Presensi Sidik Jari Online: Antara Tujuan dan Kenyataan

Artikel, Pendidikan 0
Presensi Online Sistem Sidik Jari

Presensi Online Sistem Sidik Jari (Dok.Cikancah-Cyber)

Cikancah-Cyber – Tahun 2018 ini Dinas Pendidikan Kabupaten Camis telah menerapkan terobosan baru dunia pendidikan. Terobosan tersebut adalah dengan mewajibkan para guru melakukan absensi sidik jari atau fingerprint time attendance. Langkah mewajibkan absensi sidik jari itu dibutuhkan untuk meningkatkan disiplin guru sebagai komitmen peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Ciamis.

Maksud dari absensi sidik jari itu, merupakan pembenahan pendataan absensi dari sistem lama ‘offline’ menjadi model ‘online’ melalui presensi sidik jari ini agar lebih cepat diakses secara tertib, benar dan akurat. Rencananya sistem online ini akan terkoneksi langsung ke Dinas Pendidikan dan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM).

Ketentuan absensi sidik jari ini berlaku saat guru datang dan saat pulang. Jika guru masuk pukul 07.00 WIB maka pulang pukul 14.00 WIB bagi yang masih menggunakan lima hari kerja. Patokan kehadiran guru di sekolah minimal 37,5 jam (dalam satu minggu) tatap muka. Sedangkan pemenuhan syarat sertifikasi, minimal 24 jam mengajar per minggu.

Penerapan absensi sidik jari, sangat berkaitan erat dengan perubahan budaya. Pada dasarnya sekolah dan para guru menyambut dengan baik. Mereka senang karena sekarang guru bisa berkumpul di sekolah lebih lama.

Sistem absensi sidik jari ini memang memiliki tujuan yang mulia, demi tertibnya kehadiran dalam melaksanakan tugas. Hal ini dilakukan karena merupakan suatu hal yang pokok dalam peningkatan kinerja layanan pendidikan yang berkualitas.

Oleh karenanya, penataan kehadiran pegawai yang lebih tertib perlu dilakukan. Salah satu alternatif yang diterapkan, yakni dengan absensi sistem online.

Akan tetapi, semua itu tidak bisa dilakukan dengan teburu-buru dan gegabah. Perlu adanya pengkajian yang mendalam agar tujuan yang ingin dicapai tidak menyimpang dan tidak menimbulkan pemasalahan yang baru.

Sejak dulu memang banyak kalangan yang mempertanyakan efektivitas alat dan kaitannya dengan sistem keamanan serta ketenangan pegawai khususnya guru atau pendidik yang menggunakan sistem presensi sidik jari itu.

Ada kekhawatiran akan terjadi hal-hal yang pahit dan menyesakkan atas digunakannya alat dan sistem presensi sidik jari. Para pendidik harus menanggung akibat dari kekurangtepatan implementasi alat dan sistem presensi yang digunakan, yang berimbas pada pemberian Tunjangan Profesi Guru (TPG).

Seiring berjalannya waktu kekhawatiran absensi sidik jari itu memang telah menimbulkan permasalahan baru. Saat dilakukan uji coba print out, ternyata hasilnya jauh dari yang dibayangkan dan diharapkan. Hal itu tidak akan jauh berbeda dengan hasil yang terkoneksi langsung ‘online’ ke dinas terkait.

Banyak para guru yang kecewa dengan hasil dan mempertanyakan keakuratan alat itu. Mereka sudah datang sesuai dengan keinginan dari Dinas Pendidikan dan BKPSDM. Mereka semua taat akan peraturan yang diberlakukan.

Data kehadiran saat datang dan pulang sungguh jauh dari kenyataan. Bahkan dalam satu bulan ini (Februari) jam saat masuk dan pulang tidak terdeteksi alias tidak ada jamnya. Lantas siapa yang patut disalahkan atas kasus seperti itu?

Mestinya pihak yang berwenang dan berkepentingan harus cepat tanggap dan bisa bertanggung jawab. Itu semua bukan karena keteledoran guru dalam melakukan absensi sidik jari. Mereka semua melakukannya sebelum pukul 07.00 WIB atau lebih dari jam tujuh yang masih dalam ambang batas keharusan yang ditentukan (toleransi).

Mendingan, kalau hasil absensi sidik jari tidak berimbas pada penghasilan tunjangan para guru. Karena sebelumnya ada wacana absensi sidik jari akan berpengaruh pada penghasilan tunjangan guru itu. Maka dari itu alangkah baiknya segera diadakan perbaikan mumpung masih dalam tarap uji coba.

Menurut catatan kami, sistem absensi sidik jari itu telah disetting jam saat masuk dan pulangnya. Bagi instansi atau sekolah yang masih menerapkan 6 hari kerja masing-masing hari sudah ada ketentuannya. Senin – Kamis (masuk 07.00, pulang 14.00), Jumat (masuk 07.00, pulang 11.00) dan hari Sabtu (masuk 07.00, pulang 12.30).

Seyogianya, para pendidik itu janganlah terus-terus dibebani dengan keharusan. Pasalnya para pendidik itu telah bekerja dengan gigih dan tulus tanpa mengenal lelah dan waktu demi mencerdaskan anak bangsa.

Terkadang para guru atau pendidik itu bekerja melewati batas ketentuan waktu yang telah ditentukan, hingga adakalanya hari libur pun masih ada yang masuk kerja, jika diharuskan menurut aturan.

Para pendidik tak akan berubah, semangat dalam bekerja tetap tinggi dan penuh ketulusan. Penertiban absensi kehadiran model online maupun offline akan sama jika tak dibarengi dengan hati.

Berikut beberapa permasalahan yang timbul dan sangat dikhawatirkan para guru akan imbasnya terhadap sanksi yang akan diterapkan.

Akankah ada perubahan dan perbaikan sistem absensi sidik jari ini, agar tidak merugikan para Guru?

Baca juga : Absensi Online Sistem Sidik Jari Pendidik SMP Diberlakukan Januari 2018, Akankah Efekif Sesuai Harapan?

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply