagai orang tua harus membuka hati, dan mau menyadari kesalahan dalam mendidik anak. Yakinlah, orang tua juga manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan. Sebagai orangtua, kita tidak bisa selalu membenarkan apa yang kita pikirkan atau apa yang kita inginkan, tapi harus mau bersama-sama belajar dengan anak.

Kekompakan Orangtua

Kendalanya yang juga seringkali  terjadi adalah karena adannya perbedaan sikap atau pola asuh antara ibu dan ayah bisa juga menyebabkan anak malas. Ayah yang terlalu keras pada anak, dan ibu yang terlalu lembut pada anak atau sebaliknya.  Ketidakkompakan inilah yang seringkali dimanfaatkan oleh anak untuk “mengadu domba” ayah dan ibunya demi mendapatkan apa yang ia inginkan.

Misalnya, ayah yang terlalu banyak menuntut anak untuk selalu juara kelas, sering mencemooh bila nilai anak tak cukup baik, sering kali membanding-bandingkan anak dengan anak orang lain atau saudaranya yang lain. Sedangkan ibu, hanya bisa pasrah, bukannya memotivasi anak tapi malah membela anak dengan membiarkannya melakukan apa yang anak inginkan. Bahkan tak jarang anak memanfaatkan kelemahan dan kasih sayang ibu untuk memaksakan kehendaknya.

Sudah menjadi satu keharusan bagi orangtua untuk kompak dalam mendidik dan mengasuh anak. Tentukan pola asuh yang disepakati, jika perlu konsultasikan terlebih dahulu pada orang yang ahli di bidang pendidikan anak. Selalu diskusikan segala sesuatunya, dan jangan saling menyalahkan.

Mau Mengakui Kesalahan dan Berbesar Hati

Tidak semua orangtua mau mengakui kesalahan dalam pola asuh mereka. Bahkan banyak yang sudah merasa menyerah, tak lagi bisa berbuat apa-apa untuk memotivasi anak-anak mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Padahal, sudah jelas aturannya, kalau kita ingin ada perubahan maka perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri.

Mengakui kesalahan itu bukanlah sesuatu yang salah atau buruk. Melainkan mengajarkan anak bahwa kita sebagai orangtua pun masih harus belajar banyak. Mau mengakui kesalahan adalah sifat ksatria, dan poin inilah yang seringkali ditunggu-tunggu oleh seorang anak dari orangtuanya.

Kita sendiri pernah menjadi anak-anak, mengalami pula masa remaja yang penuh gejolak. Di saat kita merasa frustrasi, merasa jengkel pada orangtua, kita akan berbuat nakal untuk menarik perhatian mereka. Untuk membuat orangtua “sadar” bahwa ada sesuatu yang salah dalam pola mendidik mereka terhadap kita. Dan yang pasti, kita mengharapkan kata “maaf” dan kesadaran dari orangtua.

Anak Adalah Refleksi Orangtua Mereka

Sering kali yang kita lakukan sebagai orangtua saat anak-anak menjadi berbuat nakal atau berbuat seenak hati, kita akan cenderung bereaksi lebih keras. Utamanya adalah untuk menyelamatkan harga diri, menutupi rasa malu, dan menghindari tanggapan miring dari orang lain. Karena bagaimanapun, anak adalah cerminan orangtuanya. Tentunya kita tak mau dicap sebagai orangtua yang gagal karena tingkah laku anak kita

Tapi, tak ada salahnya untuk mencoba mengabaikan segala bentuk rasa malu dan takut dicap gagal itu. Anggapan orang lain adalah nomor sekian, yang utama adalah bagaimana kita bisa memotivasi anak untuk memperbaiki sikapnya terlebih dahulu. Orang lain mungkin heran mengapa anak Anda bisa bersikap begitu, tapi mereka pun akan mengapresiasi ketika kita mencoba memperbaiki anak kita dengan cara yang benar.

Bagaimanapun, anak adalah cerminan orang tuanya. Anak kita tidak akan menjadi lebih baik dengan tarikan atau segala bentuk pemaksaan kehendak. Tapi mereka akan menjadi lebih baik dengan perhatian yang cukup dan kasih sayang yang tidak memanjakan.

Ambil Langkah Mundur

Saat anak tengah mencoba menguras kesabaran, cobalah untuk mengambil langkah mundur, alias hindarilah pertengkaran. Tenangkan diri sejenak, jika perlu katakan pada anak bahwa kita membutuhkan waktu sesaat untuk mengontrol diri. Begitupun dengan dia.

Setelah siap dan anak bisa melanjutkan dengan mencari solusi, gunakan kesempatan itu untuk bertanya tentang apa yang ia inginkan. Dengarkan setiap keluh kesahnya, atau jika ia merasa belum bisa membicarakannya, sebagai oangtua bisa memintanya menulis surat untuk kita.

Memberitahukan Harapan dan Pilihan, Bukan Pemaksaan

Setelah Anda mendengarkan apa yang diinginkan anak, kini saatnya Anda mengatakan apa yang Anda harapkan darinya. Misalnya, Anda mengharapkan anak Anda untuk bisa lebih membagi waktu belajar dan bermain secara proporsional. Anda juga bisa mengajaknya mengatur waktu dan konsekuensi terhadap apa yang ia lakukan.

Kalau perlu, buatlah kesepakatan-kesepakatan dengan anak. Semuanya harus dilakukan dengan kerelaan hati, namun Anda pun tetap bisa tegas padanya.

Selain harapan, Anda pun harus bisa memberinya berbagai pilihan “sikap” yang bisa ia ambil. Agar anak-anak pun dapat ikut berpikir tentang konsekuensi dari segala perbuatan dan langkah yang mereka ambil. Misalnya, ketika anak tidak mau mengikuti kelas yang Anda usulkan. Anda bisa memberinya beberapa pilihan beserta resiko dari keputusannya.

Berikan Tanggungjawab Pada Anak

Setelah mendiskusikan harapan-harapan Anda dan anak Anda berikut dengan konsekuensinya, maka kini sudah saatnya Anda untuk keluar dan memberikan anak Anda kesempatan untuk memilih jalannya dan bertanggungjawab atas resiko pilihannya.

Mereka memang anak-anak kita, tapi mereka pun juga manusia yang merdeka. Mereka akan memiliki kehidupan mereka sendiri, pemikiran mereka sendiri, dan jalan yang akan mereka lalui sendiri. Semakin kita mengontrol mereka, semakin mereka kehilangan arah dan tujuan hidup mereka.

Kita orangtua hanya bisa memberikan arahan, memberikan masukan, support, dan nasehat. Tapi, kita tidak bisa memaksakan terlalu banyak. Bukan membiarkan mereka berbuat semaunya, tapi memberikan mereka tanggungjawab dengan sambil terus memantau dan siap untuk membantu mereka di saat mereka salah.

 

 

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply