Ini Penyebab Kenapa Adanya Pelakor

Artikel 0
Pelakor

Pelakor (Ilustrasi)

Cikancah-Cyber – Akhir-akhir ini istilah pelakor atau ‘perebut laki orang’ memang kian menggema di kalangan pasangan suami istri. Ini disebabkan hembusan isu beberapa selebriti Tanah Air yang diduga menjalin hubungan di luar pernikahan.

Tentu saja, selebriti wanita yang merebut suami orang tersebut mendapat ‘perhatian’ lebih dari masyarakat karena dirasa sangat tega mencoba menjadi orang ke tiga dalam pernikahan orang lain.

Lantas apa Pelakor itu?

Sebelum adanya istilah pelakor dan pebinor, dahulu terkenal dengan istilah PIL (Pria Idaman Lain) dan WIL (Wanita Idaman Lain). pelakor dan pebinor atau PIL dan WIL, kedua istilah itu sama-sama menjurus pada hal yang negatif yakni perusak dan perebut.

Pelakor merupakan akronim dari ‘perebut laki orang’. Sedangkan pebinor ‘perebut bini orang’. Keduanya adalah aktivitas yang sama, tapi subjek yang berbeda. Yang satu ngerebut suami, yang satu ngerebut istri.

Yang lebih mengherankan, dua aktivitas yang sama ini dapat perlakuan yang berbeda dari masyarakat. Pelakor itu lebih dapat perhatian dan bully-an dibanding pebinor. Hujatan, cacian, makian, sumpah serapah lebih banyak dialamatkan ramai-ramai ke pihak wanita dibanding laki-laki.

Mengapa demikian? Apa karena kasus wanita merebut suami dan merusak rumah tangga orang lain itu lebih hebat dibandingkan sebaliknya? Atau karena kaum wanita itu lebih emosional?

Padahal yang namanya perselingkuhan atau pengkhianatan itu terjadi karena kesadaran kedua belah pihak, bukan hanya salah wanitanya atau laki-lakinya saja.

Kalau saja mau dikritisi lebih dalam, perselingkuhan itu melibatkan kedua belah pihak yang sama-sama sadar bahwa mereka terlibat dalam cinta terlarang. Kedua belah pihak dengan sadar terlibat dalam hubungan yang bisa menyakiti pihak lain.

Sangat tidak adil kalau hanya pihak wanita yang dapat penghakiman dan pandangan miring, sedangkan laki-laki bisa dengan enaknya seolah-olah bebas, mereka tidak ikut andil dalam hubungan terlarang itu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perebut memlik kata dasar ‘rebut’ artinya rampas, ambil dengan paksa ( barang/kepunyaan orang lain), ditambah imbuhan pe- yang berfungsi untuk menyatakan pelaku.

Pelakor berarti seseorang yang merampas atau mengambil dengan paksa kepunyaan orang lain, dalam konteks ini artinya suami orang. Apakah seseorang yang dikategorikan pelakor itu sudah pasti merebut?

Apakah mereka sudah pasti jadi subjek aktif dalam artian aktif melakukan tindakan atau perbuatan yang membuat objek berpaling hati? Lantas , bagimana kalau justru pihak laki- lakilah yang duluan merayu?

Kalaupun keduanya sama-sama suka, berarti tidak ada istilah kata direbut. Apalagi kalau pihak laki-laki dengan sukarela menyerahkan diri untuk direbut perempuan.

Apa yang Penyebab adanya Pelakor?

Tentu saja ada alasannya, wanita yang diindikasikan merebut suami orang itu. Menurut psikolog Roslina Verauli, adanya pelakor bisa disebabkan beberapa hal atau faktor, yaitu :

Pertama karena masa lalu yang membentuk wanita penggoda terlalu banyak fantasi. Seperti pernah disakiti pria atau pasangannya direbut juga oleh wanita lain. Dalam hal ini mereka dikatakan tidak matang secara emosi dan merasa butuh perlindungan lebih namun akhirnya memilih pria yang sudah beristri karena dirasa telah berpengalaman.

Kedua dikarenakan kontrol diri seorang wanita perebut suami orang ini sangat rendah. Sehingga, emosinya jadi meledak‐ledak. Dari situ akhirnya rasa empatinya terhadap sesama dalam hal ini sesama wanita juga rendah. Diri yang tak terkontrol ini akhirnya membuat mereka tak memahami norma, terlalu mengikuti rasa cinta.

Sedangkan menurut dokter Yudhistya, terjadinya pelakor dikarenakan satu dari lima orang tidak bisa monogami. Jadi sudah menjadi bawaan bahwa berat untuk orang-orang ini tetap monogami, setia, tidak selingkuh.

Satu dari lima orang itu banyak. Laki-laki Indonesia ada 100 juta. Berarti 20 juta di antaranya kemungkinan tidak bisa monogami. Tulisnya, di Akun Facebook dr Yudhistya SpOG.

Ia kemudian menjelaskan bentuk ketidaksetiaan sejumlah orang yang tidak mampu monogami itu. Menurutnya jenisnya hanya ada dua yakni resmi berpoligami atau diam-diam selingkuh.

Yudhistya pun menulis jika biasanya orang akan lebih fokus pada keluarga dan keuangan di pasangan pertama. Sedangkan pasangan kedua lebih kepada hubungan seksual.

Di akhir tulisan, Yudhistya menyarankan orang untuk meningkatkan kehidupan seks jika tidak ingin pasangan berpaling pada pelakor atau pewanor. “Jadi, jika Anda tidak ingin pasangan Anda mendua: puaskanlah dia dalam hal hubungan seksual”.

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply